*** “Hai, Mahira.” Baru beberapa langkah berjalan dari pintu keluar kafe, sapaan tersebut menyapa telinga Mahira—membuat atensinya beralih pada seorang pria yang terlihat bersandar pada kap mobil. Pergi dari rumah usai Jennia selesai berdrama, Mahira menemui Teddy kemudian membahas bisnis yang akan dia bangun. Tanpa Darka, Mahira berdua saja dengan Teddy. Cukup banyak yang dibahas, obrolan berlangsung selama hampir satu jam sebelum akhirnya Teddy yang memiliki agenda lain, berpamitan. “Mas dari kapan ada di situ?” tanya Mahira, setelah menghampiri pria yang barusaja menyapanya. Bukan Danan, dia adalah Darka. “Bukannya pagi ini Mas Darka ada rapat ya?” “Rapat kan ada selesainya, Mahira,” ucap Darka. “Lagipula ini sudah jam sepuluh, dan saya memulai rapat jam delapan. Jadi ya sudah sele

