***
“Non, ada tamu di bawah.”
Mahira yang masih bersiap-siap di kamarnya, menoleh, usai laporan tersebut dia dapatkan dari Bi Ipah di ambang pintu. Pagi datang, Mahira tidak akan diam di rumah karena setelah mendapatkan ruko untuk membangun toko, agendanya menjadi cukup banyak.
Bukan berbelanja bahan-bahan untuk ditoko, rencana kegiatan Mahira hari ini adalah bertemu dengan seorang pria bernama Teddy yang tidak lain teman baik Darka sekaligus konsultan bisnis di bidang F&B.
Coba mempelajari buku yang diberikan Darka, semalam Mahira merasa cukup pusing dan kebingungan sendiri, sehingga meskipun gengsi, dia akhirnya menerima tawaran pria itu untuk dicarikan konsultan bisnis. Tak perlu membayar, Mahira katanya bisa menggunakan jasa Teddy sepuasnya karena urusan fee, semua akan menjadi tanggung jawab Darka.
“Siapa, Bi?” tanya Mahira.
“Ibu, Non,” ucap Bi Ipah—membuat kerutan di kening Mahira terbentuk.
“Mama Jennia maksudnya?” tanya Mahira memastikan.
“Iya,” jawab Bi Ipah. “Beliau sekarang nunggu di ruang tamu.”
“Sendiri atau sama Papa?”
“Sendiri, Non,” ucap Bi Ipah.
Mahira berdecak. Mengetahui Jennia datang, perasaannya mendadak tidak enak. Namun, meskipun begitu dia tetap meminta Bi Ipah membuatkan minum dan akan menemui sang mertua setelah selesai bersiap-siap.
Tentang tujuan Jennia datang, Mahira bisa menebak, yaitu; mengomel. Entah akan bagaimana jenis omelan istri Antara tersebut, Mahira tidak tahu. Namun, yang jelas dia berani karena meskipun semalam Mahira salah, kesalahannya tidak terlalu besar.
“Gabut banget, Ma, pagi-pagi udah bertamu,” sambut Mahira saat menuruni tangga. “Nggak ada kerjaan?”
Jennia yang duduk di salah satu sofa, menoleh. Tidak ada raut wajah ramah, seperti biasa perempuan itu sinis.
“Mertua datang bukannya disambut dengan ucapan baik, malah kaya gitu sikap kamu. Enggak sopan banget.”
Mahira tidak menimpali dan hanya tersenyum tipis sambil terus melangkah. Sampai di depan Jennia, dia mengambil posisi di salah satu sofa dan bertanya, “Ada apa Mama datang ke rumahku sepagi ini? Mau lanjutin omelan semalam soal infused water?”
“Kamu keterlaluan tahu enggak, Mahira?” tanya Jennia. “Muka Danan merah semua terus bentol, belum lagi badannya. Kamu pikir itu lucu?”
“Tapi sekarang udah baik-baik aja, kan?” tanya Mahira. “Reaksi alergi Mas Danan ke madu tuh enggak berlangsung lama. Empat jam juga bentolnya hilang. Mama jangan berlebihan.”
“Yang berlebihan itu kamu, bukan mama,” ucap Jennia. “Kaya anak-anak banget lakuin hal kaya gitu. Masih mending reaksinya cuman bentol, kalau Danan sampai sesak napas gimana? Mau tanggung jawab emangnya? Enggak habis pikir Mama sama jalan pikiran kamu. Udah dinaikkin derajatnya bukan berterimakasih malah bertingkah. Heran.”
Mendengar ucapan Jennia, Mahira menaikkan sebelah alis, tapi tidak menimpali sementara sang mertua melanjutkan ucapannya lagi.
“Sebagai hukuman dari perbuatan kamu semalam, jatah kamu sama Danan dianggap habis,” ucapnya. “Jadi dari hari rabu ini sampai hari minggu nanti Danan di rumah Luna. Alerginya emang udah sembuh, tapi sikap kamu tetap enggak bisa dibiarin. Ngelunjak soalnya kamu kalau enggak ditegur. Mentang-mentang Papa selalu baik sama kamu, sikap kamu jadi seenaknya.”
“Mama kasih hukuman aku kaya gini atas persetujuan Mas Danan atau keputusan sendiri?” tanya Mahira. “Bukan apa-apa ya, cuman aku enggak mau aja kalau nanti malam Mas Danan tiba-tiba pulang ke sini terus ngerengek pengen tidur di sini. Aku mau kunci gerbang soalnya dari maghrib. Jadi enggak nerima tamu.”
“Hukuman ini atas persetujuan Danan,” jawab Jennia. “Mama udah bicarain semuanya semalam sama dia dan dia setuju. Kalau kamu enggak percaya, tanya aja.”
“Mama semalam ke rumahnya Luna?” tanya Mahira sambil menaikkan sebelah alis.
“Ya iyalah,” jawab Jennia. “Dengar apa yang terjadi sama Danan, Mama khawatir. Kasihan juga Luna karena sempat dimarahin. Padahal, biang keroknya ada di sini.”
“Oh,” ucap Mahira santai, tanpa menunjukan rasa bersalah ataupun takut.
“Mama yakin lama kelamaan Danan bakalan betah tinggal di rumahnya Luna kalau sikap kamu terus-terusan kaya gini,” ucap Jennia. “Sebagai istri yang punya kekurangan, seharusnya kamu tuh baik-baikkin suami kamu biar enggak dibuang, bukan malah bertingkah dan—”
“Mau dibuang pun aku enggak masalah, Ma, aku terima aja,” ucap Mahira, sebelum Jennia selesai bicara. “Dari awal kan aku juga udah minta cerai sama Mas Danan, tapi dia enggak mau lepasin aku. Dibanding ngabulin keinginan aku buat pisah, dia malah ngasih aku rumah ini sama mobil.”
Jennia tersenyum miring sementara tangannya refleks meremas sofa, kesal mendengar ucapan sang mantu. Sampai detik ini dia masih heran dengan apa yang terjadi pada Mahira, karena sebelumnya perempuan itu tidak pernah seberani ini pada dirinya.
“Udah selesai belum, Ma, ngomelnya?” tanya Mahira, setelah beberapa detik hening. “Kalau udah selesai, silakan pergi, aku juga ada urusan soalnya habis ini. Jadi harus keluar.”
“Mau kemana emangnya kamu?” tanya Jennia kepo.
“Ngurusin bisnis dong, Ma,” jawab Mahira. “Papa kan udah kasih aku modal gede buat bangun toko. Jadi aku harus bersungguh-sungguh biar modal yang Papa kasih, enggak sia-sia.”
“Yakin emang bisa bangun bisnis?” tanya Jennia, kali ini meremehkan. “Selama ini kan kamu cuman bergantung sama Danan, skeptis banget Mama, kamu bisa bangun toko sampai sukses.”
“Lihat aja nanti gimana hasilnya, Ma,” ucap Mahira. “Aku senang banget Mama ngeremehin bisnis aku, karena semakin diremehin, aku makin semangat. Soal ketergantungan, aku rasa Mama lebih bergantung sama Papa deh kayanya. Semenjak nikah sama Papa, Mama enggak pernah kerja soalnya. Lebih jadi beban.”
“Jangan kurang ajar ya kamu,” ucap Jennia, tersulut emosi. “Mulutnya lemes banget perasaan.”
“Lho, aku kan cuman imbangin Mama,” celetuk Mahira sambil tersenyum. “Kok enggak terima sih? Aku aja santai kok, kenapa Mama sewot? Udah ah, daripada Mama naik darah terus stroke, mendingan Mama pulang. Jagain tuh mantu kesayangan Mama. Takutnya macam-macam.”
Jennia hanya mendengkus sebagai respon sebelum kemudian beranjak dari sofa. Tanpa berpamitan, dia pergi begitu saja—meninggalkan Mahira yang hanya bisa mengukir senyum tipis.
“Seenak jidat judge orang, tapi enggak terima pas diserang balik,” ucapnya. “Dasar mertua ja—”
Tidak selesai Mahira bicara, ponselnya lebih dulu berbunyi. Lekas mengambil benda pipihnya itu, dia mendapati nama Darka terpampang di layar.
“Halo, Mas, ada apa?” tanyanya setelah panggilan terhubung.
“Kamu jadi ketemu Teddy, kan, hari ini?” tanya Darka. “Dia bilang kalian bikin janji jam delapan.”
“Jadi,” jawab Mahira. “Ini aku mau berangkat.”
“Bagus,” ucap Darka. “Setelah ketemu sama Teddy, langsung ke rumah saya ya. Kebetulan ada yang mau saya bicarakan juga ke kamu. Penting.”
“Tentang apa emangnya?” tanya Mahira heran.
“Suami dan istri keduanya.”