Bagian 21

1062 Words
*** Mahira pikir yang datang ke rumahnya adalah Jennia. Namun, ternyata bukan, karena ketika membukakan pintu, yang berdiri di teras adalah seorang pria asing. Bukan untuk tujuan macam-macam, pria tersebut datang membawa sebuket mawar merah untuknya juga beberapa buku yang berhubungan dengan bisnis. Ketika ditanya siapa yang meminta pria tersebut membawakan semua itu padanya, maka nama yang disebut adalah Darka. Mahira awalnya berniat menolak paket-paket yang diberikan, tapi sang kurir memohon agar dirinya menerima karena jika paket ditolak, kurir tersebut katanya akan mendapat rating satu dari sang pengirim paket. “Mas Darka semakin ke sini kenapa semakin ke sana sih?” tanya Mahira setibanya di ruang tengah. “Untung Mas Danan enggak ada di rumah, kalau ada? Aku dituduh selingkuh nanti, terus bisa berantakan rencanaku buat hidup layak sebelum pisah sama dia.” Mahira kembali duduk di sofa lalu menyimpan buket dan buku yang dia terima. Tidak menghubungi Darka, dia memilih memandangi dua barang tersebut dengan perasaan bingung, hingga tidak berselang lama ponselnya berbunyi. “Panjang umur.” Bukan Darka, yang menelepon adalah Danan. Meskipun sedikit takut diomeli oleh suaminya itu, dia memutuskan untuk menjawab kemudian dengan tenang Mahira menyapa, “Halo, Mas. Kenapa?” “Luna bilang kamu yang nyuruh dia campurin madu di infused water buat aku. Itu benar?” tanya Danan dari sebrang sana, tanpa berbasa-basi. “Iya,” jawab Mahira tanpa menyanggah sedikit pun. “Aku kesal tadi karena Luna tiba-tiba minta kamu pulang ke sana. Padahal, kamu waktunya di sini. Jadi ya aku kerjain aja. Enggak kenapa-kenapa, kan, kamu? Respon alergi kamu biasanya enggak terlalu parah. Paling gatal sama bentol doang.” “Kalau kamu enggak suka Luna minta aku ke sini, kenapa enggak bilang aja dan nolak pas dia minta izin?” tanya Danan dengan suara yang terdengar serius. Jika sudah begitu, Mahira yakin suaminya sedang marah, dan nada bicara Danan membuat dia teringat ke kejadian malam itu, saat dirinya dituduh berselingkuh. “Alergi itu bukan sesuatu yang bisa dipermainkan, Mahira. Respon badanku emang cuman bentol dan gatal, tapi kalau seandainya tiba-tiba parah, gimana? Kamu enggak kasihan emangnya kalau aku kenapa-kenapa? Aku omelin Luna tadi karena campurin madu, tapi ternyata itu suruhan kamu. Aku cukup kaget.” Mahira menghela napas pelan. Meskipun sempat sedikit ciyut usai mendengar omelan Danan, dia coba mengumpulkan keberanian lagi sebelum memberikan jawaban. “Kamu seharusnya enggak kaget sama apa yang aku lakuin, Mas,” ucapnya. “Meskipun aku diam, bukan berarti aku enggak sakit hati sama apa yang kamu lakuin. Jadi kalau sekali-kali aku kelepasan, kamu seharusnya maklum.” “Kamu sakit hati kenapa lagi, Mahira?” tanya Danan, kali ini disertai desahan. “Soal pernikahan aku sama Luna, kita kan udah buat kesepakatan sebelumnya. Kamu minta rumah dan mobil sebagai tanda setuju dan—” “Kamu kasih aku gunung pun, rasa sakit aku karena dimadu tetap ada, Mas,” ucap Mahira. “Udahlah. Kamu juga enggak kenapa-kenapa, kan? Kamu masih hidup dan masih bisa ngomong. Jadi enggak usah diperpanjang lagi apa yang aku lakuin. Aku cuman kesal.” “Oke, aku enggak akan perpanjang masalah ini, tapi kamu harus minta maaf sama Luna,” ucap Danan—membuat raut wajah Mahira berubah tak terima. “Seperti yang aku bilang, aku marahin dia. Padahal, dia enggak sepenuhnya salah. Jad—” “Ceraikan dulu aku, baru aku minta maaf sama Luna,” ucap Mahira, sebelum Danan selesai bicara. “Aku kan udah jelasin alasanku berbuat kaya gitu tuh karena apa. Jadi seharusnya impas. Aku enggak perlu minta maaf ke Luna.” “Mahira ….” “Ceraikan aku dulu kalau kamu mau aku minta maaf sama Luna,” ucap Mahira. “Dia aja enggak pernah minta maaf kok ke aku karena udah ambil kamu, kenapa untuk masalah kecil kaya gini aku harus minta maaf? Enggak adil.” “Luna enggak merebut aku, Mahira, dia jadi istri aku karena permintaan Papa dan—” “Aku enggak peduli, Mas. Mau karena permintaan Papa atau semacamnya, dia tetap rebut kamu dari aku karena mau segimana pun Papa mohon, Luna enggak akan terima kalau dia punya harga diri,” ucap Mahira. “So, kamu tinggal pilih aja. Aku minta maaf sama Luna, tapi kita pisah, atau aku enggak perlu minta maaf dan rumah tangga kita panjang. Gimana?” Tidak ada jawaban, yang Mahira dengar setelahnya hanyalah embusan napas kasar Danan. “Kamu mau yang mana, Mas?” tanya Mahira selang beberapa detik. “Aku siap kapan pun kamu mau menceraikan aku dan—” “Oke, aku enggak akan nyuruh kamu buat minta maaf sama Luna, tapi tolong jangan diulang lagi perbuatan kamu yang kaya gini,” ucap Danan. “Aku tahu kamu sakit hati sama pernikahanku dan Luna, tapi kita sama-sama terpaksa, Mahira. Kalau bukan karena keinginan Papa, aku enggak akan nikah lagi dan—” Tidak selesai Danan bicara, Mahira menyudahi panggilan secara sepihak kemudian menyimpan ponselnya di atas meja. “Basi banget ucapan kamu, Mas,” ucap Mahira. “Awalnya mungkin terpaksa, tapi lama kelamaan kamu pasti cinta juga sama si Luna itu. Laki-laki gampangan.” Mendadak badmood setelah mengobrol dengan Danan, Mahira menekuk wajahnya sambil memeluk kedua tangan di d**a. Larut dalam rasa kesal, selama beberapa saat yang dia lakukan adalah; memandangi dua paket pemberian Darka. Berbeda darinya, jauh di sana Jennia justru sedang berusaha melakukan sesuatu. “Aku takut Mahira semakin keterlaluan, Mas, ke depannya. Malam ini mungkin Danan, gimana kalau nanti Luna?” tanya Jennia. “Aku takut kandungan Luna diapa-apain Mahira.” “Mahira enggak akan sejahat itu,” ucap Antara. “Hari ini dia mungkin lagi kesal aja. Aku yakin.” “Kamu kenapa belain Mahira terus sih, Mas?” tanya Jennia. “Anak kamu alerginya kumat lho gara-gara Mahira. Diomelin seharusnya, bukan malah dibela. Ngelunjak nanti.” Antara mendelik. “Mau gimana pun sikap aku ke Mahira, itu terserah aku, Jennia,” ucapnya. “Danan juga enggak kenapa-kenapa. Kamu enggak usah berlebihan.” “Mas ….” “Apa?” tanya Antara. “Kamu ini selalu bersikap berlebihan sama Mahira. Padahal, dia enggak ada salah sama kamu. Kenapa sih? Salah apa Mahira sama kamu sam—” Tidak selesai Antara bicara, ponsel Jennia lebih dulu terdengar. Mendapat panggilan dari Danan, dia menjauh sedikit untuk menjawab telepon. Tak lama, selang beberapa menit Jennia menghampiri Antara dengan raut wajah panik. “Luna pendarahan, Mas. Dia tiba-tiba ngeflek terus sekarang dibawa ke rumah sakit. Ayo nyusul.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD