***
“Merebut kamu dari Danan.”
Singkat, padat, merebut, itulah jawaban yang Darka berikan usai Mahira bertanya perihal tujuan pria itu bersikap baik padanya. Jika Mahira tidak sedang trust issue, dia mungkin akan merasa sangat bahagia dan salah tingkah.
Namun, karena kondisinya berbeda, yang dia lakukan justru memutar bola matanya dengan malas. “Yang banyak ngomong biasanya enggak serius,” ucapnya. “Lagian daripada gembar-gembor deketin istri orang, mendingan selesaikan urusan Mas dengan Mbak Clara. Aku yakin hubungan kalian lebih dari rekan kerja.”
“Ya Tuhan, Mahira, kamu masih enggak percaya kalau saya dan Clara tidak ada hubungan spesial?” tanya Darka, terdengar frustasi. “Jawaban saya jujur, Mahira. Di kehidupan yang sekarang ini, saya dan Clara tidak jadi dijodohkan. Jadi hubungan kami benar-benar hanya rekan kerja. Tidak lebih.”
“Oh,” ucap Mahira singkat, masih dengan perasaan yang tidak sepenuhnya percaya.
Bukan tanpa alasan, dia bersikap seperti itu karena teringat pada takdirnya sendiri yang tidak semulus itu meskipun di kesempatan kedua, sehingga ketika Darka bercerita tentang Clara, dia yakin semuanya tak sesimple itu.
“Masih tidak percaya?” tanya Darka.
“Enggak tahu,” jawab Mahira. “Saya trust issue setelah suami saya nikah lagi. Jad—”
“Nikah sama saya makanya, jangan sama Danan,” potong Darka. “Kalau kamu mau melepaskan Danan dan bersama saya, saya janji akan bahagiain kamu.”
“Berpisah enggak semudah membalikan tangan, Mas Darka,” ucap Mahira, beralasan. “Lagipula Tuhan membenci perceraian. Jadi kalau Mas terus memaksa saya berpisah dari Mas Danan, Mas sama saja dengan setan.”
“Saya enggak apa-apa jadi setan, asalkan bisa memiliki kamu, Mahira,” jawab Darka santai—membuat Mahira spontan memijat kening. “Jadi iblis pun tidak masalah.”
“Apa sih?”
Darka tertawa. “Kenapa?” tanyanya. “Saya jujur lho. Saya kan udah bilang berkali-kali ke kamu tentang tujuan saya. Jadi kamu tolong percaya, karena saya sangat serius. Nanti setelah datang ke rumah saya, kamu pasti enggak akan ragu lagi.”
“Ada apa memangnya di rumah Mas?” tanya Mahira sambil menaikkan sebelah alis.
“Besok kamu akan tahu,” ucap Darka. Hening sejenak, pria itu bertanya, “Mau jam berapa ke sininya? Saran saya sih pagi, biar kamu bisa sekalian ketemu sama konsultan bisnis yang saya bilang.”
“Saya belum jawab setuju dan butuh bantuan, perasaan.”
“Memang, tapi saya yakin kamu butuh,” ucap Darka. “Untuk pemula seperti kamu, konsultan tuh penting. Jadi kamu harus pakai jasa teman saya. Ya? Suami kamu tuh enggak perhatian. Tahu istrinya mulai bisnis, dia malah enggak lakuin apa-apa. Padahal, seharusnya dia mengawal kamu supaya bisnis kamu berjalan dengan lancar.”
“Saya enggak butuh bantuan Mas Danan, Mas,” ucap Mahira. “Jadi dia enggak bantu pun, saya enggak masalah.”
“Iya sih,” ucap Darka. “Daripada bantuan Danan, kamu mending terima bantuan dari saya aja. Ya?”
“Ish.”
Darka terkekeh, sementara Mahira meminta izin menyudahi panggilan dengan pria tersebut. Tak menunggu jawaban, dia memilih untuk mengakhiri telepon secara sepihak. Menyimpan ponselnya lagi, dia berkata, “Mas Darka beneran ada rasa sama aku atau cuman bohongan sih? Lihat wajah dia yang kalem, aku skeptis banget setiap dengar ucapannya. Enggak lucu juga kalau keluar dari mulut harimau, tapi masuk mulut buaya.”
Tidak terlalu lama memikirkan Darka, Mahira memilih untuk melakukan hal lain. Pukul tujuh malam, dia pergi ke dapur untuk menikmati makanan yang Bi Ipah buat. Tanpa Danan dan tanpa ada momen manis, Mahira sendirian di meja makan—membuat sang art yang semula diam-diam memperhatikan, datang menghampiri.
“Non baik-baik aja, kan?” tanya Bi Ipah dengan wajah khawatir.
“Bi,” panggil Mahira. “Aku baik kok. Bibi kenapa tiba-tiba nanya kaya gitu?”
“Enggak, Non. Bibi cuman takut aja Non Mahira diam-diam menyimpan kesedihan sendiri,” ucap Bi Ipah—membuat Mahira tersenyum tipis. “Bibi yakin Non tuh sebenarnya hancur, tapi pura-pura tegar. Iya, kan?”
Mahira tersenyum tipis. “Enggak ada istri yang enggak sakit hati lihat suaminya nikah lagi, Bi. Cuman, mau gimana lagi? Aku kan enggak bisa kasih anak buat Mas Danan. Jadi udah seharusnya aku biarin Mas Danan cari istri baru.”
“Bibi enggak nyangka Pak Antara sejahat itu sama Non Mahira,” ucap Bi Ipah lagi. “Selama ini Bapak tuh kelihatan sayang banget sama Non. Bibi pikir beliau enggak akan permasalahin soal anak.”
“Sesayang-sayangnya Papa ke aku, aku tetap bukan anaknya, Bi. Jadi wajar kalau Papa kaya gitu,” ucap Mahira. “Bibi jangan khawatir pokoknya. Aku beneran kuat, bukan pura-pura kuat.”
Bi Ipah tersenyum tanpa menimpali ucapan Mahira, hingga tak berselang lama dia berpamitan untuk mengecek cucian di lantai dua. Tak ada lagi teman mengobrol, Mahira melanjutkan aktivitasnya makan. Namun, ponsel yang tiba-tiba saja berdering membuat atensi dia beralih.
“Luna,” gumam Mahira setelah mendapati nama sang madu di layar. “Dia pasti mau ngomelin aku karena udah ngerjain dia.”
Alih-alih menjawab panggilan, Mahira memilih untuk menolak kemudian menyantap lagi nasi di piring. Tak ada lagi telepon masuk, suasana di dapur sunyi, hingga sekitar pukul delapan malam—tepat saat Mahira sedang menikmati acara televisi, ponselnya kembali berbunyi.
Bukan Luna, kali ini yang menelepon adalah Jennia. Berpikir selama beberapa detik sebelum menjawab panggilan, Mahira awalnya berniat untuk menolak. Namun, karena teringat misinya membuat Jennia kesal kemudian naik darah, dia berubah pikiran.
“Halo.”
“Maksud kamu apa ngerjain Luna?” tanya Jennia tanpa basa-basi. “Kamu pikir lucu kamu kaya gitu hah? Danan gatal-gatal sekarang gara-gara kamu, dan Luna juga sempat diomelin sama Danan. Padahal, dia enggak salah. Pengen bikin Luna cerai sama Danan, kamu hah?”
“Gitu doang dipermasalahin,” jawab Mahira santai, dan tak merasa bersalah atau khawatir pada Danan. “Mas Danan cuman gatal-gatal kali, bukan pingsan. Lagian anggap aja ospek buat istri baru. Mahasiswa baru aja perlu diospek, masa istri baru enggak?”
“Kamu tuh kenapa sih?” tanya Jennia dengan suara yang terdengar kesal. “Diam dan enggak banyak tingkah, susah emangnya? Luna tuh perempuan yang bisa kasih mertua kamu cucu. Jadi kamu jangan macam-macam sama dia apalagi sampe ngerjain kaya gitu. Danan juga suami kamu. Enggak pantas banget kamu permainin alerginya kaya gitu. Enggak lucu.”
“Kalau enggak lucu ya enggak usah ketawa, Ma,” ucap Mahira, masih dengan suara yang santai. “Lagian Luna sama Mas Danan yang dikerjain, kenapa Mama yang sewot?”
“Mahira, kamu ini benar-benar kurang ajar ya!” ujar Jennia. “enggak tahu diri banget ngomong kaya barusan. Kamu pikir tingkah kamu itu hebat hah? Kamu pik—”
Tidak selesai Jennia bicara, Mahira menyudahi panggilan kemudian tersenyum dengan perasaan yang puas. Belum sempat dia memberikan komentar untuk apa yang terjadi, suara bel dari pintu depan lebih dulu terdengar—membuat dia menoleh dengan sebelah alis yang terangkat.
“Siapa ya?” tanya Mahira pada dirinya sendiri. “Enggak mungkin Mas Danan, kan?”