***
Mahira lekas menyebrang jalan usai menjawab pilihan yang diberikan Darka. Meskipun kesal pada pria itu, dia berusaha bersikap biasa saja saat tiba di depan sang mertua yang menunggu dirinya di dekat mobil.
“Pa,” panggil Mahira sambil meraih punggung tangan Antara untuk ditempelkan ke keningnya.
“Sore, Sayang,” sapa Antara. “Kamu kelihatan capek. Sibuk banget ya hari ini?”
“Lumayan,” jawab Mahira. “Tapi hasilnya cukup memuaskan. Aku udah dapat ruko buat buka toko, dan tempatnya cukup nyaman.”
“Syukurlah kalau gitu, Papa lega dengernya,” jawab Antara. “Kalau butuh modal tambahan, bilang aja. Nanti Papa transfer.”
Mahira tidak menjawab dan hanya tersenyum sebagai respon. Tidak lama di pinggir jalan, dia diajak masuk ke mobil sang mertua. Membuka pintu sambil menoleh pada Darka, delikan judes diberikannya pada pria yang berhasil membuatnya kesal tersebut.
Jika tidak ada Antara, Mahira ingin sekali menampar Darka saking kesalnya. Namun, karena ada sang mertua, mau tidak mau dia mengiyakan ajakan Darka untuk datang ke rumah pria itu besok, agar bisa dilepaskan dari jegalan.
“Yang tadi siapa? Kok kamu kelihatan kaya lagi berdebat sama laki-laki itu?”
Setelah beberapa menit suasana mobil diselimuti hening, pertanyaan tersebut Mahira dapatkan dari Antara yang duduk persis di samping kirinya.
“Teman lama aku, Pa,” jawabnya. “Tadi aku sama dia emang lagi debatin sesuatu. Jadi agak tegang kelihatannya.”
“Debatin apa memangnya?” tanya Antara. “Maaf kalau Papa terkesan kepo. Papa cuman enggak mau kamu diapa-apain sama laki-laki itu.”
“Bukan masalah besar kok, cuman soal reuni sekolah,” jawab Mahira bohong. “Papa enggak perlu khawatir.”
“Oh, oke kalau gitu, Papa lega,” ucap Antara sambil tersenyum. “Kalau ada apa-apa atau ada yang nyakitin kamu, bilang ya sama Papa. Meskipun Danan sudah menikah lagi dengan Luna, kamu tetap menantu yang Papa prioritaskan.”
“Kenapa?” tanya Mahira, kali ini sambil menoleh kemudian memandang sang mertua. “Bukannya aku menantu yang enggak bisa kasih Papa cucu? Dibanding aku, seharusnya Luna yang Papa prioritaskan karena dari dia, Papa akan dapat pewaris.”
Antara tidak menjawab dan hanya mengukir senyum tipis, sementara pandangan Mahira kembali lurus ke depan. Tidak diam saja, dia kembali buka suara.
“Dulu—sebelum Papa minta Mas Danan nikahin Luna, aku percaya banget kalau Papa sama Mas Danan tuh bisa aku andalin dan bisa aku jadiin tempat berlindung,” ucap Mahira. “Tapi sekarang penilaianku berubah, Pa. Aku enggak percaya lagi sama Papa dan Mas Danan, karena alih-alih ngelindungin aku, kalian justru bikin luka yang besar di hati aku. Kayanya memang cuman mendiang ayah aja yang bisa aku percaya dan andalkan.”
“Papa minta maaf, Mahira,” ucap Antara—membuat Mahira muak, karena seringnya kalimat tersebut dia dengar. “Papa sama Danan memang salah, tap—”
“Aku ngerti, Pa, aku paham,” ucap Mahira sebelum Antara selesai bicara. “Dunia emang jahat buat perempuan banyak kurangnya kaya aku. Jadi Papa enggak usah terus minta maaf karena maaf dari Papa enggak mengubah apa pun. Mas Danan udah mendua, dan sekarang aku punya madu.”
Antara tidak menimpali lagi sehingga suasana di mobil pun hening. Empat puluh menit di jalan, sedan hitam milik Antara akhirnya sampai di depan gerbang rumah Mahira. Jika sebelumnya Mahira selalu menyambut ramah kedatangan sang mertua kemudian menjamunya sebaik mungkin, maka sore ini hal berbeda dia lakukan.
Tanpa meminta Antara mampir, Mahira turun dari mobil kemudian masuk begitu saja ke pekarangan rumahnya—meninggalkan Antara yang hanya bisa mengambil napas berat.
“Andai kamu tahu kalau bukan karena Papa, Danan dan Luna menikah, Mahira.”
Tidak memaksakan diri turun dan mampir ke rumah sang menantu, Antara memilih berlalu bersama sang sopir yang sejak tadi duduk di kursi kemudi. Dia tidak tahu jika dari dalam rumah, persisnya dari balik jendela, Mahira memperhatikan kepergiannya dengan kedua mata yang dibasahi cairan bening.
“Diantara semua orang, hati aku susah banget rasanya buat benci sama Papa Antara,” ucap Mahira dengan suara yang sedikit bergetar. “Padahal, kalau bukan karena Papa, Mas Danan enggak akan menikahi Luna dan menyakiti aku. Papa lebih jahat dibanding Mama Jennia, tapi orang yang ingin aku balas pertama kali justru Mama Jennia.”
Tidak mau hanyut dalam rasa sedih, Mahira sigap mengusap air matanya sebelum berbalik lalu pergi menuju kamar. Danan belum pulang, dia berniat untuk membersihkan badan setelah seharian di luar. Namun, belum sempat Mahira pergi ke kamar mandi, ponselny lebih dulu berbunyi—membuat dia menoleh.
“Ada apa coba dia hubungin aku?” tanya Mahira setelah mendapati nama sang madu di layar ponselnya. “Kan aku udah bilang kalau ada perlu sama Mas Danan, hubungin aja langsung, bukan telepon aku.”
Meskipun malas, Mahira menjawab telepon.
“Halo,” sapanya singkat.
“Mbak Mahira lagi sibuk enggak?” tanya Luna dari sebrang sana.
“Sibuk banget, kenapa?” tanya Mahira, seperti biasa dengan sikap yang ketus.
“Itu, Mbak, Mas Danan,” ucap Luna. “Boleh enggak kalau malam ini, dia di rumahku dulu? Aku sama dia kan pengantin baru, tapi kita malah baru semalam tidur bareng. Jadi kalau Mbak enggak keberatan, aku mau tuker malam. Gimana?”
Mahira tidak menjawab sementara otaknya sibuk berpikir, coba mencari jawaban yang pas untuk madunya tersebut.
“Mbak?” panggil Luna setelah beberapa detik hening.
“Tuker ke malam apa?” tanya Mahira sambil menaikkan sebelah alis.
“Bebas, gimana Mbak Mahira aja,” ucap Luna. “Jatah Mas Danan di sini kan kamis sampai minggu. Mbak bisa pilih satu buat gantiin malam ini.”
“Aku mau ambil kamis aja,” ucap Mahira tanpa pikir panjang.
“Berarti Mbak ngebolehin ya Mas Danan ke rumahku malam ini?” tanya Luna sumringah.
“Iya boleh, tapi selain malamnya ditukar, aku punya syarat lain,” ucap Mahira, kali ini sambil mengukir senyum miring. “Kalau kamu bisa penuhin syaratnya, Mas Danan boleh tidur di sana.”
Tidak langsung menjawab iya ucapan yang Mahira lontarkan, Luna justru bertanya. “Syarat apa emangnya, Mbak? Enggak susah, kan?”