***
Tujuan Mahira setelah diberi kesempatan kembali ke masa lalu adalah; memperbaiki takdir hidupnya, kemudian membalas perbuatan jahat orang-orang terdekat Danan pada dirinya. Tidak punya siapa pun yang bisa diandalkan, Mahira berusaha fokus dan tak terdistraksi apa pun termasuk Darka yang belakangan ini muncul di hidupnya.
Sempat menyambut baik kehadiran Darka, Mahira mendadak tak nyaman setelah pria itu bercerita tentang perempuan bernama Clara. Meskipun Darka berkata dia tak punya hubungan apa-apa dengan perempuan yang pernah dinikahinya di kehidupan sebelumnya, Mahira tidak bisa sepenuhnya percaya karena Darka bisa saja berbohong.
Efek dari ketidaknyamanan tersebut, Mahira sedikit menjauhi Darka. Tak terlalu ramah pada pria itu, dia bahkan berani menolak ajakan Darka untuk bertemu dengan alasan; sibuk.
“Akhirnya selesai juga urusan ruko, setelah ini tinggal mikirin konsep toko sama yang lainnya. Cukup melelahkan juga.”
Sore menjelang, Mahira yang pergi dari rumah sekitar pukul sepuluh pagi, barusaja selesai mengurus tempat untuk toko barunya nanti. Punya modal besar, dia mencari ruko di tempat yang ramai. Bermodalkan sosial media, Mahira bisa mendapatkan tempat dalam satu hari saja—bahkan menyelesaikan pembayaran sewa selama setahun.
“Soal konsep sama yang lain kayanya aku butuh tenaga ahli deh,” ucap Mahira lagi di tengah kegiatannya menunggu taksi. “Gimana pun juga ucapan Mama Jennia soal aku yang enggak pengalaman di bidang usaha tuh benar. Jadi aku enggak boleh sembarangan dan—”
Mahira yang asyik bermonolog, seketika diam setelah sebuah audy hitam berhenti persis di depannya. Bukan mobil Danan, Mahira tidak mengenali mobil tersebut sehingga sebuah kerutan di kening pun terbentuk. Namun, tak lama karena setelahnya pintu mobil sebelah kanan terbuka—menampilkan seorang pria yang tidak lain adalah Darka.
“Mas Darka,” gumam Mahira pelan, sementara yang dia panggil, berjalan sambil tersenyum.
“Hai, Mahira. Kebetulan sekali kita bertemu,” sapa Darka ramah.
“Halo, Mas,” sapa Mahira sambil mengulum senyuman tipis di bibirnya.
“Kamu lagi apa?” tanya Darka dengan jarak yang semakin dekat. “Lagi nunggu seseorang atau ….”
“Aku lagi nunggu taksi, Mas,” ucap Mahira. “Kebetulan mau pulang setelah urus ruko.”
“Ruko?” tanya Darka.
“Iya, aku mau buka toko kue sama toko bunga. Jadi hari ini cari ruko buat tokonya.”
“Udah ketemu?” tanya Darka.
“Udah. Kan barusan aku bilang habis urusin ruko, itu berarti rukonya udah ada dan udah diurus sewanya,” jawab Mahira. “Mas Darka darimana? Kok bisa tiba-tiba di sini?”
“Saya habis ngantor,” ucap Darka. “Kebetulan lagi pengen pulang cepat. Eh, enggak sengaja ketemu sama kamu.”
“Oh.”
Tak ada obrolan, suasana hening selama beberapa detik, hingga tak berselang lama Darka kembali bicara dengan melontarkan sebuah tanya.
“Kamu kenapa mendadak dingin sama saya, Mahira? Kemarin sebelum saya cerita tentang apa yang saya alami, kamu masih welcome sama saya, tapi kenapa sekarang berubah? Apa karena telepon dari Clara kemarin? Kalau iya, ucapan saya di chat enggak bohong. Dia telepon saya cuman buat nanyain soal kerjaan, karena perusahaan Papanya dan perusahaan yang saya kelola, kebetulan ada kerjasama.”
“Aku enggak ngerasa bersikap dingin kayanya, Mas. Sikapku ke Mas Darka masih sama kaya sebelumnya,” ucap Mahira. “Soal aku yang nolak buat ketemu, aku beneran sibuk dan aku enggak bohong.”
Darka menghela napas pelan. “Berarti saya salah sangka ya?” tanyanya.
“Iya,” jawab Mahira. “Soal Mas Darka sama Mbak Clara, itu bukan urusan aku. Jadi mau gimana pun hubungan kalian, terserah, aku enggak mau ambil pusing.”
“Tapi saya cinta sama kamu, Mahira,” ucap Darka. “Dan saya kembali ke tahun ini untuk merebut kamu dari Danan. Jadi soal kejelasan hubungan saya dan Clara, kamu harus tahu biar kamu enggak ngerasa ragu.”
“Aku enggak punya niat buat berpisah dari Mas Danan, Mas,” jawab Mahira, kali ini sambil menoleh kemudian memandang Darka yang berada persis di sampingnya. “Meskipun Mas Danan udah punya istri lagi, aku masih mau sama dia.”
“Kenapa, Mahira?” tanya Darka nampak tak terima. “Apa kamu enggak percaya sama cerita yang saya paparkan kemarin? Kamu enggak akan bahagia kalau terus sama Danan. Kamu akan menderita dan—”
“Bahagia atau enggaknya aku itu urusan aku, Mas, bukan urusan kamu,” jawab Mahira. Dalam hati, dia percaya pada cerita Darka karena memang di kehidupan sebelumnya, dia menderita setelah Danan menikah lagi—bahkan tentang kejadian malam itu, Mahira tak ragu karena dia mengalaminya.
Namun, entah kenapa dia tidak bisa semudah itu percaya pada semua pernyataan cinta yang diungkap Darka padanya. Entah karena apa, Mahira sendiri tidak tahu, tapi yang jelas semenjak nama Clara muncul di layar ponsel Mahira, dia ragu pada Darka.
Selain Darka yang mungkin berbohong tentang hubungannya dengan Clara, Mahira takut pria itu tidak benar-benar mencintainya dan punya maksud terselubung di balik pendekatan yang dilakukan. Mahira tak mau gegabah. Dia ingin bahagia tanpa mau tertipu siapa pun.
“Mahira, please.”
“Mas Darka terlalu asing untuk aku. Jadi sulit buat aku percaya kalau Mas emang ada rasa sama aku,” ucap Mahira. “Selain itu, aku juga enggak bisa sepenuhnya percaya soal hubungan Mas dan Mbak Clara, karena bisa aja semua ucapan Mas bualan semata.”
“Mahira, saya enggak bohong, saya jujur,” ucap Darka. “Kalau kamu enggak percaya, ayo datang ke rumah saya karena saya punya bukti.”
“Bukti apa?”
“Bukti tentang rasa cinta saya ke kamu,” ucap Darka. “Enggak cuman itu, kamu juga bisa pastiin ke orang di rumah saya soal status saya sekarang. Di kehidupan sebelumnya saya dan Clara memang menikah, tapi enggak di kehidupan yang sekarang, Mahira. Saya pengen perjuangin kamu, saya pengen ambil kamu dari Danan, dan saya pengen bahagiain kamu. Jadi sebelum lakuin semua itu, saya putuskan untuk mengakhiri perjodohan saya dan Clara. Saya harap kamu percaya karena saya enggak bohong sedikit pun, saya jujur.”
Mahira kali ini diam, sementara matanya dan Darka bertemu kemudian saling menatap. Di momen tersebut, Mahira coba mencari kejujuran pada pria di depannya itu. Namun, ponsel yang tiba-tiba saja berdering membuatnya terdistraksi.
Mengambil benda pipih tersebut, Mahira mendapati nama Antara di layar ponselnya. Lekas menjawab panggilan, dia menyapa,
“Halo, Pa.”
“Kamu sedang ngobrol sama siapa, Mahira? Papa di sebrang jalan,” ucap Antara—membuat Mahira spontan menoleh, dan benar saja di sebrang sana Antara berdiri dengan pandangan tertuju padanya.
“Papa lagi apa di sebrang?” tanya Mahira.
“Papa enggak sengaja lewat,” ucap Antara. “Kamu mau pulang sekarang enggak? Kalau iya, Papa anterin.”
“Aku udah pesan taksi, Pa, tapi kalau Papa mau anter, aku bisa cancel.”
“Ya udah Papa tunggu.”
“Oke.”
Mahira menyudahi panggilan kemudian memasukan lagi ponselnya ke dalam tas. Kembali pada Darka, dia berpamitan.
“Ada mertua saya, Mas, saya pamit dulu. Permis—”
“Saya enggak akan biarin kamu pergi sebelum kamu jawab iya ajakan saya buat datang ke rumah, Mahira,” ucap Darka, sambil mencekal lengan Mahira.
“Mas ….”
“Jawab iya atau saya tahan kamu biar mertua kamu datang ke sini,” ucap Darka.
Mahira tidak menjawab dan hanya memandang Darka dengan perasaan kesal, sementara yang dipandang, kembali bicara.
“Enggak perlu hari ini, Mahira. Bisa besok atau besoknya lagi. Gimana bisanya kamu.”