***
Pagi ini suasana hati Mahira cukup baik. Bukan tanpa alasan, baiknya mood Mahira disebabkan oleh sebuah cek yang semalam Danan berikan padanya. Berisi nominal yang tidak sedikit, cek tersebut tinggal Mahira cairkan di bank untuk dipakai modal usaha yang dia inginkan.
Tanpa ada aturan apa-apa, Mahira katanya bebas menggunakan uang tersebut asalkan tidak menggugat cerai Danan. Bukan dari sang suami, kalimat tersebut Mahira dapat dari Antara yang semalam menghubunginya via telepon.
“Malam ini kamu tidur di rumahnya Luna, kan, Mas?” tanya Mahira di tengah kegiatannya sarapan bersama Danan.
“Kok di rumahnya Luna?” Danan balik bertanya. “Di sini dong, Sayang. Kan ini baru hari selasa. Aku di rumahnya Luna hari kamis.”
“Enggak apa-apa emangnya?” tanya Mahira. “Kamu sama Luna kan pengantin baru, dan kalian punya misi buat kasih Papa cucu. Aku rasa lebih bagus kalian habisin waktu bersama lebih lama.”
“Meskipun aku sama Luna punya misi buat kasih cucu, tetap aja pembagian harinya harus adil, Sayang,” ucap Danan. “Lagian aku enggak terlalu berambisi juga punya anak sama Luna dan—”
“Yakin enggak berambisi?” tanya Mahira sambil menaikkan sebelah alis. “Kok aku ragu ya? Secara, udah empat tahun kita menikah. Aku pikir kamu pasti udah pengen banget punya anak.”
“Kamu enggak percaya sama ucapan aku?” tanya Danan. “Aku serius lho, Sayang. Aku kan nikah sama Luna karena permintaaan Papa, dan—”
“Udah HS belum sama Luna?” tanya Mahira—membuat Danan diam. “Kalau emang kamu berambisi, seharusnya sampai detik ini kamu sama dia belum ngapa-ngapain.”
Danan tidak memberi jawaban—membuat Mahira teringat lagi momen pria itu bercinta dengan Luna di kehidupan dia yang sebelumnya. Satu rumah dengan Mahira saja, Danan berani menyentuh Luna langsung, apalagi tak serumah dengannya? Seratus persen Mahira yakin Danan dan Luna pasti sudah saling menikmati satu sama lain.
“Kenapa diam, Mas?” tanya Mahira setelah beberapa detik hening. “Enggak bisa jawab ya karena kamu sama Luna beneran udah tidur bareng?”
“Sayang, ak—”
“Hari ini aku mau cairin uang dari Papa terus mulai urus toko yang mau aku bikin,” ucap Mahira sebelum Danan selesai bicara. “Jadi kalau kamu enggak bisa hubungin aku, jangan berpikiran macam-macam karena aku sibuk cari ruko.”
“Hp kamu mau dimatiin emang?” tanya Danan. “Aku pasti kangen kamu nanti dan—”
“Enggak usah sok abg, Mas, enggak pantas,” potong Mahira sebelum Danan selesai bicara. “Lagian istri kamu sekarang ada dua. Jadi kalau aku enggak bisa dihubungin, kamu bisa lari ke Luna. Dia kan jauh lebih baik dari aku kata Mama juga.”
“Ucapan Mama jangan dimasukin hati, Sayang,” ucap Danan. “Mama emang kaya gitu. Kamu tahu.”
“Mau masukin hati atau enggak itu terserah aku kali,” ucap Mahira. “Kamu enggak berhak ngatur.”
Tak mau masalah semakin panjang, Danan memilih untuk mengalah dengan tak menimpali lagi ucapan Mahira. Pukul tujuh lebih lima belas, sarapan bersama selesai. Tak mengambil cuti untuk berbulan madu, Danan berpamitan pergi ke kantor setelah libur di hari senin kemarin.
Meskipun Mahira banyak berubah, perempuan itu tetap mengantar Danan sampai ke depan rumah. Namun, selain mencium punggung tangan sang suami, Mahira tidak melakukan apa-apa lagi. Padahal, sebelum Luna datang ke kehidupan Danan, Mahira selalu mendaratkan kecupan di pipi suaminya itu.
“Aku berangkat dulu ya,” ucap Danan. “Kalau kamu butuh bantuan soal ruko dan semacamnya, telepon aku aja. Aku pasti bantu.”
“Aku enggak akan butuh bantuan kamu, Mas. Aku bisa handle semuanya sendiri,” ucap Mahira. “Kamu fokus aja kerja karena yang harus kamu nafkahi sekarang ada dua. Aku enggak mau uang bulananku berkurang cuman karena Luna.”
Danan tersenyum tipis. “Iya, Sayang. Kamu tenang aja.”
Mahira tersenyum tipis sebagai respon, sementara Danan masuk ke dalam mobil kemudian pergi meninggalkan rumah. Dalam hitungan menit, mobil Danan hilang dari pandangan Mahira. Tak terus di teras, perempuan itu melangkah masuk dengan tujuan; bersiap-siap, karena ucapannya tentang mencairkan uang dan mencari ruko, tidak bohong.
Meskipun belum ada pengalaman di bidang bisnis, Mahira akan berusaha semaksimal mungkin untuk usahanya agar ketika pergi dari Danan, dia tidak melarat.
“Cari ruko di mana ya?” tanya Mahira, sambil mendudukan dirinya di sofa. “Modal dari Papa lumayan gede, kayanya bisa deh aku sewa tempat yang strategus buat toko.”
Menunda niatnya bersiap-siap, Mahira mencari dulu tempat yang menyediakan ruko kosong untuk disewa. Punya niat membuat dua toko sekaligus, Mahira berencana menyewa ruko yang bersebelahan agar ketika tokonya sudah beroperasi, dia tak perlu repot kesana kemari.
“Enggak ada yang bagus ih, tempatnya kecil semua,” ucap Mahira setelah beberapa ruko kosong muncul di pencariannya. “Aku kan pengen yang agak gede biar enak. Toko bunga enggak apa-apa agak kecil, asalkan toko kue bis—”
Tak selesai Mahira bicara, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Bukan dari Danan atau Jennia, kali ini yang menelepon adalah Darka—membuat Mahira teringat lagi obrolannya dengan pria itu kemarin siang. Tidak langsung menjawah, Mahira justru sibuk dengan pikirannya sendiri, sehingga ponsel yang semula berdering, akhirnya kembali sepi.
“Mas Darka matiin teleponnya,” ucap Mahira, entah kenapa tiba-tiba menyesal. “Kesal kali ya karena aku enggak jaw—”
Lagi, ucapan Mahira terpotong setelah Darka kembali menelepon. Kali ini, dia memutuskan untuk menjawab kemudian dengan suara tenang, Mahira menyapa, “Halo.”
“Mahira, akhirnya kamu jawab telepon dari saya,” ucap Darka dengan suara yang terdengar lega.
“Ada apa, Mas Darka telepon?” tanya Mahira. “Kalau enggak ada kepentingan, saya matiin karena kebetulan saya sibuk.”
“Kamu ada kegiatan apa memangnya hari ini?”
“Bukan urusan Mas Darka,” ucap Mahira sambil tersenyum tipis. “Daripada sibuk deketin saya, mendingan Mas selesaikan masalah dengan Clara. Urusan kalian belum selesai, kan? Kalau sudah, dia enggak akan hubungin Mas.”
“Kamu salah paham, Mahira,” ucap Darka. “Clara telepon saya bukan buat aneh-aneh, saya bisa jelaskan.”
Mahira tidak menjawab dan hanya menghela napas pelan sebagai respon.
“Apa bisa kita bertemu lagi?” tanya Darka setelah beberapa detik waktu berlalu. “Saya akan jelaskan semuanya supaya kamu enggak salah paham.”
“Saya sibuk, Mas,” ucap Mahira. “Selain itu saya punya urusan yang lebih penting dibanding hubungan Mas Darka sama Clara.”
“Mahira, please,” pinta Darka. “Hanya lima belas menit. Tidak akan lama.”
Mahira tak menjawab dan sibuk berpikir. Hampir tiga puluh detik berlalu, Darka kembali buka suara. “Bagaimana Mahira? Apa bisa?”