*** “Mahira ada apa telepon? Nyuruh kamu pulang?” Kembali ke sofa ruang tengah usai mengakhiri panggilan dengan Mahira, pertanyaan tersebut langsung menodong Danan persis ketika dia duduk kembali di tempatnya. Tak ada Jennia, di ruang tengah hanya ada Antara, karena memang sejak tadi Danan dan sang Papa hanya mengobrol berdua. “Enggak, Pa, bukan.” “Terus?” “Mahira marah karena katanya barusan Mama telepon dia dan ngomel-ngomel,” jawab Danan—membuat Antara spontan mengerutkan kening. “Mama kayanya dengar obrolan kita dan enggak suka terus telepon Mahira. Jadi sekarang Mahiranya ngambek. Dia ngerasa tersinggung sama ucapan Mama.” “Ck, Mama kamu kenapa selalu ganggu Mahira coba?” tanya Antara, disertai decakan. “Udah sering banget dilarang, masih aja lakuin itu.” “Mama dari awal kan e

