Bagian 14

1114 Words
*** Di kehidupan sebelumnya Mahira terlalu naif. Percaya bahwa Danan akan selalu setia padanya, kemudian tidak akan pernah membuangnya meskipun sudah menikah lagi dengan Luna, dia justru terbuang dari rumah dalam kondisi tidak memiliki apa-apa selain uang di dompet dan kredit card. Di kehidupannya yang kedua, Mahira memperbaiki diri. Tidak hanya bersikap lebih tegas pada semua orang yang menyenggol atau menyakiti hatinya, dia juga mulai memoroti uang Danan untuk menjamin hidupnya kelak ketika sudah tak bersama suaminya lagi. Sempat meminta sedikit harta yang dimiliki sang mertua, tapi ditolak, Mahira akhirnya meminta Danan untuk membangunkannya tempat usaha berupa toko kue dan toko bunga. Tidak mau di tempat sepi dan ingin toko yang besar, dua permintaan tersebut menyusul setelah Danan mengiakan keinginannya. Danan menolak? Jawabannya adalah tidak. Namun, karena modal yang dibutuhkan untuk membangun usaha, tak sedikit, dia meminta izin menemui Antara guna membahas semuanya. Meskipun Antara memiliki harta yang cukup banyak, selama ini Danan mendapat gaji sesuai dengan jabatan yang dia miliki, sehingga ketika membutuhkan uang dalam jumlah tidak sedikit, dia masih harus bergantung pada sang papa. “Mama Jennia lagi,” gumam Mahira di tengah kegiatannya bersantai. “Mau apa sih dia? Hobi banget kayanya telepon aku. Katanya enggak suka, tapi sedikit-sedikit malah telepon. Aneh.” Malam datang, Mahira sendirian di kamar. Kemana Danan? Jawabannya tentu saja ke rumah Antara guna meminta modal usaha untuk Mahira. Pergi sejak pukul setengah tujuh tadi, Danan katanya akan makan malam di kediaman sang papa, sehingga Mahira pun kembali menikmati makan malamnya seorang diri. “Halo, Ma, kenapa?” Meskipun malas, Mahira tetap menjawab panggilan dari Jennia. Bukan karena menghormati sang mertua, tapi karena ingin membuat Jennia kesal agar tujuannya membuat mertuanya itu naik darah, bisa tercapai dalam waktu dekat. “Maksud kamu apa tiba-tiba pengen dibuatin usaha sama Danan?” tanya Jennia tanpa basa-basi. “Kamu pengen morotin uangnya suami kamu secara diam-diam. Iya?” “Kok morotin sih, Ma?” tanya Mahira. “Aku tuh minta dibikinin usaha lho, sama Mas Danan, dan usaha itu pasti ada hasilnya. Morotin dari segi mananya? Mama sensi terus ih sama aku. Padahal, aku enggak pernah cari gara-gara sama Mama.” “Usaha yang kamu pengenin tuh pasti cuman alibi, Mahira. Aslinya kamu pengen morotin uangnya Danan. Iya, kan?” tanya Jennia. “Lagian bisa apa kamu di bidang bakery? Buat kue aja enggak bisa, kan? Jadi enggak usah sok buka usaha kue deh. Kalau enggak ragu atau bangkrut, siapa juga yang repot? Danan. Buang-buang uang aja.” Mahira menghela napas kasar. “Buka toko kue enggak harus jago bikin kue kali, Ma, kan aku mau jadi ownernya, bukan jadi tukang kuenya. Lagian gini-gini aku ngerti ekonomi. Jadi Mama jangan ngeremehin aku.” “Halah, kamu ini ngomong doang bisanya,” ucap Jennia. “Kamu tuh cocoknya di rumah aja Mahira, bukan jadi pengusaha. Jadi jangan banyak tingkah dan—” “Aku enggak banyak tingkah, Ma, aku cuman pengen punya usaha,” potong Mahira dengan suara yang sedikit ngegas. “Lagian bukannya Mama pengen Mas Danan fokus sama Luna biar dia segera hamil? Kalau emang mau gitu biarin aku sibuk, Ma, supaya enggak gangguin Mas Danan sama Luna. Aku diam di rumah, hawanya pengen ganggu mereka terus lho. Mau emangnya cucu Papa enggak jadi-jadi?” “Kamu ini kenapa semakin hari semakin menjadi sih, Mahira?” tanya Jennia dengan suara yang terdengar kesal—membuat Mahira tersenyum samar. “Diam dan enggak usah banyak tingkah, susah emangnya? Kamu tuh udah enak. Rumah dikasih, mobil dikasih, mau apalagi? Tinggal diam dan—” “Aku mau usaha, Ma, USAHA,” ucap Mahira dengan penekanan di kata terakhir yang dia lontarkan. “Aku pengen punya penghasilan sendiri biar kalau seandainya Mas Danan depak aku, aku enggak akan susah. Lagian kenapa Mama yang repot sih? Aku minta modalnya ke Papa lho, bukan Mama. Uangnya juga uang Papa. Diam dan enggak usah ikut campur, susah emang?” Tak ada jawaban, selama beberapa detik suasana hening, hingga tak berselang lama—dengan suara yang tenang, Jennia kembali bicara. “Sadar diri juga ya kamu? Tahu aja kalau setelah Luna jadi istrinya Danan, kamu pasti bakalan terdepak,” ucap perempuan itu santai. “Iyalah, perempuan enggak bisa kasih keturunan seperti kamu, ngapain dipertahanin? Berguna enggak, bikin susah iya. Mending Luna kemana-mana kalau dibandingin. Selain cantik, dia juga subur. Satu bulan nikah, Mama yakin dia udah bisa hamil anaknya Danan. Enggak kaya kamu, empat tahun enggak hamil-hamil. Mandul.” Mahira mengepalkan sebelah tangannya. Tidak pernah tidak emosi ketika mengobrol dengan Jennia, dia rasanya selalu ingin memaki perempuan itu. Namun, Mahira harus menahan diri karena selain belum membalas segala perbuatan Jennia, dia juga belum mempunyai banyak bekal untuk meninggalkan Danan. “Kenapa diam, Mahira?” tanya Jennia. “Enggak bisa ngejawab ya kamu? Iyalah, mau jawab apa orang yanh Mama ucapin benar.” “Iya, aku emang mandul, Ma, aku enggak bisa kasih keturunan buat Mas Danan,” ucap Mahira. “Tapi setidaknya aku enggak jahat kaya Mama. Aku masih punya hati, enggak kaya Mama yang punyanya jantung doang.” “Terserah kamu mau ngomong apa, tapi yang jelas jangan terus bertingkah kalau masih mau jadi istrinya Danan,” ucap Jennia. “Masalah usaha ini cukup jadi yang terakhir. Ke depannya enggak usah minta apa-apa lagi karena Papa tuh bukan gudang uang. Beliau emang punya banyak aset, tapi itu bukan buat kamu, melainkan buat anak sama cucunya. Kalau kamu mau dapat banyak aset, punya anak biar berguna dikit buat suami kamu. Paham?” Mahira tidak menjawab dan hanya diam sebelum kemudian menyudahi panggilan secara sepihak. Termenung selama beberapa menit, dia yang sedikit down oleh ucapan Jennia, kembali mengumpulkan keberanian di dalam dirinya sebelum kemudian menghubungi Danan. “Halo, Sayang, kenapa?” tanya Danan dari sebrang sana. “Aku udah ngobrol nih sama Papa dan beliau acc modal yang kamu pengen. Katanya Papa dukung usaha kamu dan—” “Satu koma lima M, modal yang Papa acc?” tanya Mahira sebelum Danan selesai bicara. “Iya segitu,” ucap Danan. “Kamu tadi mintanya segitu, kan?” “Iya, tapi sekarang aku mau tambahin lagi lima ratus juta biar jadi dua milyar,” jawab Mahira. “Barusan mama kamu telepon aku dan ngomel. Aku enggak terima. Jadi anggap aja lima ratus juta tuh buat nebus rasa enggak enak aku diomelin sama Mama Jennia. Bisa, kan, ditambah lagi?” “Ini maksudnya kamu minta aku buat minta lima ratus juta lagi sama Papa, Sayang?” “Terserah,” jawab Mahira. “Mau kamu minta atau pake uang sendiri, yang jelas aku pengen modalnya segitu. Kalau enggak bisa kasih, aku mau cerai aja. Gimana?” “Mahira ….” “Dua M atau kita cerai, Mas. Itu pilihannya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD