***
(Semua cerita saya di restoran tadi jujur, Mahira. Sedikit pun saya tidak membohongi kamu, karena perasaan cinta saya ke kamu sangat besar. Clara tadi menelepon untuk bertanya pekerjaan, karena kebetulan dia sedang memiliki project bersama dengan saya. Tidak lebih)
Mahira menghela napas kasar setelah selesai membaca pesan teks yang dikirim Darka. Tidak lagi bersama pria itu, saat ini dia sedang di perjalanan pulang usai berpamitan saat Darka menerima panggilan dari Clara.
Masih diselimuti keraguan, Mahira butuh waktu untuk menjauh dari Darka karena meskipun semua cerita pria itu terdengar meyakinkan, dia tidak ingin percaya begitu saja. Di kehidupannya yang kedua ini, fokus Mahira adalah memperbaiki alur hidup juga membalas semua perbuatan orang-orang terdekatnya, sehingga urusan Darka—meski itu menyangkut perasaan, sementara waktu Mahira kesampingkan dulu.
“Kayanya enggak usah aku balas,” ucap Mahira. “Aku terlalu gampang dideketin sama Mas Darka. Padahal, seharusnya enggak semudah itu karena dia belum tentu orang baik.”
Tidak hanya bicara, Mahira benar-benar tidak membalas pesan dari Darka dan memilih untuk memasukan ponselnya ke dalam tas. Kembali menikmati perjalanan pulang, pukul setengah satu siang dia tiba di rumah.
“Mas Danan masih di sini?” tanya Mahira usai mendapati mobil sang suami masih terparkir di garasi. “Aku pikir setelah Luna telepon, Mas Danan bakalan balik lagi ke rumah Luna. Ah, apa dia balik, tapi enggak pakai mobil yang biasa?”
Tidak terus menebak-nebak, Mahira memilih untuk masuk ke dalam rumah. Disambut Danan di sofa ruang tengah, dia mengerutkan keningnya sementara sang suami mengukir senyum bahkan menyapa ramah.
“Hai, Sayang, udah ketemu sama teman-temannya?” tanya Danan tanpa ada raut emosi di wajahnya. “Aku pikir kamu bakalan pulang sore.”
“Kenapa kamu masih di sini?” tanya Mahira tanpa menjawab pertanyaan yang Danan lontarkan. Berjalan mendekat ke sofa, dia berkata lagi. “Aku pikir kamu pulang ke rumahnya Luna buat benerin kran. Rusak katanya tadi.”
“Luna telepon kamu?” Danan balik bertanya.
“Iya,” jawab Mahira, kali ini sambil mendudukan dirinya di sofa yang berada di samping kiri Danan. “Dia minta aku sampein ke kamu soal kran rusak. Pas aku minta dia nyuruh tukang, dia enggak mau karena katanya enggak enak kalau berduaan sama tukang.”
“Dia emang manja,” celetuk Danan. “Tapi kamu tenang aja karena masalah itu udah aku atasi. Aku minta tukang di rumah Papa tadi buat datang, terus aku nyuruh art juga buat nemenin Luna di rumah. Jadi aman.”
“Oh, ya udah kalau gitu,” ucap Mahira.
“Kamu udah makan siang?” tanya Danan.
“Belum,” jawab Mahira. “Aku tadi batal ketemu sama teman-temanku. Jadi aku pergi nyalon, terus habis itu pulang. Bingung soalnya mau ngapain lagi.”
“Coba kalau perginya sama aku, kamu pasti enggak akan bingung,” ucap Danan. “Kita bisa belanja atau nonton bareng, dan—”
“Aku masih enggak mood sama kamu, Mas,” ucap Mahira. “Aku masih enggak terima kamu menikah lagi. Jadi jangan sok romantis, karena fakta kamu berpoligami tuh enggak bisa dibantah. Kamu duain aku.”
“Aku minta maaf, Mahira,” ucap Danan, seperti biasa dengan raut wajah penuh penyesalan. “Aku terlalu khawatir sama kondisi Papa waktu itu. Jadi aku ambil jalan pintas karena takut Papa kenapa-kenapa. Kalau keinginan Papa udah terpenuhi, aku janji pisah sama Luna karena tujuan aku menikahi dia cuman buat kasih cucu dan—”
“Aku capek, Mas, mau rebahan,” ucap Mahira sambil beranjak dari sofanya. “Kamu kalau mau makan siang, makan aja duluan. Aku belum lapar.”
“Aku enggak akan makan sebelum kamu makan,” jawab Danan. “Aku pengen makan sama kamu dan—”
“Mintain sepuluh persen saham perusahaan ke Papa, baru aku mau makan sama kamu,” ucap Mahira, kembali memotong ucapan Danan—membuat pria itu mengerutkan kening dengan wajah yang terlihat kaget.
“Maksudnya?”
“Ya itu,” ucap Mahira. “Kalau kamu mau makan sama aku, aku pengen sepuluh persen saham perusahaan punya Papa. Jumlahnya kan seratus persen. Nah, aku minta sepuluh. Bisa, kan?”
“Sayang, aku enggak berani,” ucap Danan dengan senyuman samar yang terukir di bibirnya. “Aku aja belum dapat saham apa pun dari Papa. Jadi mana mungkin aku minta sepuluh persen buat kamu. Lagian apa enggak nyinggung kalau kita minta saham ketika Papa masih hidup? Nanti Papa nyangkanya kita doain Papa cepat meninggal.”
“Ya udah kalau enggak mau, enggak usah ngajak aku makan siang bareng,” ucap Mahira. “Aku tuh kaya gini buat jaga-jaga, karena setelah kamu sama Luna punya anak, kamu pasti buang aku. Jadi sebelum itu terjadi, aku butuh aset.”
“Kamu kok pikirannya ke situ, Mahira?” tanya Danan. “Aku enggak punya niat sedikit pun buat buang kamu. Aku sayang sama kamu dan itu beneran. Kalau pun ada yang harus aku lepas, aku akan melepaskan Luna, bukan kamu.”
Mendengar ucapan Danan, Mahira teringat lagi momen saat dirinya dituduh berselingkuh. Jika tak punya misi apa pun, ingin rasanya dia mengungkap kelakuan suaminya itu di masa depan. Namun, karena Mahira punya misi, dia harus menyembunyikan semuanya.
“Aku enggak percaya, Mas,” ucap Mahira. “Kalau Luna punya anak, dia pasti makin disayang sama Papa dan mama. Jadi mana mungkin kamu lepas dia. Makin jatuh cinta yang ada.”
“Mahira, aku enggak cinta sama Luna,” ucap Danan. “Aku nikah sama dia demi Papa, enggak lebih. Harus dengan apa sih aku yakinin kamu biar kamu percaya, hm?”
“Ya itu, mintain sepuluh persen saham ke Papa,” ucap Mahira. “Atau bisa juga mintain sepuluh persen harta kekayaan yang Papa punya. Gimana?”
“Sayang ….”
“Setahu aku kekayaan Papa tuh enam ratus milyar lebih,” ucap Mahira. “Kalau kamu minta sepuluh persen, itu berarti cuman enam puluh milyar. Enggak bisa emangnya? Aku udah ngorbanin ego lho. Aku rela dimadu. Padahal, sedikit pun aku enggak ikhlas berbagi suami dengan orang lain.”
Danan tidak menjawab, sementara Mahira berdiri sambil memeluk kedua tangannya di d**a. Beberapa detik hening, dia masih menunggu jawaban, hingga setelah merasa cukup bosan karena sang suami tak kunjung buka suara, Mahira kembali bicara.
“Kalau kamu enggak mau mintain sepuluh persen harta Papa buat aku, bikinin aku usaha,” ucapnya. “Aku enggak mau jadi ibu rumah tangga aja mulai sekarang. Aku pengen punya usaha.”
“Usaha apa?” tanya Danan. “Kalau itu kayanya bisa aku usahain.”
“Aku pengen dibikinin toko kue sama toko bunga,” ucap Mahira tanpa banyak berpikir. “Tempatnya enggak mau yang kecil, harus yang besar.”
“Dua, Sayang?”
“Iya,” jawab Mahira. “Kenapa? Masih enggak mampu juga?”