Bagian 12

1022 Words
*** “Saya nggak punya istri, Mahira. Di kesempatan kedua hidup saya yang ini, saya memutuskan untuk menolak perjodohan dengan perempuan yang sempat saya nikahi. Jadi saya lajang. Kamu enggak perlu khawatir.” Lagi—untuk yang kesekian kalinya, Mahira dibuat terkejut oleh jawaban Darka. Tidak menyangka pria itu akan bertindak cukup jauh, dia sampai kebingungan harus memberikan respon apa untuk kalimat yang barusaja dia dengar. Apakah Mahira harus percaya pada semua cerita Darka atau bersikap lebih hati-hati, dia sendiri bingung, karena bagaimanapun juga Darka masih cukup asing untuk dirinya. Cerita yang pria itu paparkan juga belum tentu benar, sehingga sikap waspada harus dia terapkan agar rencananya untuk memperbaiki hidup tak berantakan. “Kenapa?” tanya Darka setelah Mahira tak mengeluarkan sepatah kata pun. “Apa kamu enggak percaya dengan jawaban yang barusaja saya berikan? Kalau iya, kamu bisa ikut saya ke rumah lalu tanya orang-orang di sana tentang status saya. Di kehidupan sebelumnya, saya memang menikah dengan Clara, tapi di kehidupan ini pernikahan itu enggak pernah terjadi, Mahira. Saya mau melindungi dan merebut kamu dari Danan. Jadi, sebisa mungkin saya jauhkan semua halangan yang bisa menghambat keinginan saya.” “Apa enggak berlebihan, Mas?” tanya Mahira, akhirnya buka suara. “Pernikahan Mas dan perempuan itu berlangsung dua tahun. Selama itu apa enggak ada rasa cinta diantara kalian, sampai Mas tega menghapus dia dari takdir baru Mas? Dan, bagaimana nasib anaknya Mas Darka? Melepas istri Mas sama saja melepas anak dan—” “Saya dan Clara enggak pernah punya anak, Mahira,” potong Danan sebelum Mahira selesai bicara. Masih dengan wajah yang tenang, dia berkata lagi. “Dua tahun kami menikah, Clara belum hamil. Jadi selain dia, tidak ada anak yang saya lepaskan demi mendapatkan kamu. Tidak perlu khawatir.” Mahira diam lagi sambil menghela napas pelan. Meskipun cerita Darka terlihat jujur dan meyakinkan, dia masih belum bisa sepenuhnya percaya karena semua yang pria di depannya paparkan, masih sangat mengagetkan untuk dirinya. Darka bukan orang sembarangan. Dari penampilan dan cara pria itu bersikap, Mahira yakin dia adalah orang yang hebat, sehingga rasa tidak menyangka dikagumi pria sehebat Darka, menghampiri dirinya. Sebagai seorang perempuan, Mahira merasa tak punya kelebihan apa pun yang bisa menarik perhatian kaum adam, baik itu dari segi fisik mau pun materi. “Kamu banyak diam setelah saya menjelaskan semuanya,” ucap Darka lagi usai membiarkan Mahira sibuk dengan pikirannya sendiri. “Kenapa? Apa kamu meragukan semua yang saya paparkan?” “Aku heran aja kenapa Mas sampai lakuin hal sebesar ini cuman untuk perempuan biasa seperti aku,” ucap Mahira, kali ini disertai senyuman samar. “Aku enggak punya banyak kelebihan, Mas, bahkan aku punya kekurangan besar yaitu; enggak bisa kasih keturunan untuk pasanganku. Jadi agak enggak masuk akal kalau Mas Darka sampai berani melepaskan perempuan yang sempat Mas nikahi hanya untuk perempuan banyak kurangnya. Mas pasti tahu, kan, alasan Mas Danan menikah lagi itu karena anak?” “Saya tahu, dan itu sama sekali bukan masalah buat saya,” ucap Darka. “Tujuan utama menikah itu bukan sekadar anak, tapi bahagia bersama pasangan dengan status yang sah. Dan kamu adalah perempuan yang ingin saya ajak bahagia. Pas tahu kamu pacaran sama Danan, saya bisa aja ambil kamu, tapi saya enggak mau cinta saya menghancurkan hati kamu karena kalau kamu direbut paksa dari Danan, kamu pasti sakit. Saya pikir kamu akan bahagia dengan Danan, tapi justru sebaliknya. Meskipun saya enggak menyaksikan kehidupan kamu selama dimadu, saya yakin kamu pasti menderita. Kamu enggak akan tergeletak di jalanan dengan penuh luka soalnya kalau bahagia bersama Danan. Selain itu, saya juga enggak akan menemukan koper di samping kamu malam itu. Saya sakit, Mahira. Penyesalan saya begitu dalam setelah menemukan kamu tergeletak tanpa nyawa. Jadi ketika semesta memberi saya kesempatan kedua, saya bertekad untuk memperbaiki semuanya agar hal buruk tidak terjadi baik kepada kamu ataupun saya.” “Mata Mas kenapa berkaca-kaca?” tanya Mahira, peka terhadap cairan bening di kedua mata Darka. Tak hanya bertanya, dia mengambil beberapa lembar tisu untuk kemudian diberikan. “Ini lap. Saya enggak mau disangka nyakitin Mas Darka sama orang-orang.” “Maaf kalau saya terkesan cengeng,” ucap Darka sambil meraih lembaran tisu dari Mahira. “Ceritain lagi kejadian malam itu masih sedikit menyakitkan buat saya. Jadi meskipun sekarang kamu ada di depan saya dengan kondisi baik, hati saya masih sering tersentil.” “Saya baik-baik aja, Mas, dan mungkin setelah ini saya akan lebih waspada biar kejadian saya meninggal enggak keulang lagi,” ucap Mahira tanpa mengungkap kejadian sama yang dia alami. “Terima kasih sudah memberi bocoran masa depan saya dua tahun dari sekarang.” “Saya menceritakan semuanya bukan hanya untuk kasih bocoran, Mahira, tapi saya ingin menyelamatkan kamu dari Danan dan keluarganya,” ucap Darka. “Kalau kamu heran kenapa saya secinta ini sama kamu, saya juga enggak bisa jelaskan, karena cinta saya terhadap kamu datang begitu saja kemudian tumbuh dengan subur di hati saya. Kamu mencuri hati saya di pertemuan pertama kita saat kuliah, dan sejak itu saya enggak tertarik pada perempuan lain selain kamu. Saya cuman mau kamu dan saya cuman mau masa depan yang ada kamunya. Jadi ayo tinggalkan Danan dan hidup bersama saya. Saya janji enggak akan menyakiti kamu seperti yang dilakukan Danan.” Mahira kembali membisu sementara pikirannya sibuk. Dia ingin percaya pada semua yang Darka paparkan, tapi rasa percaya tersebut justru enggan datang. Darka tidak terlihat meragukan, tapi status pria itu yang notabenenya orang baru di hidup Mahira berpengaruh besar terhadap rasa percaya yang ingin dia berikan pada Darka. “Mahira?” panggil Darka, setelah hampir tiga menit Mahira tidak memberikan respon. “Bagaimana? Kamu mau, kan, meninggalkan Danan dan membangun hidup baru dengan saya? Kamu enggak perlu khawatir karena say—” Tidak selesai Darka bicara, ponselnya di atas meja lebih dulu berdering—membuat dia mau pun Mahira kompak mengalihkan atensi pada benda pipih tersebut. “Clara?” tanya Mahira setelah melihat nama yang terpampang di layar ponsel Darka. “Mas masih berkomunikasi dengan dia meskipun enggak jadi menikah?” “Mahira, saya bisa jelaskan.” “Jelaskan apa?” tanya Mahira. “Mas Darka enggak sepenuhnya jujur ya sama saya?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD