Bagian 11

1359 Words
*** Ditinggal Mahira yang katanya ingin menemui pria bernama Darka, Danan badmood. Meskipun sudah menikah lagi dengan Luna, perasaan cintanya pada sang istri pertama masih sangat besar, sehingga ketika tahu perempuan yang sangat dicintainya dekat dengan pria lain, dia cemburu. “Mahira sama teman-temannya lagi ngapain ya sekarang?” tanya Danan yang sejak tadi duduk di kursi yang berada di balkon kamar. “Bayangin dia berinteraksi akrab sama laki-laki lain, aku rasanya nggak ikhlas. Mahira senyumnya manis, dan aku enggak bisa biarin dia senyumin laki-laki lain.” Danan gelisah sendiri. Jika tidak takut Mahira marah, dia sebenarnya ingin menyusul. Namun, karena sang istri memberikan ancaman serius sebelum pergi, Danan mencari aman dengan berdiam diri di rumah. “Ck, sampai jam berapa ya Mahira pergi?” tanya Danan lagi, setelah sebelumnya diam. “Ini udah satu jam lebih, tapi tanda-tanda dia pulang justru belum ad—” Tidak selesai Danan bicara, suara ketukan di pintu kamar lebih dulu terdengar—membuat dia menoleh kemudian beranjak. Mendapati Bi Ipah setelah membuka pintu, Danan bertanya, “Ada apa, Bi?” “Bapak telepon saya, Den, barusan, katanya Aden disuruh aktifin hp karena Bapak mau telepon,” ucap Bi Ipah tanpa basa-basi. “Ada yang mau dibicarakan.” “Oh, oke.” Tidak lama mengobrol, Bi Ipah berpamitan, dan Danan pun masuk kembali ke kamar. Setelah Mahira pergi tanpa memedulikan larangannya, dia memang menonaktifkan ponsel karena mood yang menurun drastis. Selain itu, dia juga malas diganggu Luna yang mungkin merengek karena sesuatu. “Luna … Dia mau apa sih telepon aku sebanyak ini?” tanya Danan setelah mendapati sepuluh panggilan tak terjawab dari sang madu. “Aku kan udah bilang kalau sampai besok, waktu aku buat Mahira. Seharusnya dia enggak ganggu.” Mengabaikan missed call dari sang istri muda, Danan memilih untuk mendiamkan ponselnya sambil menunggu panggilan dari Antara masuk. Tak lama, dua menit kemudian ponselnya berbunyi—membuat dia dengan segera menjawab panggilan dari sang papa. “Halo, Pa,” sapanya. “Bibi bilang Papa mau ngobrol sama aku. Mau bicarain apa?” “Soal Mahira,” ucap Antara dari sebrang sana. “Kamu udah bicarain belum soal pembagian waktu kamu buat Mahira dan Luna?” “Udah tadi, pas baru aja sampe,” ucap Danan. “Terus apa responnya?” tanya Antara. “Dan kenapa dia enggak datang di acara tadi pagi? Sengaja enggak datang atau gimana?” “Mahira ketiduran katanya, Pa, pas nonton,” jawab Danan. “Enggak tahu benar apa enggak, aku enggak nanya lebih lanjut. Mahira sensitif soalnya belakangan ini. Dia gampang banget ngambek, terus omongannya sering enggak enak.” “Wajar dia kaya gitu, orang kamu mendua,” ucap Antara. “Papa aja kecewa sebenarnya sama apa yang kamu lakuin. Cuman, mau gimana lagi? Semua udah terjadi, dan cucu Papa udah ada. Jadi mau enggak mau Papa harus bantu kamu dan jadi villain untuk Mahira.” “Aku minta maaf, Pa,” ucap Danan. “Semua di luar kendali aku dan—” “Enggak usah diperpanjang pembahasan itu, enggak penting,” potong Antara, sebelum Danan selesai bicara. “Mendingan kamu jawab pertanyaan Papa soal respon Mahira, Papa pengen tahu soalnya.” “Mahira setuju sama pembagian waktunya, Pa,” ucap Danan. “Dia malah nawarin sehari lagi kalau Luna ngerasa kurang.” “Serius?” tanya Antara dengan suara yang terdengar kaget. “Serius,” jawab Danan. “Dia katanya enggak mau terlalu sering sama aku. Jadi dua hari aja cukup aku di sini. Sedih sebenarnya karena Mahira biasanya manja sama aku dan selalu pengen habisin waktu sama aku, tapi mau gimana lagi? Waktu enggak bisa diulang dan—” “Ya udah nikmatin aja sikapnya Mahira, karena itu konsekuensi dari semuanya,” ucap Antara. “Satu pesan Papa buat kamu, jangan pernah menyakiti Mahira apa pun yang terjadi karena sejatinya dia perempuan yang sangat tulus. Papa sayang sama Mahira seperti anak sendiri. Jadi kalau kamu menyakiti Mahira lagi, kamu berurusan sama Papa. Paham?” “Siap, Pa,” ucap Danan. “Aku janji setelah ini enggak akan nyakitin Mahira lagi.” “Oke.” Tak ada obrolan lagi, setelahnya panggilan diantara Danan dan Antara berakhir. Sambil menghela napas kasar, Danan menurunkan ponselnya dari samping telinga kemudian berkata, “Aku memang yang salah di sini. Seharusnya aku enggak terlena dan menyakiti Mahira sedalam ini.” Setelah mengobrol dengan Antara, Danan kembali dilanda rasa bersalah dan hanyut dalam penyesalan. Namun, hal tersebut tak berlangsung lama karena ponselnya kembali berdering. “Ck, Luna mau apa sih? Ganggu banget.” Meskipun kesal dihubungi Luna, Danan memutuskan untuk menjawab panggilan dan bertanya tujuan istri keduanya itu menelepon. Berbeda dari dia yang sedang meladeni gangguan Luna, jauh di sana Mahira justru barusaja sampai di sebuah restoran bersama pria yang beberapa waktu lalu menemuinya di mall. “Kenapa restorannya sepi?” tanya Mahira pada Darka yang berjalan di sampingnya. “Ini restoran punya saya, Mahira, dan sebelum ke sini saya minta restoran ini dikosongkan supaya kita bisa ngobrol berdua,” jawab Darka. “Kamu pasti enggak terlalu suka keramaian, kan?” Mahira tidak menjawab dan hanya memandang Darka dengan perasaan yang semakin heran. Setelah pria itu mengaku dari masa depan, pikiran Mahira dipenuhi tanya. Namun, karena Darka berjanji akan menceritakan semuanya di restoran, dia memilih untuk menahan diri. “Silakan duduk,” ucap Darka sambil menarik kursi di sebuah meja yang dekat dengan kolam. “Meja ini paling nyaman untuk ngobrol.” “Terima kasih.” “Sama-sama.” Tak banyak bicara, Mahira duduk berhadapan dengan Darka. Sempat ditawari makanan, dia menolak dan meminta pria itu untuk menjelaskan dulu semua padanya. “Ini sedikit enggak masuk akal, Mahira, tapi saya benar-benar berasal dari masa depan,” ucap Darka, memulai obrolan. “Entah apa yang terjadi, yang jelas saya mendadak bangun di hari dimana saya dijodohkan dengan istri saya, dan hal itu menimpa saya setelah saya menangisi kamu.” “Menangisi aku? Kenapa?” tanya Mahira semakin tak mengerti. “Karena kamu meninggal, Mahira,” jawab Darka—membuat kerutan di kening Mahira semakin dalam. “Entah apa yang terjadi sama kamu, tapi yang jelas saya menemukan kamu tergeletak beberapa meter dari jalan yang mobil saya lewati. Saya turun buat pastiin dan saya mendapati kamu terluka parah. Yang paling membuat saya shock, saya enggak nemuin denyut nadi di lengan kamu, Mahira, dan itu membuat saya terpukul. Saya menangisi kamu malam itu terus saya menyesali keterlambatan saya melindungi kamu dari keluarga suami kamu. Saya yakin mereka yang menyakiti kamu dan—” “Kenapa Mas terpukul pas tahu aku meninggal?” tanya Mahira, sebelum Darka selesai bicara. “Kita emang teman kuliah, tapi setelah aku nikah sama Mas Danan, aku enggak pernah ketemu Mas dan—” “Saya cinta sama kamu, Mahira, dan perasaan itu ada sejak kita masih kuliah,” jawab Darka—membuat Mahira kembali dilanda rasa kaget. “Waktu itu saya menganggap kamu adik tingkat yang menggemaskan. Cuman, saya enggak berani nyatain cinta karena Papa saya ngelarang buat saya punya hubungan dengan siapa pun sebelum pendidikan saya selesai. Saya manut. Setelah lulus S1, saya kuliah keluar negeri. Saya bersemangat karena setelah lulus S2, saya berencana untuk menyatakan cinta ke kamu. Cuman, saya terlambat karena kamu sudah punya hubungan dengan Danan. Saya nungguin kamu putus, Mahira, tapi kamu malah menikah dengan Danan dan itu bikin saya patah hati. Empat tahun saya tinggal di luar negeri buat sembuhin hati saya, sampai akhirnya saya menerima perjodohan dengan perempuan pilihan Papa saya. Karena ngerasa enggak punya harapan dengan kamu, saya menerima perjodohan itu, tapi sialnya seminggu setelah saya dan istri saya menikah, saya mendengar kabar kalau Danan menikah lagi dan menyakiti kamu. Saya menyesali keputusan itu Mahira. Saya marah pada diri saya sendiri karena enggak sabar menunggu kamu. Jadi di kehidupan ini, saya berniat untuk memperbaiki kesalahan saya. Saya enggak mau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya. Jadi saya bertekad untuk merebut kamu dari Danan sebelum kejadian naas itu menimpa kamu dan—” “Istri Mas gimana?” tanya Mahira, sebelum Darka selesai bicara. Meskipun masih sangat kaget usai mendengar cerita pria itu, dia ingin memastikan sesuatu. “Apa Mas mendekati saya di kondisi Mas yang udah menikah dan punya istri?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD