***
Mahira yang semula risih sekaligus penasaran terhadap tujuan di balik pendekatan Darka padanya, dibuat shock, usai pria yang baru dia kenal kemarin itu tiba-tiba membahas tentang rasa cinta terhadap dirinya.
Saking terkejutnya usai mendengar ucapan Darka, Mahira sampai bingung harus berkata apa, sehingga yang dia lakukan justru menyudahi panggilan secara sepihak. Masih di kursi salon, Mahira memegangi ponselnya di d**a dengan degupan jantung yang tidak menentu.
“Ini nyata apa mimpi sih?” tanya Mahira pelan, agar tak menarik atensi pengunjung salon yang lain. “Baru kenal sehari masa tiba-tiba bilang cinta? Kentara banget enggak beresnya.”
Mahira gelisah sendiri, sementara pikirannya tak berhenti mengingat ucapan yang dilontarkan Darka beberapa menit lalu. Mendadak blank dan tidak tahu harus melakukan apa, dia sibuk dengan isi kepalanya sendiri, hingga bunyi singkat dari ponsel di genggaman membuat diaa tersentak.
Mendapati sebuah pesaan, Mahira membukanya. Berasal dari Darka, pesan tersebut memiliki isi yang kurang lebih seperti ini;
(Saya yakin kamu pasti kaget dengar ucapan saya barusan, tapi saya punya penjelasan untuk itu, Mahira. Kalau kamu mau tahu, kita bisa bicara berdua. Akan saya jelaskan semuanya biar kamu enggak salah paham dan berpikiran macam-macam tentang saya.)
“Ini apalagi coba Mas Darka?” tanya Mahira, masih dengan perasaan yang gelisah. “Aku semakin penasaran deh jadinya, tapi di sisi lain aku juga takut. Aku khawatir dugaanku benar soal Mas Darka yang ternyata suruhan Mama Jennia.”
Ketika sang petugas salon sibuk mengurus rambutnya, Mahira justru sibuk dengan isi pikirannya sendiri. Tak membalas pesan dari Darka, dia memilih untuk mendiamkannya, hingga ponsel yang kembali berdering membuatnya terkejut. Sempat mengira jika yang menelepon adalah Darka, Mahira mengernyit usai mendapati nama Luna terpampang di layar ponsel.
Entah mau apa sang madu menghubunginya, Mahira tidak tahu. Namun, karena penasaran dengan tujuan istri muda Danan tersebut menelepon dirinya, dia memutuskan untuk menjawab panggilan.
“Halo, Luna. Ada apa?” tanya Mahira, coba bersikap baik meskipun rasa kesal dan marah di hatinya masih sangat ada.
“Mbak, di sana ada Mas Danan enggak?” tanya Luna tanpa berbasa-basi. “Kalau ada, boleh ya aku pinjam sebentar? Kran di kamarku bermasalah kayanya, aku mau minta bantuan Mas Danan buat benerin."
“Kran bermasalah kenapa minta Mas Danan?” tanya Mahira, berusaha bersikap tegas meskipun pikirannya masih sibuk menerka-nerka Darka. “Kan bisa panggil tukang.”
“Aku enggak enak, Mbak, kalau manggil tukang,” jawab Luna—membuat Mahira mengerutkan kening. “Di sini kan belum ada art. Jadi kalau ada tukang, aku sama tukang itu berduaan. Takut ada apa-apa.”
Mahira menghela napas kasar. “Ya udah kalau gitu hubungin aja Mas Danan, kenapa jadi ke aku?” tanyanya. “Aku lagi enggak di rumah. Lagi nyalon.”
“Enggak bisa pulang dulu emangnya, Mbak?” tanya Luna, seolah sedang menguji kesabaran Mahira. “Aku tuh udah telepon Mas Danan, tapi nomornya enggak aktif. Jadi aku hubungin Mbak Mahira. Lagian Mbak kok enggak malu sih? Mbak kan enggak bisa ngasih anak buat Mas Danan, tapi kenapa foya-foya? Aku kalau jadi Mbak, kayanya enggak akan berani kaya gitu deh. Sungkan.”
“Ini kamu telepon aku buat nanyain Mas Danan atau buat judge aku doang?” tanya Mahira. “Mau foya-foya atau lakuin apa pun itu terserah aku kali. Uang yang aku pake juga punya Mas Danan, kan, bukan uang kamu? Kenapa sewot?”
“Aku enggak sewot, Mbak Mahira. Aku cuman mengingatkan aja,” ucap Luna. “Mas Danan kan capek kerja. Jadi sebagai istri, Mbak seharusnya lebih bisa menghargai dia dengan enggak menghambur-hamburkan uangnya. Aku juga kalau mau bisa kok nyalon, cuman enggak tahu kenapa aku enggak tega pakai uangnya karena aku tahu Mas Danan enggak gampang buat dapatin uang-uang itu.”
“Ya kalau kamu enggak tega, enggak usah,” ucap Mahira. “Aku sih tega-tega aja karena tujuan Mas Danan kerja kan emang buat biayain istrinya. Lagian kalau soal menghargai, buat apa juga aku menghargai Mas Danan? Dia aja enggak menghargai aku. Udah jelas aku enggak setuju dia poligami, masih aja. Siapa yang enggak marah?”
“Mas Danan enggak akan poligami kalau Mbak Mahira enggak mandul, Mbak. Jadi kalau Mbak pengen satu-satunya, kasih pasangan Mbak, anak," ucap Luna—membuat Mahira dongkol.
"Kamu ini belum apa-apa kenapa udah nyebelin sih?" tanya Mahira. "Saya enggak pernah cari gara-gara lho sama kamu, tapi kenapa kamu gangguin saya kaya gini? Gabutkah?"
"Kok ganggu sih, Mbak?" tanya Luna. "Aku tuh bukan ganggu, tap—"
Sebelum Luna selesai bicara dan semakin gencar menghinanya, Mahira lebih dulu menyudahi panggilan kemudian menurunkan ponselnya dari samping telinga. Jika sedang di rumah, dia pasti sudah menggerutu. Namun, karena Mahira sedang di tempat umum, dia menahan diri dan menyimpan rasa kesalnya di dalam hati.
Setengah jam berlalu, perawatan rambut Mahira akhirnya selesai. Usai melakukan pembayaran, dia melangkah keluar dari salon dengan tujuan bagian depan mall, karena tanpa berniat menerima ajakan Darka, Mahira berniat pulang.
Namun, belum jauh dia berjalan dari salon, sebuah panggilan menghentikan langkahnya dan membuat Mahira menoleh.
“Mahira.”
“Mas Darka,” panggil Mahira pelan, setelah mendapati Darka pada jarak beberapa meter.
Tak diam saja, pria itu berjalan mendekat—membuat degupan jantung Mahira semakin tak menentu.
“Kenapa kamu enggak balas chat saya?” tanya Darka usai mengikis jarak dengan Mahira. “Saya nungguin lho.”
“Kita bukan siapa-siapa, Mas. Jadi aku pikir enggak ada kewajiban buat aku balas chat Mas Darka,” ucap Mahira. “Lagian aku juga mau langsung pulang habis ini. Orang rumah nungguin.”
“Danan maksud kamu?” tanya Darka.
“Iyalah, siapa lagi?” tanya Mahira. “Udah ya, aku pulang dulu. Permis—”
Tak selesai Mahira bicara, tangan Darka lebih dulu meraih lengannya—membuat dia yang barusaja berbalik dan berniat melangkah, menoleh lagi pada pria itu.
“Ada apalagi, Mas?” tanyanya. “Ucapan aku barusan apa kurang jelas? Aku enggak mau makan siang sama Mas Darka, begitu pun ngobrol. Jadi tolong lepasin tangan aku sebelum aku teriak.”
“Ucapan saya di telepon tadi enggak asal, Mahira,” ucap Darka. “Saya serius sama perasaan saya, dan kalau kamu pengen tahu, saya punya cerita yang menarik. Agak enggak masuk akal, tapi saya ngalamin itu. Kamu harus tahu.”
Mahira diam. Tak menimpali ucapan Darka, dia hanya memandang wajah pria itu lekat sebelum kemudian kembali berbalik dengan niat; melangkah pergi jauh dari Darka. Namun, lagi-lagi niatnya batal setelah pria itu kembali buka suara dan melontarkan sebuah kalimat yang membuat Mahira kaget.
“Saya dari masa depan, Mahira. Saya dari tahun 2025 alias dua tahun dari sekarang.”
Mahira tidak menjawab dan kembali memandangi Darka dengan perasaan yang kaget pun debaran jantung yang tiba-tiba mengencang.
“Masa depan?” tanyanya memastikan. “Mas Darka serius?”
"Sangat serius," ucap Darka—membuat Mahira yang masih terkejut, terus memandanginya. "Kalau kamu butuh penjelasan, saya akan menjelaskan semuanya, tapi enggak di sini karena kita butuh tempat yang sepi. Jadi ayo ikut saya. Kita cari tempat sepi buat bicara berdua dengan tenang."
Mahira tak menimpali dan hanya diam dengan pikiran yang kembali sibuk. Sedang mencerna ucapan Darka, dia belum sepenuhnya percaya pada pria itu karena bisa saja Darka bohong.
"Bagaimana, Mahira?" tanya Darka setelah beberapa detik hening. "Kamu mau enggak ikut saya buat bahas semuanya? Kalau mau, ayo ikut saya."