***
Menikah dengan Danan atas dasar saling cinta, Mahira selama ini menjadi istri yang patuh terhadap suaminya itu. Tidak pernah membangkang saat dilarang kemudian manut setiap kali diperintah, Mahira benar-benar menjaga marwahnya sebagai istri.
Dulu, Mahira pikir dengan bersikap seperti itu, Danan tidak akan berpaling pada perempuan lain dan dirinya akan selalu menjadi satu-satunya. Namun, ternyata salah, karena tak peduli sebaik apa pun Mahira bersikap, semua tetap tidak ada artinya jika dia tak memberi keturunan untuk suaminya tersebut.
Di kehidupan sebelumnya, Mahira mungkin masih bisa menjaga marwahnya sebagai istri meskipun Danan mendua. Namun, di kehidupannya yang kedua ini, Mahira memutuskan untuk berontak. Tak mau kalah dari siapa pun, Mahira bersikap lebih keras, termasuk pada Danan yang sebelumnya sangat dia hormati.
“Ini beneran enggak apa-apa, Non, kita ninggalin rumah dengan kondisi Den Danan yang marah?” tanya Pak Jupri—sopir di rumah Mahira yang nampak khawatir di balik kemudinya.
Beberapa waktu lalu—setelah dihubungi oleh Darka, Mahira meminta izin untuk pergi dengan pria itu. Alih-alih diizinkan, Mahira justru dilarang oleh suaminya tersebut, sehingga perdebatan pun terjadi.
Meskipun Mahira berkata dirinya tak pergi bersama Darka saja, Danan tetap tak memberi izin, dan meminta dia menetap di rumah. Jika dulu Mahira akan manut, maka kali ini tidak, karena tak peduli larangan Danan, dia tetap memilih pergi dan membuat suaminya itu marah.
“Enggak apa-apa, Pak,” jawab Mahira. “Mas Danan aja boleh nikah lagi, masa saya enggak boleh pergi? Saya cuman pergi sama teman lho, bukan pacaran. Berlebihan banget.”
“Iya sih, tap—”
“Bapak nyetir aja dan enggak perlu khawatir apa-apa,” potong Mahira sebelum Pak Jupri selesai bicara. “Kalau ada sesuatu, saya yang tanggung jawab. Tenang.”
Pak Jupri tak menjawab dan hanya tersenyum samar sebagai respon. Lima menit berselang, dia buka suara lagi—bertanya tentang tujuan Mahira siang ini. Tak pergi ke tempat aneh, perintah untuk mengantar Mahira ke salah satu mall, didapatkannya, sehingga tanpa banyak ba bi bu, Pak Jupri membawa mobilnya ke salah satu mall besar di kota.
“Sampai, Non,” kata Pak Jupri, ketika mobil yang dia kendarai akhirnya sampai di tempat tujuan. “Non serius enggak mau ditungguin? Saya siap kok nunggu meskipun lama.”
“Enggak perlu, Pak,” tolak Mahira sambil bersiap-siap turun. “Hari ini saya pengen me time dengan tenang. Jadi Bapak pulang aja. Nanti kalau Mas Danan tanya, bilang aja pas sampai di mall, saya udah ditungguin sama cowok ganteng gitu ya. Nama cowoknya Darka dan penampilannya keren.”
Alih-alih menjawab iya, Pak Jupri justru mengerutkan kening. “Kok gitu, Non?” tanyanya. “Ini Non kan enggak ditungguin siapa-siapa, kenapa saya harus bilang sebaliknya?”
“Ya biar Mas Danan kesal aja,” jawab Mahira sambil tersenyum. “Bapak pikir pas saya bilang mau pergi sama Mas Darka, itu beneran? Enggak kali, Pak. Saya cuman ngarang aja karena jangankan buat janji, telepon dari Mas Darka aja enggak saya angkat tadi. Saya cuman pengen bikin Mas Danan marah aja.”
“Non serius?” tanya Pak Jupri dengan raut wajah kaget.
Tadi—sebelum pergi meninggalkan rumah, dia memang menjadi saksi perdebatan Mahira dan Danan, kemudian mendengar pula obrolan dua majikannya tersebut, sehingga sepanjang perjalanan dia berpikir Mahira benar-benar akan bertemu dengan teman laki-laki.
“Ya serius, Pak,” jawab Mahira sambil tertawa. “Tadi pas ngobrol sama Mas Danan, saya emang dihubungi sama teman lama saya yang namanya Mas Darka. Cuman, teleponnya enggak saya jawab. Saya cuman pura-pura jawab terus ngobrol, dan ya gitu deh. Saya sekarang mau habisin waktu sendiri, bukan ketemuan sama siapa pun.”
“Saya kaget, Non,” ucap Pak Jupri, kali ini sambil tersenyum. “Saya pikir Non Mahira enggak senakal ini karena selama ini Non bisa dibilang lugu, tapi ternyata saya salah. Non bisa nakal juga.”
“Mahira yang lugu dan banyak ngalah udah enggak ada lagi, Pak. Sekarang adanya Mahira yang sering ngelawan dan keras kepala,” ucap Mahira. “Jadi jangan kaget kalau ke depannya saya lakuin hal-hal yang enggak pernah Bapak duga.”
“Mau gimana pun Non Mahira, di mata saya Non tetap baik, Non,” ucap Pak Jupri. “Bahagia selalu ya. Meskipun Den Danan sekarang punya istri dua, Non tetap satu-satunya pendamping Den Danan yang saya hormati.”
“Makasih banyak, Pak,” ucap Mahira. “Bapak sama Bibi emang selalu ada di pihak saya. Saya beruntung.”
“Sama-sama, Non.”
Tidak mau larut dalam rasa sedih, Mahira berpamitan turun kemudian meminta Pak Jupri pulang ke rumah. Tak berdiam diri di luar mall, dia melangkah masuk dengan tujuan salon. Cukup penat karena pernikahan Danan dan Luna, Mahira ingin memanjakan rambutnya yang beberapa waktu terakhir tak terurus.
“Semoga Mas Danan pulang ke rumah Luna dan mutusin buat tidur di sana,” ucap Mahira di tengah kegiatannya mencuci rambut. “Setelah semua yang terjadi, rasanya aku selalu kesal lihat wajah Mas Danan.”
Mahira tersenyum tipis. Tak hanya diam di tengah kegiatannya merawat rambut, dia membuka ponselnya kemudian iseng menscroll media sosial, hingga sebuah pesan yang tiba-tiba saja masuk membuat Mahira mengerutkan kening.
(Mahira kamu ngemall? Barusan saya lihat seorang perempuan masuk ke salon, dan saya rasa itu kamu. Apa dugaan saya benar?)
Bukan dari Danan, pesan yang barusaja Mahira terima berasal dari Darka. Meskipun di beberapa interaksi, Darka terasa begitu baik padanya, Mahira tidak mau asal menyimpulkan karena bagaimanapun juga dia dan pria itu bisa dibilang asing.
“Mas Darka lagi ngapain ya di mall?” tanya Mahira sebelum membalas pesan dari Darka. “Ah, apa tadi dia telepon aku buat ngajak ke mall?”
Mahira coba menebak-nebak, sebelum akhirnya membalas pesan yang Darka kirimkan. Tak panjang, pesan yang dia kirim hanya terdiri dari dua kata saja yaitu; iya, Mas.
Tak ada balasan lagi, ponsel Mahira hening, hingga selang beberapa detik benda pipih tersebut berdering—pertanda sebuah panggilan masuk. Bukan Danan, yang menelepon Mahira adalah Darka. Bingung harus menjawab atau menolak lagi panggilan dari pria itu, Mahira menimbangnya selama beberapa detik sebelum kemudian mengambil keputusan.
Kali ini—karena kasihan, Mahira menjawab panggilan dari Darka kemudian menyapa dengan sangat hati-hati.
“Halo, Mas. Ada apa?”
“Halo, Mahira,” sapa Darka dengan suara tenangnya seperti biasa. “Maaf mengganggu waktu kamu. Saya cuman pengen pastiin sesuatu.”
“Apa?”
“Kamu sendiri atau dengan suami kamu?” tanya Darka—membuat Mahira mengerurkan kening.
“Kalau aku sendiri kenapa emangnya?” Mahira balik bertanya. “Dan kalau aku sama Mas Danan, Mas Darka mau apa?”
“Kalau kamu sendiri, saya mau ajak makan siang bersama,” ucap Darka. “Kebetulan saya baru beres ketemu sama klien dan pengen cari makan di sini. Jadi saya ajak kamu.”
“Oh,” ucap Mahira.
“Kalau kamu mau, saya akan cari restoran yang paling enak di mall ini,” ucap Darka. “Kamu bisa nyalon dulu biar nanti makannya setelah kamu selesai.”
“Tapi ini masih jauh ke makan siang, Mas,” ucap Mahira. “Baru setengah sebelas.”
“Memang sih,” ucap Darka. “Apa mau main dulu? Ah, atau mungkin mau belanja? Saya temani kalau seandainya kamu mau belanja.”
Semalam—ketika untuk pertama kalinya Mahira mengobrol panjang dengan Darka di telepon, dia merasa cukup nyaman karena sikap pria itu yang baik padanya. Namun, siang ini Mahira justru merasa sedikit risih karena semakin lama dia merasa Darka semakin sok akrab. Padahal, mereka belum terlalu dekat.
Selain itu, Mahira juga mulai takut Darka memiliki niat terselubung di balik pendekatannya, karena di kehidupan dia yang sebelumnya sosok pria itu benar-benar tak pernah ada apalagi mendekati dirinya.
“Mahira?”
Beberapa detik tak menjawab, Mahira mendapat panggilan tersebut dari Darka—membuat dia sedikit tersentak.
“Ah ya, gimana?”
“Kamu ngelamun?” tanya Darka.
“Enggak, aku enggak ngelamun,” ucap Mahira. “Cuman lagi ngerasa aneh aja sama sikapnya Mas Darka. Kita belum lama kenal, tapi Mas kaya udah akrab banget sama aku. Bukan bermaksud buruk, cuman aku tuh khawatir aja Mas punya niat buruk.”
“Niat buruk?”
“Iya,” ucap Mahira. “Siapa tahu aja kan Mas tuh sebenarnya suruhan mertua aku, yang emang diminta buat deketin aku supaya Mas Danan salah paham dan nuduh aku berkhianat.”
“Saya bukan suruhan siapa-siapa, Mahira,” ucap Darka. “Dan saya enggak punya maksud apa-apa. Saya murni pengen dekat sama kamu.”
“Kenapa pengen dekat sama aku, Mas?”
“Kalau saya bilang karena saya punya perasaan cinta ke kamu, apa kamu percaya?”