Bagian 8

1604 Words
*** “Mahira kamu di dalam? Tolong bukain pintu, aku mau masuk.” Mahira mengerutkan kening setelah suara berat sang suami tiba-tiba saja terdengar. Di detik berikutnya dia yang terlelap di sofa dengan posisi bersandar, membuka mata secara perlahan kemudian mengernyit. Tak langsung menimpali ucapan Danan, Mahira coba mengingat lagi apa yang dia lakukan sebelum tidur. Tak sulit, momen dimana dirinya dihubungi Jennia untuk sarapan bersama, melintas di pikiran, berikut kejadian setelahnya sebelum kemudian dia tertidur begitu saja di sofa. “Aku tadi nonton tv biar datang telat ke acara sarapan,” ucap Mahira sambil terus mengingat semuanya. “Tapi kayanya aku ketiduran deh.” Masih dengan punggung yang bersandar, Mahira mengalihkan atensi ke jam dinding yang ada di kamarnya. Tidak salah menduga, Mahira benar-benar kebablasan, karena bukan lagi pukul delapan pagi, jarum jam kini sudah ada di angka setengah sepuluh. “Benar ternyata aku kebablasan,” ucap Mahira pada dirinya sendiri. Di detik berikutnya, suara Danan kembali terdengar—membuat dia akhirnya menyauti. Meskipun kesadaran belum terkumpul semua, Mahira beranjak dari sofa lalu berjalan menuju pintu dan membukanya. Mendapati Danan di depan kamar, dia memanggil singkat. “Mas.” “Kamu tidur?” tanya Danan. “Aku sama yang lain nungguin kamu sarapan lho, beberapa kali aku telepon, tapi kamu enggak jawab. Chat juga enggak kamu baca.” “Aku ketiduran,” ucap Mahira apa adanya. “Tadi tuh setelah Mama telepon, aku nonton berita dulu terus habis itu ngantuk dan tidur gitu aja. Maaf.” “Padahal, ada hal penting yang mau dibahas sama kamu,” ucap Danan. “Mama ngomel tadi, terus Papa juga kelihatannya kecewa.” “Ya mau gimana lagi? Namanya juga ketiduran,” ucap Mahira, tanpa merasa bersalah sedikit pun. “Mau obrolin apa sih emangnya? Aku enggak datang, kamu tinggal sampein lagi aja obrolannya ke aku. Gampang, kan?” “Masuk dulu,” kata Danan. “Habis tidur kepala kamu pasti pusing. Jadi sebelum ngobrol, mendingan cuci muka biar segar.” Mahira tak menjawab, tapi mundur secara perlahan agar Danan masuk ke kamar. Tak langsung menemani sang suami di sofa, dia berjalan ke kamar mandi untuk membilas muka yang sedikit kusut. “Mama Jennia pasti makin dongkol sama aku setelah ini,” ucap Mahira sambil memandangi pantulan wajahnya yang basah di depan cermin. “Tapi enggak apa-apa. Semakin dia dongkol, semakin bagus. Siapa tahu beneran stroke karena tekanan darahnya naik terus.” Mahira tersenyum tipis. Membayangkan sang mertua terserang stroke kemudian tak berdaya, entah kenapa hatinya bahagia karena memang selama menjadi mertuanya, sikap perempuan itu pada Mahira benar-benar jauh dari kata baik. Entah karena apa, Mahira sampai detik ini tak tahu. “Mahira?” Cukup lama di kamar mandi, Mahira menoleh setelah panggilan tersebut terdengar dari depan kamar mandi. “Ya, Mas, kenapa?” tanya Mahira. “Aku ke wc dulu sebentar, kamu enggak sabaran banget.” “Aku cuman ngecek aja, Sayang, takut kamu kenapa-kenapa.” Jika dulu hati Mahira selalu hangat setiap kali Danan memanggilnya Sayang, maka kali ini yang dia rasakan justru jijik, karena bukan hanya untuk dirinya, Mahira yakin Danan memanggil Luna dengan ssbutan yang sama. “Aku bukan anak kecil atau nenek-nenek yang rawan kepleset, Mas, kamu tenang aja,” ucap Mahira. Tak terus di kamar mandi, dia membuka pintu kemudian berkata lagi setelah mendapati Danan. “Lagian mau kemana sih kamu? Buru-buru banget kayanya. Kangen sama istri muda?” “Aku enggak buru-buru, Mahira. Aku cuman takut kamu kenapa-kenapa,” ucap Danan. “Enggak percaya emangnya kamu sama ucapan aku?” “Enggak,” jawab Mahira. “Semenjak kamu bujuk aku buat ngizinin kamu menikahi Luna, tingkat kepercayaan aku ke kamu menurun drastis, Mas. Aku enggak percaya penuh lagi sama kamu.” “Kok gitu?” tanya Danan. “Aku kan nikahin Luna juga atas permintaan Papa, Sayang. Kalau bukan Papa yang minta, aku enggak akan nikahin dia.” “Masa?” tanya Mahira, sedikit mencibir. “Kok aku enggak percaya ya dengar ucapan kamu, Mas. Bukannya yakin, aku justru makin curiga kalau kamu tuh emang pengen nikah lagi. Cuman, pura-pura terpaksa. Iya, kan?” “Mahira ….” Mahira memutar bola matanya malas, kemudian berjalan mendahului Danan menuju sofa. Duduk lebih dulu, dia bertanya, “Jadi apa obrolan kamu sama keluarga kamu pas sarapan tadi?” “Ini soal pembagian waktu aku buat kamu sama Luna,” jawab Danan sambil mendekat. “Karena kamu sama dia enggak tinggal di rumah yang sama, aku harus gantian nemenin kalian. Jadi tadi kita nentuin waktu buat itu.” “Terus?” tanya Mahira. “Aku tadinya mau minta kamu milih hari apa mau ditemenin sama aku, tapi karena kamu enggak datang, Papa sama Mama yang tentuin,” ucap Danan, kali ini sambil mendudukan dirinya di sofa. “Awalnya aku minta empat hari pulang ke rumah kamu, tapi Mama enggak setuju. Katanya karena aku sama Luna harus fokus buat kasih Papa cucu, durasiku pulang ke rumah Luna harus lebih banyak. Jadi setelah bicarain lagi, aku akan pulang ke rumah Luna selama empat hari sementara ke sini tiga hari. Enggak apa-apa, kan?” “Hari apa aja ke sini?” tanya Mahira. “Senin, selasa, dan rabu, aku ke sini,” jawab Danan. “Sementara kamis sampai minggu aku ke rumahnya Luna. Gimana menurut kamu?” “Oke,” jawab Mahira tanpa protes. “Sebenarnya mau dua hari ke sini pun aku enggak masalah. Kamu sama Luna kan harus cepat-cepat punya anak biar papa sama Mama senang. Jadi harus sering berdua.” “Enggak bisalah, Sayang,” ucap Danan. “Tiga hari ke sini aja sebenarnya aku keberatan karena pengennya empat hari, tapi mau gimana lagi? Aku males kalau harus berdebat sama Mama. Andai kamu enggak pengen tinggal terpisah dari Luna, kita bakalan ketemu tiap hari.” Mendengar ucapan terakhir Danan, ingatan Mahira kembali dibawa ke momen demi momen ketika dirinya dan Luna tinggal satu rumah. Tidak ada ketenangan, setiap harinya pasti selalu saja ada drama dan Mahira selalu menjadi orang yang harus mengalah pada istri muda suaminya itu. Tidak hanya hal tersebut, Mahira juga ikut repot melayani ngidam Luna yang langsung mengandung setelah menikah dengan Danan, bahkan ketika perempuan itu melahirkan, Mahiralah yang setiap hari mencuci baju bayi sang madu yang katanya tak cocok dengan hasil cucian art di rumah mereka. “Mahira?” Hanyut dalam lamunan selama beberapa detik, Mahira tersentak usai Danan memanggilnya. “Jangan, Mas,” ucapnya. “Apa pun kondisinya, aku enggak mau tinggal serumah sama Luna. Aku mending sedikit waktu sama kamu daripada harus tinggal satu atap sama istri muda kamu.” “Kamu marah ya sama aku?” tanya Danan. “Sebelumnya kamu selalu pengen sama aku dan selalu protes setiap aku lembur, tapi sekarang kamu justru pengen jauh sama aku. Padahal, aku maunya sama kamu, bukan Luna.” “Enggak ada istri yang enggak marah, Mas, lihat suaminya nikah lagi,” ucap Mahira. “Satu banding seribu kayanya perempuan yang ikhlas dimadu, karena kalau bisa memilih, setiap perempuan pengen milikin suaminya secara utuh tanpa harus berbagi. Jadi kalau kamu ngerasa aku berubah, kamu seharusnya enggak heran lagi karena dari awal aku enggak benar-benar setuju.” “Tapi kam—” “Rumah sama mobil?” tanya Mahira. “Aku minta dua hal itu semata-mata buat menghibur diri, bukan menebus rasa ikhlas. Jadi kamu jangan banyak komplen, karena kalau kamu enggak nahan, aku sebenarnya pengen cerai sama kamu. Sekarang aku bertahan bukan karena cinta lagi, Mas, tapi karena menghargai kebaikan kamu sama Papa kamu sebelum ini. Meskipun sekarang kalian sama-sama nyakitin aku, dulu kalian menyambut aku dengan tangan terbuka di sini. Jadi aku menghargai itu.” “Aku minta maaf,” ucap Danan. “Aku tahu apa yang aku dan Papa lakuin pasti nyakitin kamu, tapi sekecewa apa pun kamu, tolong jangan pergi dari aku karena aku cinta sama kamu dan itu bukan bualan.” Mahira tak menimpali dan hanya tersenyum tipis sebagai respon. Di kehidupan dia yang sebelumnya, deeptalk ini tidak pernah terjadi karena di hari kedua menikah dengan Luna, Danan disibukan oleh sang istri muda yang meminta ini dan itu, sehingga perasaan emosional dialami Mahira. “Malam ini kamu tidur di mana?” tanya Mahira tanpa menanggapi ucapan Danan sebelumnya. “Aku tidur di sini,” ucap Danan. “Semalam enggak tidur sama kamu, aku kangen dan—” “Tidur di bawah kalau mau tidur di sini, atau tidur di sofa karena aku enggak mau seranjang sama kamu,” ucap Mahira, sebelum Danan selesai bicara. “Semalam kamu pasti habis lakuin itu sama Luna. Jadi malam ini aku enggak mau disentuh sama kamu. Jijik.” Danan tak menjawab, hingga dering ponsel milik Mahira membuat dia menoleh pada benda pipih itu yang kebetulan berada di atas meja. “Telepon dari siapa?” tanya Danan setelah Mahira mengambil ponselnya. “Mas Darka,” jawab Mahira yang kemudian memandang Danan. “Dia teman lama aku.” “Teman lama?” tanya Danan heran. “Teman lama di mana? Ak—” Tak selesai Danan bicara, Mahira lebih dulu beranjak kemudian menjauh darinya untuk kemudian berdiri di dekat jendela. Beberapa menit berlalu, Mahira kembali dan berkata, “Aku mau keluar, Mas. Kamu kalau mau ke rumahnya Luna, silakan aja. Aku enggak masalah.” “Keluar sama siapa?” tanya Danan. “Teman lama kamu yang barusan telepon?” “Iya,” jawab Mahira. “Mas Darka mau cari barang katanya, jadi minta temenin aku.” “Enggak. Aku enggak kasih izin.” “Mas ….” “Kamu masih istri aku, Mahira, dan aku enggak mau kamu pergi sama laki-laki lain, termasuk teman lama kamu itu. Jadi jangan kemana-mana dan temani aku di rumah. Aku kangen sama kamu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD