Bagian 7

1620 Words
*** Pagi sekali—sekitar pukul enam lebih beberapa menit, Mahira sudah mendapat telepon dari sebuah nomor. Bukan orang asing, yang menghubunginya adalah Jennia. Entah ada apa sepagi ini sang mertua menelepon, Mahira tidak tahu. Namun, yang jelas—meskipun malas, Mahira memutuskan untuk menjawab panggilan. “Halo,” sapanya singkat. “Nggak sopan banget nyapa mertua kaya gitu,” ucap Jennia, yang belum apa-apa sudah mencari gara-gara. “Sakit hati dipoligami bikin tata krama kamu lenyap ya?” Mahira memutar bola matanya malas. Diantara semua orang yang ada di kehidupannya dan Danan, Jennia adalah yang paling dia benci, sehingga meskipun status perempuan itu masih mertuanya, Mahira benar-benar sudah malas menunjukan sopan santun seperti sebelum-sebelumnya. “Ini masih pagi, Ma, aku nggak mau berantem,” ucap Mahira. “Jadi kalau ada keperluan, to the point aja jangan ngomel dulu dan rusak pagi aku yang tenang. Sekali enggak ngomelin aku, mulut Mama enggak akan gatal, kan?” “Perempuan enggak tahu diri,” ucap Jennia yang justru menghardik Mahira. “Udah diterima dengan baik di keluarga ini meskipun mandul, bisa-bisanya punya sikap angkuh. Enggak pantas kamu tuh Mahira bersikap kaya gini. Sebagai perempuan yang enggak bisa kasih keturunan, kamu harusnya sadar diri. Bukan malah sombong dan—” “Mau ngomong atau aku matiin, Ma, teleponnya?” tanya Mahira dengan tangan kiri yang mengepal. “Mama tuh ada dendam apa sih sama aku? Setiap kali ngobrol, pasti enggak pernah kelewat bahas kekurangan aku. Iya, Ma, aku emang mandul dan enggak bisa kasih keturunan buat Mas Danan, tapi enggak perlu dibahas setiap ngobrol juga, kan? Sehari enggak diingetin, aku enggak bakalan lupa kok. Aku inget.” Tentang kata MANDUL yang sering dibahas Jennia, hal tersebut bukan sekadar bualan karena memang setelah empat tahun menikah dengan Danan, Mahira kembali menjalani pengecekan di rumah sakit. Jika di tahun sebelumnya dia dinyatakan baik-baik saja, maka hasil pemeriksaan terakhir kali justru berbeda. Menurut hasil pemeriksaan, Mahira katanya memiliki beberapa kelainan di bagian reproduksinya yang menyebabkan dia sulit memiliki anak. “Ya udah kalau gitu jangan kurang ajar,” ucap Jennia. “Kamu tuh udah diterima dengan baik di keluarganya Danan meskipun bukan berasal dari keluarga yang setara. Jadi seharusnya tahu diri, bukan malah bersikap sok berkuasa.” Mahira menghela napas kasar. Ketika bangun pagi, dia pikir hari ini akan menjadi hari yang baik untuknya karena tidak ada Danan ataupun yang lainnya. Namun, ternyata dia salah menduga karena meskipun alur hidupnya sedikit demi sedikit berubah, Jennia masih menjadi list pengganggu. “Ada apa Mama telepon aku sepagi ini?” tanya Mahira, memilih untuk tak memperpanjang pertengkaran. “Lain kali kalau ada sesuatu mending suruh orang lain aja atau Papa yang hubungin akun biar Mama enggak naik darah. Terlalu sering marah, nanti mama stroke. Enggak mau, kan, meninggal cepat?” “Kamu ini,” desis Jennia, masih dengan emosi yang berapi-api, sementara Mahira tersenyum dengan perasaan puas. “Ada apa?” tanyanya sekali lagi. “Mama sama Papa mau ke sana pagi ini,” ucap Jennia, yang pada akhirnya mengungkap tujuan menelepon. “Danan sama Luna juga mau ke sana, karena ada yang perlu kita bahas. Jadi siapin sarapan untuk kami dan—” “Aku enggak menerima tamu, Ma, hari ini,” potong Mahira sebelum Jennia menyelesaikan ucapannya. “Siapa pun, darimana pun, aku enggak menerima. Jadi kalau mau ngobrol, cari tempat lain aja. Jangan di rumah aaku karena aku enggak berkenan.” “Ada hak apa kamu ngomong kaya gitu?” tanya Jennia. “Rumah yang kamu tempatin tuh dibeliin sama Danan ya, Mahira. Jadi kamu enggak berhak nolak tamu yang datang ke sana dan—” “Sekarang rumahnya udah jadi milik aku, Ma, Mama lupa?” tanya Mahira sambil tersenyum tipis. “Sebelum Mas Danan menikahi Luna, kan aku minta sertifikatnya diganti atas nama aku. Jadi ya rumah yang aku tempatin sekarang sepenuhnya punya aku. Dan … Sebagai pemilik rumah, aku berhak dong ngatur tamu dan semacamnya? Iya enggak?” “Tapi ini kehendak Papa, Mahira. Kamu berani memangnya ngelawan Papa?” “Kalau aku enggak nyaman, enggak ada yang enggak berani aku lawan sekali pun itu Papa, Ma,” jawab Mahira tanpa rasa ragu. “Jadi silakan sampein jawaban aku ke Papa. Bilang kalau aku enggak menerima tamu. Jadi kalau mau sarapan bareng terus ngobrol, silakan cari tempat lain, dengan catatan; bukan rumahnya Luna, karena aku enggak mau menginjakan kakiku di rumahnya dia. Melibatkan aku, kan, obrolannya?” “Kamu benar-benar menjengkelkan, Mahira,” desis Jennia—membuat senyuman miring terukir di bibir Mahira. “Kamu enggak tahu diri dan—” Tak membiarkan sang mertua selesai bicara, Mahira menyudahi panggilan tanpa permisi kemudian menyimpan lagi ponselnya di meja rias. Mengambil napas panjang, dia berkata, “Sabar, Mahira. Ini baru awal. Ke depannya kamu bisa lakuin hal yang lebih jahat lagi buat balas semua perlakuan mereka ke kamu.” Tak mau ambil pusing, Mahira memilih untuk berkegiatan, hingga setelah hampir dua puluh menit berlalu pasca dihubungi Jennia, Mahira mendapat sebuah pesan dari mertuanya tersebut. Bukan makian atau omelan, Jennia mengirim alamat restoran tempat keluarga mereka akan sarapan pagi ini. Di bagian akhir pesan, perempuan itu memberi peringatan agar Mahira tak datang terlambat agar mereka tidak menunggu. “Baca chat Mama aku malah dapat ide,” ucap Mahira, setelah pesan teks dari Jennia selesai dia baca. “Kalau aku sengaja datang terlambat, mereka bakalan kaya gimana ya? Nungguin atau makan duluan dan ngobrol tanpa aku?” Mahira tersenyum menyeringai, sementara isi kepalanya sibuk mempertimbangkan ide yang barusaja dia lontarkan. Teringat lagi semua perlakuan Jennia pun sedihnya kehidupan dia semenjak Danan dan Luna menikah, raut wajah Mahira berubah, hingga setelah beberapa menit sibuk dengan isi kepala sendiri, dia memutuskan untuk merealisasikan idenya yaitu; datang terlambat ke acara sarapan bersama yang diadakan Antara. Persetan diomeli, Mahira tak peduli, karena di kehidupannya yang sekarang fokusnya hanyalah hidup bahagia kemudian membuat orang-orang yang sudah jahat padanya—terutama Jennia, menderita. Terlebih lagi dia punya rumah dan mobil, sehingga jika Danan marah dan mencampakkannya sekarang, dia tak akan menjadi gelandangan. “Mending nonton berita daripada datang tepat waktu di acara sarapan itu,” ucap Mahira sambil menyalakan televisi. “Lagian aku yakin topik pembicaraannya pasti soal anak dan kekurangan aku dan kelebihan Luna. Udah ketebak banget.” Tanpa merasa takut sedikit pun, Mahira menikmati siaran berita di televisi yang ada di kamarnya. Berbeda dari dia, jauh di sana Jennia dan Antara justru sudah bersiap-siap menuju restoran tempat sarapan bersama akan dilaksanakan. “Kamu ngerasa enggak sih, Mas, Mahira tuh banyak berubah?” tanya Jennia, di tengah kegiatannya memoles wajah. “Dia tuh dulu kepribadiannya lembut dan jarang ngelawan kalau ada apa-apa, tapi sekarang beda banget. Ucapannya ngeselin terus sering banget bersikap kurang ajar. Aku kesal banget.” “Aku ngerasa,” jawab Antara. “Tapi aku juga ngerti alasan dia bersikap kaya gitu.” Meskipun menjadi dalang di balik pernikahan Danan dan Luna, faktanya Antara masih sangat menyayangi Mahira. Tidak seperti Jennia yang tak suka pada perempuan itu, Antara sendiri sudah menyukai Mahira sejak Danan membawa menantunya tersebut di masa pacaran. “Alasan apa?” “Mahira marah pada kita yang sudah meminta Danan menikahi Aluna. Jadi sebagai pelampiasannya, dia bersikap seperti sekarang. Aku maklumi itu,” jawab Antara—membuat Jennia tak suka. “Tapi sikapnya Mahira tuh kadang keterlaluan, Mas, terutama sama aku,” ucapnya. “Mending kalau bisa kasih anak. Ini kan enggak.” “Jennia ….” “Kenapa? Ucapan aku barusan fakta, kan?” tanya Jennia. “Mahira enggak bisa punya anak, sementara Luna udah jelas mengandung anaknya Danan. Jadi daripada memaklumi Mahira, lebih baik kamu minta Danan ceraikan dia. Kalau kamu yang minta, Danan pasti mau.” “Danan mencintai Mahira, Jennia. Jadi mana mungkin aku minta Danan menceraikan Mahira,” ucap Antara. “Lagipula kamu tuh selalu berlebihan kalau sama Mahira. Jadi wajar Mahira kesal dan—” “Jadi kamu lebih belain Mahira dibanding aku, Mas?” tanya Jennia, sebelum Antara selesai bicara. “Aku enggak belain siapa-siapa, tapi yang jelas Mahira enggak sepenuhnya salah,” ucap Antara. “Sebagai istri yang dimadu, wajar aja dia ngerasa sakit hati dan bersikap kaya sekarang. Jadi kita harus memaklumi. Kalau boleh jujur, aku sebenarnya terpaksa minta Danan menikahi Luna karena kalau Luna enggak hamil anaknya Danan, aku akan memilih bersabar menunggu Mahira memberikan aku cucu.” “Mahira mandul, Mas, mana bisa dia kasih kamu cucu?” tanya Jennia. “Dibanding perhatiin dia, kamu lebih baik perhatiin Luna yang udah jelas-jelas mengandung cucu kamu. Darah daging kamu.” “Mahira enggak mutlak mandul, Jennia. Dokter bilang kemungkinan hamil itu masih ada meskipun enggak sampai sepuluh persen. Jad—” “Terserah kamu deh, Mas,” ucap Jennia, sebelum Antara selesai bicara. “Malah capek hati aku kalau ngobrol sama kamu. Belain aja terus Mahira. Nikahin sekalian kalau mau.” Antara tidak menjawab sementara dengan wajah ditekuk, Jennia melanjutkan lagi kegiatannya. Tak ada obrolan, Antara melangkah pergi dari kamar—meninggalkan Jennia yang mendelik dengan perasaan sebal. “Mahira pake pelet apa sih sampai Mas Antara sesayang itu ke dia?” tanya Jennia. “Nyebelin banget.” Selesai berdandan, Jennia mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang yang tidak lain adalah Luna. Menunggu selama beberapa detik, panggilan darinya dijawab. “Halo, Ma. Ada apa?” “Kamu udah berangkat atau masih di rumah?” tanya Jennia. “Aku masih di rumah, lagi dandan,” jawab Luna. “Kenapa?” “Danan kemana?” “Manasin mobil,” jawab Luna. “Ada apa? Mama mau bicarain sesuatu?” “Mama cuman mau bilang sama kamu kalau mulai detik ini tugas kamu bukan cuman rebut Danan dari Mahira, tapi Papa Anta juga. Kamu harus ambil hati mertua kamu itu dan bikin dia enggak perhatiin Mahira lagi. Bisa?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD