Bagian 6

1576 Words
*** Belum dua puluh empat jam akrab, sikap Darka sudah berhasil membuat Mahira terkesan. Menjanjikannya makanan juga minuman, Mahira dibuat senang setelah seporsi mie ayam bakso, seporsi ceker mercon juga dua cup matcha datang ke rumahnya. Tak menunda untuk menikmati ketiga makanan tersebut, dengan segera Mahira membawanya menuju taman belakang, tempat di mana kolam berenang juga sebuah meja berada. Sebagai seorang istri, Mahira sadar jika yang dia lakukan sekarang tidaklah benar. Namun, karena Danan pun menduakannya, dia tak akan lagi peduli karena bukan untuk mengalah dan pasrah, Mahira kembali ke masa lalu untuk memperbaiki hidupnya yang semula rusak. “Makanannya kelihatan enak-enak, Mas Darka pasti pesan di tempat yang enggak sembarangan,” puji Mahira setelah ketiga makanan yang dia dapat, selesai dibuka. Tak akan langsung menikmati makanan tersebut, Mahira berniat untuk menghubungi Darka terlebih dahulu untuk berterimakasih. Namun, belum sempat nomor pria itu dia telepon, suara berat seorang pria membuatnya kaget dan menoleh. “Kamu di sini ternyata? Pantas aja di kamar enggak ada.” Bukan orang asing, yang datang adalah Danan—membuat Mahira spontan mengerutkan kening. “Mas?” panggilnya. “Kamu ngapain ke sini? Ini kan malam pertama kamu sama Luna. Seharusnya kamu sama dia.” Danan tersenyum lalu mendekat dan duduk di depan Mahira. Setelahnya barulah dia menjawab, “Aku kepikiran kamu. Meskipun badanku sama Luna, tapi isi kepalaku cuman kamu doang. Jadi aku mutusin buat ke sini.” “Terus Luna gimana?” tanya Mahira. “Marah lho dia kalau tahu kamu nyamperin aku.” “Ngapain marah?” tanya Danan. “Orang kamu juga istri aku kok. Enggak salah dong aku nyamperin kamu?” “Ya emang, tapi kan ini malam pertama kamu sama Luna, Mas, ngambek dia nanti terus nyalahin aku dan nyangka yang enggak-enggak. Malas banget kalau harus berdebat sama dia,” ucap Mahira, masih menunjukan ketidaksukaan. Jika hal ini terjadi di kehidupan dia yang sebelumnya, Mahira mungkin akan senang luar biasa karena Danan mementingkan dirinya dibanding malam pertama dengan Luna. Namun, karena sikap Danan yang seperti ini terjadi sekarang, Mahira tidak senang sama sekali karena rasa kecewa di hatinya sudah tidak bisa dibantah. “Aku enggak akan biarin Luna ngambek sama kamu, Mahira,” ucap Danan. “Lagipula aku kan nikah sama Luna bukan karena keinginanku, tapi karena keinginan Papa sama Mama. Jadi ya suka-suka aku dong. Iya enggak?” Mahira menghela napas kasar. Gagal menikmati waktu sendiri, dia cukup kecewa karena kehadiran Danan, sementara sang suami kini mulai mengalihkan atensi pada makanan-makanan miliknya di atas meja. “Kamu pesan makanan banyak banget. Bakalan habis memangnya?” tanya Danan dengan senyuman yang tak pudar. “Ya habis,” ucap Mahira. “Aku belum makan malam. Jadi aku mau makan semuanya.” “Aku temenin ya,” ucap Danan. “Anggap aja ini salah satu bentuk permintaan maaf aku karena ud—” “Enggak usah dibahas, Mas,” ucap Mahira, sebelum Danan selesai bicara. “Apa yang kamu lakuin enggak bisa ditebus dengan apa pun. Poligami ya poligami aja, enggak perlu pake minta maaf. Aku yakin kamu enggak seterpaksa itu nikahin Luna. Iya, kan?” “Mahira, ak—” Tidak sempat Danan berbicara, ponsel Mahira lebih dulu berdering. Sempat tegang karena takut Darka meneleponnya,Mahira memasang wajah malas setelah kontak yang terpampang justru milik sang mertua. “Siapa?” tanya Danan. “Mama kamu,” jawab Mahira sambil menjawab panggilan, kemudian mendekatkan ponselnya ke samping telinga. “Halo, Ma, ada apa?” “Kamu tuh maunya apa sih, Mahira? Udah tahu malam ini tuh malam pertama Danan sama Luna, kenapa kamu malah minta Danan pulang ke rumah kamu?” semprot Jennia tanpa aba-aba. “Danan tuh diminta nikah sama Luna biar cepat punya anak dan kasih Papa cucu. Harusnya kamu ngerti dan—” “Aku enggak minta Mas Danan ke sini, Ma, dia datang sendiri,” ucap Mahira, sebelum Jennia selesai bicara. “Halah, kamu pasti bohong,” ucap Jennia, yang seperti biasa membuat Mahira dongkol. “Danan enggak mungkin tiba-tiba ninggalin Luna kalau bukan kamu yang minta. Sekarang sebelum Mama bertindak lebih jauh, minta Danan balik ke Luna. Bilang ke dia Luna enggak mau sendirian di rumah. Jadi Danan harus nemenin.” “Kenapa enggak bilang aja sendiri?” tanya Mahira, kembali melakukan perlawanan—membuat Danan yang diam-diam memperhatikan, mengerutkan kening dengan perasaan heran. Bukan tanpa alasan, Danan seperti itu karena sikap Mahira yang menurutnya tak biasa. Alih-alih berdebat dengan Jennia, perempuan itu biasanya lebih memilih mengalah, sehingga ketika Mahira membantah permintaan sang mama, dia merasa aneh. “Maksud kamu apa ngomong kaya gitu?” “Ya Mama punya mulut, kan? Kenapa harus nyuruh aku?” tanya Mahira. “Mas Danan ada hp, Mama bisa hubungin dia terus minta dia balik ke Luna. Aku bukan pembantu Mama yang bisa disuruh-suruh seenak jidat. Aku istrinya Mas Danan.” “Mahira kamu apa sih?” tanya Jennia. “Semakin lama Mama perhatiin sikap kamu kayanya makin kurang ajar ya. Enggak tahu diri banget.” “Aku cuman lakuin apa yang seharusnya aku lakuin, Ma,” ucap Mahira. “Aku nikah sama Mas Danan bukan buat jadi pembantunya mama. Jadi kalau ada apa-apa lakuin sendiri. Aku enggak mau disuruh-suruh. Jelas?” “Kamu tuh ya. Udah man—” Lagi, Mahira melakukan sesuatu yang membuat Danan kaget, yaitu; menyudahi panggilan dengan Jennia tanpa permisi. Dengan raut wajah kesal, Mahira menyimpan ponselnya di meja kemudian memandang suaminya tajam. “Ada apa? Kok kamu kelihatan kesal?” tanya Danan. “Mama ngomong yang aneh-aneh?” “Pulang sana, Mas, ke rumahnya Luna,” perintah Mahira dengan mood yang cukup berantakan. “Mama barusan ngomel dan nuduh aku yang minta kamu ke sini. Jadi sebelum Mama datang, kamu balik lagi sana ke rumah istri kedua kamu. Nangis dia ditinggalin sama kamu. Enggak berani sendiri katanya.” “Mama marahin kamu?” “Ya iya, ngapain lagi emangnya kalau bukan marahin?” tanya Mahira. “Dari kita menikah, Mama kamu kan enggak suka sama aku. Padahal, aku enggak ngerasa punya dosa sama beliau.” “Maaf ya,” ucap Danan. “Aku enggak bermaksud bikin kamu dimarahin. Aku c*m—” “Pulang,” ucap Mahira lagi, dengan raut wajah ditekuk. “Aku malas kalau nanti istri muda kamu tiba-tiba datang ke sini. Sekarang rumah ini punya aku dan atas nama aku. Jadi aku yang punya kuasa. Aku berhak ngatur siapa yang boleh dan siapa yang enggak boleh datang ke sini.” Danan tidak menjawab dan hanya memandang Mahira dengan perasaan yang campur aduk, hingga tidak berselang lama sang istri kembali bicara. “Kenapa masih duduk? Aku kan minta kamu pergi,” ucap Mahira. “Enggak kedengeran emang suara aku? Ah, atau kamu emang sengaja pengen aku diomelin sama Mama? Iya?” “Mahira, aku enggak mungkin punya niat kaya gitu,” ucap Danan. “Aku sayang sama kamu. Jadi enggak akanlah aku biarin kamu jadi sasarannya Mama.” “Tapi fakta yang terjadi justru beda, Mas,” ucap Mahira. “Kamu jarang belain aku kalau aku lagi diomelin sama Mama. Kalau aku ngelawan, kamu paling minta aku buat ngalah.” “Aku minta maaf kalau sikapku bikin kamu enggak nyaman, ak—” “Sana pulang, aku mau menikmati makanan yang aku pesan,” ucap Mahira lagi, sebelum Danan menyelesaikan ucapannya. “Gara-gara kamu datang, makanan aku jadi enggak panas lagi. Padahal, mie ayam enaknya dimakan pas panas.” “Mau aku bantu hangatin?” tanya Danan. “Sebelum pergi, aku bisa ke dapur dulu dan—” “Aku bisa sendiri,” potong Mahira lagi, untuk yang kesekian kalinya. “Aku cuman butuh kamu pergi, karena selagi kamu di sini, aku enggak akan tenang. Barusan cuman Mama yang nuduh aku, nanti lama-lama bisa jadi Papa. Mau emangnya kamu lihat aku diomelin terus?” “Aku minta maaf, Mahira.” “Iya aku maafin, tapi kamu sana pergi,” usir Mahira untuk yang kedua kalinya. “Aku mau makan.” Danan menghela napas kasar. Tak mau membuat Mahira semakin marah, dia beranjak dari kursinya kemudian berpamitan untuk kembali ke rumah sang istri kedua. Melangkah dengan kaki yang berat, Danan sesekali menoleh, sementara Mahira fokus dengan makanan tanpa beralih padanya. “Enggak tahu kenapa aku ngerasa Mahira banyak berubah,” ucap Danan sebelum benar-benar meninggalkan taman belakang. “Sejak dia pingsan setelah Papa bilang mau nyuruh aku nikah lagi, Mahira lebih emosian dan gampang marah. Padahal, dulu dia enggak kaya gitu.” Danan masih terus memandangi Mahira sebelum akhirnya melangkah pergi menuju pintu utama. Tak bertemu siapa pun, Danan keluar dari rumah kemudian berjalan menuju mobilnya di halaman. Siap kembali ke rumah Luna, dia yang hendak menyalakan mesin mobil, menunda niatnya setelah sebuah panggilan tiba-tiba saja masuk. Mendapati nama Luna terpampang, Danan menjawab panggilan kemudian menyapa malas. “Halo, Luna, ada apa?” “Kamu enggak akan tidur di rumahnya Mbak Mahira, kan, Mas?” tanya Luna dari sebrang sana. “Ini tuh malam pertama kita. Jad—” “Aku ke sana sekarang, kamu enggak usah repot,” potong Danan. “Enggak usah ngadu ke Mamaku juga karena Mahira yang kena.” “Aku tadi sebal karena kamu pergi. Jadi aku ngadu ke Mama,” ucap Luna. “Oh ya, sambil pulang, boleh enggak aku nitip sesuatu?” “Mau nitip apa?” “s**u ibu hamil, Mas,” ucap Luna. “Usia kandunganku kan sekarang dua bulan. Jadi kayanya udah harus deh minum itu. Dokter kan udah lama rekomendasiin.” “Oh.” “Mau, kan, kamu beliin?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD