Bagian 5

1607 Words
*** Malam pertama usai pernikahan akhirnya datang. Jika dulu—ketika Danan membawa Luna pulang ke rumah, Mahira ada di mobil yang sama dengan pengantin baru tersebut, maka di kesempatan kedua ini Mahira memilih untuk memisahkan diri kemudian pulang bersama sopir ke rumah lama yang kini resmi menjadi miliknya itu. Tidak tertarik sama sekali mengunjungi rumah baru Luna dan Danan, Mahira menolak saat suaminya mengajak untuk ikut ke mobil yang sama. Tak diterima begitu saja, keputusan Mahira awalnya ditolak oleh Danan yang terus membujuknya ikut, hingga Jennia yang seperti biasa—ikut campur, membuat Danan manut untuk pulang ke rumah baru tanpa Mahira. Di kehidupan sebelumnya, Mahira diselimuti rasa sedih dan sakit hati di malam pertama Danan dan Luna. Namun, kali ini perasaan tenang justru menguasai dirinya. Tidak memikirkan Danan sama sekali, Mahira memilih untuk bersantai usai membersihkan badannya. “Meskipun pernikahan Mas Danan sama Luna ternyata enggak bisa aku gagalin, tapi setidaknya aku enggak menyaksikan lagi panasnya malam pertama mereka,” ucap Mahira, di tengah kegiatannya mengoleskan krim di wajah. “Desahan Luna, nafsunya Mas Danan sama istri barunya, semua itu enggak mengganggu aku. Malam ini aku tenang.” Tentang kejadian di malam pertama Danan dan Luna, Mahira masih sangat ingat jika waktu itu dia yang hendak pergi ke dapur, tak sengaja mendengar suara dari kamar tempat Danan dan Luna beristirahat. Pintu tak tertutup rapat, Mahira mendengar jelas desahan Luna dari kamar tersebut pun suara Danan yang sangat menikmati kegiatannya dengan Luna. Mahira kala itu menangis. Dia yang dijanjikan banyak hal oleh Danan, terluka setelah mendapati suami yang sangat dia kasihi, langsung bercinta dengan sang istri baru—seolah tak ada keterpaksaan diantara mereka. Pagi harinya Mahira diam, tapi alibi Danan yang katanya diminta untuk langsung bercinta oleh Antara dan Jennia membuat Mahira memaklumi dan memaafkan suaminya itu. Entah karena dibutakan cinta pada Danan, atau karena merasa tak punya power apa-apa, Mahira yang kini diberi kesempatan untuk mengulang hidup, cukup heran dengan sikapnya sendiri di masa lalu yang menurutnya sangat bodoh. Semakin sadar dari hari ke hari, dia bertekad untuk tak mengulangi kebodohan yang sama karena terlalu baik dan terlalu sering memaklumi ternyata merugikan dirinya sendiri. Mahira tak percaya lagi pada Danan, karena di balik ucapan manis pria itu, Danan diam-diam menyakiti dirinya, sehingga tak ada lagi keraguan, Mahira mantap memasukan Danan ke dalam list orang-orang yang harus dia buat sakit. “Sama seperti kehidupan sebelumnya, Mas Danan sama Luna pasti langsung bercinta,” ucap Mahira. “Mereka saling menikmati tubuh masing-masing. Padahal, di depan aku, Mas Danan kelihatan kaya terpaksa nikah sama Luna.” Mahira tersenyum samar. Jika tidak ada fitnah yang membuatnya celaka kemudian kembali ke masa lalu, dia sepertinya tak akan sadar jika cinta Danan pada dirinya sudah tak sebesar dulu. Cinta dan sayang Danan tak tulus lagi, karena jika pria itu tulus, pernikahan dengan Luna tak akan pernah terjadi. “Sekarang aku harus apa ya?” tanya Luna. “Apa ak—” Tidak selesai Mahira bicara, ponselnya di atas meja lebih dulu berbunyi—membuat atensi dia beralih pada benda pipihnya itu yang kini menampilkan sebuah nama. “Mas Darka,” ucap Mahira, setelah mendapati nama Darka. Bertemu di acara pernikahan Danan dan Luna, Mahira diajak berkenalan oleh pria itu yang ternyata kakak tingkatnya semasa kuliah. Di kehidupan sebelumnya Mahira memang mengenal Darka, tapi perkenalan mereka hanya terjadi saat masa kuliah. Entah takdir seperti apa yang sedang Tuhan gariskan di balik pertemuannya dengan Darka, Mahira tidak tahu. Namun, jika melihat sikap pria itu saat berbicara dengannya, Mahira yakin Darka bukan takdir buruk untuknya. “Halo, Mas Darka, selamat malam,” sapa Mahira setelah panggilan terhubung. Awalnya—setelah saling menyebutkan nama dan tahu siapa sebenarnya Darka, Mahira sempat memanggil pria itu kak. Namun, karena merasa terlalu tua untuk dipanggil Kakak, Darka meminta Mahira mencari panggilan lain, sehingga MAS pun akhirnya dipilih. “Halo, Mahira, kamu sedang sibuk?” tanya Darka dari sebrang sana. “Enggak, Mas, aku lagi enggak sibuk,” jawab Mahira. “Mas Danan kan pulang sama istri barunya ke rumah mereka. Jadi aku sendiri. Enggak sendirian banget sih, karena di rumah ada Bibi dan sopir. Bertiga jadinya.” “Oh, begitu,” ucap Darka. “Ada apa?” tanya Mahira. “Enggak, saya cuman mau ngetes nomor kamu saja sekaligus memastikan kondisi kamu,” ucap Darka—membuat kerutan di kening Mahira spontan terbentuk. “Baik-baik saja, kan? Ditinggal menikah lagi dan tiba-tiba punya madu, pasti bukan sesuatu yang mudah.” “Aku baik-baik aja kok, Mas,” ucap Mahira, tanpa menyebut alasan di balik perasaan tenang yang dia rasakan. “Aku udah nerima pernikahan Mas Danan sama Luna. Jadi Mas Darka enggak perlu khawatir. Lagipula aku kan emang enggak bisa kasih Mas Danan anak. Jadi sudah seharusnya aku ikhlas untuk dimadu karena Mas Danan butuh keturunan.” “Kamu perempuan yang hebat, Mahira,” ucap Darka. “Saya salut dengan ketegaran hati kamu. Kalau saya ada di posisi kamu, saya belum tentu sekuat itu.” Mahira tersenyum. Dalam hati, dia ingin sekali berkata jika dirinya berasal dari masa depan yang ingin mengubah takdir sekaligus balas dendam padaa orang-orang yang sudah menyakitinya. Namun, karena dia dan Darka belum terlalu akrab, Mahira menahan diri. Selain itu apa yang Mahira alami cukup ajaib, sehingga jika dia bercerita pada Darka, pria itu mungkin akan menganggapnya berhalusinasi atau mengarang cerita. “Aku cuman mencoba untuk berdamai dengan apa yang terjadi, Mas,” ucap Mahira. “Sebenarnya sebelum hari ini aku sempat meminta untuk diceraikan, tapi Mas Danan enggak mau. Jadi aku cari alternatif lain dengan minta rumah dan mobil sebelum dia menikah lagi. Setidaknya kalau suatu saat nanti aku diceraikan, aku enggak akan terlunta-lunta di jalanan. Aku punya rumah dan mobil.” “Uang?” tanya Darka. “Untuk saat ini aku masih ngandelin uang dari Mas Danan, Mas, tapi ke depannya aku berencana buat kerja atau bikin usaha,” ucap Mahira. “Aku mau menikmati hidup soalnya, biar Mas Danan diurus sama istri barunya karena aku yakin ke depannya Mas Danan akan mencintai Lunaria.” “Perempuan yang cerdik,” ucap Darka. “Saya jadi tidak terlalu khawatir setelah mendengar jawaban kamu.” “Sebelumnya Mas khawatir memangnya?” tanya Mahira sambil menaikkan sebelah alis. “Cukup khawatir,” ucap Darka. “Kita memang baru bertemu lagi tadi, tapi sebelum ini kita sudah saling mengenal. Jadi ya saya memiliki simpati terhadap kamu.” “Oh gitu.” “Boleh saya kirim makanan ke rumah kamu?” tanya Darka. “Untuk bersantai, kamu mungkin butuh camilan supaya ada yang bisa dikunyah.” “Eh, kok tiba-tiba makanan, Mas?” tanya Mahira. “Kita baru kenal tadi siang lho. Mas Darka baik banget.” “Kita kenal sejak usia dua puluh tahunan, Mahira, kan sudah saya bilang saya kakak tingkat kamu di kampus,” ucap Darka. “Kalau sebelumnya kita enggak saling kenal, saya enggak akan berani seakrab ini sama kamu.” “Iya sih, tap—” “Masih suka mie ayam bakso dan ceker mercon?” tanya Darka, sebelum Mahira selesai bicara. “Kalau masih, saya pesankan itu—lengkap dengan matcha kesukaan kamu.” “Mas,” panggil Mahira dengan perasaan yang cukup kaget sekaligus heran. “Kok tahu semua makanan kesukaan aku? Enggak cuman makanan, Mas bahkan tahu kalau aku suka matcha.” “Pinter ya saya? Tahu makanan kamu.” “Mas tahu darimana ih?” tanya Mahira. “Mas bukan stalker, kan? Kalau gini, aku mendadak seram.” “Kenapa seram? Saya manusia kok bukan hantu.” “Ya memang manusi, Mas, cuman kan—” “Saya tahu dari teman saya dulu, Mahira,” ucap Darka. “Dan kebetulan masih ingat sampai sekarang.” “Serius?” tanya Mahira memastikan. “Sangat serius,” jawab Darka. “Jadi bagaimana? Masih suka atau tidak pada tiga makanan itu? Kalau masih suka, saya pesankan dan kirim ke alamat kamu.” “Mas tahu alamat rumah aku memangnya?” tanya Mahira. “Enggak, tapi kamu bisa kasih tahu saya kalau berkenan,” ucap Darka. “Saya kirimnya pakai gojeg.” “Oh gitu,” ucap Mahira. “Mau?” tanya Darka. “Boleh, Mas, tapi nanti Mas kirim totalannya ya biar aku bayar,” ucap Mahira. “Via transfer paling bayarnya.” “Kenapa bayar?” tanya Darka sambil tertawa. “Kan saya traktir ceritanya. Masa dibayar?” “Ya kan—” “Tidak usah bayar, Mahira,” potong Darka sebelum Mahira selesai bicara. “Anggap saja makanan yang saya beli untuk kamu adalah bentuk perkenalan kita setelah sekian lama. Ya?” Mahira tidak langsung menjawab dan hanya diam sambil berpikir. Tak mau gegabah, dia menimbang semuanya dengan hati-hati sebelum kemudian mengambil keputusan untuk mengiakan tawaran Darka. Pria itu terdengar senang dan meminta Mahira menunggu makanan yang dipesan datang ke rumah. Tak lama, Darka berjanji makanan akan datang kurang dari tiga puluh menit. “Ini Mas Darka kenapa baik banget ya sama aku?” tanya Mahira, setelah tak lagi mengobrol dengan Darka. “Apa dia ada kaitannya sama kehidupan aku sebelum ini, tapi aku enggak tahu?” Mahira terus menebak-nebak, sementara di tempat yang jauh—tepatnya di dalam sebuah kamar dengan nuansa serba abu, Darka duduk sambil mengukir senyum tipis di bibirnya. Belum memesan makanan, dia masih larut dalam perasaan senang, bahkan selang beberapa detik setelahnya Darka mengambil sebuah figura dari atas meja. “Mahira …,” gumam Darka sambil memandangi foto gadis di figura yang sedang dia pegang. “Kali ini aku enggak akan menyia-nyiakan kesempatan. Aku enggak mau menyesal untuk yang kedua kalinya. Jadi sesulit apa pun jalannya, aku pasti akan menempuh jalan itu. Sabar ya. Kurang dari setahun, kamu akan menjadi milik aku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD