***
Mahira pikir dia benar-benar bisa mengubah alur hidupnya selama dua tahun terakhir. Namun, ternyata tidak, karena sekeras apa pun dia berusaha menolak, pernikahan Danan dan Lunaria—perempuan yang dipilih oleh Jenia, tetap terjadi.
Jika sebelumnya alasan Danan menikahi Luna adalah; karena ancaman Antara yang akan mengalihkan semua warisan pada orang lain, maka di kehidupan kedua Mahira alasan Danan menikah dengan Luna adalah; karena kondisi Antara yang sempat kritis.
Danan katanya tak kuasa menolak permintaan Antara yang sedang sekarat, sehingga untuk yang kedua kalinya Mahira harus legowo. Namun, kali ini dia tidak hanya meminta kesetiaan Danan sebagai syarat berpoligami.
Pada sang suami, Mahira meminta sertifikat rumah yang dia tinggali selama ini diubah menjadi miliknya, karena setelah Danan dan Luna menikah, Mahira tak mau tinggal dengan sang madu seperti di kehidupan dia sebelumnya, sehingga untuk Luna, Danan harus membeli rumah baru yang tidak boleh lebih bagus dari yang Mahira tempati selama empat tahun menjadi istri pria itu. Awalnya Danan keberatan karena dia ingin setiap malam bertemu Mahira. Namun, Mahira memberi ancaman, sehingga Danan pun akhirnya mengalah.
“Mas Danan dan Mbak Luna apa sudah siap? Kalau sudah, akad nikahnya akan segera dilaksanakan.”
Dua minggu berlalu pasca dropnya kondisi Antara, pesta pernikahan Danan dan Luna dilaksanakan. Sebenarnya sebelum hari ini Danan dan Luna sudah menikah secara siri di rumah sakit. Namun, karena butuh buku nikah dan dokumen lainnya, akad nikah kembali dilakukan dengan pesta yang mengiringi.
Atas ide Jenia, pesta dilaksanakan di sebuah hotel berbintang. Meskipun tidak semeriah acara pernikahan Mahira dan Danan, tamu yang diundang cukup banyak, sehingga acara pun cukup meriah.
“Siap, Pak,” ucap Danan. Menoleh pada Mahira yang duduk tidak jauh darinya, dia berkata, “Sayang, aku minta izin ya. Aku harap kamu ikhlas.”
Mahira tidak menjawab dan hanya memasang ekspresi datar. Sempat punya harapan bisa memperbaiki pernikahannya bersama Danan, Mahira kecewa usai suaminya itu kembali pasrah dengan keadaan, sehingga tidak hanya Jennia dan Luna, sosok Danan pun masuk ke dalam list orang yang Mahira benci.
Meskipun rasa cinta itu masih ada, Mahira kini punya tekad lain yaitu; membuat semua orang yang membuat hatinya sakit, merasakan rasa sakitnya dulu. Tanpa terkecuali, Danan pun tentunya akan merasakan pembalasan Mahira karena dari peristiwa yang kembali terulang, dia perlahan sadar jika cinta pria itu tak sebesar yang sering dibicarakan.
“Enggak usah minta izin terus kali, Danan. Kan Mahira udah jelas izinin kamu,” ucap Jennia, seperti biasa terang-terangan menunjukan rasa tak sukanya pada Mahira. “Lagian dia juga enggak bisa kasih kamu anak, kan? Jadi sudah seharusnya begini.”
“Jennia, jaga ucapan kamu,” ucap Antara, coba menegur.
“Aku cuman bicara yang sebenar-benarnya, Mas,” ucap Jennia. “Mahira kan enggak bisa kasih keturunan, jad—
Byur!
Tidak selesai Jennia bicara, Mahira lebih dulu menyiramkan air putih dari gelas yang dia pegang. Tidak kebetulan, dia sengaja memegang segelas air karena sudah tahu apa yang akan dilakukan mertuanya itu menjelang akad.
“Mahira! Kamu apa-apaan?!” pekik Jennia yang tentu saja shock dengan tindakan sang mantu. “Enggak punya sopan santun banget kamu sama orang tua! Kurang aj—”
“Ma, udah!” ujar Danan, sigap beranjak persis ketika Jennia hendak menyerang Mahira yang setia duduk di kursinya. “Ini acara penting, tolong jaga sikap.”
“Istri kamu kurang ajar, Danan!” ujar Jennia tidak terima. “Dia siram Mama pakai air dan—”
“Mahira enggak akan kaya gitu kalau Mama enggak mulai,” ucap Danan lagi, sebelum Jennia selesai bicara. “Lagian air putihnya juga enggak banyak, kan? Bisa Mama lap.”
Jennia tidak menimpali lagi sementara kedua tangannya mengepal kuat—membuat Mahira tersenyum tipis dengan perasaan yang puas. Dulu, saat Jennia mengatainya mandul di acara akad nikah Danan dan Luna, Mahira tidak melawan dan memilih untuk diam sambil meresapi sakit.
Namun, kali ini dia melakukan perlawanan dan yang Mahira rasakan setelah menyiram Jennia adalah; rasa puas juga ketagihan, karena melawan ternyata semenyenangkan ini.
“Basah ya, Ma? Maaf,” ucap Mahira pelan, persis setelah Jennia kembali duduk. “Aku kelepasan tadi. Kirain enggak akan kena.”
Jennia tidak menimpali dan hanya mendelik sebagai respon, sementara Mahira kembali mengarahkan atensinya pada meja akad. Tidak ada drama lanjutan, ijab kabul Danan dan Luna dilaksanakan. Dulu, Mahira hanya bisa larut dalam sedih tatkala menyaksikan pria yang sangat dia cintai, menikahi perempuan lain di depan matanya.
Namun, kali ini semua berbeda. Meskipun, rasa sedih itu masih ada, perasaan lain hinggap di hati Mahira yaitu; aneh. Melihat Danan dengan lancar mengucapkan ijab kabul, Mahira tidak merasakan keterpaksaan pada suaminy itu. Padahal, sebelum ini Danan selalu berkata jika dia terpaksa menikahi Luna demi Antara.
Entah ada rahasia atau tidak di balik sikap Danan, Mahira belum bisa menyimpulkan. Namun, dia bertekad untuk mencari tahu karena jika iya Danan menyembunyikan sesuatu, Mahira harus membongkarnya secara terang-terangan.
“Selamat ya, aku doain semoga kamu sama Luna segera punya anak,” ucap Mahira, ketika tiba waktunya dia naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat pada Danan dan Luna.
Sakitnya masih ada, tapi air matanya tak jatuh seperti dulu karena momen seperti ini sudah pernah dia alami, dan karena ini bukan pertama kali, Mahira sadar jika tidak peduli seberapa banyak air matanya jatuh, Danan dan Luna tetap menikah dan menjadi sepasang suami istri.
“Maafin aku,” ucap Danan tanpa mengaminkan doa yang Mahira lontarkan. “Aku janji setelah hari ini perhatianku ke kamu enggak akan pernah berkurang. Kamu tetap yang utama di hati aku meskipun ada perempuan lain.”
Mahira tersenyum tipis. Untuk ucapan tersebut Danan tidak bohong karena setelah menikah dengan Luna, pria itu masih sangat memperhatikannya, hingga kehamilan perempuan itu membuat sikap Danan berubah sedikit demi sedikit.
Danan tidak bersikap jahat pada Mahira, tapi sikapnya yang semula cuek pada Luna lambat laun berubah, sehingga lama kelamaan Mahira tak terlalu diperhatikan karena Danan harus menjaga kehamilan Luna.
“Enggak usah banyak janji, Mas,” ucapnya. “Sebelumnya kamu juga janji buat enggak menduakan aku, tapi hari ini kamu menikahi perempuan lain.”
“Aku minta maaf, Mahira, ak—”
“Selamat ya, Lunaria Callista,” ucap Mahira pada Luna, sebelum Danan selesai bicara. “Semoga bisa kasih keturunan untuk Mas Danan secepatnya, karena kalau enggak, Mas Danan bakalan diminta buat cari istri ketiga. Kamu enggak mau dong punya madu?”
“Terima kasih, Mbak Mahira,” ucap Lunaria. “Kesuburanku sejauh ini bagus. Jadi kayanya enggak perlu waktu lama, aku bisa punya anak dari Mas Danan.”
“Good luck,” ucap Mahira. “Aku doain yang terbaik.”
“Terima kasih.”
Mahira tidak menimpali lagi dan hanya tersenyum sebelum kemudian melangkah menuju tangga di pelaminan. Namun, belum sempat dia turun, Danan lebih dulu memanggilnya—membuat dia menoleh.
“Mahira.”
“Kenapa, Mas?”
“Nanti malam kita makan berdua ya, aku pengen dimasakin sama kamu seperti biasa,” pinta Danan—membuat Mahira lagi-lagi tersenyum tipis.
“Nanti malam aku pengen sendiri, Mas, jadi kalau kamu mau makan, minta Luna aja buat masakin,” ucap Mahira. “Kalian kan punya rumah baru. Jadi pulang aja ke sana.”
“Tapi aku mau pulang ke rumah kita, Mahira, ak—”
“Danan, stop ya,” ucap Jennia—membuat Danan spontan menoleh. “Malam nanti tuh malam pertama kamu sama Luna. Jadi biarin Mahira sendiri. Dia bukan anak kecil yang akan nangis kalau kamu tinggalin. Jadi kamu enggak perlu khawatir. Ada bibi juga di rumah.”
“See?” tanya Mahira. “Mama kamu sudah bersabda, Mas. Jadi biar bumi enggak gonjang-ganjing, kamu manut. Aku males soalnya berdebat sama Mama kamu karena beliau bisanya ngatain kurang ajar aja. Monoton.”
“Mbak, kamu enggak sopan,” ucap Lunaria, ikut bicara. “Gimana pun juga Mama Jennia tuh mertuaa kamu, seharusnya kamu hormat.”
“Kamu aja yang hormat, aku enggak mau,” ucap Mahira tanpa rasa takut, karena setiap kali berurusan dengan Jennia, ingatan dia tentang kejadian terakhir kali selalu melintas. “Lagian Mama Jennia bukan ibu kandungnya Mas Danan. Jadi otomatis dia bukan mertua aku.”
“Mahira,” panggil Danan—membuat Mahira menoleh.
“Apa, Mas? Mau ngomelin aku juga?” tanya Mahira. “Aku cuman bicara fakta kali. Salah?”
Tidak ada yang menjawab, semua kompak membisu, sehingga setelahnya—tanpa permisi, Mahira melanjutkan niat untuk turun dari pelaminan. Tak peduli tatapan orang-orang yang tertuju padanya, dia melangkah pergi dengan tujuan: meja di bagian pojok ballroom.
Meskipun berhasil mengubah diri menjadi lebih pemberani, rasaa sakit di hati Mahira tetap ada sehingga setelah lelah beradu argumen, dia butuh waktu untuk menepi dari keramaian.
“Kamu hebat, Mahira, kamu bisa,” ucap Mahira, setelah mendudukan dirinya di salah satu kursi. Tanpa teman, dia duduk sendirian karena tamu undangan yang hadir hampir semuanya asing. “Setelah ini kamu harus bersikap lebih berani lagi dan ngelawan orang-orang yang sudah menindas kamu. Enggak cuman itu, kamu juga harus balas semua sikap jahat mereka. Kamu harus bikin mereka ngerasain sakit kaya apa yang kamu rasain.”
Tanpa perlu beranjak, Mahira mengambil segelas minuman berwarna dari meja untuk kemudian diteguk. Masih dalam kesendirian, dia memandangi Danan di pelaminan, hingga suara berat seorang pria membuatnya tersentak.
“Boleh saya duduk di sini? Kebetulan saya enggak ada teman.”
Mahira menoleh. Mendapati pria jangkung dengan setelan kemeja yang cukup rapi, dia tak menjawab dan hanya memandangi pria tersebut dengan rasa heran yang menghampiri, hingga tak berselang lama pria di depannya mengulurkan telapak tangan dan memperkenalkan diri.
“Kenalkan, saya Darka Zavian Adinata. Kamu bisa panggil saya Darka.”