***
Mahira benar-benar kembali ke masa lalu, tepatnya ke malam di mana kedua orang tua Danan datang ke rumah untuk meminta pria itu menikah lagi. Sempat tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya, Mahira memastikan beberapa kali sebelum akhirnya percaya jika hal yang dia anggap mustahil, benar-benar dia alami.
Sendirian di kamar usai Danan memberikannya waktu untuk menenangkan diri, Mahira kembali mengingat apa saja yang terjadi padanya selama dua tahun terakhir. Dibanding kebahagiaan, yang Mahira rasakan semenjak Danan menikah lagi hanyalah rasa sedih dan terluka, sehingga setelah larut dalam pikirannya sendiri, sebuah tekad muncul di benak Mahira yaitu; dia ingin mengubah takdir dan nasib.
Diberi kesempatan kedua untuk mengulang alur hidup, Mahira akan memperbaiki semuanya kemudian membalas semua perlakuan tidak baik yang diberikan orang-orang terdekat Danan padanya. Dia tidak akan lemah kali ini, dia akan bersikap lebih tegas dan tak terlalu berbaik hati agar tidak diperlakukan seenaknya oleh orang lain.
“Mas.”
Hampir setengah jam berdiam diri di kamar, Mahira akhirnya keluar kemudian memanggil Danan yang nampak duduk di sofa ruang tengah.
“Hai,” sapa Danan sambil tersenyum. Tidak terus duduk, pria itu menghampiri kemudian bertanya, “Gimana kondisi kamu sekarang? Sudah membaik?”
“Aku udah jauh lebih baik,” jawab Mahira. “Mama sama Papa mana? Udah pulang apa masih di sini?”
“Mama sama Papa pulang, Sayang,” ucap Danan. “Aku minta mereka buat bicarain semuanya di lain waktu, karena kondisi enggak memungkinkan.”
Mahira tidak menjawab dan hanya memandang Danan sambil mengingat memorinya di masa lalu. Dua tahun ke belakang, orang tua Danan memang datang ke rumahnya untuk meminta Danan menikah lagi karena Mahira tidak kunjung memberikan pria itu anak.
Tidak langsung berhasil, permintaan Jenia dan Antara ditolak oleh Mahira yang tak bersedia dimadu. Namun, di malam selanjutnya mereka kembali datang untuk melontarkan paksaan yang akhirnya membuat Mahira juga Danan manut.
“Kenapa kamu lihatin aku kaya gitu?” tanya Danan.
“Enggak, aku cuman punya feeling aja kalau besok Mama sama Papa kamu bakalan ke sini lagi,” jawab Mahira. “Besok mereka pasti maksa kamu buat menikahi perempuan bernama Luna itu, dan kamu akhirnya mau.”
Danan mengerutkan kening. “Kok bisa berpikiran kaya gitu sih?” tanyanya. “Kaya peramal aja kamu.”
“Lihat aja besok,” ucap Mahira sambil tersenyum tipis. “Feelingku pasti enggak akan meleset.”
Danan tidak menjawab dan hanya mengerutkan kening sebagai respon. Malam sudah larut, dia dan Mahira memutuskan untuk beristirahat, kemudian esok harinya berkegiatan seperti biasa. Tidak ada yang aneh, Danan pergi ke kantor sementara Mahira berada di rumah, karena memang sejak menikah dengan Danan, dia fokus menjadi ibu rumah tangga.
“Kalau kejadian masa lalu bakalan keulang, nanti malam Mama Jenia sama Papa Anta pasti datang lagi ke sini buat minta mas Danan nikah sama Luna,” ucap Mahira, di tengah kesendiriannya. “Waktu itu aku akhirnya ngalah setelah dipojokkin sama mereka. Sekarang aku harus ngelawan. Mau sekeras apa pun orang tuanya Mas Danan maksa, aku harus nolak perintah mereka, karena sikap Mas Danan berubah setelah nikah sama Luna.”
Jika mengingat lagi bagaimana sikap Danan sebelum dirinya kembali ke masa lalu, sejujurnya Mahira kecewa karena suaminya itu terlalu mudah dihasut. Namun, Mahira coba menurunkan ego. Sebelum Danan menikah lagi, pria itu menyayangi Mahira, sehingga takdir pertama yang akan dia ubah adalah; mencegah Danan menikahi Luna.
“Oke, Mahira, kamu harus coba.”
Waktu berlalu, kegiatan Mahira ketika Danan tidak di rumah, tak banyak berubah. Sore menjelang, pria itu kembali dari kantor dan membawa kabar tentang kedatangan Jenia juga Antara nanti malam.
Pukul tujuh—tepatnya setelah selesai makan malam, yang ditunggu akhirnya datang. Tidak ada yang berubah, Jenia dan Antara datang dengan penampilan yang sama—membuat Mahira tanpa sadar mengukir senyum tipis.
“Kenapa kamu lihatin mama kaya gitu?” tanya Jenia, sadar terhadap tatapan Mahira yang tidak biasa. “Ada yang aneh sama penampilan Mama?”
“Enggak,” jawab Mahira. “Mama cantik. Aku takjub.”
“Mama cantik karena pandai rawat diri,” ucap Jenia. “Enggak kaya kamu. Alibinya berpenampilan sederhana, tapi jatuhnya malah enggak keurus. Bikin malu Danan aja.”
Dulu—setiap kali Jenia berkata sinis, Mahira hanya bisa tersenyum tipis dengan perasaan yang sedikit tersentil. Namun, sekarang Mahira biasa saja. Dia tidak tersinggung atau sedih karena sikap asli sang mertua sudah dia ketahui.
Jenia ingin dia mati, sehingga mulai detik ini Mahira harus melakukan perlawanan agar kejadian dirinya terusir kemudian tertabrak mobil, tidak terulang lagi.
“Mas Danan enggak malu kok, Ma. Lagian cantik alami aku rasa lebih bagus daripada banyak permak,” celetuk Mahira yang berhasil membuat Jenia melotot.
“Maksud kamu apa ngomong kaya gitu?”
“Aku enggak bermaksud apa-apa, aku cuman bica—”
“Sudah,” ucap Antara, sebelum Mahira selesai bicara. “Kita ke sini bukan untuk ribut, tapi untuk melanjutkan pembahasan semalam. Jadi ayo duduk dan jangan saling serang. Kalian bukan anak kecil.”
Jenia mendelik, sementara Mahira tersenyum tipis sebelum kemudian mempersilakan kedua mertuanya duduk. Tak ada basa-basi, pembahasan tentang madu untuk Danan kembali dilanjutkan. Bukan Jenia, yang bicara adalah Antara. Tak sekadar meminta putranya menikah lagi, Antara membeberkan juga alasan dirinya meminta Danan berpoligami.
Masih seputar ketidakmampuan Mahira hamil, Antara meminta sang mantu untuk berbesar hati karena dirinya butuh keturunan dari Danan—anak satu-satunya yang dia punya.
“Papa tahu ini menyakitkan buat kamu, tapi Papa juga butuh cucu, Mahira. Papa enggak mau keturunan Papa berhenti di Danan. Jadi Papa mohon kamu merestui Danan untuk menikah lagi. Kamu akan tetap jadi mantu Papa dan—”
“Aku enggak mau, Pa,” ucap Mahira, tanpa menunggu Antara selesai bicara. “Apa pun alasannya, aku enggak bersedia dimadu. Jadi kalau Papa mau minta Mas Danan nikah lagi, suruh dia ceraikan aku dulu.”
“Mahira, aku enggak mungkin menceraikan kamu,” ucap Danan, yang langsung bereaksi. “Aku cinta sama kamu dan—”
“Cinta aja enggak cukup, Danan, kamu butuh keturunan,” ucap Jenia, sebelum Danan selesai bicara. “Kamu boleh mencintai Mahira, tapi pikirkan juga Papamu. Dia enggak mau keturunannya berhenti di kamu.”
“Tapi aku enggak mau kehilangan Mahira, Ma,” ucap Danan yang membuat Mahira kembali bernostalgia.
Tidak ada yang berubah, Danan masih coba melakukan penolakan dan tidak langsung menerima usulan kedua orang tuanya.
“Kamu enggak akan kehilangan Mahira, Danan,” ucap Antara. “Dia akan tetap jadi istri kamu.”
“Enggak, Pa, aku enggak akan jadi istrinya Mas Danan kalau dia menikah lagi,” ucap Mahira, terus melakukan perlawanan.
Di masa lalu, dia tidak seberani itu ketika melontarkan penolakan sehingga mudah sekali untuk Jenia mendesaknya dan membuat dia mengalah.
“Mahira, kamu apa sih?” tanya Jenia. “Kamu tuh sadar diri dong harusnya. Kalau kamu enggak mandul, Danan juga enggak akan diminta buat nikah lagi. Jadi jangan egois!”
“Aku cuman mempertahankan rumah tanggaku, Ma, apa itu salah?” tanya Mahira, tak mau kalah. “Coba deh Mama yang ada di posisi aku, apa Mama bakalan terima Papa nikah lagi?”
“Mama akan terima,” jawab Jenia. “Mama enggak akan egois dan—”
“Halah, bulshit!” ujar Mahira, yang berhasil membuat semua orang terkejut.
Dikenal memiliki kepribadian yang lembut, kalimat tersebut jelas mengagetkan untuk semua orang karena sebelumnya Mahira tidak pernah bicara kasar apalagi sampai meninggikan suaranya.
“Mahira,” panggil Danan.
“Apa, Mas? Kamu mau belain Mama?” tanya Mahira. “Silakan kalau kamu mau nikah lagi, tapi ceraikan aku. Aku mendingan jadi janda daripada harus dimadu. Ingat itu.”
“Kamu ini benar-benar perempuan enggak tahu malu ya, Mahira,” desis Jenia emosi. “Udah mandul, belagu banget. Bersyukur harusnya kamu tuh karena diterima sama Danan, bukan malah kaya gini. Tebal banget muka kamu.”
“Terserah Mama mau bilang apa, tapi yang jelas aku enggak mau dimadu, Ma,” ucap Mahira semakin tegas. “Silakan kalau Mas Danan mau nikah lagi, tapi aku mau diceraikan dulu. Aku enggak mau berbagi suami dengan perempuan lain. Aku enggak rela.”
“Mahira, tolong Papa,” pinta Antara, dengan suara yang lebih lembut dibanding sang istri. “Papa tahu ini enggak mudah, tapi Papa butuh cucu, Sayang. Papa pengen kaya teman-teman Papa yang sudah menimang cucunya. Kamu enggak usah khawatir karena meskipun menikah lagi, Danan enggak akan berubah sikap ke kamu. Dia ak—”
“Kalau Mahira enggak mau, tolong jangan dipaksa, Pa,” potong Danan sebelum Antara selesai bicara. “Aku enggak mau Mahira sakit hati.”
Mahira tidak bicara lagi sementara memorinya kembali mengingat apa yang akan terjadi setelah ini. Jika tak salah, Antara mengeluarkan taringnya. Ditolak oleh Danan dan Mahira, pria itu mengancam akan mencoret Danan dari daftar penerima warisan dan akan memberikan hartanya pada yayasan.
Waktu itu Danan terkejut setelah mendengar ucapan Antara dan sikapnya mulai berubah, sementara Mahira yang merasa tak enak perlahan lemah dan hal tersebut dimanfaatkan Jenia untuk memojokannya hingga kalah.
“Jadi kamu beneran enggak mau kasih Papa cucu, Danan?” tanya Antara. “Kamu enggak mau menikah sama Luna?”
“Kalau Mahira enggak setuju, aku jelas enggak mau, Pa, karena segala keputusanku harus dapat izin dari Mahira.”
Antara diam, sementara Mahira menunggu momen sang mertua melontarkan ancaman. Namun, hingga beberapa detik berlalu, Antara tak berkata apa-apa—membuat Mahira dilanda heran.
“Pa, are you okay?”
Hening sejenak, pertanyaan tersebut dilontarkan Jenia setelah Antara tiba-tiba saja memegangi d**a.
“d**a saya sesak,” ucap Antara—membuat Mahira memicing, karena di masa lalu, Antara tak seperti itu.
“Sesak gimana maksud kamu?”
Antara tidak menjawab dan hanya memegangi d**a sambil meringis, hingga tidak berselang lama pria itu seperti kesulitan bernapas kemudian boom! Antara tak sadarkan diri—membuat Jenia, Danan, bahkan Mahira panik.
Jenia sibuk memaki Mahira, sementara Danan sigap bertindak dengan menggendong sang Papa untuk kemudian dibawa ke mobil.
“Aku bawa Papa ke rumah sakit ya, kamu tunggu di sini.”
Mahira tak bisa berkata apa-apa, sementara Danan pergi begitu saja membawa Antara ke rumah sakit bersama Jenia. Mahira bingung. Alur kejadiannya mendadak berubah, sehingga selain menunggu kabar tentang Antara, dia tak melakukan apa pun lagi.
“Mas Danan.”
Hampir satu jam berlalu, Mahira dihubungi Danan. Lekas menjawab telepon, dia menyapa,
“Halo, Mas.”
“Sayang, Papa kondisinya buruk,” ucap Danan dengan suara yang tercekat. “Dokter bilang, Papa kena serangan jantung dan bisa kehilangan nyawanya kapan pun.”
“Kamu serius, Mas?”
“Iya,” jawab Danan. “Barusan Papa sadar sebentar dan beliau masih bahas permintaannya. Papa mohon sama aku buat menikahi Luna. Aku bingung.”
“Mas ….”
“Kalau aku minta izin buat menikahi Luna demi Papa, apa kamu bisa menerima?” tanya Danan. “Aku janji akan tetap mengutamakan kamu meskipun ada Luna di hidup aku.”
Mahira diam sambil menggigit bibir bagian bawahnya. Dia bingung kenapa alur hidupnya tiba-tiba saja berubah tanpa campur tangan dirinya. Padahal, dulu semua tidak seperti sekarang, Mahira masih sangat ingat.
“Mahira?”
“Oke, aku akan mengizinkan kamu menikahi Luna, Mas,” ucap Mahira pada akhirnya, setelah cukup lama berpikir. “Tapi dengan satu syarat.”
“Apa syaratnya, Sayang? Kalau itu bisa membuat kamu ikhlas, aku akan kabulin.”