Perasaan AC sudah di nyalakan, suhu juga rendah malam ini tapi kenapa tubuh Audy terasa panas ya. Bukan hanya panas, rasanya semua tubuhnya kaku jantungnya juga berdetak tidak normal, haruskah ia ke dokter lagi untuk periksa.
Sepasang mata terus saja menatap dirinya dengan posisi tidur miring bertopangkan lengannya sendiri membuat Audy semakin canggung saja.
" kenapa, tidak bisa tidur ya. apa masih merasa pusing." tanya Hendrik
" ti-tidak." Audy gelisah sampai ia gugup.
" tidurlah, besok aku yang akan minta izin pada bosmu untuk kamu cuti lagi. Kamu harus pulih dulu untuk menjaga kesehatanmu." Hendrik membenarkan posisi selimut Audy.
Semakin gugup saja.
Sore tadi Reino mengajak pulang Audy ke rumah, tidak ada alasan untuk Audy untuk menolak. Ia tidak ingin membuat anaknya kecewa dengan berat hati namun ada rasa bahagia akhirnya Audy ikut pulang ke rumah bersama Hendrik dan juga Reino.
Sampai di rumah keluarga Mahameru, begitu senangnya Shopia menyambut Audy datang. Namun sikap ke sombongannya menutupi itu semua. Ia masih berlagak sok tidak peduli dengan Audy sama seperti yang dulu. Di meja makan saat makan malam pun terasa canggung, Audy masih bingung harus bersikap bagaimana di keluarga mantan suaminya. Tidak ada berkunjung di rumah, Hardin pulang di rumahnya sendiri begitu juga Ana yang di rumah Aska, bahkan Vanilla yang biasa betah di sana juga ikut pulang bersama Mamahnya tadi sore. Jadi mereka semua tidak ada yang tau kalau Hendrik dan Reino membawa Audy pulang, seandainya mereka tau pasti mereka juga ikut senang dan bahagia seperti Reino saat ini.
Usai makan malam, Reino meminta Bundanya untuk menemani belajar sedangkan Hendrik mengerjakan pekerjaan kantornya ia tinggal sehari ini.
Karena mengantuk Reino mengajak kedua orang tuanya untuk tidur. Saat Reino rertidur pulas malah kedua orang tuanya malah tidak bisa tidur.
Hendrik masih terjaga memperhatikan Audy yang terlihat gelisah.
" mau aku buatkan s**u Audy." tawanya
Audy hanya menggeleng, beberapa detik kemudian Hendrik turun dari ranjang. Audy pura pura tidur.
" tidak ingin mengobrol dulu denganku, barang kali ada yang ingin kamu katakan padaku." Hendrik membuka obralan santai dengan mantan istrinya.
" aku sangat membencimu tapi aku tidak ingin membuat Reino kecewa dengan keadaan kita." ucap Audy tegas
" wajar jika kamu membenciku karena ini semua memang salahku. Namun harus kamu tau bahwa aku juga sangat menyesal karena memisahkan kalian." Hendrik memandang sedih pada anak semata wayangnya.
Ponsel berdering terus ada ada nama Alya di layar. Ia mengambil selimut dalam lemari dan satu bantal untuk di bawa ke sofa.
Ia tidak langsung menerima telpon dari Alya, menjaga perasaan Audy adalah yang utama saat ini. Ia hanya mengirimkan pesan pada Alya bahwa ia sedang sibuk tidak bisa di ganggu. Kemudian meletakkan kembali ponsel di atas meja.
" tidurlah. Maafkan aku." ucapnya datar namun sangat berarti.
Audy yang awalnya hanya pura pura tidur akhirnya tertidur juga. Ia tidak ingin banyak berfikir entah esok drama apa lagi yang akan ia tunjukan pada anaknya untuk menutupi keadaan di antaranya dan Hendrik.
Hendrik bangun dari sofa, ia menangkap wajah lelah di mantan istrinya. Rasa penyesalan dan bersalah itu tidak akan termaafkan jika pemilik wajah itu tidak bisa dengan tulus memaafkannya. Ia mendekat ke arah ibu dan anak yang telah tertidur pulas itu.
" maafkan Ayah Reino, maafkan aku Audy.". Hendrik mencium keduanya secara bergantian dan kembali tidur di sofa.
======
Mungkin efek tidur terlalu malam juga membuat Audy dan Hendrik bangun kesiangan. Reino menatap tidak suka saat bangun mendapati Ayahnya tidak tidur di sampingnya seperti semalam.
Wajah paginya hilang seketika, bibirnya mengantup.
" Ayah bangun." bentak Reino.
Dengan mata yang masih berat untuk di buka Hendrik terbangun. " ya kenapa Reino." tanyanya.
" kenapa Ayah tidul di sini, Ayah tidak suka bunda tidur bersama kita."
Hendrik diam mencari alasan yang tetap agar Reino tidak kecewa, di ranjang Audy yang mendengar anaknya mengeluarkan suara yang keras langsung terbangun dan duduk.
" hanya saja Ayah tidak bisa tidur karena bunda mendengkur dengan keras." ucapnya.
Audy yang merasa di fitnah langsung melotot seakan ingin menelan Hendrik di pagi hari tanpa air.
" masak sih bunda tidulnya mendengkur, kenapa Laino tidak dengal ya...,." Reino masih tidak percaya
Saat Reino menatap Audy, Hendrik mengedipkan sebelah matanya agar ia setuju dengan alasan Hendrik walau memfitnah dirinya.
Dan akhirnya Audy mengangguk.
Reino begitu semangat membanggakan bundanya pada Vanilla dan Hardin serta Elsa bahwa mereka sudah di pertemukan.
Setiap pagi Hardin dan Elsa selalu mengantarkan Vanilla ke rumah utama sebelum berangkat ke kantor, nanti mereka akan sekolah bersama sama di antar Ana. Ya Ana yang masih belum di beri momongan selama 6 tahun ini menyibukkan diri untuk mengasuh kedua keponakannya. Aska yang melarang Ana untuk bekerja, dengan suka hati mengizinkan Ana mengasuh kedua ponakannya.
Bukan tanpa alasan Aska melarang Ana untuk bekerja, ia tidak mau jika ratu dalam hidupnya juga ikut membanting tulang mencari nafkah karena dasarnya prialah tulang punggung keluarga dan wanita tulang rusuknya. Saham peninggalan papah Alex di kelolah dengan baik oleh Aska dan Hendrik meski Aska jarang ke kantor Mahameru karena ia juga di sibukkan di kantornya sendiri dan kampus peninggalan ayahnya, belum lagi ia masih harus mengajar di kampusnya sendiri.
Untuk masalah mengasuh Reino dan Vanilla, itu untuk menghilangkan rasa bersalah dan sedih hati seorang wanita yang belum bisa memberikan keturunan untuk suaminya. Aska berfikir jika Ana merawat mereka maka rasa sedih Ana akan berkurang, ia tidak akan selalu menyalahkan dirinya terus karena belum bisa memberikan keturunan untuknya, syukur syukur kata orang Jawa jika mau merawat anak orang dengan suka rela makan akan ketularan dengan cepat bagi mereka yang belum memiliki keturunan. Semoga saja Ana cepat di berikan momongan.
Baru saja mereka akan sarapan Ana dan Aska datang dan mereka semua sarapan bersama sebelum melakukan aktivitas mereka masing masing.
" wah nanti malam kita adakan barbeque bersama ya mah, untuk merayakan kak Audy udah balik pulang." ide si mulut petasan Elsa yang selalu ramai dalam keadaan apapun dan di mana pun.
Terkadang Hardin sampai mengusap dadanya karena sikap bar bar istrinya yang tidak tau tempat dan waktu itu. Jangankan Hardin, Vanilla saja kadang menggelengkan kepalanya dan menutup wajahnya karena sikap konyol dan bar bar mamahnya .
" ide bagus Sa... ya kan kak Audy." timpal Ana
Audy hanya senyum saja tanpa bisa menikmati sarapannya yang menggoda selera sedangkan Hendrik begitu menikmati sarapan paginya.
" waktunya sarapan, makan saja jangan banyak bicara kalian." ucap Hendrik datar.
" ya mah." mohon Ana dan Elsa bersama
" ya ya." Shopia akhirnya mengeluarkan suara.
" Tante Ana hali ini Laino di antar sekolah sama Bunda ya.." izin Reino
" tentu sayang, nanti kita berempat akan sekolah bersama." jawab Ana yang baru saja meminum airnya.
" tapi aku mau ke-." Audy mencoba mengelak
" aku yang mengizinkan kamu cuti satu hari lagi ke kantormu." Potong Hendrik
Mau menolak bagaimana lagi coba kalau sudah begini toh Audy juga malas jika harus melihat bosnya yang baik baik ada maunya itu. Tapi ia berfikir lagi bagaimana ia akan menghadapi bosnya itu, sedangkan ia ada perjanjian kontrak secara pribadi dengan Juna. Ah sudahlah Hendrik pasti bisa mengatur nantinya, terus hutangnya bagaimana. Masak ia minta tolong pada Hendrik dan menceritakan semuanya kan gak mungkin, ya sudahlah kan cuti satu hari lagi toh besok ia akan bekerja lagi.
Sarapan telah usai Ana, Audy dan kedua ponakannya berangkat sekolah sedang yang lainnya pergi ke kantor masing masing hanya Aska yang akan mengajar ke kampus pagi ini. Tinggal Shopia yang berada di rumah, mungkin nanti siang ia akan menyusul Hardin ke kantornya.
Tiba saat Hendrik di kantor Rajaksa, ia langsung di persilahkan Maya masuk ruangan Juna.
" selamat pagi Pak Hendrik, ada hal penting apa yang bisa saya bantu hingga anda datang ke kantor saya pagi ini." sapa Juna dengan heran karena tidak biasanya Hendrik datang ke kantornya, jika ada meeting maka ia lah yang akan datang ke kantor Mahameru.
Héndrik membuka kancing kemejanya, kemudian duduk di depan Juna setelah saling bersalaman.
" tidak ada hanya saja yang meminta izin cuti salah satu karyawan anda." Juna sudah mengarahkan pembicaraan itu pada Audy karena hanya Audy lah salah satu karyawannya yang memiliki hubungan pribadi dengan kliennya satu ini.
" Maksud anda siapa ya pak." Juna masih pura pura tidak mengerti padahal dalam hatinya sudah terasa sesak menahan emosi.
Tanpa Hendrik tau, Juna mengepalkan tangannya dengan kuat di bawah meja sana.
" Audreya Puspita. Salah satu karyawan Anda." jawab Hendrik dengan santai.
Ekspresi wajah Juna dapat di baca oleh Hendrik bahwa ia sedang cemburu. Sedikit Hendrik mengangkat sudut bibirnya dengan samar, sedikit kemenangan dari Juna saat ini.
" dengan alasan apa ya pak anda meminta izin atas nama Audreya Puspita untuk cuti." Juna mencoba dengan kuat menahan ekspresi rasa cemburunya di depan rivalnya itu
" kemarin Audy sakit dan di saya bawa kerumah sakit. Dan hari ini saya minta dia untuk istirahat dulu." Juna terdiam
" baiklah pak Arjuna, hanya itu tujuan kedatangan saya kesini. Saya permisi." Hendrik pun keluar dari ruangan Juna.
" sekarang kamu mulai berani mempermainkan saya Audy. Kenapa Hendrik yang kamu hubungi bukan saya, kamu anggap saya ini apa yang sudah berbaik hati padamu. Ternyata ancaman saya tidak membuatmu takut sama sekali, lihat saja nanti kamu Audy. " gumam Juna dengan geram
Tangannya yang sedari tadi mengepal karena menahan emosi kita ia tinjukan dengan kuat di atas mejanya menjadikan punggung tangannya berdarah dan meja yang yang terbuat dari kaca itu pecah menjadi dua bagian yang retak sama retaknya dengan hatinya.