16. Makan Malam Keluarga Mahameru

1452 Words
Ana mulai diam setelah berbagai pertanyaannya hanya di jawab Audy dengan datar. Ia memposisikan dirinya, juga merasa bersalah walau seperti apapun dan bagaimanapun penyebab perceraian wanita di depannya dengan sang suami juga karenanya. Tidak sama sekali Ana mendapatkan jawaban tentang selama ini Audy dimana dan bagaimana keadaannya sampai anak anak sudah pulang sekolah. Usai pulang dari sekolah Audy berniat akan pulang kost namun Reino melarangnya, dengan alasan nanti beli baju ganti saja minta Ayahnya. Kalau sudah Reino yang meminta Audy bisa apa, jangankan menolak menjawab saja ia hanya mengikuti jawaban sebagai paten dari Reino. Memang seorang ibu tidak akan bisa menolak keinginan anaknya apalagi membuat anaknya kecewa. Jam kantor pun sudah pulang, lain halnya dengan Hendrik yang membelikan baju ganti untuk Audy. Arjuna sedang duduk dalam mobil yang terparkir di depan gerbang kost Audy. Sebenarnya ia ingin masuk namun ibu kost melarangnya dengan peraturan yang sudah di buat untuk penghuni kostnya. Apa bedanya ia dan Hendrik jika sama sama orang lain bagi Audy saat ini. Sampai kaca mobilnya di ketuk orang. " pak Juna sedang apa di sini." tanya Hendra yang baru saja keluar dari kost Widya. Terkecuali Hendra yang bisa masuk kost tapi harus ada batas jam, karena ibu kost sudah tau pasangan satu ini akan menikah kurang dari 2 bulan lagi. Juna bingung harus menjawab apa, ia hanya diam dan salah tingkah. " Audy tidak ada di kost pak." ucap Hendra lagi " dia tidak masuk kerja hari ini dengan alasan sakit, kenapa dia tidak ada di kost " Juna mencoba memancing Hendra untuk mendapatkan informasi dimana keberadaan Audy saat ini meskipun ia tau bahwa kemungkinan besar ia dengan Hendrik di suatu tempat yang belum ia pastikan kebenarannya. " yang saya dengar ibu kost bilang Audy bersama pak Hendrik pemilik perusahaan Mahameru pak. Apa mungkin mereka memiliki hubungan." Hendra malah balik tanya pada Juna yang jelas jelas menahan api cemburu di dadanya. " kamu punya nomor Audy yang lainnya karena nomornya tidak bisa di hubungi." Hendra hanya menggeleng. Tanpa permisi Juna langsung menjalankan mobilnya menjauh dari area kost. Senja yang masih cerah sudah di gantikan dengan malam yang terang bulan. Semua keluarga Mahameru sudah berkumpul di samping rumah. Kolam di tengah taman menjadi saksi betapa bahagianya keluarga Mahameru sekarang, Namun orang spesial yang menjadi alasan mereka mengadakan barbeque belum juga turun bergabung dengan mereka. " ayah.. bunda mana kok belum tulun. Lama sekali ganti bajunya." tanya Reino yang menarik ujung kaos Hendrik. " Sebentar Reino, ayah panggil Bunda dulu " Reino pun mengangguk. Hendrik menunggu membuka pintu kamarnya, ia melihat Audy masih duduk di depan meja rias dengan posisi yang sama saat ia meninggalkannya untuk turun terlebih dulu. " mau nunggu sampai berapa jam lagi anak kamu di bawah sana." sindirnya pada Audy. " siapa aku sampai keluargamu menunggu ku." tanya Audy tanpa melihat lawan bicaranya. " ibu dari anakku. Turunlah Reino sudah menunggumu " Hendrik menarik tangan Audy dengan pelan. " bisakah setelah ini, antarkan aku pulang ke kost. Aku hanya ingin sendiri." Hendrik hanya mampu menganggukkan kepalanya, untuk saat ini ketenangan batin Audy utama baginya. Entah itu rasa bersalah atau muncul cinta lagi di hatinya yang jelas ia tidak ingin membuat Audy tersakiti untuk kedua kalinya ataupun menambah beban pikirannya lagi sudah cukup ia membuat Audy menderita hingga trauma selama ini. Bibirnya tersenyum menggandeng tangan Audy turun ke taman. " tersenyum lah tunjukan pada anak kita bahwa ayah bundanya baik baik saja." pinta Hendrik saat berhenti di depan pintu pemisah rumah dan taman. " Bunda lama sekali." tanya Reino yang sudah berlari saat melihat bundanya. " maaf menunggu lama ya sayang, bunda tadi di toilet lama." ucapnya. " bunda gak sakit lagi kan." Audy menggeleng dengan senyum. Bukan sakit fisik tapi bunda sakit mental nak, rasanya Audy ingin menjawab seperti itu pada anaknya. Mereka akhirnya makan malam bersama di lanjutkan dengan acara barbeque. Ana yang lebih kenal dulu dengan Audy mendekatkan dirinya dari pada Elsa. Dengan berbagai cara Ana harus bisa membuat Audy mau kembali pada kakaknya lagi. " maafkan Ana kak." " maaf untuk..." " untuk semuanya di masa lalu, Ana tau itu semua karena Ana. " ucap Ana dengan sungguh " Dan terima kasih Ana." Ana langsung menoleh saat Audy berterima kasih " terima kasih untuk apa kak, selama ini Ana selalu merasa bersalah ji-." " Terima kasih telah merawat Reino selama ini, menjadi ibu terbaik untuknya menggantikan posisiku." Audy melihat betapa bahagianya Reino saat ini, bahkan anaknya tertawa lepas saat bermain dengan Vanilla. Namun kata kata Audy menyinggung Ana, ia merasa bahwa ucapan Audy baru saja sedang menyindirnya. " Ana tidak pernah menggantikan posisi kakak untuk Reino, hanya saja Ana tidak mau Reino tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu saat masih terpisah dulu. Di masa sekolah Reino pasti akan merasa iri melihat teman temannya yang sedang di antara dan di tunggu ibunya sampai pulang. Mas Aska dengan senang hati jika aku merawat anak anak, itu sedikit mengurangi rasa tidak percaya diriku dan rasa bersalah karena Ana belum bisa memberikan momongan untuk mas Aska." Audy menoleh " sudah periksa ke dokter kamu An." tanya Audy dengan iba " Sudah kak, hanya berdoa dan berusahalah saat ini untukku dan mas Aska karena memang kemungkinan Ana hamil hanya kurang dari 50 % ." Ana merasa sedih tiap kali mengingat kekurangannya sebagai perempuan dan sebagai istri. " Sabar ya An, kakak doakan segera kamu punya momongan sendiri." Audy menggenggam tangan Ana seakan memberikan kekuatan mental. " ya kak, terima kasih doanya " Acara pun telah usai, anak anak sudah mulai mengantuk. Hendrik melihat jam di pergelangan tangannya sudah pukul 11 malam pantas saja anak anak sudah mengantuk dan ingin tidur. Tapi biarlah mereka puas senang senang kumpul seperti ini yang memang jarang mereka lakukan toh besok hari minggu saatnya mereka libur untuk sekolah. Semuanya sudah pulang ke rumah mereka masing masing, Audy dan Hendrik sudah di kamar. Malam ini Reino lebih memilih tidur dengan Omanya dari pada dengan Ayahnya, entah apa tadi yang di bisikan oleh kedua om-nya Aska dan Hardin hingga ia memberikan akses ayah dan bundanya untuk berdua saja. " bisakah kamu antar aku ke kost sekarang kak. Aku janji besok akan kesini lagi untuk menemani Reino." pinta Audy di depan Hendrik. " bisakah kamu jujur Audy," " Jujur dalam hal apa, aku tidak sedikitpun berniat membohongi kakak " " berapa hutangmu pada Arjuna hingga kamu ingin menanda tangani kontrak berhubungan spesial di luar perusahaan." pertanyaan Hendrik membuat Audy kaget dari mana mantan suaminya itu bisa tau. " kamu tidak perlu dan tidak perlu bertanya aku tau dari mana. Yang aku mau kamu mau jujur." ucapnya lagi " 242 juta kak." jawab Audy jujur. " baiklah terima kasih kamu mau jujur padaku dan aku harap kamu tidak mengingkari janji mu besok." ekspresi Hendrik memang datar namun penuh arti di dalamnya. Hendrik pun mengantarkan Audy ke kost, kembali Hendrik mengingatkan janji Audy pada Reino besok sebelum Audy masuk dalam kamar kostnya. Di lain tempat, Juna yang sedang memendam bara cemburu yang teramat pada Audy memilih menghibur diri di salah satu bar pusat kota. Ia datang sendiri, ini untuk pertama kalinya Juna minum semenjak ia kembali ke Indonesia. Bukan kebiasaan Juna yang suka minum apalagi main perempuan, hanya saja saat ini ia ingin menenangkan pikirannya. Pikirannya setengah sadar tiba tiba dari belakang bahunya di raba dengan lembut oleh tangan seorang wanita. Juna menangkap tangan itu dan menariknya hingga kedepan wajahnya. " jangan ma-." belum juga ia menyelesaikan ancamannya tertegun siapa pemilik tangan nakal itu. " aduh pak sakit." eluh Ayu yang kini sudah di depan wajah bosnya Wajah mereka saling berdekatan hanya terkikis 5 senti saja maka bibir itu akan saling beradu. Juna segera memalingkan wajahnya ke arah beberapa wanita seksi dengan pakaian mini yang sedang meliak liukan tubuhnya di depan para pelanggan malam ini. Tidak bisa di pungkiri jantung Ayu saat ini berdegup dengan kencangnya, baru pertama kali ini ia dekat dengan bos pujaan hatinya. Wajahnya begitu tampan dan perkasa, parfum khas pria meruak dari tubuh pria yang tidak lain adalah bosnya itu. Ia sempat salah tingkah dan malu Namun ia masih bisa menguasai keadaan. Ia tanya hanya datang sendiri, tujuannya tidak jauh dari Juna. Sama sama sakit hati yang di akibatkan oleh pujaan hatinya masing masing. Ayu mencintai Juna sedangkan Juna mencintai temannya sendiri yaitu Audy, sungguh rumit cinta segitiga mereka. Bahkan Audy tidak sama sekali melihat Juna dan sama halnya Juna tidak sama sekali melihat Ayu Untuk menghilangkan rasa salah tingkahnya Juna meninggalkan Ayu yang masih terpaku dengan dirinya. Ayu terdiam, bahkan di luar jam kantor dan tidak ada Audy pun ia masih tidak pernah di lihat, apa setidak mungkin itu kah Ayu tidak bisa mengambil sedikit pun perhatian bosnya. Hati Ayu mulai terkoyak juga menahan sakitnya saat tangannya di tarik Juna dengan paksa tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD