17. Pelunasan Hutang

1396 Words
Pagi ini memulai aktivitas seperti biasanya hanya saja Hendrik sekarang meminta Audy agar tidak menolak untuk di antar jemput olehnya. Tidak banyak yang mereka bicarakan sampai mobil Hendrik tiba di depan pintu masuk perusahaan Rajaksa. Saat Audy turun, pas bertepatan mobil Juna di belakangnya. Audy menunduk sopan memberikan sapan pada bosnya itu namun sayang bosnya bersikap acuh seakan tidak peduli namun dalam hatinya sedang terbakar di tengah dinginnya suhu pagi hari. Hendrik bukan tidak tau, hanya saja ia ingin bersikap lebih tenang saat ini. Mobilnya meninggalkan perusahaan Rajaksa. " pagi semua." sapa Audy pada teman sekantor " kamu sakit apa Audy?" tanya Widya " hanya kurang enak badan saja." Audy tersenyum " sakit masih bisa bisanya merayu bos besar Mahameru." sindir Ayu Masih jadi rasa penasaran bagi Widya dan Hendra apa sebenarnya hubungan antara Audy dan direktur Mahameru yang sampai saat ini belum bisa mereka tanyakan. " Audy ke ruangan saya." pinta Juna di depan pintu Audy pun mengikuti dari belakang bosnya itu. " ada yang bisa saya bantu pak." Audy masih berdiri sopan layaknya karyawan lainnya. " tidak masuk kantor selama 2 hari tanpa izin kamu tau sendiri kan apa resikonya." Juna masih belum bisa menatap wajah Audy, wajahnya yang bersikap dingin dan tutur katanya yang datar masih ia tunjukkan. " maaf pak saya kurang enak badan, saya siapa menanggung resikonya." " baiklah ini rincian hutang kamu." Juna memberikan secarik kertas pada Audy Matanya terbelalak, masak iya tidak masuk kerja 2 hari mendapatkan denda 1 juta. Apa itu tidak keterlaluan. " tapi pak ini terlalu besar untuk potong gaji, saya dapat gaji berapa jika bapak juga me-." " itu resiko kamu." potong Juna yang belum sempat Audy meneruskan kata katanya. " total semua hutang Audy di perusahaanmu." suara serak pria masuk dari pintu. Audy dan Juna pun menoleh secara bersama. " selamat pagi pak Hendrik, ada kepentingan apa anda pagi pagi datang ke kantor saya." tanya Juna sopan namun penuh ketidak sukaan. " untuk membayar secara lunas hutang Audrea pada perusahaanmu." Hendrik berjalan masuk dengan santai, memasukan kedua tangannya pada kantong celana. " hutang Audy terlalu banyak di perusahaan saya." dengan begitu Hendrik akan berfikir berkali kali lipat untuk melunasi hutang mantan istrinya itu, pikir Juna. " sebutkan saja, seberapa pun itu tidak akan mengurangi harta saya." sombang Hendrik mulai muncul. Audy ingin muak saja jika berhadapan dengan Hendrik yang seperti itu. " Baiklah." Juna mulai mengambil kertas yang memang itu rincian hutang Audy namun ia juga merasa gugup jika Hendrik ingin benar benar melunasinya maka ia akan siap kehilangan Audy. Benar memang menantang Hendrik dengan kekuasan, jabatan dan harta memang tidak akan pernah menang. Berhati hatilah jika berbisnis dengan putra sulung Mahameru itu, ia paling bisa memainkan perannya dalam bisnis tapi entah soal hati, itulah wejangan dari Ayah Juna. Selembar kertas di ambil Hendrik dari meja Juna, " catat lagi nomor rekeningmu." Juna mulai gugup, saat ini ia akan benar benar kehilangan Audy tapi mau bagaimana lagi. Lontran kata katanya tidak bisa ia tarik lagi, sebagai seorang pria sejati pantang untuk menarik kata yang sudah ia ucapkan. Ia mengetik nomor rekeningnya dengan gemetar. " cepat sedikit, waktu saya tidak banyak tuan Arjuna Rajaksa." " tapi perusahaan saya mempunyai peraturan sendiri untuk karyawannya." Juna masih memutar mutar kata agar Hendrik tidak melunasi hutang Audy. " dan sekalian tulis nominal, ganti rugi atas pembatalan kontrak kerja Audy." tegas Héndrik. Audy sebagai penonton tanpa banyak komentar dengan tindakan mantan suaminya itu dengan bosnya. Sekilas Hendrik melihat bahwa Juna sudah menulis nomor rekeningnya dan ia segera mengambil ponselnya dari tangan Juna. " lihat di notifikasi ponselmu pak Juna 446 juta, 345 juta untuk hutang Audy atas kerusakan mobil yang kamu berikan, 1 juta untuk denda Audy tidak masuk kerja selama 2 hari dan 100 lagi untuk kompensasi pembatalan kontrak kerja Audy dengan perusahaan Rajaksa." " Audy ambil tasmu, saya tunggu di parkiran. Dan terima kasih Pak Arjuna Rajaksa mulai hari ini Audrea sudah tidak lagi bekerja di perusahaan anda." Hendrik meninggalkan ruangan Juna sedang Audy terpaku tidak percaya uang hampir 450 juta Hendrik buang sia sia. Ia berjalan menyusul Hendrik dengan pikiran yang masih belum bisa ia percaya dengan kejadian beberapa menit yang lalu sedangkan Juna menatap nanar kepergian Audy yang sudah tidak bisa ia temui lagi jika tidak ada sempatan yang mengkin terjadi di antara mereka. Ia meremas rambutnya dengan frustasi membanting semua barang di atas meja kerjanya hingga menimbulkan suara perhatian karyawan lainnya. Audy tidak bisa bicara apa apa saat sesama rekannya bertanya apa yang sebenarnya terjadi dan mau kemana Audy yang masih di jam kantor baru saja di mulai. Selama di lift Audy berfikir, apa yang di inginkan mantan suaminya itu. Audy tau betul siapa Hendrik, ia tidak akan mau berkorban jika ia tidak menginginkan sesuatu. Tiba di parkiran, Audy masuk mobil Hendrik. " Jangan berfikir berlebihan, aku antar ke kost dulu nanti pulang kantor aku jemput " Seakan tersihir dengan keadaan, Audy hanya mengangguk saja tanpa banyak bicara. Hari sudah mulai sore, Audy yang tertidur di kamar kost terbangun saat ponselnya tidak berhenti untuk berdering. " sore, ini siapa?" sapa Audy pada nomor yang tidak ia kenal " Bunda ini Laino, bunda nanti tidul sini ya. Laino kangen." Audy langsung bangun dari posisi tidurnya. matanya yang tadi enggan terbuka kini terbuka lebar mendengar suara yang menelponnya dengan cadel. " tentu sayang, Ini Bunda lagi nunggu Ayah jemput Bunda." entah kenapa mendengar suara Reino Audy jadi berharap agar cepat di jemput Hendrik. " ok, Laino tunggu ya Bunda." Reino pun menutup telponnya. Audy bergegas ke kamar mandi, baru saja ia mandi dan ingin ganti baju, pintu kamarnya tiba tiba terbuka. Sontak Audy langsung menjerit karena saat ini ia hanya memakai celana dalam dan bra saja . " ma-maaf sa-saya tunggu di lu-luar saja." Hendrik menutup kembali pintu kost Audy dengan gugup. Hendrik gugup melihat pemandangan indah yang sudah tidak pernah ia lihat dari beberapa tahun yang lalu. Otaknya langsung bertreveloka ke negara yang baru saja ia lihat, dengan tanpa di suruh pun si jantan perkasa itu bangun dengan sendirinya. " shitt." umpatnya memegangi si pembuat Reino itu. Tanpa Hendrik sadar, Hendra melihatnya dengan ngeri masak ia direkrut besar seperti Hendrik dengan tidak malunya memegangi kejantanannya sendiri di tempat umum. Saat Hendrik sadar, mimik wajahnya berubah total, wajah cool dan garangnya kembali muncul. Hendrik berdehem menghilangkan salah tingkahnya, Héndra dengan sopan menunduk dan menyapa Hendrik. Tidak lama Audy sudah keluar dari kamar. " ayo." ajaknya. " kemana kamu Dy, rapi amat." tanya Hendra penasaran " ke rumah saya " jawab Hendrik yang menggandeng tangan Audy. " bye Hen." Kalau sudah Hendrik yang menjawab siapa yang berani untuk bertanya lagi, Hendra hanya mampu menatap kepergian Audy dengan sejuta bahkan bertriliunan pertanyaan di otaknya. " oh ya kak, Reino suka makanan apa ya... ayo mampir ke supermarket aku pengen belanja buat makan malam Reino." tanya Audy saat perjalanan " Reino suka ikan ikan laut kalau di goreng sayurnya sup kentang. Pasti ia lebih lahap kalau kamu yang masak." Hendrik pun tersenyum Astaghfirullah, senyum itu bisa membuat aku deg-deg an seperti ini. Batin Audy. Ia langsung memalingkan wajahnya agar tidak melihat Hendrik tersenyum. Tangan Hendrik menggenggam tangan Audy membuat si pemilik tangan merasakan getaran hebat dalam hatinya. Seketika Audy berkeringat dingin sangking gugupnya. Jujur saja, meskipun Hendrik bukan cinta pertama baginya namun Hendrik lah yang berhasil merenggut keperawanannya. Wanita manapun di dunia ini pasti akan selalu mengenang siapa pria yang telah berhasil memerawaninya. Dengan kesabaran Audy menjadi istri Hendrik namun tidak membuahkan hasil, ia masih saja di buang sia sia oleh Hendrik namun rasa trauma itu membuat Audy enggan kembali membuka pintu hati untuk mahluk ciptaan Tuhan yang namanya pria. Bahkan sebagai seorang wanita yang sudah pernah merasakan kenikmatan duniawi, tidak sekali pun Audy mau di sentuh oleh pria. Hanya Juna lah pria pertama yang mencium Audy selama ia berstatus janda itu pun dengan paksa. Hendrik merasakan perubahan suhu Audy yang dingin, segera ia menepikan mobilnya. " ada apa kak." Audy penasaran " kamu sakit sayang, tangan kamu dingin wajahmu berkeringat." Hendrik mengusap keringat di kening Audy dengan cemas membuat si empunya semakin salah tingkah dan nerfes saja. " aku baik baik saja kak." Audy memalingkan wajahnya agar tidak kentara gugupnya. " benarkah." Audy mengangguk yakin. Astaghfirullah, apa ini yang di sebut cinta lama bersemi kembali. Batin Audy. Karena yang di khawatirkan bilang baik baik saja akhirnya Hendrik mulai mengendarai mobilnya ke jalan raya mencari supermarket sebelum pulang kerumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD