kembali mengingat ucapan Hendrik di pesta anaknya beberapa hari yang lalu membuatku serasa ingin muntah saja, bagaimana tidak berbanding terbalik dengan kenyataan yang ia lihat dan dengar 5 tahun yang lalu.
Yang membuatku ganjal selama seminggu setelah acara ulang tahun anakku adalah tanggalnya. Bukankah aku melahirkan tanggal 28 Oktober kenapa ulang tahunnya jadi tanggal 17 November bukankah itu tanggal dimana aku dan dia resmi bercerai.
Rasa penasaranku semakin tinggi yang akhirnya aku berniat bertanya pada Hendrik walau bagaimanapun aku yang telah melahirkannya bukan, tapi aku bukan untuk ibunya. Baru saja aku ingin menghubungi nomor Hendrik yang aku blokir beberapa hari yang lalu tapi suara dari depan mejaku membuatku mengurungkan niat untuk bertanya.
" mau aku antar pulang Audy." si bos dingin dengan mulut cabenya sekarang mulai dekat dengan ku.
" saya berkemas dulu ya pak."
" ok, saya tunggu di parkiran ya " Juna meninggalku yang masih beberes meja kerja.
Ayu yang berdiri di depanku entah dari kapan langsung menggebrak meja, " kamu tega Audy, pagar makan tanaman." bentaknya yang terlihat kecewa jelas di tunjukan padaku.
Aku jadi bingung, ada apa dengan si Ayu. Tiba tiba Hendra dan Widya menepuk pundakku dari belakang.
" santai saja, itu tanda orang cemburu." ucap Hendra santai
" emang benar ya Audy kamu ada hubungan spesial sama bos." tanya Widya
" kita hanya teman, kalau dia anggap aku lebih juga haknya aku sih syukur Alhamdulillah dan bos hahaha." jawabku sambil bercanda.
Dapat bos kedua kali maksudku, sambil ketawa dalam hati.
Memang benar Aku dan Juna sekarang semakin dekat, aku tau sepertinya Juna menyukaiku tapi dia masih diam jadi aku ikuti saja alurnya. Seorang pria dengan jelas menunjukkan rasa sukanya terhadap wanita dari sikap dan perilakunya. Dan itu semua sudah Juna tunjukan padaku.
Aku kaget saat masuk dalam mobil, di kursi yang akan aku naiki sudah ada bunga yang singgah. Aku tau tapi pura pura tidak tau saja dan ingin banyak bertanya.
" loh Jun, bunga siapa ini."
" bunga untukmu, ambillah dan cepat masuk." suruhnya.
Aku pun duduk sampingnya, menghirup sebuket bunga mawar putih kesukaan ku. Tidak lupa untuk berterima kasih.
Dalam perjalanan biasa hening kalau tidak aku yang membuka obrolan. Tapi kali ini aku lebih memilih diam saja entah lelah atau mengantuk yang pasti kedua duanya karena semalam aku lembur di kost untuk meeting tadi pagi.
Setibanya di kost aku mau turun setelah bilang terima kasih lagi tapi tanganku sudah di tahan oleh Juna.
" ini ambilah." Juna menyerahkan sebuah kunci kendaraan padaku.
Aku mengerutkan keningku sehingga kedua alisku menyatu.
" ini mobil untukmu, mobilmu terlalu kuno dan sering kali keluar masuk bengkel. Jadi jangan sampai orang lain kira perusahaanku tidak mampu memberikan fasilitas atau kredit potong gaji pada karyawannya." jelasnya yang masih saja dengan wajah datar padahal kita sudah dekat lebih dari bos dan karyawan
Aku segera menolak. Tidak, aku tidak bisa menerima bagaimana dengan nasib ibu di kampung kalau sampai gajiku berkurang hanya karena sebuah kendaraan roda empat ini.
" Tidak Juna, aku tidak mau jika harus potong gaji tiap bulan. penghasilanku akan berkurang hanya karena sebuah mobil. Lebih baik aku pakai mobil lamaku saja." ucapku sambil menyerahkan kunci itu kembali pada Juna.
" kamu mau buat malu perusahaan Audy, kamu tau sendiri kita usai menang tender dari perusahaan Mahameru sebulan yang lalu, masak karyawannya masih pakai mobil butut begitu." tunjuknya pada mobil warna merah maroon yang terparkir di halaman kost ku.
" tapi aku tidak bisa Juna, kamu belum tau saja bagaimana kebutuhanku di kampung setiap bulan ibuku harus periksa ke dokter dan itu tidak murah. Belum lagi kebutuhannya di sana dan kebutuhanku di sini. Kalau mobilku masih keluar masuk bengkel kan aku masih bisa naik angkutan umum atau pesan Go-Jek berlangganan." tolakku lagi.
Sejenak terlihat sepertinya dia sedang berfikir, dan aku berniat mau turun dari mobilnya.
" Kamu ini cerewet sekali, sudah pakai saja. Anggap saja aku beri harga teman nanti." Dia memberikan kunci itu lagi padaku.
" tap--"
" pakai saja." ucapnya sambil menekan tombol kunci alarm mobil.
Astaghfirullah mataku terbelalak, sampai lebaran monyet selesai apa aku bisa melunasi mobil semewah itu. Aku yang kaget tidak sadar bahwa mulutku terngah-ngah
" tutup mulutmu Audy, lalat akan bersarang di sana jika mulutmu terlalu lebar begitu." ucapnya
" No Juna, mobil semewah itu sampai suster ngesot bisa jalan gak akan bisa aku lunasi."
" Diam, jangan banyak bicara dan turunlah, bawah bunganya. Dan mulailah mencoba mobilnya. Jangan buang waktuku aku masih ada kerjaan sebentar lagi."
Seperti di sihir oleh mobil itu, aku menurut saja apa yang di perintah Juna tanpa mengembalikan kunci itu lagi. Setelah aku sadar ternyata mobil Juna sudah melesat jauh dari pandanganku. Mau berteriak juga percuma malah di sangka aku orang gila lagi sama orang lewat.
Aku masuk ke halaman kost, mengelus lembut mobil berwarna merah bata itu.
" astaga cantik berapa hargamu hah. Sanggupkah aku melunasimu dengan gajiku yang tak seberapa." Gumamku.
" Bisa." suara bariton tiba tiba menjawab dari belakangku.
Author POV
Seminggu usai acara ulang tahun Reino, Hendrik tidak bertemu lagi dengan Audy baik di kost maupun di kantor Rajaksa karena esoknya Hendrik harus berangkat ke negara Ginseng untuk suatu pekerjaan. Tadi pukul 3 sore ia baru saja mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, sopir yang menjemputnya pun ia suruh pulang naik taksi sedangkan mobilnya ia kendarai sendiri.
Hatinya sudah tak sabar ingin bertemu Audy, ia berniat ingin menjemput Audy di kantor Rajaksa. Mau atau tidaknya Audy itu urusan belakangan yang penting ia sudah bisa bertemu dengan mantan istrinya itu.
Entah kenapa semenjak pertemuan mereka di kantornya, membuat sedikit banyaknya isi kepala Hendrik di penuhi dengan wajah manis sang mantan istri. Selama di Negeri Ginseng sana tidak luput Hendrik memikirkan Audy, rasa penyesalan 5 tahun yang lalu mulai ia rasakan.
Ya memang penyesalan datang di belakang, kebodohannya yang terlalu terobsesi pada adiknya sendiri membuat ia harus kehilangan wanita yang bersedia berkorban nyawanya untuk melahirkan generasi keluarga Mahameru. Tapi bukannya di hargai malah ia buang mentah mentah seperti sampah yang tidak berguna.
Ia berjanji dalam hati akan terus mengejar Audy sampai Audy mau membukakan pintu untuknya dan memberikan kesempatan kedua untuknya. Masalah perasaan Hendrik belum tau pasti itu rasa cinta atau rasa obsesi hanya untuk memiliki seperti pada Ana dulu tau tidak namun yang pasti ia ingin membuat Audy membuka pintu maaf untuknya dan syukur syukur jika di berikan kesempatan kedua untuknya. Walau bagaimanapun Audy adalah ibu kandung dari anaknya, sebisanya ia tidak menganak tirikan Reino pada wanita lain apalagi pada Alya yang terlihat jelas tidak tulus menyayangi anaknya. Reino sendiri pun tidak terlalu suka pada Alya padahal sudah 3 kali bertemu. Pokoknya mereka berdua sepertinya tidak cocok lah di jadikan ibu dan anak.
Saat Hendrik tiba di perusahaan Rajaksa salah satu perusahaan yang ia ajak kerjasama sebulan yang lalu, ia berniat ingin turun mencari Audy tapi ia sudah melihat Audy keluar dari pintu masuk. Ia segera turun, saat akan menyapa Audy akhirnya di urungkan karena Audy sudah masuk dalam salah satu mobil mewah berwarna hitam itu.
Hendrik tau itu mobil siapa karena sudah bekali kali ia bertemu dengan pemilik mobil itu. Rasa penasarannya mencuat, HEndrik mengikuti mobil Juna dari belakang.
Sampai tiba di kost Audy, lama Hendrik menunggu apa yang mereka bicarakan di dalam mobil di hari yang mulai gelap begini sampai hampir setengah jam.
" awas saja kalau sampai si Arjuna itu berani m***m sama bundanya Reino. Aku batalin kerjasama samanya." gumamnya dalam mobil
" apa gak ada tempat lain apa, hotel misalnya." imbuhnya.
" kalau di hotel pasti mereka enak enak dong." Hendrik serasa di bakar cemburu oleh pikirannya sendiri yang terlalu jauh untuk membayangkan.
Hendrik lihat Audy sudah turun dari mobil, dan mobil Juna sudah melesat jauh dari jarak Audy berdiri.
Hendrik melihat aneh saat Audy menyentuh mobil mewah di halaman kostnya, rasa penasaran tanpa Audy sadari Hendrik berdiri dengan melipat kedua tangannya di d**a sambil menyimak Audy yang sedang mengobrol sendiri dengan mobil baru yang bisa di pastikan itu mobil Audy yang di belikan Arjuna.
" astaga cantik berapa hargamu hah. Sanggupkah aku melunasimu dengan gajiku yang tak seberapa." Gumam Audy
" Bisa." jawab Hendrik yang sepertinya membuat Audy kaget sampai menjingkat.