9. Ulang Tahun Reino

1356 Words
Sebulan sudah Hendrik mencoba mendekati Audy tapi belum juga mendapatkan hasil. Hari ini adalah ulang tahun Reino yang ke 5 tahun. Pesta di adakan di salah satu hotel milik Hendrik. Usia baru 5 tahun sudah membuat pesta semegah ini, jangankan kalangan menengah ke bawah kalangan atas pun merasa iri dengan pesta yang di buat Hendrik khusus putra semata wayangnya itu. Pesta yang begitu megah itu bukan hanya untuk anaknya saja, ia berencana akan membuka mata Audy bahwa Reino adalah anaknya, anak yang ia lahirkan 5 tahun yang lalu. Seminggu yang lalu, Hendrik ke kost Audy untuk memberikan undangan khusus tanpa lewat nama perusahaan. " maaf aku tidak bisa datang, tolong anda keluar dari kamar kost saya. Ini jam istirahat saya pak Hendrik." ucap Audy " apa kamu tidak ingin melihat anakmu Audy." tanya Hendrik miris melihat Audy yang sekarang seperti wanita yang tidak punya hati nurani. " bukankah anda sudah mengambilnya dari saya pak, dan anda sudah mengkleim bahwa saya sudah mati saat melahirkan putra anda. Jadi saya harap anda menganggap saya benar benar sudah mati. Tolong jangan ganggu hidup saya lagi." Audy menutup pintunya kembali tanpa ingin membuka lagi meskipun Hendrik berada di luar kamarnya sampai besok pagi. Pesta sudah di mulai, beberapa kolega perusahaan sudah datang dan menikmati pesta itu. Tidak hanya orang dewasa beberapa kolega perusahaan Mahameru membawa serta anak merasa bahkan cucu mereka hadir di sana. Tak tertinggal pula beberapa stasiun televisi juga meliput pesta megah cucu pertama Mahameru itu. " ayah, lamai ya Leino senang banyak teman di sini. Biasanya cuma Panilla saja teman Leino." Reino merasa girang ini pertama kalinya ulang tahunnya di buat pesta seperti ini, tahun tahun sebelumnya Hendrik hanya merayakan ulang tahun anaknya hanya bersama keluarga inti. " Hai Leino kamu halus belsukul punya adik cantik dan pintal sepelti ku." Vanilla merasa kesal karena merasa tersindir bahwa ia membosankan bagi sepupunya itu. " ya ya,, aku belsukul punya adik cantik dan pintal sepeltimu Panilla." bujuk Reino agar adiknya itu tidak merajuk seperti biasanya. Biasanya Vanilla ini gampang sekali merajuk saat bersama Reino, wajahnya seperti Hardin tapi kelakuannya seperti Elsa yang mudah merajuk. Reino menoel hidung pesek milik Vanilla, sedangkan Vanilla mengedipkan matanya berkali membuat Semua orang tertawa melihat kelakuan kedua cucu Mahameru itu. " kakak, sudah jam 7 malam. Apa kakak tidak ingin membuka acaranya saja. Nanti anak anak kemalaman loh." usul Hardin " ya Din, mungkin orang yang kakak tunggu tidak akan datang." Mata Hendrik menatap Reino yang sedang tertawa riang, tapi ingatannya terfokus pada Audy yang tak terlihat batang hidungnya. Setelah Hendrik sadar, bukan hanya Audy yang tak terlihat tapi Arjuna Rajaksa sebagai tamu dari Rajaksa Grup juga tidak terlihat. Mungkin benar mereka punya hubungan spesial. batin Hendrik. Ia naik ke atas podium, mengambil mikrofon untuk memberi sambutan. Seketika matanya terbuka lebar melihat siapa yang datang dari pintu masuk, menggandeng lengan pria yang Hendrik kenal. Audy datang bersama Arjuna. d**a Hendrik terasa panas melihat Audy menggandeng tangan Juna dengan begitu mesra. Ia mencoba menguasai keadaan dan emosinya karena pesta ini begitu di sorot banyak berita dan wartawan. " Saya ucapkan terima kasih untuk para tamu undangan atas kehadirannya di pesta anak tunggal saya Reino Mahameru. Kita singkat saja, untuk acara tiup lilin dan doa terbaik untuk anak saya." Hendrik tak sanggup jika banyak berkata akan membuat ia tampak seperti pria bodoh di depan koleganya. Pria yang terkenal dingin dan angkuh itu, memang jarang bicara dengan orang yang tidak begitu ia kenal. Tidak mungkin dia akan berbicara ngelantur di saat acara penting anaknya hanya karena terbakar rasa cemburu. Potongan kue pertama sudah di pastikan akan Reino suapi pada Ayahnya, potongan kedua Reino berikan pada Ana yang berdiri samping podium bersama sang suami. Audy hanya melihat interaksi keluarga Mantannya itu dengan nyeri bagian dadanya. Apa boleh buat itu sudah menjadi pilihannya, menghindari keluarga Mahameru termasuk anaknya sendiri. Sakit sih tapi lebih sakit jika ia mengenang masa masa pahit dulu saat masih menjadi anggota keluarga Mahameru. Juna menatap Audy tidak suka saat mata Audy terfokus pada keluarga pemilik acara, di bilang cemburu ya karena sampai saat ini ia belum bisa mengorek apa hubungan sebenarnya antara karyawan satunya ini dengan keluarga Mahameru. Saat semua tamu menikmati hidangan, Hendrik malah di serbu oleh beberapa wartawan untuk di tanya jawab. " Anak anda tampan sekali ya Pak Hendrik." salah satu wartawan memuji ke tampanan Reino yang menurun dari gen-nya Hendrik hanya tersenyum bangga. " pak beri tahu kami foto almarhum istri bapak, pasti cantik sekali ya pak. Anak anda begitu tampan begitu." pinta salah satu wartawan " ya istri saya memang cantik sekali, sehingga anak saya begitu tampan." jawabnya tapi matanya masih tertuju pada Audy yang duduk berdampingan dengan Arjuna. " Kalau boleh tau siapa istri Pak Hendrik, dari kalangan mana ?... apa dia juga anak pengusaha seperti Anda." Hendrik masih diam " kenapa pernikahan anda dulu di sembunyikan pak, apa istri anda bukan dari kalangan pengusaha. Dan yang kami tahu munculnya anak Anda di publik baru setahun ini." " apa benar dulu, istri Anda hamil dulu dan keluarga anda tidak merestui pak." Pertanyaan salah satu wartawan ini langsung menyita perhatian Hendrik. " Ini acara anak saya jadi tolong, berilah pertanyaan yang baik baik saja menyangkut anak dan istri saya. Dan satu hal lagi, memang istri saya bukan dari kalangan seperti saya, dia sekertaris saya waktu itu tapi saya mencintai istri saya sampai sekarang." pungkas Hendrik kemudian meninggalkan para wartawan berjalan ke arah meja dimana keluarganya duduk. Audy seperti wegah mendengar wawancara yang membuatnya seperti ingin muntah saja mendengar Hendrik mengatakan bahwa ia masih mencintai istrinya sampai sekarang. Cinta dari mana, dia sudah di buang begitu saja bagai sampah waktu itu. Audy meninggalkan kadonya di meja yang khusus di sediakan tempat kado kemudian mengajak Juna meninggalkan acara itu tanpa persapa dulu pada Hendrik. Membuat hatinya semakin yakin bahwa hubungan antara Audy dan Hendrik bukan hanya sebatas bos dan karyawan saja. " mau makan malam dulu Audy, kamu belum secuil pun mencicipi makanan di sana." tawar Juna dalam perjalanan " boleh tapi habis itu langsung pulang ya, aku mengantuk besok kan aku masih ada kerjaan." jawabnya Juna hanya mengangguk, mengikuti dulu apa yang di minta Audy sebelum aksinya di perlancar lagi untuk mendapatkan karyawannya satu ini. Audy POV Aku baru saja usai mandi ingin memanjakan tubuhku di atas kasur kamar kost, pintu di ketuk dari luar. Aku sudah mengira siapa yang datang di jam seperti ini. Tapi masih saja aku buka, dan benarkan dugaanku. Ia memberikanku selembar undangan. Aku buka undangan itu depan pintu kamar tanpa ada niat menyuruhnya masuk. Ternyata undangan ulang tahun Reino yang bisa aku pastikan itu anak yang aku lahirkan 5 tahun yang lalu. d**a ku terasa nyeri saat membaca undangan itu. " maaf aku tidak bisa datang, tolong anda keluar dari kamar kost saya. Ini jam istirahat saya pak Hendrik." Tolakku " apa kamu tidak ingin melihat anakmu Audy." Pandangan mata Hendrik seperti melas padaku, berharap aku datang sepertinya. " bukankah anda sudah mengambilnya dari saya pak, dan anda sudah mengkleim bahwa saya sudah mati saat melahirkan putra anda. Jadi saya harap anda menganggap saya benar benar sudah mati. Tolong jangan ganggu hidup saya lagi." Dadaku sesak saat mengatakannya. Bayangan dan ucapan Hendrik 5 tahun yang lalu masih terngiang di otakku. Aku menutup pintu kamar kembali, Hendrik berusaha mengetuk pintu berharap aku membukanya kembali tapi tidak, tidak akan aku buka lagi. Tubuhku lemas, otot di kakiku seakan tidak mampu menopang tubuhku. Tubuhku merosot ke lantai bersandar di pintu, air mataku lolos di pipi. Kartu undangan tadi aku peluk erat di dadaku. Maafkan bunda sayang, maafkan bunda yang sudah jahat padamu. Andai waktu itu Ayahmu tidak membuang bunda seperti sampah kita tidak mungkin berpisah sayang. Bahkan saat itu bunda berlutut minta belas kasihan ayahmu agar bunda bisa merawatmu meskipun hanya status pengasuh tanpa di bayar bunda rela. Tapi hati ayahmu terlalu kejam memisahkan kita sayang. batin Audy meratapi masa lalunya yang amat menyakitkan hati. Dari luar Hendrik masih saja mengetuk pintu kamarku. Aku masih enggan untuk bertemu dengannya terus. Berkali kali aku menekan dadaku yang amat teramat sakit. Rindu ingin memeluk, itulah yang di harapkan Audy selama ini. Berharap saat anaknya pertama kali bisa bicara akan memanggilnya Bunda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD