8. Bertemu Ana

1382 Words
Aku lihat pergelangan tangan kiriku jam tangan sudah pukul setengah 1, aku bergegas membayar minumanku dan pergi ke kost Audy. Sampai di depan pintu kamar Audy aku langsung mengetuk pintu, berkali kali tidak di buka tapi aku lihat bahwa Audy mengintip ku di balik tirai jendela. Dengan ancaman hitungan mundur Akhirnya Audy mau membukakan pintu. Ternyata tidak mudah merayu Audy yang sekarang, sifat keras kepalanya masih sama seperti yang dulu. Aku kira dengan aku masuk kamarnya ia akan menyusulku ternyata tidak, ia memilih tidur di sofa tempat dudukku tadi. Hampir jam 5 pagi, aku ketiduran. Mantan istriku masih tertidur pulas di sofa. Aku berjalan mendekat, berjongkok di depan wajahnya. Ternyata benar, mantan istriku sekarang lebih cantik. Aku silapkan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Benar benar cantik, alisnya yang hitam tebal, bulu matanya yang lentik dan bibirnya yang begitu tipis menggoda seakan akan minta aku Raup saja dengan bibirku. Aku mendekatkan wajahku berniat ingin mencium keningnya malah ia bergerak seakan merasakan kehadiranku. Ternyata Tuhan sedang memihakku, yang tadinya aku ingin mencium kening malah sekarang bibirku dengannya saling beradu. Pagi ini keberuntunganku, tidak aku sia siakan kesempatan ini. Aku menahan tengkuk lehernya agar ia tidak bisa menghindari ciumanku. Morning kiss yang romantis, matanya terbuka lebar karena kaget. Sedetik ia diam, saat ia benar benar sadar langsung mendorong ku sekuat tenaga. Author POV Plak... Satu tamparan di pagi hari di pipi Hendrik, Audy kaget saat ia bangun matanya saling beradu dengan Hendrik. Bibir mereka melekat indah, setengah sadar ia diam beberapa detik kemudian ia sadar. Hendrik tersenyum mendapatkan tamparan yang tidak sebanding dengan rasa manis morning kiss semenit yang lalu. Audy berdiri dari sofa, " apa kamu sudah gila, pagi pagi m***m di kost orang."ucap Audy marah. " kata siapa kost orang, ini kost mantan istriku." jawabnya santai " cacat baik baik di otakmu, Mantan... " Audy menekan kata mantan pada Hendrik agar sadar diri " yang akan menjadi istriku lagi dalam hitungan kurang dari 3 bulan." Hendrik berdiri menatap Audy tajam, tubuhnya maju sedangkan Audy merasa ngeri semakin mundur, mundur dan... Kakinya tersangkut rak Sepatu, hampir saja ia terjatuh tapi lengan kekar Hendrik segera menarik dan membawa dalam dekapannya. Dalam dekapan Hendrik, Audy berfikir bunyi apa tadi seperti ada yang sobek. Ia melihat ke bawah. Kedua tangannya menutupi belahan dadanya, kaos yang ia pakai sobek akibat tarikan tangan Hendrik tadi. " gak perlu kamu tutupi, aku sudah pernah melihat semuanya bahkan aku orang pertama yang merasakannya." ucap Hendrik yang mengetahui pergerakan tangan Audy. " Dasar sakit.." Audy melepaskan pelukan Hendrik. Mengambil handuk dan masuk kamar mandi. Hendrik tersenyum, merasa puas menggoda mantan istrinya pagi ini. ======= Juna menatap Audy dengan khawatir, bahwasanya dari tadi Audy tampak pucat seperti orang kelelahan. Setiap di tanya jawabnya selalu tidak apa hanya kurang tidur saja. Padahal ia semalam mengantarkan Audy kurang dari jam 10, untuk apa dia bergadang selamam jika tidak ada masalah atau perkejaan. " ini tinggal sedikit lagi Audy, kamu tinggal ke lobi hotel juga tidak apa." pinta Juna " gak papa kok pak, tenang saja." p***s Audy yang menahan pening di kepalanya Hari ini cuaca di pinggiran pantai sangat terik tidak seperti biasanya, berkali kali Audy mengusap keringatnya yang terus membasahi kening yang akan turun ke matanya. Sosok yang Audy cari tidak datang, hanya asistennya saja yang hadir disana dengan alasan bosnya masih ada urusan keluarga. Beberapa pemotretan sudah di ambil tinggal memilih mana yang yang terbaik di buat konsep. Rancangan outdoor juga penting saat ini selain indoor. Padahal ini bukan konsep utama perusahaan Rajaaksa hanya saja kesertaan hadir dalam suatu projects juga sangat penting untuk mempererat kerjasama sama mereka. Resort baru yang di dirikan Hendrik kali ini lain dari pada yang lain. Resort yang di dirikan di pinggir pantai yang terkenal sangat romantis ini tidak jauh dari pinggir kota. Antara kota ke tempat itu hanya memakan waktu sekitar 2 jam jika tidak ada terjadinya kemacetan. Pemotretan outdoor sudah selesai, Juna dan Audy ke hotel untuk makan siang bersama dengan beberapa perusahaan lainnya. Audy yang izin ke toilet dulu, berjalan tidak melihat ke depan malah fokus berchat ria dengan Maya. Yang hanya ingin tau bagaimana pekerjaannya di sini sampai tidak sengaja menabrak anak kecil hingga terjatuh. " Auh sakit." anak kecil itu memegangi lututnya Audy langsung membatu anak itu berdiri, " maafkan Tante ya sayang, Tante gak lihat jalan tadi." ucap Audy penuh penyesalan mengantupkan kedua tangannya ke d**a. " lain kali kalau jalan lihat jalannya ya tante." ucap anak kecil itu Mata mereka saling berpandang, ada getaran yang tidak dapat di artikan dari diri Audy saat ini. Ada apa dan kenapa. Siapa siapa ini di biarkan berjalan sendirian di tempat yang belum selesai dalam pembangunannya, apa ia anak salah satu rekan kerjasamanya, pikir Audy. " Reino.. Tante cari kemana mana kamu ternyata di sini." ucap seorang wanita dari belakang Audy. Audy langsung menoleh kebelakang, Deg... Kedua wanita itu saling mengunci mata karena tertegun kaget. " Ana." " Kak Audy." panggil Audy dan Ana secara bersamaan. Seketika Ana menatap Reino, kemudian tersenyum. " Tante." Reino berlari ke arah Ana dan minta di gendong dari arah belakang mereka sosok pria yang tak lain adalah Aska suami Ana pun datang. " Audy." panggil Aska Audy yang bingung ingin berlari, " tunggu kak." cegah Ana Ana berjalan mendekati Audy yang kaku saat ini, hatinya bergejolak kuat melihat keluarga mantan istrinya di sini juga. Tidak heran bagi Audy karena ini adalah resort baru milik Hendrik yang akan di buka beberapa bulan kedepan kalau projects mereka tidak ada hambatan. Anak siapa yang memanggil Ana dengan sebutan Tante itu, Anak dari keluarga Mahameru kah atau anak dari keluarga Brata Kusuma. Kalau anak dari Mahameru, terus dia anak siapa, anak Hendrik kah atau anak Hardin. Isi pikiran Audy berperang saat ini. " Kakak, mau menghindar ?." tanya Ana langsung " dia siapa Tante, Tante Ana kenal. Dia cantik ya Tante." berbagai pertanyaan keluar dari bibir anak yang bernama Reino itu. Reino terlihat genit dan menggemaskan bagi Audy saat mengedipkan sebelah matanya. " Reino, mau tau Tante ini siapa ?." tunjuk Ana pada Audy saat bertanya pada Reino. Hati Audy seketika di penuhi dentuman jantung yang bekerja tidak senormalnya. " Tante ini ada..." Ucap Ana terpotong " Audy..." panggil Juna yang berjalan mendekati mereka. " lama sekali, mana ponselmu kamu tinggal. Direktur Mahameru sudah berada di sana. Ayo kita kembali ke tempat jamuan." ajak Juna yang langsung menggandeng tangan Audy meninggalkan Reino, Ana serta suaminya. Audy berjalan dengan tuntunan Juna tapi pandangannya tidak lepas dari anak kecil yang ada dalam gendongan Aska saat ini. Audy duduk sebelahan dengan Juna di antara beberapa Crue dari perusahaannya dan perusahaan lainnya. Hendrik berjalan ke depan, yang sepertinya akan memberikan sambutan terlebih duluan sebelum perjamuan makan siang di mulai. Mulutnya begitu lancar dalam berbicara, Audy menatap lekat bibir yang tadi pagi memberikan morning kiss untuknya. Begitu pula dengan Hendrik yang tak melepaskan pandangannya pada sosok wanita yang melahirkan anaknya. Hendrik tersenyum, tidak dasarnya Audy membalas senyuman itu. Karena salah tingkah Audy akhirnya mengalihkan pandangannya, tidak di sadari bahwa Juna memperhatikan keduanya. Serasa panas dalam d**a tapi berusaha menutupi dengan membutakan matanya sementara. " kak Audy, " panggil Ana yang juga ikut makan siang di sana. " ya An.." jawabnya berusaha tenang mengusai keadaan. " boleh kita bicara 4 mata saja." pintanya " untuk." " ada yang ingin Ana. bicarakan pada kakak." " Maaf Ana, ini termasuk jam kerja bukan untuk mengobrol secara pribadi." ucap Audy yang ingin menghindar. Audy berlalu pergi meninggalkan Ana ke meja tempatnya ia duduk tadi. Ana melihat suatu perubahan dari mantan kakak iparnya itu. Dulu Audy adalah sosok wanita yang pendiam dan lembut dalam bertutur kata, padahal ia tau sendiri bahwa Ana adalah penyebab tidak di anggapnya ia di kehidupan Hendrik, tapi Audy masih bersikap baik dan ramah pada Ana walau sakit itu di depan mata. " apa kamu mengenal baik keluarga Mahameru, terlebih Hendrik Audy." tanya Juna saat perjalanan pulang " hah, apa pak ? " Audy tidak fokus saat ini, sampai ia tidak mendengarkan pertanyaan apa yang lontarkan bosnya itu. Sedari tadi pandangan Audy kosong keluar jendela menatap jalan raya yang tidak sedikitpun ia nikmati membuat Juna merasa gatal untuk tidak bertanya atas kecurigaannya sejak tadi. " oh tidak apa Audy, lanjutkan saja menikmati perjalanan pulang." selak Juna. Hatinya dongkol, tangannya mencengkram kuat setir pengemudi sebagai pelampiasan hatinya saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD