Malam semakin larut, Audy masih terjaga. Matanya enggan terpejam sedetikpun. Ia membayangkan bagaimana anaknya sekarang, perempuan kah atau laki laki seperti yang di harapkannya, entahlah. Sehat kah sekarang dia, sudah masuk sekolah kah dia sekarang. Ia hanya mampu berdoa agar Hendrik menjaga dan merawatnya dengan baik, memberikan kehidupan dan pendidikan lebih dari anak pada umumnya karena yang ia lihat keluarga Mahameru orang kaya.
Pintu kost di ketuk dari luar, Audy heran jam 1 malam siapa yang mengetuk pintunya. Tidak mungkin Widya karena tadi sore dia bilang mau pulang kampung walau hanya sehari saja.
Terus siapa, juga tidak ada pesan masuk walau sekedar memberi kabar ada yang datang. Sedangkan yang ia tahu kost tempat tinggalnya sangat ketat, tidak ada yang boleh bertamu lebih dari jam 10 malam baik perempuan maupun laki laki.
Ia mengintip di jendela kamarnya, sosok pria yang membuatnya terkejut.
" mau apa dia kesini, bagaimana dia bisa tau tempat tinggalku." gumam Audy sendiri.
Lama Hendrik di depan pintu, tapi ia tau bahwa Audy sempat membuka tirai jendelanya baru saja, tapi enggan untuk membuka pintu.
" Buka Audy, ada yang ingin aku bicarakan padamu." ucapnya dari luar kamar.
" kalau kamu tidak segera buka aku akan gobrak pintu kamarmu. aku hitung dari 5." imbuhnya mengancam
" 5..." Hendrik mulai menghitung
" 4..."
" 3..."
" bisa panjang ceritanya kalau sampai di dobrak pintu ini." gumam Audy menimbang antara buka atau tidak mengingat bagaimana garangnya sang ibu kost.
" 2..."
Hampir saja Hendrik menghitung satu, Audy sudah membuka pintunya.
" Selamat malam Pak Hendrik ada yang bisa saya bantu tengah malam begini." sapa Audy
Sebisanya ia berucap formal, di antara detak jantungnya yang tak beraturan.
Hendrik tanpa menjawab langsung menggeser tubuh Audy dari depan pintu dan masuk dalam kost mantan istrinya itu.
" hai, jaga kesopanan anda Pak Hendrik, ini sudah jam malam tidak baik seorang pria bertamu di kost khusus wanita." cerca Audy geram
" nah kalau sudah masuk begini baru cara yang pas untuk bertanya. Oh ya biasanya seorang tamu akan di suguhkan minimal air minum dulu baru di ajak ngobrol tujuan untuk bertamu." Hendrik dengan santainya duduk menyilangkan kakinya di sofa.
Audy menggelengkan kepala, " tidak punya air minum m yang ada air PDAM, bapak mau." jawab Audy ketus.
Hendrik hanya mengangkat sudut alisnya, menggulung lengan kemeja sampai siku memamerkan goresan tinta di lengan kanan dan kirinya. Pandangan masih pada Audy, ia menepuk sofa kosong sampingnya. Dan kebetulan hanya ada satu sofa panjang di kost Audy yang muat untuk 3 orang dewasa duduk.
Dengan rasa canggung Audy mendekat berniat untuk duduk, tapi ia urungkan karena mantan suaminya itu sudah bau alkohol.
" kamu ini sudah datang tengah malam bau alkohol lagi." desis Audy
" Memang kenapa, aku merindukanmu Audy." goda Hendrik meski dalam kondisi bau alkohol tapi ia masih sadar.
Karena tadi usai pulang dari apartemen ia tidak langsung pulang ke rumah ia langsung ke kost Audy. Kesadarannya yang picik tidak berani harus bertatap muka dengan Audy mengingat kesalahannya terlalu fatal dulu.
" kamu mau apa hah... bukakan kah kita sudah tidak ada hubungan apa apa lagi semenjak hari itu." Audy sudah tidak bisa berpura pura lagi, emosinya ingin meluap.
" aku hanya merindukanmu, tidak lebih." Audy berdecak
" kamu ini konyol sekali, bukankah dulu kamu membuangku seperti sampah."
" ya karena aku mau pungut lagi sampah itu. Apa kamu sudah lupa di antara kita masih punya ikatan yaitu anak kita." jawab Hendrik dengan lugas namun terlihat santai sambil memainkan ujung kukunya.
" bukankah itu sudah menjadi hak asuhmu, semenjak kamu menceraikan aku Pak Hendrik Mahameru yang terhormat." suatu nada penekanan saat Audy menyebutkan nama mantan suaminya itu dengan lengkap
" apa kamu tidak ingin melihat anak yang kamu lahirkan 5 tahun yang lalu." Hendrik menyadarkan tubuhnya di badan sofa sedangkan Audy masih berdiri depan Hendrik yang terhalang meja.
Bibir Audy keluh harus menjawab apa lagi untuk sok kuatnya. Anak jelas ia merindukan anak itu, yang entah apa jenis kelaminnya saja ia tidak tau.
Tubuh Audy seketika melemah, dadanya berdegup kencang. Di ambil nafas dalam dalam kemudian ia keluarkan dengan kasar.
" pulanglah ini sudah larut malam, besok kita bicara lagi aku mau istirahat pak.." usir Audy dengan lembut.
Otaknya terlalu payah untuk berfikir di luar kemampuannya selama ini, selain keluarganya di kampung, anaknya lah yang mengisi otaknya selama 5 tahun terakhir ini. Audy memejamkan matanya.
" istirahat saja, aku masih ingin di sini. Ibu kostmu sudah mengizinkan aku bermalam disini." Audy kaget membulatkan kedua bola matanya bagaimana bisa ibu kost yang super dupel galaknya itu mengizinkan pria bertamu tengah malam begini,
" apa saja bisa aku lakukan Audy termasuk merebut hatimu kembali." Hendrik masih angkuh seperti dulu saat bicara tidak ada yang berubah di mata Audy.
" keluarlah jika kamu masih ingin menemui ku lagi atau tidak..."
" atau tidak apa, kamu tidak mau bertemu denganku dan dan anakmu lagi. sudahku tebak ancamanmu sayang.," potong Hendrik sebelum Audy selesai bicara.
Panggilan yang Audy dambakan selama 7 bulan menjadi istrinya kini sudah ia dengar sendiri tapi kenapa panggilan itu begitu geli di telinganya padahal itu panggilan yang ia dambakan dulu.
Hendrik berjalan ke arah pintu, di kira Audy ia akan keluar tapi malah sebaliknya Hendrik mengunci pintu dan membukanya ke luar kamar lewat jendela.
" apa kamu sudah gila hah. Besok aku harus datang ke lapangan projects kita pagi pagi kenapa kamu malah membuang kuncinya." Audy marah memukul lengan Hendrik yang tidak merasakan apa apa saat di pukul.
" sama, aku juga akan kesana, jadi kita bisa berangkat bersama." Jawabnya enteng sambil berjalan ke arah pintu yang jelas itu kamar Audy.
" hai kamu mau apa hah, kalau kamu mau tidur, tidur saja di sofa sini. Aku mau tidur di tempat tidurku." Bentak Audy
Namun sayang tubuh Hendrik sudah terlalu di manja oleh kasur busa milik Audy tanpa ranjang itu. Berdebat bagaimanapun dia akan kalah dengan pria satu ini.
Dari pada tengah malam ia mengganggu jam istirahat tetangga sebelah kostnya mending ia mengalah saja tidur di sofa.
Sudah tengah malam juga akhirnya Audy terlelap dalam tidurnya yang tanpa selimut itu.
Hendrik POV
Setelah berdebatku dengan Alya aku tidak langsung pulang aku mencari tempat tinggal Audy sekarang. Sesudah aku di depan pintu gerbang aku nimbang nimbang antara masuk atau tidak. Aku masih berdiri di depan pintu gerbang kost bersandar mobilku sampai seorang wanita paru bayah yang masih saja suka berdandan menor tengah malam menghampiriku
Wajahnya terlihat galak sekali seperti anjing peliharaan sebelah rumahku dulu saat aku kecil. " Anak muda anda mencari siapa ?." tanya wanita itu
" apa benar yang bernama Audy tinggal di kost ini Tante. ?" tanyaku dengan sopan
" oh ya, saya lihat baru saja dia tadi masuk kost nak. Kamu siapa ?."
Gila ini orang gak punya TV kah apa di rumah sampai tidak mengenali, tapi syukurlah mungkin jalan untuk bertemu Audy terbuka lebar jika wanita ini tidak mengenali ku.
" saya mantan suaminya Tante yang sudah bertahun tahun mencarinya namun tidak menemukannya. Sedangkan anak saya setiap hari menanyakan keberadaan bundanya yang tiba tiba meninggalkannya. Jadi tujuan saya kemari hanya ingin bertemu dengan Audy menyampaikan kabar bahwa anaknya sedang mencarinya." Aku memainkan aksiku dengan wajah yang melas agar wanita di depanku ini kasihan dan simpati padaku dan anak yang aku ceritakan.
Wanita itu menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki, kemudian melihat mobil mewahkku. " sepertinya kamu bukan orang sembarangan ya anak muda, lihatlah penampilanmu tampan sekali dan itu mobilmu bukan mobil murahan."
Jelaslah itu mobil harganya lebih dari 10 M, mobil yang aku beli dari lelangan pengeluaran terbaru di Tokyo 5 bulan yang lalu.
Aku masih memasang wajah melasku, sampai akhirnya ibu itu memberitahuku letak kamar Audy. Dengan cacatan tidak boleh ada keributan, padahal di depan gerbang sudah tertulis jelas tidak boleh bertamu di atas jam 10 malam baik pria maupun wanita karena ini kost khusus wanita. Entah ini keberuntungan dari brend yang aku pakai atau karena ibu itu kasihan mendengar cerita anakku yang merindukan sosok ibu.
Aku masih berdiri di depan pintu kamar Audy, aku terlalu picik jika harus bertemu dia secara langsung dan sadar seperti ini. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari kondisi aman.
Setelah aku merasa aman, aku keluar lagi dari kost ke tempat keramaian malam yang tidak jauh dari kost Audy, sebuah diskotik yang tidak terlalu terkenal. Aku hanya minum sebotol anggur impor, yang aku buat sebagai rasa percaya diri saja jika nanti bertemu 4 mata saja dengan Audy.