Hendrik POV
Aku kesal sekali pada Ana adikku yang pernah aku cintai. Bagaimana bisa ia mengalahkan aku atas perceraian ku dengan Audy padahal itu semua aku lakukan demi dia dulu. Aku masih sangat mencintainya dulu tapi sekarang aku sadar ia sudah hidup bahagia bersama suaminya.
Aku membanting jas kantor ku di atas panjang. Aku mandi dulu baru menemui Reino yang sedang merajuk minta liburan besok hari Minggu.
Usai aku membujuk Reino, aku kembali ke kamar dan syukur Reino mau liburan bersama Vanilla, Ana dan Aksa. Hardin dan Elsa si tukang paling romantis di rumah keluargaku ternyata sudah berangkat ke Negeri Ginseng tadi pagi merencanakan honeymoon kedua mereka dan sepertinya berencana juga membuat adik untuk Vanilla.
Aku berjanji pada hatiku sendiri nanti usai makan malam di rumah aku mau mencari kost Audy yang baru aku dapatkan informasi tadi pagi.
Ternyata selama hampir 5 tahun ini, Audy masih berada dalam kota yang sama denganku dan bodohnya aku yang tidak tau bahwa ia bekerja sebagai salah satu karyawan di perusahaan klienku setahun ini.
Entah mengapa setahun ini aku merindukannya dan memikirkannya. Sebenarnya aku ingin berkunjung ke rumahnya di kampung tapi bagaimana dengan wajahku yang sudah menggoreskan luka yang dalam padanya dan keluarganya.
Semakin tubuh menjadi besar Reino selalu bertanya tentang Bundanya. Aku sebagai Ayah merasakan sedih saat anak laki lakiku bertanya dimana sang Bunda mengapa hanya ada Ayah dan Tante Ana saja yang selalu ada untuknya sedangkan Omahnya lebih banyak waktu dihabiskan di panti jompo yang ia bangun beberapa tahun yang lalu.
Bukan tanpa alasan mamah seperti itu, ia masih marah padaku atas tindakanku menceraikan Audy dengan tidak layak walau bagaimanapun Audy adalah ibu dari anakku.
Semenjak 2 hari yang lalu aku bertemu dengan Audy di meeting kerjasama di perusahaanku, pikiranku terfokus padanya membayangkan seandainya aku kembali pada Audy mungkin kehidupannya akan lebih baik. Tapi aku ingat lagi bagaimana perlakuanku padanya waktu itu apa ia masih mau kembali padaku, sepertinya aku harus berusaha lebih dulu.
Ponselku berdering aku lihat nama Alya di sana, aku menaruhnya lagi di atas ranjang. Aku malas untuk menanggapinya saat ini. Tapi sepertinya ia masih berusaha keras untuk aku nikahi dari pada ponselku kehabisan baterai karena panggilan darinya yang tidak aku angkat akhirnya aku jawab juga.
Lagi lagi rencanaku gagal untuk mencari Audy, ia memintaku untuk mengantarkannya ke butik di salah satu pusat perbelanjaan miliki Hardin di dalam kota.
Sampai tiba di sana, aku mengantisipasi kalau saja Alya membuat malu menyebut namanya di sana. Aku duduk di bangku yang tidak jauh dari butik yang di datangi Alya. Dan benarkan dugaan ku, Alya benar benar marah di sana. Aku langsung saja ke toilet untuk bersembunyi. Karena terlalu lama di toilet mau ngapain juga akhirnya aku ke toko untuk mencari dasi juga.
Alya sudah berdiri di toko saat aku usai membayar belanjaanku. Mungkin ia berniat marah padaku karena meninggalkannya tadi tapi aku segera memotong pembicaraannya mengajak makan di lantai bawah.
Alya izin ke toilet, aku masuk untuk memesan makanan. Tidak aku sangka aku bertemu dengan Juna salah satu klienku dalam projects baru bulan depan. Aku menghampirinya, rencana ingin bergabung tapi aku melihat makanan di atas meja yang sepertinya sudah di makan tapi ada 2 porsi, berarti Arjuna bersama seseorang.
" Anda bersama siapa pak Juna ?." tanyaku
" bersama teman saya Pak Hendrik." jawabnya blak-blakan
" wah beruntung sekali anda bisa kencan malam Minggu dengan pasangan anda pak Juna." ucapku di iringi senyumannya.
Pria di depanku ini adalah termasuk pengusaha muda tahun ini, dan kebetulan juga ia adalah bos dari Audy sepertinya aku bisa mengorek sedikit informasi tentang Audy darinya.
Belum juga aku bertanya, suara wanita dari samping terdengar tidak asing, saat aku melihat dia adalah Audy.
Apa mereka berkencan di malam Minggu, hatiku benar benar tersohok saat ini. Mata ku dengan Audy saling terkunci beberapa saat sebelum Juna berdehem kuat.
Sorot matanya membuat jantungku berkerja tidak normal saat ini. Perasaan apa ini, kenapa istri yang aku sia siakan dan aku ceraikan sekarang berubah menjadi cantik dan bohay berisi. Buat aku melelehkan salvinaku saja.
Ia duduk di depanku, kaki nakalku meraba ujung kaki Audy di kolong meja. mataku belum juga terlepas dari Audy sampai suara wanita pengganggu yang sekarang jadi pemuas ranjangku datang.
Shitt.. Umpatku dalam hati.
Audy dan Alya adu mulut dalam sindiran. Aku merasa terbakar cemburu saat tau mereka sedang berkencan dan hal yang lebih membuatku panas adalah di depan mataku Audy menggandeng lengan Juna.
Author POV
" ayo kita pulang Juna, gerah lama lama disini." ajak Audy pada Juna untuk meninggalkan restoran khas Jepang itu.
Hendrik hanya mampu menatap kepergian mereka berdua dengan rasa panas cemburu.
Sampai di parkiran Audy langsung melepaskan lengan Juna dan masuk dalam mobil. Ia berkali kali menekan dadanya, menghirup dan membuang nafasnya dengan kasar agar rongga dadanya terasa lega.
Ia memukul keningnya sendiri, menggerutu atas tindakan konyolnya. Bagaimana nanti kalau bosnya marah dan tidak terima, ya kalau marah saja kalau ia sampai di pecat bakal panjang ceritanya belum lagi ia masih memikirkan kemana ia akan mencari pekerjaan setelah ini.
Audy menutup matanya saat tau Juna masuk dalam mobil. Juna tersenyum dengan sejuta arti.
" maafkan saya pak karena lancang tadi mengaku bahwa anda teman kencan saya." tubuh Audy menghadap Juna dengan kepala menunduk, wajahnya di tutupi beberapa helai anak rambutnya.
Juna mengangkat sudut bibirnya dengan melengkung, kemudian kembali datar lagi. " Baru saja aku menganggapmu teman saya tapi kamu sudah kelewat batas, bagaimana kelanjutannya nanti. Memang apa hubunganmu sebenarnya dengan mereka hah ? apa kamu tidak tau bahwasannya Pak Hendrik klien terpenting saya saat ini " Juna berusaha menakuti Audy yang seperti mereka bersalah.
Ada keunikan sendiri melihat Audy seperti itu di mata Juna.
" maafkan saya pak, saja berjanji akan bertanggung jawab kalau saja si Hendrik itu marah. Emang dasarnya saja itu 2 makhluk tak ada akhlak." Audy segera menutup mulutnya karena terlalu los saat berkata tanpa filter.
" maksudnya." tanya Juna mengangkat sebelah alisnya.
" ya itu dia pasangan selingkuh bertahun tahun tanpa ikatan." mulut tanpa filter itu kembali mengoceh
" memang kamu tau masalah pribadi mereka, kan kamu juga mantan karyawan biasa di sana." Juna memancing kata kata yang akan Audy ungkapkan karena merasa penasaran saja.
Apa sebenarnya hubungan antara Audy dengan perubahan Mahameru, hanya sekedar karyawan atau lebih.
" helah kamu ini Jun, kepo aja. Yang jelas aku sedikit banyak tau tentang mereka itu saja sudah cukup." pungkas Audy yang tidak mau banyak bercerita tentang masa lalunya.
Ia seperti mereka di pancing omongan oleh bosnya yang sekarang menjadi teman di luar kantor.
Tidak mau banyak menuntut kepo pada Audy, Juna mengendarai mobilnya keluar dari area parkiran mall. Dan langsung mengantarkan Audy pulang saja toh sudah malam besok mereka juga harus bekerja.
Sementara itu, Hendrik yang baru tiba di apartemen bersama Alya.
Alya membanting tasnya di sofa, dengan marah.
" lihat mantan istrimu itu sangat murahan sekali mencari mangsa sana sini, setelah bercerai darimu." Alya meluapkan rasa marahnya sedari tadi harus kalah adu mulut dengan Audy.
" diam kamu Alya." Alya langsung kaget saat Hendrik membentaknya
Bagaimana ia tidak meninggikan suaranya, dari tadi ia sudah menahan emosi melihat Audy bersikap mesra dengan Juna di depan matanya di tambah lagi ocehan Alya sepanjang perjalanan pulang dari mall sampai masuk apartemen.
Ada rasa yang aneh saja saat Alya mengatakan bahwa Audy w************n. Apa Audy sekarang serendah itu. Audy yang ia kenal dulu adalah pendiam penyabar dan 1 hal lagi Audy dulu adalah wanita baik baik, bahkan ia sendirilah yang memperkosa Audy yang masih perawan dalam keadaan mabuk. Apa ia sekarang sudah berubah setelah ia ceraikan. pikir Hendrik saat ini.
" sayang kamu marah aku mengatai Audy seperti itu, dia hanya mantan istrimu kamu dulu tidak pernah mencintainya bahkan sedikit saja kamu tidak membuka hatimu untuknya " Alya menurunkan suaranya berniat merayu Hendrik agar tidak marah lagi.
Alya memeluk Hendrik dari belakang, tangannya mencoba nakal merambah daerah sensitif Hendrik dari luar celana. Pikiran Hendrik yang di penuhi bayangan Audy saat merangkul lengan Juna masih terbayang bayang jelas, membuat ia menghempaskan tangan Alya dengan kasar.
" istirahatlah aku mau pulang, Reino menungguku untuk tidur bersama." ucap Hendrik kemudian meninggalkan Alya yang masih dengan marah di dalam apartemen.
", Reino Reino dan Reino terus, Aku ini kamu anggap apa hah. Lihat saja Hen, aku akan menjeratmu sebentar lagi, dan saat itu tiba kamu akan melupakan Reino dan mantan istri sialanmu itu." janji Alya dengan penuh marah.