Audy yang bersama Juna tidak sengaja lewat depan keramaian dalam butik, rasa penasaran Audy ingin melihat tapi tangannya di tahan oleh Juna.
" itu bukan urusanmu, ayo kita cari makan." Ajak Juna yang kebetulan lapar juga usai menonton baru saja.
Audy yang menurut saja, berfikir kenapa juga ia kepo paling juga urusan pelayan dan pembeli. Biasa ia juga pernah mengalami kejadian seperti itu, akibat terlalu banyak pakaian yang ia coba dan ujung ujungnya tidak jadi beli karena uang tidak cukup, bukan tidak cukup sih cuma harganya melebihi baiged belanjnaya. Jadi pengen ketawa sendiri kalau Audy ingat.
" kamu masih waraskan, kenapa senyum senyum sendiri seperti itu." tanya Juna saat melihat kebelakang Audy yang senyum senyum sendiri.
" oh gak papa pak hanya ingat masalah pribadi saja. Saya juga pernah seperti itu udah banyak baju yang saya coba eh malah uang saya kurang jadi gak jadi beli eh malah mbak pelayannya marah marah. Malu sih saya tapi lebih malu lagi kalau saya jadi ambil pas di bayar malah uang saya kurang. Ha ha ha." dengan polosnya Audy bercerita sambil tertawa.
Ada rasa aneh dari dalam Juna sekarang melihat sisi lain dari Audy saat ini. Hatinya seperti di gelitik rasa jatuh cinta, andai ada slow caption mungkin bunga bunga akan muncul dari d**a Juna. Ia mengangkat sudut bibirnya, matanya terpaku melihat Audy yang tertawa.
Namun seketika wajah dinginnya kembali, " apa kamu tidak merasa lapar Audy jika tertawa terus." Ucapnya meninggalkan Audy di belakang
" Ya ya pak, sa..."
" sudah yang bilang berapa puluh kali jangan panggil saya bapak saat di luar jam kantor, kita seumuran kan." potong Juna yang tidak suka saat ini di panggil pak oleh Audy.
Tadi saat menonton, Juna sudah berkali kali meminta Audy untuk memanggil nama saja saat di luar jam kantor, dengan alasan ia ingin punya teman baru di tanah kelahirannya karena ia sudah lama tinggal di Kanada bersama nenek dan kakeknya.
Mungkin itu cara PDKT ala Arjuna yang selalu dingin pada siapa saja dan dalam keadaan kapan saja.
" eh ya maaf pak, eh Juna." Audy masih merasa canggung dengan panggilan seperti itu.
Mereka berdua turun menggunakan eskalator, dengan trik tidak sengaja Juna memegangi tangan Audy. Audy yang sadar langsung menghindar dengan sedikit senyuman agar tidak mengecewakan sang bos.
Juna yang berpura pura tidak sengaja pun, mengalihkan pandangannya dari Audy. Antara malu dan mempertahankan harga diri.
" kamu mau makan apa Juna." tanya Audy menghilangkan rasa canggung
" terserah kamu suka makan apa." tanya Juna balik.
" semuanya saya makan Jun, asal jangan makan hati. Saya sudah lelah." jawab Audy asal, Juna menaikan sebelah kanan alis tebalnya.
" Just kidding Juna." Audy mengangkat kedua jarinya tanda pis dengan nyengir kuda.
" Restoran Jepang saja bagaimana, saya mau makan makan pedas soalnya. Di rumah ibu dan Ayah melarangku makan makan pedas." usul Juna
" ok. Siap bosku." Audy memberi tanpa hormat sebagai persetujuan lagi pula Audy juga suka makan makanan pedas ala ala Jepang.
Kapan lagi Audy makan enak tanpa mengeluarkan sepeser uangnya kalau tidak sekarang. Mereka berdua menuju restoran Jepang yang tersedia di dalam mall itu.
Hendrik yang baru saja keluar dari toko dasi sebagai tempat persembunyiannya tadi langsung di sambut oleh Alya yang berdecak pinggang.
" kamu ya sayang, pacarmu ini habis dapat masalah kamu malah menghilang. Pacar macam apa kamu ini." cerca Alya.
" kamu sendirilah yang sudah buat malu dirimu. Seharusnya masalah seperti ini kamu selesaikan secara baik baik dengan pemilik butik bukannya langsung marah marah seperti tadi. Kamu pikir aku tidak ikut malu kalau saja kamu menyeret namaku di perdebatkan tadi." Hendrik meninggalkan Alya yang masih di penuhi rasa marah.
" aku mau makan, di lantai bawah. Jika kamu mau ikut, ikutlah kalau tidak ya terserah. Dan 1 hal jangan buat aku malu, karena kamu tau sendiri bagaimana status hubungan kita." Hendrik membalikkan badannya, kemudian meninggalkan Alya lagi di belakangnya.
Alya melebarkan langkah kakinya untuk mensejajarkan dirinya dengan Hendrik. Saat tiba di depan pintu restoran, Alya berhenti.
" Sayang kamu pesankan makanku seperti biasanya saja ya aku mau ke toilet sebentar." pinta Alay yang di anggukan oleh Hendrik.
Dalam toilet, Audy yang baru saja kaluar tidak sengaja menabrak tubuh seseorang karena dia telah membersihkan pakaiannya sambil berjalan.
" maaf mbak saya tidak sengaja." ucap Audy
Ia kemudian mendongakkan kepalanya betapa terkejutnya tubuh siapa yang ia tabrak.
" Kamu." ucap Audy dan Alya bersama
" hai, gadis kampung masih hidup kamu." tanya Alya dengan angkuh.
" Alhamdulillah mbak, saya masih hidup dan sehat walafiat sampai saat ini." jawab Audy
" 5 tahun menghilang, rupanya kamu masih berani menginjakan kakimu di kota ini."
Alya menghalangi Audy yang akan berjalan meninggalkannya.
" kenapa saya harus tidak berani mbak, kan saya tidak ada salah. Dan yang harus mbak Alya tau bahwa selama 5 tahun ini saya tidak pernah meninggalkan kota ini, saya masih di kota ini dan bekerja di kota ini." ungkap Audy
" oh ternyata kamu sudah mendapatkan mangsa baru setelah Hendrik ya. Siapa lagi itu, pengusaha mudah apa bandot tua." Alya menghina Audy dengan halus.
" maaf ya mbak saya, kelas saya masih pengusaha tampan kok." Audy segera meninggalkan kegerahan dalam toilet karena ucapan Alya semakin membuatnya panas.
Alya menghentakkan kakinya dengan geram karena mantan istri pacarnya mulai berani menjawabnya.
Audy masih tidak fokus dengan keadaan di sekitar karena sisa saus di pakaiannya belum juga hilang, di tambah lagi emosi jiwanya saat bertemu dengan Alya baru saja. Tanpa ia sadari bahwa bosnya tidak duduk sendiri seperti saat ia meninggalkan ke toilet tadi.
" maaf lama Jun." ucapnya belum sadar.
Hendrik pria yang bersama Juna pun mendongak dengan senyum bercampur kaget. Mereka berdua makan malam bersama di malam minggu luar jam kantor, apa mereka kencan, pikir Hendrik.
" tidak apa, duduk saja Audy." ucap Juna
" selamat malam nona Audy." sapa Hendrik.
Seketika matanya memandang pria yang baru saja menyapanya. Pandangan mereka terkunci beberapa saat, Juna melihat dengan ketidak sukaan kemudian berdehem kuat.
Dua mahkluk mantan suami istri itu melepaskan pandangannya. Audy dengan canggung kembali ke tempat duduknya.
" selamat malam Pak Hendrik." Audy berusaha sebisa mungkin menghilangkan kegugupannya saat membalas sapaan Hendrik.
" kalian sudah saling kenal bukan, karena asisten anda bilang bahwa Audy adalah mantan karyawan anda." Ucap Juna
Tidak sekalipun Hendrik melepaskan pandangannya pada Audy yang terlihat cantik dan berisi saat ini di banding dulu saat masih menjadi sekertarisnya bahkan saat jadi istrinya dulu. Juna memandang tidak suka dengan sorot mata Hendrik saat menatap Audy, hatinya terasa kebas tapi ia tahan karena Hendrik adalah klien penting bagi perusahaannya dan dia sadar statusnya dengan Audy hanya sebatas bos dan karyawan saja tidak lebih meskipun hatinya mendamba lebih dari itu.
Audy disini yang bingung harus bagaimana dalam bersikap, hatinya masih menyimpan dendam pada pria yang duduk depan bosnya itu. Ada rasa ingin meluapkan rasa emosi dari hatinya ada pula besar harapannya untuk bertanya bagaimana kabar anaknya sekarang. Bergejolak isi dalam diri Audy membuatnya ingin menitihkan air mata, tapi ia tahan ia tidak mau di anggap wanita lemah seperti dulu oleh Hendrik.
Kaki nakal Hendrik menyentuh ujung kaki Audy dalam kolong meja sana.
" Sayang.." panggil Alya dari belakang
Semua mata menatap wanita yang memanggil sayang pada Hendrik. Audy kembali lagi beradu pandang dengan Alya.
" Kamu kenapa ada disini hah wanita kampung." bentak Alya pada Audy
Alya hampir saja menyiram air pada Audy namun tangannya di tahan Hendrik. Disini Juna orang tidak mengerti cerita mereka di buat bingung.
" Jaga sikap anda nona." tegas Juna yang langsung berdiri
" oh ini, yang kamu bilang mangsa barumu Audy." Alya menunjuk Juna sesuai dengan ucapan Audy tadi di toilet bahwa ia masih mencari mangsa pengusaha muda.
Juna mengangkat sebelah alisnya, sedangkan Hendrik terasa panas saja mendengar bahwa kenyataan Arjuna Rajaksa lah teman kencan mantan istrinya saat ini.
Audy yang kepalang tanggung dengan kondisi sekarang biarlah resiko di tanggung belakang nanti dengan tindakannya. Ia langsung mengapit lengan kekar sang Bos.
" Ya.. ini dia yang aku maksud tadi." jawab Audy.
Juna otomatis kaget tapi merasa senang juga. Sedangkan Hendrik, tangannya mengepal kuat. Kuku kuku di tangannya sampai memutih karena terlalu kuat menahan emosi yang mungkin bisa di sebut rasa cemburu.