4. Memory Masa Lalu

1260 Words
Anak kecil berusia 5 tahun berlari dari tangga saat Hendrik pulang dari kantor, di ikuti wanita cantik di belakangnya. " Ayah..." seru Reino yang langsung di gendong Hendrik. " anak ayah wangi sekali, baru mandi sama Tante Ana ya." Ana pun tersenyum " ya dong yah.. Ayah besok libur kan. Leino pengen jalan jalan ya.. sama Panilla sama om Haldin Tante Esa Tante Ana dan om Aksa Omah juga ya yah." pinta Reino dengan cadelnya " Ayah besok masih kerja sayang, Reino jalan jalannya sama om Aksa dan Tante Ana saja ya." Reino yang tidak merasa kecewa langsung turun dari gendongan Ayahnya berlari ke atas lagi dengan perasaan sedih. Hendrik menghelah nafasnya, melonggarkan dasi yang ia kenakan. " apa kakak tidak ada sedikit waktu saja untuk Reino, kasihan dia kakak. Anak seperti Reino hanya butuh waktu dan kasih sayang kakak saja." kata Ana " aku besok masih ada kunjungan dari ke lokasi projects baru An, kamu bujuk Reino ya." pinta Hendrik dengan lesu " Andai kakak, tidak menceraikan kak Audy mungkin semua ini tidak akan terjadi pada Reino kak." Hendrik menatap tajam pada Ana. Bagaimana ia bisa menjelaskan semuanya pada Ana bahwa semua itu ia lakukan demi dirinya yang sudah tidak di anggap. Sekarang dia pun menyesal, tapi nasi sudah menjadi bubur. Semoga saja dengan bertemunya dia dan Audy bisa memperbaiki hubungan di antaranya karena masih anak di antara mereka. Hendrik naik ke kamarnya, meninggalkan Ana dengan tatapan yang heran pada kakaknya. Hari mulai gelap, matahari yang tadinya cerah kini sudah berganti dengan rembulan yang memancarkan kegundahan hati seorang wanita yang duduk termenung di atas ranjang. Pertemuannya dengan Hendrik kemarin membuka kembali luka lama yang telah ia buang. Bukan mantan suaminya yang ada dalam otaknya, melainkan anak yang belum ia ketahui jenis kelaminnya yang baru ia lahirkan beberapa jam sebelum sang Ayah mengambilnya. " Bagaimana kabarmu sayang, apa sekarang kamu sudah tubuh dewasa. Mamah merindukanmu nak." tidak terasa air mata Audy meleleh begitu saja di pipinya. Kisah 5 tahun yang lalu yang tidak pernah Audy lupakan. Malam itu Audy yang kecewa, dengan Hendrik yang selalu pulang dalam keadaan mabuk. " Saya tidak pernah butuh materi dari Anda pak, saya hanya ingin anda akui selayaknya istri anda. Saya istri sah anda dan saya sedang mengandung anak anda yang akan saya lahirkan beberapa hari lagi. Saya sudah berusaha sabar menunggu anda sadar akan adanya saya di sini, tapi sayangnya kesabaran saya tidak pernah anda lihat dan tidak pernah anda hargai." ucap Audy penuh kepedihan saat itu. " Hai, bukankah kamu sudah membaca dan menandatangani kontrak pernikahan kita. Saya menikahi kamu hanya karena anak dalam perut kamu saja tidak lebih, jadi jangan harap kamu bisa mendapatkan hati dan simpati dari saya. Kamu tidak jauh beda dengan wanita yang saya bayar untuk melahirkan keturunan dari saya." cerca Hendrik. " dan harus kamu ingat ya kamu tinggal di sini hanya menghitung hari saja, setelah anakku lahir kamu sudah tau persis kan isi kontrak kita. Anak akan bersamaku, dan kamu akan saya ceraikan. Dengan tunjangan yang saya berikan sebagai ganti rugi kamu harus pergi jauh dari kota ini karena saya tidak mau anak saya nanti ibunya sepertimu." lanjutnya Audy merasa terhina sekali, berbulan bulan ia harus sabarkan diri tapi kali ini sabarnya sudah sampai puncaknya yang sudah tidak bisa ia tahan. Tangannya mengepal kuat, gertakan giginya begitu terdengar wajahnya berubah memerah. Tangannya sudah di angkat ke atas namun di tahan oleh Hendrik. Hendrik mendorong tubuh Audy sampai tersungkur di lantai karena tanpa keseimbangan perut Audy terbentur di ujung sofa. " Kamu ini..." Hendrik menghentikan kata katanya saat melihat Audy mengerang ke sakitan dan memegangi perutnya. Wajahnya yang marah kini berubah khawatir melihat darah yang keluar dari s**********n Audy begitu mengalir di lantai. " pak tolong perutku sakit." Setelah berucap dengan lirih Audy tak sadarkan diri. Entah berapa lama ia tidak sadarkan diri akibat kehilangan banyak darah dan pengaruh obat bius paska operasi. Setelah ia bangun, ia merasa janin dalam perutnya sudah tidak ada, matanya memandang tajam pada pria yang duduk di samping bankar. " tanda tangani, surat ini. Anakku sudah lahir jadi kamu sudah tidak aku butuhkan lagi. Tapi tenang saja biaya rumah sakit aku yang akan tanggung, jadi uang tunjanganmu sebagai ganti rugi akan utuh " ucap Hendrik menyerahkan selembar kertas pada Audy. Bagai hancur seisi bumi ini, dadanya terasa sesak. Ia tak sanggup untuk berkata kata lagi, terlalu lelah dengan suaminya dan tubuhnya pun tidak memungkinkan untuk memberontak. Lelah dan lemah, hanya air mata yang terus mengalir di pipi Audy sebagai jawaban atas isi hatinya. Ia memiringkan tubuhnya, membelakangi Hendrik. " bisakah aku melihat anakku, sekali saja sebelum anda mengambilnya." pinta Audy " tidak bisa, bahkan aku juga tidak akan memberitahumu laki laki atau perempuan anakku. Terserah kamu tanda tangani atau tidak surat ini yang jelas aku sudah mengajukannya di pengadilan tadi pagi. dan Ini adalah imbalan untukmu telah melahirkan anakku dengan selamat. Terima kasih." Hendrik pun pergi dari ruang inap Audy. Audy hanya menangis saat itu, akan berjanji dalam hatinya suatu saat ia akan membalas semua ini pada Hendrik. Untuk saat itu yang ia butuhkan hanyalah semangat untuk bangkit dari semua mimpi buruknya. Semua memori Audy buyar saat ponselnya tidak henti untuk bergetar, nama sang bos di sana. " setengah jam lagi aku sudah sampai, apa kamu sudah bersiap siap." suara Juna dari dalam ponsel sana. " ya pak saya akan siap siap." jawab Audy. " saya tidak mau menunggu lama." tut.. tut.. Ponsel sudah di matikan saat Audy akan menjawab lagi. " Dasar. " desah Audy membanting ponselnya di atas kasur. Ia segera masuk kamar mandi, hanya memakai baju seadanya saja. Di usap bibirnya dengan lipbam sebagai penutup bibirnya yang agar tidak terlihat pucat. Karena dasarnya Audy juga tidak bisa make up. Ponselnya bergetar lagi saat ia sedang mencari helgs yang cocok dengan pakaian yang ia kenakan. Ia mengbaikan panggilan dari sang bos yang mungkin sudah sampai di depan gerbang kost-nya. " nyamuk pun sudah menikmati tubuh saya karena terlalu lama menunggumu Audy." ucap Juna saat Audy sudah di depan gerbang kost " maaf pak." Audy dengan pura pura menyesal karena membuat sang bos menunggu. Lama dari Hongkong belum juga 5 menit sudah bilang lama, ini orang lama lama lebay juga. Batin Audy. Mobil hitam milik Juna meninggalkan area perumahan tempat kost Audy. Dilain tempat Hendrik yang awal rencananya usai makan malam bersama keluarga akan mencari kost Audy pun gagal karena Alya merengek minta di antar ke mall dengan alasan ada launching terbaru barang KW yang menyerupai dengan desainnya. Kini Hendrik sudah berada di apartemennya bersama Alya. " ayo sayang, malam ini Reino minta aku tidur dengannya jadi aku tidak bisa malam malam kalau pulang nanti." Alasan Hendrik yang sebenarnya malas harus keluar bersama Alya, selain sikap Alya yang manja manja alay ia juga takut kalau keluarganya tau bahwa ia masih berhubungan dengannya. Sesampai di mall, Alya langsung masuk butik dimana barang KW rancangannya itu di perjualkan. Sedangkan Hendrik memilih duduk di depan toko yang agak jauh dari Alya takutnya nanti ia akan di permalukan oleh Alya menyebutkan namanya di sana. Karena itu adalah mall salah satu milik Hardin saat ini. Ya kan benar yang ada dalam insting Hendrik belum juga ia merasa nyaman duduk di sana suara Alya sudah terdengar keras dari luar. Sampai sampai pengunjung mall berhenti untuk melihat tontonan itu dan tidak sedikit dari mereka merekam adegan dimana Alya sedang marah marah dan memaki pemilik butik itu beserta beberapa karyawannya. Hendrik yang tidak mau ikut campur atau namanya terseret oleh Alya ia memilih pergi dari sana. Toilet mungkin tempat persembunyiannya sementara atau di kedai kopi di lantai dasar sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD