3. Bonus

1371 Words
Hendrik POV Meeting yang seharusnya di adakan setelah jam makan siang harus aku undur nanti jam pulang kantor. Alya tiba tiba datang ke kantorku pulang dari Paris. Sebulan kita tidak bertemu, sekali bertemu aku habis untuk bermain di atas ranjang dengannya. Selama aku menyandang status duda, tidak mungkin aku harus puasa untuk tidak melakukan olahraga ranjang bukan. Permainan Alya kali ini semakin liar, mungkin karena sudah lama tidak melakukan hubungan intim mungkin. Berkali kali ia menuntut status pernikahan dengan ku namun aku enggan untuk mengiyakan atau menolak, Mamah masih sakit sati keluarganya karena pembatalan pernikahan 6 tahun yang lalu. Hubungan kami masih aman dengan rahasia, aku sengaja menyewakan apartemen khusus untuk ku dan Alya. Tapi kali ini kita tidak melakukannya di apartemen melainkan di kantor yang membuatku was was Bagas akan cerita pada mamah. Aku terbangun dari tidur ayamku, karena Bagas sudah menelpon ku berkali kali memberi tau meeting sejam lagi. Aku meregangkan otot ototku yang sepertinya kaku, akibat gaya liar Alya tadi. Aku masuk kamar mandi membersihkan diriku kemudian mencari pakaian yang masih bersih yang sengaja aku simpan di almari kantor khususnya kamar rahasia ku. Saat aku sudah mulai rapi, tiba tiba Alya terbangun dan memelukku dari belakang. " Sayang, kamu mau kemana ?." tanyanya " aku ada meeting penting sayang. Nanti usai meeting aku akan menemuimu lagi. Kamu istirahat saja dulu disini nanti aku akan kembali." ucapku pada Alya yang lagi manja. Entah kenapa Alya malah merabah kejantananku yang tertidur kini bangun kembali. Aku mendesah menikamati sentuhan itu, hampir saja aku mau melucuti pakaian ku lagi ponsel ku kembali berdering dengan keras. " jangan sampai aku mengadu pada nyonya Shopia pak Hendrik." ancam Bagas langsung mematikan telponnya. Tanggung juga, sudah berdiri tegak langsung down seketika. " sayang aku meeting dulu, aku janji setelah meeting kita akan lanjutkan sampai puas di apartemen." bujukku pada Alya. Jangan sampai semua kacau karena hasratku yang tidak bisa aku tahan. Ini adalah meeting penting beberapa perusahaan, jika sampai gagal hancur sudah bisnisku kali ini. Belum lagi si tukang mengancam Bagas akan mengadu pada Mamah. Aku meninggalkan Alya yang mengucupkan bibirnya karena sedang merajuk. Melebarkan kaki ke ruangan meeting yang berada di lantai 5. Aku masuk dalam ruangan meeting ternyata semua klien dari beberapa perusahaan sudah hadir di sana tinggal menunggu ke hadiranku. Aku duduk di kursi paling ujung depan dengan gagahnya. Mulai mendengarkan dan meneliti setiap persentasi yang mereka rekomendasikan. Seperti ada yang salah dengan pengelihatanku, aku melihat deretan kursi nomor 6 sebelah kananku. Sosok wanita yang pernah mengisi hidupku meski tak pernah ku anggap. Ku tajamkan lagi pengelihatanku untuk memastikan, Dan tidak salah. Bagaimana bisa ia hadir di tengah tengah meeting penting seperti ini. Dia bersama dengan CEO baru Rajaksa. Apa dia bekerja di sana. Batinku. Aku menatapnya lekat, sepertinya ia salah tingkah. Lihat saja sampai ia menjatuhkan flash disk yang akan di berikan pada bosnya. Senyumku samar saat ia mengambil flash disk di kolong meja. Cantik, itulah kata yang pertama ingin aku sampaikan padanya. Ada banyak perubahan dia sekarang terlihat lebih cantik dan berisi. Hanya membayangkan saja libido ku sudah naik, ada apa aku ini. Aku menutupi gerakan gairah di bawah sana. Bokongku tidak santai dalam duduk. Sempat kami bertatap mata kemudian ia berpaling sendirinya. Sepertinya ia ingin sekali cepat usai meeting ini sama sepertiku yang cepat ingin selesai dan ingin menemuinya secara pribadi. Sepertinya para klien lah penghalangnya, banyak sekali asumsi asumsi yang mereka keluarkan sebagai ide secara individu. Aku menyandarkan tubuhku di badan kursi, ponsel ku bergetar aku baca pesan dari Alya agar cepat menemuinya dengan mengirimkan foto bugilnya tanpa busana. Astaga wanita satu ini benar benar panas sekali tidak seperti sebelum ia keluar negeri. Pesan hanya aku baca tanpa ada niat untuk membalas, sepertinya tidak puas juga Alya mengirimiku foto bugilnya yang tidak aku respon. Terakhir ia mengancam kalau sampai tidak selesai 30 menit lagi ia akan nekat mendatangi ruang meeting. Aku menghelah nafasku dengan kasar. " baiklah meeting selesai, desain saya serahkan pada perusahaan Rajaksa dan untuk promosi serta modelnya saya serahkan pada HNS. terimakasih." aku memberi keputusan untuk menyudahi meeting kali ini. Aku sudah risih dengan pesan pesan dari Alya bahkan aku melupakan niatku untuk menemui Audy secara pribadi. Sebelum aku keluar dari ruangan sempat aku melirik Audy yang sepertinya akan mendapatkan marah dari bosnya akibat ulah cerobohnya menjatuhkan flash disk tadi. Pandangannya menunduk, aku pun keluar dari ruangan itu bersama Bagas. Author POV Bagas berjalan di belakang Hendrik. Langkah mereka berhenti tepat di pintu kantor Hendrik. " Ini sudah lepas dari tanggung jawab saya Pak, saya permisi." pamit Bagas yang sedang menahan kecewa. Hendrik diam dan masuk ke ruangannya tanpa sepatah kata pun pada Bagas. Di dalam sana Alya sudah menunggu, dengan hanya memakai bikini saja. Pria mana yang tidak langsung naik libidonya melihat pemandangan seperti itu. Tapi ini masih ruang lingkup kantor, Hendrik masih punya kewarasan melakukan olahraga ranjang lagi di sana karena resiko ketahuan sang mamah sangat tinggi. " kita pulang ke apartemen saja sayang, kita lanjutkan lagi sampai puas." bujuk Hendrik Alya pun memakai pakaiannya kembali, tidak lama mereka pun keluar dari lingkungan kantor pulang ke apartemen. Di tepat parkir, mata Hendrik tidak sengaja melihat Audy yang baru masuk dalam mobil warna hitam yang bisa di pastikan itu adalah mobil CEO baru Rajaksa. aku akan mencari tahu tentangmu besok saja mantan istriku. batin Hendrik. ======= Bagas duduk di depan Hendrik yang terpisah meja. " apa kamu sadar, ada siapa di dalam meeting kemarin pak Hendrik." tanya Bagas tiba tiba Hendrik mengangguk. " aku tau selanjutnya anda akan menyuruh saya mencari ini kan." ucap Bagas menyerahkan sebuah disk pada Hendrik. Hendrik mengambil disk itu dan mencolokkannya ke laptop. Dalam disk itu berisi data data tentang Audy saat ini. Selain pintar Bagas memang bisa di andalkan. Sedia payung sebelum hujan, cara kerja cekatan sebelum di minta pun sudah ia kerjakan. " kamu ini pintar sekali Bagas, cepat tanggap. Terima kasih." Bagas dengan angkuhnya membenarkan letak dasinya yang sebenarnya sudah benar dan pas di tempatnya. " ternyata kemarin kamu hanya sebagian pengganti sekertaris Rajaksa yang tidak bisa datang ya. Tunggu kedatanganku di kostmu mantan istri ku." gumam Hendrik dengan senyum yang penuh rahasia. Entah apa yang akan ia lakukan nanti saat sudah bertemu dengan Audy, hanya Hendriklah yang tau. Sementara itu di kantor Rajaksa, Audy yang ke sandung saat akan berjalan ke toilet. " siapa coba yang lagi berharap ketemu aku." gumamnya. Hampir saja p****t itu mendarat di kursinya, Widya sudah mencegahnya. " Dy.. Pak Juna menyuruhmu ke ruangannya sekarang. dari tadi kamu di cari kemana saja." " dari toilet aku Wid." Aku berjalan ke ruangan bosku, di depan pintu aku berpapasan dengan mbak Maya. " kemana Dy ?." tanyanya " ke ruangan Pak Juna Mbak, kata Widya tadi aku di cari pak Juna. Kira kira ada apa ya mbak." tanya Audy pada Maya Maya hanya mengangkat bahunya tidak tau." sudah masuk sana, dari nanti ngomel ngomel karena menunggumu." ucapnya mendorong tubuh Audy untuk masuk. Audy mengetuk pintu dulu untuk meningkatkan rasa sopannya. " masuk." suara dari dalam membuat Audy mendorong pintu itu agar bisa masuk. " ada yang bisa saya kerjakan Pak, katanya Bapak mencari saya." " Duduk dulu." perintahnya. Audy pun duduk, Juna tiba tiba memberikan ia secarik pada Audy. " apa ini Pak ?." tanya Audy tidak mengerti dengan secarik cek itu. " itu bonus untukmu. karena kamu kemarin sudah membantu saya dalam meeting dengan perusahaan Mahameru." ucapnya dingin Ini orang ikhlas gak sih berterima kasih kok gitu amat. batin Audy. Mata Audy terbelalak melihat nominal cek itu setara dengan gajinya selama sebulan. Matanya di penuhi bunga bunga, langsung ia raih saja cek itu tanpa sungkan. Baginya itu adalah hasil kerjanya untuk apa harus sungkan. " Terima kasih pak." Audy segera berlalu dari sana " tunggu, siapa yang memberikan izin kamu keluar." langkah Audy terhenti seketika Ia membalikan badan, " ada yang bisa saya bantu lagi pak ?." tanya Audy dengan hati hati. " Nanti pulang kantor, ikut saya sekalian makan malam." tanpa basa basi si bos meminta pada Audy. Audy sempat berpikir, apa maksudnya. Acara kantor kah atau ini caranya mengajak kencan. " ini perintah bukan tawaran." imbuhnya " tapi pak..." protes Audy ingin bertanya " keluarlah, lanjut perkerjaanmu." Setelah mengajaknya makan malam, tiba tiba saja Audy merasa seperti sedang di usir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD