bc

The Enemy Inside

book_age16+
9
FOLLOW
1K
READ
spy/agent
body exchange
brave
dare to love and hate
drama
mystery
secrets
whodunnit
school
spiritual
like
intro-logo
Blurb

Ini tentang Izar Zillah, prajurit "Dearbhail" yang paling setia dan tak pernah gagal menyelesaikan tiap misinya. Juga tentang Jihan Mikayla, gadis cantik dan pemberani dengan gelar "perisai manusia".

Masing-masing mereka adalah pemanah sekaligus lingkaran yang menjadi target dari anak panah keduanya.

chap-preview
Free preview
Episode 1
Hembusan angin menerbangkan dedaunan yang telah tanggal dari rantingnya. Daun kuning kecoklatan itu memasuki lorong gedung biru yang berdampingan dengan pohon mangga milik Kiai. Gerombolan buah mangga yang menggantung di ujung ranting turut terombang-ambing oleh angin, membentur bagian luar plavon asrama dan menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Suara itu tak dihiraukan oleh seorang gadis yang berada dalam salah satu kamar paling ujung. Dia telah lama berdiri di depan rak buku, kedua tangannya sibuk memilah jajaran buku di depannya. Kedua bola matanya jeli membaca tiap tulisan di sampul buku itu, namun ia tak menemukan namanya tertera disana. Perlahan Izzah mendudukkan tubuh di lantai, mengistirahatkan kedua kakinya yang hampir mati rasa. Dia duduk menjulurkan kakinya ke depan, jemarinya naik memijat kepala yang lelah memikirkan dimana keberadaan satu kitab yang ia cari itu. "Jelas sekali Aku menaruhnya disitu, Aku sudah menyiapkannya sebelum pergi mandi!," Gerutunya. Izzah melepas jilbab putih yang dikenakan, lalu melemparnya ke dinding kamar. "Selalu begini. Kemarin kerudung yang hilang, lalu bulpen, sekarang buku, besok apa lagi?. Kenapa bukan Aku saja sekalian yang hilang dari tempat ini?!. Aishh!", rutuk Izzah pada dirinya sendiri sambil mengacak-acak rambut pendeknya. Angin membanting pintu kamar sesaat setelah teriakannya meledak, membuatnya terkesiap seketika. Izzah menatap dengan tatapan kesal, lalu berkata "Apa Kau?. Gak suka rupanya dengar suaraku, Hah?!" Jarinya menyambar barang yang berada tepat disisinya, "Mau kulempar pakai ini, Hah?!" Izzah mengurungkan niatnya setelah melirik benda kotak yang sedang diangkatnya tinggi-tinggi. Ia menangis di pojok kamar, hanya seorang diri meratapi sederetan nasib sial yang menghajarnya tanpa ampun sejak pertama kali kedatangannya ke tempat itu. Alih-alih mendapatkan teman baru, Ia malah menjadi bahan hiburan baru bagi para manusia bengis di kamar D07. Sesekali Ia mengerjapkan mata dan menggelengkan kepala, Ia tak percaya pada dirinya sendiri yang dengan mudahnya menaruh kepercayaan kepada mereka. Masih jelas dalam ingatannya, saat dirinya tak sengaja menumpahkan semangkok bakso ke pakaian Tika, seorang yang tampak paling cantik diantara mereka berenam. Tika dengan tenang membalas tatapan gadis itu yang ketakutan, lalu mengembalikan sendoknya dengan tersenyum. "Hai, namamu siapa?", ucapan Tika begitu lembut mengalahkan sutra. "Aku, Namaku Izzah" "Halo, Izzah. Kamu santri baru, ya? " Izzah menjawab dengan anggukan dan masih terheran, Tika sama sekali tak menunjukkan amarah. Padahal jelas sekali kuah bakso yang mengguyur pahanya itu masih panas bahkan mengepul. "Ma... maaf, Aku ngga sengaja. lantai ini sepertinya licin, jadi... " "Yahh, bakso kamu habis tuh. Biar Aku ganti yang baru ya, Kamu tunggu sebentar dan duduk disini." Potong Tika dan bergegas menuju gerobak bakso Mak Anik. Selang beberapa menit, Tika datang dengan semangkuk bakso panas—terlihat dari asap tipis yang mengepul diatasnya. Izzah menyambutnya dengan senyuman, Ia sempat memuji kebaikan hati gadis tinggi berkulit cerah yang sedang berjalan ke arahnya. Dia bak peri baik hati yang diceritakan dalam novel maupun film. Saat kedua tangannya hendak bersiap menerima semangkuk bakso itu, Izzah melihat dengan jelas ketika jemari Tika melepas mangkuk tersebut hingga terjatuh setelah mengguyur tubuh dan sebagian pipi berjerawatnya. seketika Izzah merintih kesakitan dan buru-buru mengelap pipinya dengan lembaran tisu. "Ups, Sorry... Aku ngga sengaja. lantai ini sepertinya licin", ucap Tika yang disambung dengan gelak tawa lima teman lainnya di meja itu. Tak berhenti disitu, mereka membawa Izzah ke toilet dan membasuh dengan kasar wajahnya yang kemerahan dan sedikit melepuh. Izzah hanya bisa pasrah melihat dirinya dari pantulan kaca, mereka terus mengguyur kepalanya dan menjambaknya hingga hijabnya terlepas. salah seorang dari mereka mengeluarkan sebuah gunting dan memotong serabutan rambut panjang Izzah tanpa permisi. "Santri dilarang memanjangkan rambut, kita bantu potong ya... ", ucap si paling pendek diantara mereka. Kemudian mereka meninggalkan gadis itu dengan sebuah masker hitam, "Pakai ini, Aku tidak yakin itu akan cepat membaik" pesan Tika sebelum pergi. Gadis itu meraba pipi sebelah kanannya, tersisa jerawat matang dan bekas luka yang Ia sembunyikan dibalik selembar masker hitam. Hari sial bersama enam gadis itu tak pernah berakhir, entah bagaimana namanya bisa masuk dalam daftar kamar D07— markas keenam gadis bengis itu. Ia hanya mengikuti langkah kaki bundanya yang berhenti di depan pintu kamar ini. Bunda tersenyum pada penghuni kamar, tanpa mengetahui perbuatan mereka pada anaknya sendiri. kenapa Izzah tak menceritakannya kepada Bunda?. karena Izzah tahu, curhatannya hanyalah bagaikan angin berlalu di telinga wanita berkepala 3 itu. Dia terlalu sibuk mengurus luka pasien dibandingkan luka buah hatinya. Dia langsung berpamitan begitu mendapat panggilan dari Rumah Sakit tempat Bunda bertugas. "Sayang, makanannya ada di tas merah ya. Jangan lupa makan bareng teman sekamarmu. Sebagian uang saku ada di tabunganmu, kalau habis, telfon Bunda saja ya. Dah, sayaang... " "Bunda... " Izzah berseru pelan, nyaris tidak terdengar oleh wanita yang berjalan menjauh darinya. Izzah merapatkan ulur tangannya yang tak sampai menahan tubuh Bunda. Dia pergi dengan telfon yang masih menempel di telinga kanannya dan menghilang dibalik tikungan jalan menuju gerbang utama pondok. Sampai hari ini, Bunda belum mengunjunginya lagi. Izzah harus menanggung rindu hingga hari minggu, saat itulah seharusnya sang Bunda datang berkunjung layaknya orang tua santri lainnya. Izzah mengangkat kepalanya, matanya menangkap bayangan diri sendiri di pantulan kaca. Butiran bening itu terus berjatuhan, parasnya terlihat begitu menyedihkan. Pandangannya menyapu seisi ruangan, menelusuri tiap objek di dalamnya. Terdapat dua buah ranjang bertingkat di sisi kanan kiri kamar, rak buku dan lemari pakaian ditempatkan di sampingnya. Pada bagian atas dinding biru tersemat kertas berisi struktur pengurus kamar, jadwal piket harian kamar dan asrama, panduan sholat dan pemakaian mukenah, serta daftar peraturan kamar yang hanya sebatas formalitas. pelanggaran terjadi setiap saat dan hanya ditoleransi dengan sedikit teguran. Setiap kamar memiliki satu pemimpin—ketua kamar, begitu juga di kamar D07 ini. Jihan Mikayla, nama yang tertera di urutan paling atas struktur pengurus kamar D07. Dia menjabat sebagai ketua kamar D07 sejak menduduki kelas satu SMA. Sebagai senior dan anggota pengurus pondok putri yang super sibuk, Jihan sangat bertanggung jawab dengan tugasnya. Sikapnya begitu tegas menghadapi kenakalan anak kamarnya. Itu terlihat saat Jihan dipanggil murobbi asrama sebab pelanggaran yang dilakukan Tika & the geng. Mereka berenam tertangkap basah mencuri buah di pohon mangga asrama sebelah. tak hanya itu, mereka juga tercatat menolak melaksanakan hukuman atas pelanggaran-pelanggaran sebelumnya. Jihan menghentakkan kakinya memasuki kamar, lalu membanting daun pintu. Matanya berkeliling menatap tajam seisi kamar dengan tangan yang masih berpegangan pada gagang pintu. Jihan menyergap jendela kamar dan merapatkan tirai. Menghalangi para santri lain yang berbondong menonton dari luar jendela. Jihan menyilangkan kedua tangan di d**a, bibirnya ditekan dengan kuat, lalu menghela napas. "Berulang kali Aku katakan, tempat ini terlalu suci untuk dikotori dengan kedzoliman Kalian!", seru Jihan berapi-api. semua duduk menundukkan kepala, termasuk Izzah yang terkesiap menyaksikan amarah teman sekamar yang paling dekat dengan dirinya itu. Dia sangat berbeda dengan Jihan yang Ia kenal sehari-hari. wajahnya selalu berseri dengan senyuman manis yang terukir dan suaranya yang begitu halus menjamah telinga setiap pendengarnya. "Ini tempat menuntut ilmu, bukan untuk jadi berandalan. Ingat, Kalian itu santri!," sela Jihan memukul pintu lemari. Seisi kamar terperanjat dan mengangkat pandangan. "Jangan berbuat seenaknya, Kalian adalah tanggung jawabku!," kali ini dengan suara sedikit keras. Jihan mengalihkan wajah ke lemari disampingnya, "Aku tak mau menyakiti Kalian dengan tanganku, cukup benda tak bersalah ini saja. Fahimtum?" "Fahimnaa," seru semuanya kompak. Mata Izzah terbelalak melihat dari cermin, seorang gadis berdiri dibelakangnya. Seketika Izzah menaikkan maskernya dan menyambar kaca mata di atas lemari, lalu mengenakannya. "Ah, Kak Jihan," ucap Izzah lirih nyaris tak terdengar. Jihan memungut selembar jilbab putih yang tergeletak didekat dinding, lalu memakaikannya pada Izzah. "Seharusnya tak perlu setakut itu, Kamu lebih cantik tanpa masker loh. Toh, tinggal bekasnya saja kan?" ucap Jihan seraya menyodorkan satu jarum pentul. "Engga apa-apa Kak, Aku udah nyaman dengan masker ini," Izzah tersenyum tanggung dibalik maskernya. Izzah beralih merapikan rak buku yang berantakan berkat ulahnya, lalu mengeluarkan satu buku tulis dari barisan tersebut. "Kenapa baru berangkat sekarang?," Jihan memicingkan matanya "Kitabmu mana?." Izzah membalikkan badan menghadap Jihan, "Aku...tadi mencari kitabku dan baru sadar ternyata masih dipinjam Anggun." Alis Jihan bertaut, hidungnya berkerut. "Beneran? Bukan disembunyikan teman sekamar lagi, kan?" Izzah menggeleng cepat menghindari tatapan Jihan yang menyelidik. Ia berdeham dan berkata, "permisi, Kak" Gadis itu berlari meninggalkan Jihan. Jihan menatap iba pada punggung gadis yang semakin menjauh itu. Tangannya perlahan mengeluarkan sebuah kitab yang Ia sembunyikan dibalik punggungnya sendiri. Ia menatap tulisan pegon di sudut kanan atas sampul kitab itu, Izzah Aleyah. -kenapa harus berbohong Izzah. Kenapa harus melindungi mereka? -

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.6K
bc

TERNODA

read
199.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
75.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook