Dengan langkah cepat, ia mengambil handuk kecil dari dalam ransel biru handuk yang dulu biasa ia pakai di rumah ibu Riana, warnanya sudah agak pudar tapi masih bersih. Ia juga mengambil sabun mandi seadanya dan sikat gigi yang sudah agak lusuh.
Kamar mandi umum di ujung koridor ternyata kosong. Lazuardi bersyukur. Ia masuk dan membiarkan air dingin mengalir deras di tubuhnya, membangunkan setiap sel yang masih mengantuk. Air pagi itu terasa menyegarkan, seperti suntikan semangat langsung ke tulang-tulangnya.
Setelah selesai mandi, ia kembali ke kamar dengan langkah yang lebih ringan. Rambutnya yang basah ia lap hingga setengah kering, lalu disisir dengan jari-jari tangan karena tidak membawa sisir.
Ia membuka ransel biru dan mengeluarkan setelan baju yang tadi sore diberikan Sola sebelum mereka berpisah. Sola sempat mampir ke sebuah toko pakaian di pinggir jalan dan membelikannya dua set pakaian kerja kemeja lengan panjang biru muda dengan nama perusahaan di saku d**a, celana bahan hitam yang rapi, dan sepasang sepatu kerja berwarna hitam.
“Ini seragam untuk karyawan,” kata Sola waktu itu. “Jangan dipikir hutang. Nanti dipotong dari gaji pertama. Tapi kalau kamu kerja bagus, bisa jadi bonus.”
Lazuardi tahu itu hanya alasan agar ia tidak merasa canggung menerima pemberian. Tapi ia tidak membantah. Ia hanya mengangguk dengan penuh syukur.
Sekarang, ia mengenakan kemeja biru muda itu satu per satu. Kancing-kancing kecil ia pasang dengan hati-hati, dari bawah ke atas, hingga kerahnya berdiri tegak di leher. Celana bahan hitam itu pas di tubuhnya—tidak terlalu longgar, tidak terlalu sempit. Sepatu hitamnya ia pakai dengan tali yang diikat kuat, seperti prajurit yang bersiap bertempur.
Lazuardi berdiri di depan cermin kecil yang menempel di balik pintu kamar. Ia menatap bayangannya sendiri.
Di cermin itu, seorang pria muda berpostur sedang berdiri tegap. Kemeja biru muda itu membuat bahunya terlihat lebih bidang. Rambutnya yang hitam dan agak bergelombang masih sedikit basah di ujung, tapi itu justru memberinya kesan segar. Wajahnya bersih, tanpa jerawat, dengan garis rahang yang tegas dan mata hitam yang tajam. Senyum tipis di bibirnya membuat lesung pipit kecil di pipi kanan terlihat jelas.
Ia tampan. Sangat tampan.
Tapi Lazuardi tidak menyadari itu.
Ia hanya berpikir, “Bajunya bagus. Sola benar-benar baik memilihkan ukuran yang pas.” Ia tidak melihat ketampanannya sendiri. Ia hanya melihat seorang anak desa yang sedang berusaha menjadi sesuatu.
Ia merapikan kerah kemejanya sekali lagi, lalu menarik napas dalam-dalam.
“Hari ini adalah awal,” bisiknya pada bayangannya sendiri. “Aku akan bekerja sebaik mungkin.”
Ia mengambil dompet kecil berisi sisa uang, memastikan semuanya aman, lalu memasukkan selembar kertas berisi nomor telepon ibu Riana ke dalam saku celana. Ransel biru ia tinggal di kamar tidak perlu dibawa karena isinya hanya pakaian kotor dan barang-barang pribadi. Ia hanya membawa kunci kamar dan dompet.
Pintu kamar nomor 23 tertutup rapat. Lazuardi menuruni tangga dengan langkah mantap, melambaikan tangan pada Bu Yanti yang sedang menyapu halaman depan.
“Semangat, Nak!” seru Bu Yanti.
“Semangat, Bu!” balas Lazuardi dengan senyum lebar.
Udara pagi masih sejuk ketika Lazuardi melangkah keluar dari gang menuju jalan utama. Ia memilih berjalan kaki, meskipun jarak dari wisma ke gudang sekitar beberapa meter. Uangnya harus dihemat, dan kakinya masih kuat. Lagipula, ia suka berjalan. Di desa dulu, ia sering berjalan kaki ke mana-mana.
Sepanjang jalan, ia mengamati sekeliling. Pemandangan kota di pagi hari ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan. Pedagang nasi uduk mulai membuka lapak, asap putih mengepul dari kukusan. Beberapa pekerja lain dengan seragam berbeda berjalan cepat, mungkin juga menuju tempat kerja masing-masing. Klakson kendaraan belum terlalu ramai, masih terdengar sayup-sayup seperti orkestra yang baru mulai menyetem alat musiknya.
Lazuardi tiba di depan gudang sekitar pukul setengah enam. Pintu besi utama masih tertutup rapat. Halaman parkir masih kosong, hanya truk-truk yang semalam terparkir rapi di sisi kanan. Sepi. Sunyi. Ia sendirian di sana.
Ia memilih berdiri di dekat pohon rindang di pinggir halaman, bersandar pada batang pohon sambil menunggu. Sesekali ia melihat ke arah jalan, berharap ada pekerja lain yang datang.
“Apa aku terlalu pagi?” gumamnya dalam hati. “Tapi lebih pagi lebih baik daripada terlambat.”
Ia menghela napas, menikmati angin pagi yang masih segar. Matanya menyapu gedung gudang biru putih itu, mengingat bagaimana kemarin ia pertama kali masuk ke sana. Sekarang ia sudah memiliki seragam. Sekarang ia adalah bagian dari tempat ini.
Setelah sekitar dua puluh menit, sepeda motor mulai berdatangan satu per satu. Seorang pria dengan kemeja lusuh dan helm setengah wajah masuk ke halaman, menepuk bahu Lazuardi dengan ramah.
“Wah, anak baru sudah datang pagi-pagi. Semangat amat, Zu!” itu Beni, pekerja muda yang kemarin sempat ia kenalkan.
“Biar nggak ketinggalan, Bang,” jawab Lazuardi tersenyum.
“Bagus, bagus. Nanti kalau udah setahun kerja, lihat nanti, pasti kamu juga datang mepet-mepet kayak kami,” ledek Beni sambil tertawa.