“Baik, Kak. Saya terima. Dan saya akan bayar nanti kalau sudah punya uang. Saya janji.”
Sola tersenyum tipis. Ia sudah tahu Lazuardi adalah tipe orang yang tidak suka berhutang. Dan itu justru membuatnya yakin bahwa pilihannya tepat.
Bu Yanti menyerahkan kunci kepada Lazuardi. “Kamar 23, Nak. Semoga betah di sini.”
Lazuardi menerima kunci itu dengan kedua tangan, penuh hormat. “Makasih, Bu.”
Mereka keluar dari wisma. Sola berjalan menuju mobil, lalu berhenti dan menoleh ke Lazuardi.
“Sudah, istirahatlah. Besok pagi kamu mulai kerja. Pak Herman akan kasih tahu jadwalnya.”
Lazuardi mengangguk. “Baik, Kak.”
Sola membuka pintu mobil, tapi sebelum masuk ia menatap Lazuardi sekali lagi. “Semoga harimu menyenangkan malam ini. Dan mimpi indah.”
Lazuardi tersenyum lebar. “Kamu juga, Kak.”
Sola tertawa kecil tawa yang ringan, seperti tidak biasa ia lakukan. Lalu ia melambai, masuk ke mobil, dan melaju perlahan meninggalkan gang.
Lazuardi berdiri di depan pagar wisma, menatap lampu belakang mobil merah itu hingga menghilang di tikungan.
Lazuardi masuk ke dalam wisma. Ia menaiki tangga menuju lantai dua dengan langkah ringan meskipun tubuhnya lelah. Setiap anak tangga ia lalui dengan perasaan aneh campuran antara lega, bersyukur, dan sedikit takut.
Di lantai dua, koridor cukup panjang dengan beberapa pintu di kiri kanan. Suasana sunyi, hanya terdengar dengung kipas angin dari dalam kamar dan sesekali suara orang bercakap pelan di balik pintu.
Lazuardi berhenti di depan pintu bertuliskan angka 23. Ia menempelkan telinga sebentar sunyi. Lalu ia memasukkan anak kunci ke lubang, memutar, dan pintu terbuka dengan pelan.
Kamar itu tidak besar. Mungkin hanya tiga kali tiga meter. Tapi bersih. Lantai keramik putih mengilap. Di sudut ada kasur ukuran single dengan sprei biru muda, lemari kayu kecil, meja belajar yang dilengkapi lampu, dan kipas angin berdiri di pojok. Jendela menghadap ke belakang wisma, di mana ia bisa melihat pepohonan dan langit malam yang bertabur bintang sesuatu yang langka di kota.
Lazuardi menutup pintu. Ia meletakkan ransel biru di atas kasur, lalu duduk di tepinya. Matanya berkeliling kamar, menyerap setiap sudut.
Ini kamarku sekarang, pikirnya. Tempatku memulai semuanya.
Ia berbaring, membiarkan punggungnya tenggelam di kasur yang cukup empuk. Matanya menatap langit-langit putih yang masih bersih. Dari luar, angin malam masuk lewat celah jendela, membawa udara sejuk yang menenangkan.
Tangannya meraba saku celana, memastikan uang sisa masih ada. Masih aman. Lalu ia menggenggam kertas nomor telepon yang tadi dipakainya. Kertas itu ia letakkan di atas d**a, tepat di atas jantung.
Matanya terpejam. Bibirnya bergerak tanpa suara.
Ibu, Ayah... yang ada di atas sana... anakmu sudah tumbuh dewasa. Anakmu sudah punya pekerjaan. Sudah punya tempat tinggal.
Ia menarik napas dalam-dalam.
Semoga aku bisa bertahan di sini. Semoga tidak ada kendala. Dan suatu hari nanti, aku bisa pulang dengan kepala tegak. Bisa membanggakan ibu Riana. Bisa membahagiakan mereka.
Tangan kanannya terkepal lembut di atas selimut.
Semoga keberuntungan ini tidak berhenti di sini. Semoga aku kuat.
Angin malam berembus lagi, membawa aroma tanah dan dedaunan dari luar jendela. Suara klakson kota yang bising kini terdengar sayup, seperti lagu pengantar tidur yang jauh.
Lazuardi memejamkan mata. Dadanya naik turun perlahan. Pikirannya mulai kabur, terbawa oleh kelelahan setelah hari yang panjang dan melelahkan.
Dalam setengah sadar, ia tersenyum. Bayangan ibu Riana, Salsa yang ceria, Rosa yang tomboi, dan Rani dengan senyum teduhnya muncul satu per satu. Lalu bayangan Sola yang tegas tapi baik hati. Dan seorang wanita berambut panjang di pelabuhan yang membelakangi dirinya wajahnya masih samar, tapi entah mengapa terasa penting.
Tapi itu semua perlahan memudar.
Matanya tertutup rapat,Napasnya beraturan.
Dan di kamar kos nomor 23, di tengah kota yang masih asing baginya, Lazuardi jatuh tertidur.
Hari pertama di perantauan telah usai.
Jam di masjid dekat wisma baru saja selesai mengumandangkan azan subuh ketika Lazuardi membuka matanya. Langit-langit putih kamar kos nomor 23 masih samar diterobos cahaya pagi yang masuk lewat celah tirai biru tipis. Burung-burung kecil berkicau di pohon belakang wisma, suara mereka terdengar riang menyambut hari yang baru.
Lazuardi duduk di tepi kasur. Matanya masih sayu, rambutnya agak kusut, tapi semangatnya sudah melompat di d**a. Hari ini adalah hari pertama. Hari pertama ia bekerja sebagai karyawan. Hari pertama ia membuktikan bahwa dirinya bisa berdiri sendiri.
Ia melirik jam dinding bulat berwarna putih yang menempel di atas meja belajar. Jarum pendek menunjuk angka 5, jarum panjang tepat di angka 12.
Jam 5 pagi, pikirnya. Aku tidak boleh telat. Orang baru jangan sampai memberi kesan buruk di hari pertama.
Ia segera bangkit, melipat selimut tipis yang semalaman membungkus tubuhnya. Tangannya merapikan sprei biru muda itu hingga rapi, seperti yang diajarkan ibu Riana dulu. “Tempat tidur yang rapi mencerminkan pikiran yang rapi, Nak,” kata ibu Riana suatu pagi ketika Lazuardi masih kecil. Ia selalu mengingat nasihat-nasihat kecil seperti itu.