Di dalam mobil Avanza merah, Lazuardi mengembalikan ponsel ke Sola dengan wajah berseri-seri.
“Makasih, Kak,” katanya tulus.
Sola menerima ponsel itu dan menyimpannya kembali. Matanya masih menatap jalan, tapi mulutnya bertanya pelan.
“Itu keluargamu?”
Lazuardi terdiam sejenak. Wajahnya berubah menjadi lebih lembut.
“Bisa dibilang begitu,” jawabnya pelan.
Sola menoleh sekilas, tertarik. “Kenapa bisa dibilang?”
Lazuardi menarik napas panjang. Mungkin karena suasana di dalam mobil terasa hangat dan akrab, atau mungkin karena Sola sudah membantunya begitu banyak hari ini, ia merasa ingin bercerita. Ia butuh seseorang yang mendengar.
“Orang tua saya sudah meninggal, Kak. Ibu meninggal waktu melahirkan saya. Ayah meninggal waktu saya kelas 3 SD. Saya dibesarkan sama ibu Riana,dia adik dari ayah saya. Jadi saya tinggal sama beliau sama ketiga anak perempuannya.”
Sola mendengarkan tanpa memotong. Tangannya di setir tampak rileks, tapi matanya sesekali melirik ke arah Lazuardi.
“Ibu Riana sudah saya anggap ibu kandung sendiri,” lanjut Lazuardi. “Anak-anaknya juga sudah saya anggap adik sendiri. Mereka baik. Sangat baik.”
Sola mengangguk pelan. Ia memahami. Ia sendiri juga anak perantau yang meninggalkan keluarga di kampung halaman. Tapi setidaknya ia masih punya orang tua yang menunggu. Lazuardi tidak punya siapa-siapa selain keluarga angkatnya.
“Kamu orang yang kuat, Zu,” kata Sola akhirnya. Suaranya lembut, jarang ia tunjukkan pada orang lain. “Bukan semua orang bisa melalui itu semua dan tetap punya semangat seperti kamu.”
Lazuardi tersenyum malu. “Saya hanya mencoba, Kak.”
Mobil berbelok ke sebuah gang kecil yang tidak terlalu sempit. Di ujung gang, terlihat sebuah bangunan dua lantai berpagar besi, dengan lampu teras yang menyala terang. Papan nama sederhana bertuliskan “Wisma Harapan Indah” tergantung di pintu gerbang.
“Ini tempat kosnya,” kata Sola sambil memarkir mobil di pinggir jalan.
Sola dan Lazuardi turun dari mobil. Udara malam di gang itu terasa sejuk, tidak terlalu dingin. Dari dalam wisma terdengar suara televisi dan sesekali tawa penghuni lain.
Mereka berdua masuk ke dalam. Seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi menyambut dari balik meja kecil di ruang depan.
“Sola, ini anak baru yang tadi kamu bilang?” tanya wanita itu ramah.
“Iya, Bu Yanti. Namanya Lazuardi. Baru kerja di perusahaan saya.”
Bu Yanti mengamati Lazuardi dari atas sampai bawah. Matanya tidak menilai, hanya sekadar mengenali. “Ada yang bisa dibantu, Nak?”
Lazuardi mengangguk sopan. “Bu, bolehkah saya lihat kamar kos nomor 23?”
Bu Yanti mengerjapkan mata. “Nomor 23? Kenapa nomor itu?”
Lazuardi tersenyum sedikit malu. “Ibu saya... Ibu angkat saya pernah bilang, nomor 23 itu nomor keberuntungan karena sesuai dengan umur saya. Kata beliau, kalau saya dapat nomor itu, akan ada keberuntungan seiring waktu.”
Bu Yanti tertawa kecil. “Anak muda percaya keberuntungan, ya?”
Lazuardi tidak menjawab, hanya tersenyum.
Bu Yanti membuka buku besar di depannya, menelusuri daftar kamar kos yang tersedia. Jarinya berhenti di satu baris.
“Wah,” desah Bu Yanti pelan. “Kebetulan sekali. Kamar nomor 23 kosong. Penghuni sebelumnya baru pindah minggu lalu.”
Lazuardi menahan napas. Hatinya berdegup kencang. Keberuntungan? Atau kebetulan? pikirnya. Tapi ia memilih untuk percaya bahwa ini pertanda baik.
Bu Yanti menatap Sola. “Sola, ini anak baik? Nggak macam-macam, kan?”
Sola tersenyum. “Tenang, Bu. Saya yang jamin.”
Bu Yanti mengangguk puas. Ia mengambil anak kunci dari gantungan di dinding. “Kamar 23 di lantai dua. Ukuran sedang, ada kasur, lemari, meja belajar, dan kipas angin. Kamar mandi di luar, bersama. Harga sebulan tiga ratus ribu, belum listrik.”
Lazuardi menghitung cepat di kepala. Uangnya tersisa dua ratus ribu. Cukup untuk sewa satu bulan? Tidak. Ia butuh uang untuk makan juga.
Sola seolah membaca pikirannya. “Untuk dua bulan pertama, perusahaan akan tanggung,” katanya dengan nada biasa, seperti sedang membicarakan hal sepele.
Lazuardi menoleh cepat. “Kak, apa nggak..“
“Ini sudah kebijakan perusahaan,” potong Sola dengan tegas. “Karyawan baru dari luar kota dapat fasilitas itu. Nanti bulan ketiga kamu bayar sendiri. Tapi kalau kamu kerja bagus, bisa dapat tunjangan.”
Lazuardi terdiam. Ia tahu ini bukan kebijakan perusahaan. Ini kebaikan Sola. Tapi ia tidak ingin menolak dan terlihat tidak tahu terima kasih. Ia hanya mengangguk dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
“Baik, Kak. Saya terima. Dan saya akan bayar nanti kalau sudah punya uang. Saya janji.”