Bab 10

826 Words
Nomor rumah, pikirnya sambil tersenyum mengingat Salsa yang menyelipkan kertas itu diam-diam sebelum ia berangkat. Ia menekan angka-angka itu satu per satu dengan jari yang sedikit gemetar. Bukan karena gugup, tapi karena rindu yang tiba-tiba menusuk dadanya. Padahal baru sehari ia meninggalkan rumah. Panggilan tersambung... Di sebuah rumah papan di tepi desa Tebing Tinggi, ponsel tua di meja ruang tamu berbunyi keras. Malam sudah datang, lampu minyak dinyalakan karena listrik sedang padam. Ibu Riana sedang membersihkan piring-piring bekas makan malam di dapur. Rani sedang melipat pakaian di kamar. Rosa membaca majalah bekas di ruang tamu. Salsa, yang paling dekat dengan ponsel, langsung menatap layar. “Mama! Telepon!” teriak Salsa dengan suara sedikit bergetar. Ibu Riana buru-buru meletakkan piring yang baru setengah dibersihkan. Tangan yang masih basah ia lap cepat-cepat ke kain di pinggang. Langkahnya cepat menuju ruang tamu, diikuti Rani yang keluar dari kamar karena penasaran. Salsa sudah mengangkat ponsel dan menjawab dengan suara ceria. “Halo!” Dari ujung sana, suara Lazuardi terdengar agak terputus karena sinyal. “Bu... Bu Riana?” Salsa tersenyum lebar. Ia langsung menyerahkan ponsel ke ibu Riana yang sudah berdiri di sampingnya dengan mata berkaca-kaca. “Hallo, Nak...” suara ibu Riana lembut, sedikit serak karena emosi yang ditahan. “Kamu sudah sampai?” “Sudah, Bu,” jawab Lazuardi dari seberang. Suaranya terdengar cerah, penuh semangat. “Saya sudah dapat pekerjaan, Bu.” Ibu Riana terbelalak. Matanya berbinar. “Apa? Baru sehari sudah dapat kerja?” “Iya, Bu. Orang baik. Dia yang bantu saya.” Ibu Riana hampir tidak percaya. Baru sehari anaknya pergi, sudah mendapat pekerjaan. Ini seperti mimpi. Tapi sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, telinganya menangkap sesuatu di balik suara Lazuardi. “Itu ibu kamu?”seru Sola. Ibu Riana terdiam sesaat. Hatinya berdetak lebih cepat. Suara cewek? pikirnya. Siapa itu? Di kamar, Rani yang sedari tadi mengintip dari balik pintu, mendengar percakapan itu. Tangannya yang semula memegang gagang pintu mengendur. Ada sesuatu di dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Tidak sakit, tapi tidak nyaman. Seperti ada yang mengganjal. Rani menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke mata. Dengan langkah pelan, ia mundur ke dalam kamar dan menutup pintu tanpa suara. Ia duduk di tepi kasur, memeluk bantal guling, dan menatap dinding kosong. Kenapa aku merasa seperti ini? tanyanya dalam hati. Dia bukan siapa-siapaku. Dia hanya adik angkat. Tapi hatinya tidak mendengarkan akal sehatnya. Ada rasa yang selama ini ia pendam, yang tiba-tiba muncul ke permukaan saat mendengar suara wanita lain di ujung telepon. Sementara di ruang tamu, Salsa tidak bisa diam. Dengan nada bercanda yang khas, ia mendekatkan mulutnya ke ponsel. “Kak Lazuardi, itu pacar Kakak ya?” ledeknya sambil tertawa kecil. “Hayo, ngaku, Kak!” Lazuardi di ujung sana terdengar kaget. Suaranya meninggi sedikit, seperti orang yang ketahuan. “Eh bukan! Bukan, Sal! Ini rekan kerja aku! Dia cuma nganterin aku ke tempat kos karena dia kenal sama pemilik kos dekat sini. Jadi ya dia antar. Jangan bercanda, Sal!” Salsa tertawa terbahak-bahak, puas melihat reaksi kakak angkatnya. “Iya, iya, Kak. Cuma becanda.” Di samping Salsa, Sola yang mendengar semua itu dari dalam mobil tersenyum tipis. Matanya tetap fokus ke jalan, tapi sudut bibirnya naik. Ada-ada saja, pikirnya sambil menggeleng pelan. Ibu Riana mengambil alih ponsel kembali. Ia tidak mau larut dalam kekhawatiran yang tidak perlu. Yang penting anaknya baik-baik saja. “Syukurlah kamu sudah dapat kerja,” kata ibu Riana dengan suara yang ia usahakan setenang mungkin. “Semangat kerjanya, ya, Nak. Jaga kesehatan.” “Siap, Bu!” jawab Lazuardi semangat. “Oh iya,” ibu Riana teringat sesuatu. “Kamu sudah makan?” Keheningan sesaat dari ujung sana. “Sudah, Bu,” jawab Lazuardi akhirnya. Sola yang mendengar itu mengernyit. Matanya menyipit, menoleh sekilas ke arah Lazuardi. Kapan dia makan? gumamnya dalam hati. Tadi siang di restoran itu. Itu pun aku yang bayarin. Setelah itu dia tidak makan apa-apa. Sola tidak berkata apa-apa. Ia hanya menghela napas kecil dan memutuskan untuk membelikan sesuatu nanti sebelum mengantar Lazuardi ke kos. Ibu Riana di ujung sana tampak lega. “Baguslah kalau sudah. Semoga kamu di sana baik-baik saja. Jaga pekerjaanmu dengan baik. Jaga nama baik keluarga juga, Nak.” Lazuardi menarik napas dalam. Dadanya membusung. “Tenang, Bu. Akan aku lakukan apa yang Ibu katakan.” Ibu Riana tersenyum. Di sampingnya, Salsa melambai-lambai ke arah ponsel meski tahu Lazuardi tidak bisa melihatnya. “Kak Zu, jangan lupa pulang ya nanti!” teriaknya ceria. Lazuardi tertawa kecil. “Iya, Sal. Doain aku.” “Didoain terus, Kak!” Percakapan itu ditutup dengan lembut. Ibu Riana memejamkan mata sebentar setelah ponsel dimatikan, berdoa dalam hati untuk anak angkatnya yang sedang merantau. Di kamar, Rani masih duduk di tepi kasur. Ia mendengar tawa Salsa dari ruang tamu, mendengar suara bahagia ibu Riana. Tapi kakinya terasa berat untuk keluar. Ia hanya memeluk bantal guling lebih erat, berusaha mengusir rasa sesak yang tidak ia mengerti dari mana asalnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD