Bab 9

724 Words
Besok hari pertama kerja. Aku akan bekerja sebaik mungkin. Truk melaju meninggalkan kawasan pelabuhan, meninggalkan suara bising dan asap knalpot. Lazuardi membuka sedikit jendela, membiarkan angin sore menyapu wajahnya. Di kejauhan, matahari mulai condong ke barat, menebarkan cahaya jingga yang lembut di antara gedung-gedung kota. Di dalam gudang, Sola menerima pesan singkat dari Joko bahwa barang sudah diangkat. Ia membalas dengan satu kata “Oke.” Lalu ia menatap ponselnya sejenak, membuka percakapan dengan Aurelia. Dengan jemari yang lincah, ia mengetik pesan baru. Tidak lama kemudian, balasan masuk. Sola tersenyum membaca isinya. Sola menyimpan ponsel, melipat tangan di d**a, dan menatap ke arah pintu gudang. Truk Joko belum terlihat. Tapi ia tahu, sebentar lagi Lazuardi akan kembali dengan semangat yang lebih membara dari sebelumnya. Sore itu, setelah truk kembali ke gudang dan semua barang diturunkan dengan tertib, Lazuardi berpamitan pada Pak Herman dan pekerja lain. Ia berjalan ke pintu gerbang, mencari tempat kos yang tadi dijanjikan Sola. Langkahnya ringan. Pikirannya jernih. Kecurigaan yang membayangi sejak tadi pagi telah sirna, digantikan oleh keyakinan bahwa ini adalah jalan yang tepat. Saat melangkah keluar, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah gudang. Di ambang pintu, Sola berdiri dengan tangan di saku celana, tersenyum tipis. Lazuardi mengangkat tangan, memberi salam perpisahan. Sola membalas dengan anggukan kecil. Besok, pikir Lazuardi sambil berjalan menyusuri trotoar. Besok aku mulai. Aku akan kerja keras. Aku akan belajar. Aku akan buktikan bahwa anak desa juga bisa sukses. Ia tersenyum pada dirinya sendiri, menepuk ransel biru yang setia menemani. Hari mulai gelap. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menerangi halaman gudang yang perlahan-lahan sepi. Para pekerja sudah pulang satu per satu. Ada yang naik motor tua berderak, ada yang berjalan kaki menyusuri trotoar menuju rumah kontrakan di sekitar kawasan industri. Suara tawa dan canda mereka perlahan menjauh, meninggalkan gudang yang sunyi. Lazuardi masih berdiri di depan pintu utama, ransel biru tergantung di bahu. Ia menatap langit yang berubah dari jingga menjadi ungu gelap. Dingin malam mulai merayap, tapi ia belum tahu harus ke mana. Dari balik pintu, Sola keluar dengan langkah pelan. Ia sudah mengganti blazernya dengan jaket tipis berwarna krem. Kunci mobil tergantung di jari telunjuknya, berayun pelan. “Karyawan di sini kebanyakan orang dekat,” kata Sola sambil berdiri di samping Lazuardi. “Mereka tidak ngekos. Rumahnya cuma beberapa kilometer dari sini.” Lazuardi mengangguk. Matanya masih tertuju pada jalanan yang mulai lengang. “Kalau kamu mau ke kos yang aku bilang tadi,” lanjut Sola, “aku bisa antar. Lumayan jauh kalau jalan kaki. Lagipula kamu belum tahu jalannya.” Lazuardi menoleh, sedikit terkejut. Dalam hatinya bergumam, Ternyata hanya aku saja orang yang jauh di sini. Yang lain semua dekat rumah. Awalnya ia ingin menolak. Ia sudah merepotkan Sola sejak siang tadi dibayarin makan, ditawari kerja, diantar ke gudang, dan sekarang mau diantar cari kos. Tapi di sisi lain, ia benar-benar tidak tahu arah. Kota ini masih terlalu asing. Jika ia berjalan sendiri malam-malam begini, bisa-bisa ia tersesat atau malah berakhir di tempat yang salah. “Baik, Kak. Makasih,” jawabnya akhirnya. Sola tersenyum tipis lalu melangkah menuju mobil Avanza merah yang terparkir tak jauh dari pintu gudang. Lazuardi mengikuti dari belakang. Begitu masuk ke dalam mobil, suasana terasa hangat. Sola menyalakan mesin dan pemanas ruangan otomatis menyala. Udara dingin malam di luar tertahan oleh kaca jendela yang tertutup rapat. Mobil perlahan meninggalkan kawasan industri. Di kaca spion, Lazuardi bisa melihat gudang biru putih itu semakin mengecil, lampu-lampunya mati satu per satu, hingga akhirnya tenggelam dalam kegelapan. Semua orang sudah pulang. Suasana berubah sunyi, hanya diterangi oleh lampu jalan yang berjarak. Setelah beberapa menit berjalan dalam keheningan, Lazuardi memberanikan diri membuka suara. “Kak Sola,” katanya pelan. “Ya?” “Bolehkah saya meminjam ponsel? Sebentar saja.” Sola menoleh sekilas, sedikit terkejut. “Kamu tidak bawa ponsel?” Lazuardi menggeleng malu. “Saya tidak punya ponsel, Kak. Dulu punya, tapi rusak. Belum sempat beli baru.” Sola mengangguk paham. Tanpa banyak bertanya, ia mengambil ponsel dari saku jaketnya dan menyerahkannya kepada Lazuardi. “Silakan.” Lazuardi menerima ponsel itu dengan hati-hati, seolah benda itu sangat berharga. Ia kemudian merogoh saku celana jeans-nya yang agak ketat, mengeluarkan selembar kertas kecil yang sudah agak kusut. Kertas itu dilipat rapi, dan saat dibuka, terlihat deretan nomor yang ditulis dengan tinta biru tulisan Salsa, dengan gaya huruf yang agak bundar dan rapi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD