bab 4

737 Words
Aku berdiri di pintu bus setelah kendaraan itu berhenti total. Ransel di punggung, langkahku terasa berat saat kaki menyentuh aspal kota. Aku melongo. Segalanya berbeda. Udara panas dan berdebu, suara bising dari segala arah, orang-orang yang berjalan tanpa saling sapa. Aku merasa seperti butiran kecil di tengah lautan. Jakarta kayak gimana ya? gumamku dalam hati. Kalau kota ini saja sudah segini rame, Jakarta pasti langit ke langit. Tapi aku tak punya waktu untuk melongo. Perutku tiba-tiba menggeram keras lapar yang kutahan sejak pagi kini menyerang tanpa ampun. Aku menoleh ke kiri dan kanan. Di seberang jalan, ada sebuah tempat makan dengan lampu-lampu temaram. Tampak mewah, tapi perutku terlalu lapar untuk mempertimbangkan harga. Aku menyeberang, melangkah masuk. Pintu kaca restoran terbuka lebar, disambut oleh seorang pramusaji dengan seragam rapi dan senyum lebar. "Selamat siang, Pak. Silakan duduk." Aku mengangguk canggung, mata berkeliling mencari meja. Kursi-kursi kayu mahoni dengan bantalan empuk, taplak putih bersih di setiap meja, vas bunga mawar segar. Aroma masakan tercium harum campuran bawang putih, mentega, dan rempah-rempah yang membuat perutku semakin berontak. Aku memilih meja dekat jendela, duduk dengan agak kaku. Pramusaji datang membawa menu besar bersampul kulit. Aku membuka halaman demi halaman, mata langsung tertumbuk pada satu gambar. Udang goreng tepung dengan saus madu. Kulit luarnya keemasan, wijen bertaburan, saus mengilap kemerahan. Foto itu seperti berkata padaku, "Makan aku." Aku suka udang. Di desa, ibu Riana kadang membeli udang kecil-kecil kalau ada rezeki lebih. Dijadikan tumis atau digoreng tepung, selalu jadi rebutan. Tapi kami hanya makan secukupnya, karena harganya lumayan. Sekarang aku di kota. Punya uang sendiri. Tidak ada yang melarang. Aku menunjuk gambar itu. "Ini. Tiga porsi." Pramusaji itu mengerjap. "Tiga porsi, Pak?" "Iya. Udangnya. Sama nasi putih tiga porsi. Minumnya air putih aja." Dia tersenyum, tapi matanya sedikit aneh. "Baik, Pak. Tunggu sebentar." Dari meja sebelah, aku mendengar bisik-bisik. "Itu orang habis makan tiga porsi udang sendiri? Di sini satu porsi aja seratus ribuan." "Tahan apa perutnya? Atau mungkin dia orang kaya yang lagi laparnya luar biasa." "Lihat bajunya biasa aja. Mungkin orang kampung." Aku mendengar semuanya. Tapi aku memilih cuek. Bodo amat. Yang penting aku makan. Uangku sendiri. Makanan datang. Tiga piring besar berisi udang goreng tepung, nasi putih mengepul, dan sambal di mangkuk kecil. Aromanya menguar harum, membuatku tak kuasa menahan. Aku makan dengan lahap. Satu porsi habis dalam hitungan menit. Porsi kedua, ketiga, mengikutinya tanpa perlawanan. Aku menggigiti kepala udang, menyedot saus madu dari jari-jari, dan mengunyah dengan kenikmatan yang tak bisa dijelaskan. Di tengah keserakahan makanku, aku merasa ada yang menatap. Aku menoleh ke kanan. Di meja pojok, seorang wanita duduk sendirian. Pakaiannya sederhana kemeja putih lengan panjang, rok hitam selutu tapi wajahnya... cantik. Bukan cantik yang mencolok, tapi cantik yang manis, yang membuatmu ingin terus memandang. Kulitnya putih bersih, matanya bulat dengan bulu mata lentik, dan ada lesung pipit di pipi kirinya. Dia tersenyum. Menatapku. Aku langsung menunduk. Wajahku terasa panas. Jantungku berdegup kencang. Ngapain dia lihatin gue? Waduh malunya... dia cantik lagi. Gue sejelek ini ngapain di lihatin. Apa karena gue makan kayak orang kalap tadi? Aku mempercepat suapan terakhir, menghabiskan semua makanan di piring. Lalu berdiri cepat, bergegas menuju kasir. "Bayar," kataku pada kasir wanita paruh baya berkacamata. Kasir itu mengetik sesuatu, lalu wajahnya berubah heran. "Untuk meja nomor empat, Pak?" "Iya." Dia menatap layar lebih lama. "Maaf, Pak. Sepertinya sudah dibayar." Aku mengerjap. "Maksudnya?" "Makanan Bapak sudah dibayar. Oleh seseorang." Aku menatap kasir itu tak percaya. "Siapa yang bayar?" Kasir itu dengan polosnya tanpa pikir panjang menunjuk ke pojok ruangan. "Wanita itu, Pak. Yang di pojok sana." Aku menoleh. Wanita cantik tadi masih di tempatnya, tapi wajahnya berubah begitu melihat jari kasir menuding. Dia sedikit mengerut, bibir mengerucut kesal, lalu menunduk sambil tersenyum canggung. Aku hampir bisa membaca pikirannya: Kasir t***l, malah ditunjuk. Wanita itu menatapku sekilas, tersenyum malu, lalu segera memalingkan muka. Aku bingung. Kenapa dia bayarin makan aku? Kita nggak kenal. Dengan langkah ragu, aku mendekati mejanya. Dia masih duduk, menyesap sisa minumannya. Begitu aku tiba di sampingnya, dia menatapku dengan tatapan tenang. "Kamu kenal saya?" tanyaku. Karena gugup, kata-kataku terdengar kaku. "Tante?" Wajahnya berubah drastis. Matanya membulat, alisnya naik tinggi. "Tante?" ulangnya dengan nada tersinggung. "Tante apaan? Saya masih muda, loh!" Dia berdiri, mengambil tas kecilnya, dan melenggang pergi dengan langkah cepat. Aku terdiam beberapa detik. Loh, marah? Tapi itu kan pancingan. Aku buru-buru mengejar. "Maaf, maaf... Kak!" Begitu kata "Kak" keluar, langkahnya melambat. Dia berhenti, lalu menoleh dengan senyum tipis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD