bab 5

759 Words
Begitu kata "Kak" keluar, langkahnya melambat. Dia berhenti, lalu menoleh dengan senyum tipis. "Kamu masih baru di sini, ya?" tanyanya. Aku mengangguk lega. "Iya, Kak. Baru datang tadi. Soalnya lapar banget, lihat tempat ini langsung masuk. Nggak tahu kalau mahal. Makasih... udah bayarin." Dia tertawa kecil. Lesung pipitnya muncul. "Sama seperti aku dulu," katanya pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri. Kami berdiri di depan restoran. Orang-orang berlalu lalang, sesekali menoleh karena wanita ini memang menarik perhatian. "Sudah dapat pekerjaan?" tanyanya. Aku menggeleng. "Belum, Kak. Baru sampai. Mau cari-cari dulu." Dia mengangguk, matanya mengamati aku dari ujung kepala hingga kaki. Aku sadar penampilanku tidak seberapa. Kaos lengan panjang biru pudar, celana jins yang mulai tipis di lutut, sepatu sneakers murahan dengan sol mengelupas. Tapi tatapannya tidak merendahkan. Ada rasa familiar di sana, seperti melihat dirinya sendiri bertahun lalu. "Namamu siapa?" Aku mengulurkan tangan. "Lazuardi. Bisa panggil Zu, Kak." Dia menerima jabatanku. Genggamannya kuat, seperti orang yang terbiasa berbisnis. "Namaku Sola." Aku mengulang namanya dalam hati. Sola. Seperti solar, tapi dengan O. Aku hampir tertawa. Aku menahannya, tapi sudut bibirku tetap naik. Sola menatapku tajam. "Kamu mau ketawa, ya?" Aku tersentak. "Nggak, Kak. Nggak sama sekali." "Bohong. Aku sudah sering lihat ekspresi kayak gitu. Setiap orang pasti gitu dengar namaku." Dia menyipitkan mata. "Sudah tahu apa yang kamu pikirkan." Aku meringis. "Maaf, Kak. Cuma... nama Kakak unik." "Unik, atau lucu?" "Unik. Pasti unik," jawabku cepat. Sola menggeleng-geleng, tapi senyumnya kembali merekah. Dia sudah terlalu sering mengalami ini. Tiba-tiba dia menghela napas. "Sudah. Aku nggak mau buang waktu. Begini, Lazuardi." Aku menegap. "Bos aku cari karyawan baru. Mau kerja di sana?" Mataku membelalak. "Kerja? Di mana?" Dia menyandarkan tubuh ke tiang parkir, melipat tangan di d**a. "Tenang saja. Perusahaan ekspor impor. Kita beli produk dari luar negeri, kadang ekspor juga ke luar. Barangnya alat-alat kecantikan wanita." Dia berhenti, menatapku. "Kamu jangan aneh-aneh ya. Aku tahu laki-laki kadang gengsi kalau berurusan dengan barang perempuan." Aku menggelang cepat. "Enggak, Kak. Kerja apa aja aku mau." "Kamu kerja di gudang dulu. Aku di bagian keuangan. Nanti kalau kerja bagus, bisa naik jabatan. Mengerti?" Aku terdiam. Ini terlalu cepat. Baru sampai kota, belum cari kos, belum apa-apa, tiba-tiba ada yang nawari kerja. Apa ini tidak aneh? Tapi aku melihat matanya. Jujur. Tidak ada niat buruk di sana. Dan aku ingat pesan ibu Riana,Rezeki itu datang tak terduga. Kalau ada pintu terbuka, masuklah. Aku berdiri tegap, mengepalkan tangan di sisi badan. "Baik, siap, Bu Boss!" seruku penuh semangat. Sola tertawa keras, sampai beberapa orang di sekitar menoleh. "Bu Boss? Panggil aku Sola aja. Atau Kak Sola." "Baik, Kak Sola." Dia menggeleng-geleng kepala, masih tersenyum, lalu melangkah menuju mobil yang terparkir di sisi jalan. Avanza merah, masih mengilap. Aku mengikuti dari belakang, masih tak percaya. Sola membuka pintu pengemudi, lalu menatapku. "Ayo naik. Aku antar kamu ke gudang. Nanti aku perkenalkan sama yang lain." Aku membuka pintu penumpang di sebelahnya, duduk dengan hati-hati. Jok kulitnya empuk, aromanya wangi campuran pengharum mobil dan parfum bunga yang lembut. Aku merasa sangat kecil di dalam sini. Bajuku yang kumal, sepatuku yang usang, ransel biru yang pudar semuanya kontras dengan kemewahan di sekelilingku. Sola menyalakan mesin. Mobil melaju perlahan. "Kamu dari Tebing Tinggi, ya?" tanyanya sambil menyetir. "Iya, Kak." "Orang Batak?" "Iya." "Orang Batak kuat kerjanya. Baguslah." Aku tersenyum tipis. "Semoga, Kak." "Pasti," katanya tegas. "Kalau kamu mau berusaha, pasti bisa." Mobil keluar dari parkiran, bergabung dengan lalu lintas kota yang padat. Aku menatap ke luar jendela. Gedung-gedung terus berganti, lampu lalu lintas berwarna-warni, orang-orang berseliweran di trotoar. "Kak Sola," kataku pelan. "Iya?" "Perusahaannya di mana, Kak? Jauh dari sini?" "Di kawasan industri, sekitar dua puluh menit dari sini kalau macet. Nanti aku tunjukkan." Aku mengangguk. Lalu bertanya lagi, "Gajinya... berapa, Kak?" Sola tersenyum. "Untuk karyawan gudang, UMR. Cukup untuk makan dan kos. Nanti kamu juga dapat uang lembur kalau ada kiriman barang." Aku menghela napas lega. Ada kepastian, meski belum tahu berapa tepatnya. Yang penting aku tidak pulang dengan tangan hampa. "Kak Sola... aku belum punya tempat tinggal. Di sekitar perusahaan ada kos-kosan?" Dia mengangguk. "Ada. Nanti aku tunjukkan satu yang lumayan. Pemiliknya kenalan aku. Kamu bilang aja dari aku, nanti dikasih harga khusus." Aku tersenyum. "Makasih banyak, Kak." "Sama-sama." Keheningan menyelimuti beberapa saat. Suara klakson dan deru mesin kendaraan lain mengisi ruang di antara kami. Tapi tidak terasa canggung. "Kamu sendiri di sini?" tanya Sola kemudian. "Iya, Kak. Nggak punya saudara atau teman. Makanya tadi pas ditawari kerja, langsung setuju. Aku nggak punya tempat tinggal juga." Sola mengangguk pelan. "Aku dulu juga begitu." Aku menoleh. "Kak Sola dulu juga merantau?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD