Sekar tidak percaya bahwa di umurnya yang ke-22 tahun ini ia harus membantu seorang detektif muda yang sedang menjalani tugas dalam menyelidiki kasus pembunuhan serta penculikan di daerah tempat ia dibesarkan. Sang detektif itu tidak salah memilih orang untuk membantu dirinya karena Sekar hampir hafal seluruh seluk beluk daerah ini, mulai dari sejarah hingga tempat tersembunyi yang dulu sering ia pakai untuk bermain dengan teman-temannya sewaktu kecil.
Di sisi lain, ia merasa permintaan tersebut terlalu menantang untuk dirinya, ia takut bahwa apa yang ia lakukan akan berdampak pada sekitarnya. Meskipun ia sudah menjadi yatim piatu sejak umur 12 tahun, tetapi ia memiliki beberapa teman akrab dan saudara yang tidak terlalu dekat.
Tetapi, ada satu hal yang membuat Sekar menyetujui permintaan sang detektif tersebut, yaitu Sekar jatuh cinta.
Ia tidak pernah merasakan perasaan begitu dahsyat dalam dirinya ketika harus berhadapan dengan seseorang laki-laki. Selama ini ia cukup banyak bertemu dengan lawan jenis dengan berbagai paras, tetapi tidak ada perasaan spesial yang ia rasakan ketika berhadapan dengan mereka. Hal tersebut berlainan ketika ia berhadapan dengan Darma.
Ya, sang detektif itu bernama Darma. Ia mempunyai kulit coklat serta hidung mancung dengan lesung pipi yang membuatnya tampak begitu mempesona meskipun lelaki itu jarang tersenyum. Awalnya Sekar berusaha untuk melupakan perasaan tersebut, tetapi mengetahui bahwa lelaki itu juga belum memiliki pasangan, setidaknya Sekar tidak merasa bersalah akan perasaan yang ia miliki meskipun ia sadar diri dengan posisinya.
Oh, ia tidak mungkin seberani itu untuk menyatakan bahwa ia suka dengan Darma. Tidak mungkin.
Satu hal yang pasti, Sekar selalu berusaha berpenampilan cantik di depan lelaki itu, ia memiliki rambut bergelombang berwarna kemerahan yang cukup sulit di atur, alhasil ketika ia akan bertemu dengan Darma, ia akan meluangkan waktu selama dua jam sebelum waktu bertemu mereka tiba.
Ia selalu menahan diri dari berpacaran maupun pergaulan bebas meskipun ia hidup sebatang kara, ia tidak ingin mendapatkan pasangan yang datang dari lingkungan sekitarnya, ia ingin mendapatkan pasangan yang baik, berwibawa, dan seperti Darma.
Sekar terkikik dengan pemikiran nya sendiri, ia terlalu naif.
Sekarang Sekar sepertinya sudah siap untuk berangkat menemui Darma, ia memakai celana jeans dengan dipadukan atasan blouse berwarna hitam dan memakai riasan tipis. Tak lupa ia juga memasukkan laptop serta beberapa foto yang ia siapkan untuk ditunjukkan kepada Darma terkait orang incaran dari kasus ini.
Setelah itu, Sekar pun meluncur ke tempat dimana Damar meminta bertemu.
******
Sekar datang tepat 10 menit sebelum waktu pertemuan yang mereka janjikan, ketika ia hendak memasuki suatu bangunan tua sempit tersebut, ia menghentikan langkahnya karena ia mendengar suara yang tidak asing.
"Si Sekar habis ini datang kesini, Pak?"
Tidak ada suara tanggapan yang terdengar dari pertanyaan tersebut.
"Kayaknya Sekar ini semangat sekali, ya, kalau diajak bertemu membahas tentang kasus kita,"
"Iya, belum lagi kalau lihat Pak Darma kayak lama banget tatapannya,"
Sekar yang mendengar hal tersebut sontak pipinya memerah.
'Apa terlalu terlihat bahwa aku suka dengan Pak Darma?' Gumam dalam hatinya.
"Wah, tanda-tanda itu, Pak." Sahut suara lain.
"Hei, kalian ini jangan sembarangan jodohin Darma, aku tahu tipe dia ini yang kayak gimana. Mantan-mantan dia rambutnya lurus semua, dari kalangan atas, yang kayak Sekar itu nggak ngaruh ke Darma."
Sekar yang mendengar hal tersebut sontak senyumnya luntur, ia tahu itu suara siapa. Rekan Darma yang kurang ramah ketika berinteraksi dengan dirinya. Sekar mudah menebak suara tersebut, karena rekan Darma itu termasuk seseorang yang jarang berbicara. Ketika ia mengucapkan sebuah kalimat, maka besar kemungkinan bahwa kalimat tersebut benar adanya.
"Oh, jadi yang kayak Sekar itu nggak masuk tipenya Pak Damar, ya?"
"Kamu nilai saja sendiri. Aku yakin Damar tidak sebodoh itu untuk cari jodoh di daerah seperti ini."
Sekar pun mulai memundurkan langkahnya meninggalkan tempat tersebut, ia akan menemui pria itu setelah ia bisa menenangkan dirinya dari ucapan para rekan Damar. Sekar melangkahkan kakinya menuju supermarket kecil yang terletak di ujung gang, ia butuh waktu untuk menerima kenyataan.
Setelah 20 menit menghabiskan waktu, Sekar pun memasuki tempat dimana Damar sudah menunggu dirinya. Ia sempatkan untuk menghapus seluruh make up menggelikan yang ia pakai dan ia akan menuntaskan urusan dengan pria itu secara cepat.
"Kamu terlambat." Sambut Damar.
"Maaf." Hanya itu yang dikatakan Sekar tanpa sebuah alasan.
Lantas Sekar pun mengeluarkan semua foto dan laptopnya untuk mulai menjelaskan kepada pria itu bagaimana gerak-gerik dari target yang mereka inginkan. Sedangkan Damar memperhatikan Sekar yang tampak terburu-buru dalam menjelaskan dan tidak mengangkat wajahnya sama sekali.
"Kamu ada urusan setelah ini?" Tanya Damar.
"Ya." Jawab Sekar dengan kembali memasukan laptopnya.
"Lusa kita akan mengawasi dia di tempat kerjanya, kamu tau kan tempat itu?"
Sekar mendengar perintah tersebut dan hanya mengangguk. Tetapi ia kemudian mengangkat kepalanya untuk memastikan ucapan Darma.
"Kita?" Tanya Sekar.
"Ya, hanya kita berdua. Salah satu rekanku sudah mulai dicurigai oleh target, terpaksa kita akan turun langsung untuk mempercepat penangkapan," Jelas Darma.
Sekar menghela napas berat mendengar hal tersebut. Tandanya sebentar lagi kasus ini akan selesai dan dia bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang tanpa bertemu dengan pria itu.
'Baguslah.' Batin Sekar.
"Baiklah."
******
Saat ini tibalah waktu Sekar dan Darma mengawasi target secara langsung. Sekar tidak mengira bahwa ia disuruh memakai pakaian yang menurutnya kurang bahan ini untuk bisa masuk ke dalam bar tempat dimana target bekerja.
"Aku akan mengawasimu dari belakang dan ini untuk pertahanan diri," Darma memberikan sebuah belati berukuran sedang yang bisa Sekar gunakan jika keadaan sudah terancam.
Setelah menerima belati tersebut, Sekar mulai membuka jaket yang menutupi tubuhnya dari pakaian tidak nyaman ini. Sontak Darma terpaku melihat penampilan Sekar. Ia bahkan masih belum bisa mengalihkan pandangannya dari ujung kepala hingga ujung kaki yang menurutnya sangat cantik.
Ia terbisa melihat Sekar selalu memakai pakaian yang tertutup dan longgar, tetapi sekarang ia hampir tidak bisa berkata-kata.
"Pak? Saya akan masuk kedalam," Panggil Sekar kesekian kalinya.
"Ehm. Ya, aku mengawasimu dari belakang."
Selanjutnya, Sekar melangkahkan kakinya yang jenjang masuk ke dalam bar. Ia pun mulai menolehkan kepalanya untuk mencari target, setelah ia menemukan keberadaannya, Sekar mulai mendekatkan posisinya kepada pria itu. Sedangkan, target tersebut mulai menunjukkan ketertarikan kepada Sekar.
Mereka mulai mengobrol dan saling menunjukkan sinyal ketertarikan, Sekar masih menjaga jarak dari pria tersebut meskipun cukup sulit karena pria itu tetap menggeser tubuhnya mendekat. Darma yang melihat hal tersebut sontak mendekatkan jarak pengawasannya, ia tidak mungkin membiarkan lelaki itu menyentuh Sekar.
"Bagaimana kalau kita melanjutkan pembicaraan diatas?" Tawar Sekar dengan senyum menggoda.
"Dengan senang hati," Terima pria tersebut.
Sekar pun memilih salah satu ruangan yang dicurigai Damar dimana banyak barang bukti disana. Sejunurnya Sekar takut dengan apa yang ia lakukan, tetapi ia berusaha untuk percaya diri agar pria di depannya ini tidak curiga.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan yang mewah dan banyak alat-alat aneh yang Sekar tidak mengerti. Ketika lelaki itu berbalik badan untuk memilih beberapa minuman alkohol yang tersimpan pada lemari kaca, Sekar dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto serta video dari keadaan sekitarnya.
Selanjutnya mereka kembali melanjutkan obrolan. Namun, saat ini sepertinya lelaki itu semakin berani dengan mengenduskan kepalanya pada leher Sekar dan Sekar pun menolak dengan halus, tetapi lengan nya membelit pinggang Sekar dengan erat hingga membuat ia kesusahan untuk menjauhkan diri.
Sekar semakin memberontak ketika lelaki itu mulai mengecup pipinya, sontak Sekar mendorong lelaki itu dengan keras dan bersamaan dengan Damar yang mendobrak pintu ruangan, diikuti beberapa rekannya. Tubuh Sekar ditarik ke arah Damar lalu ia dipakaikan jaket yang menutupi tubuh Sekar.
Proses penangkapan pun berlangsung dengan cepat dan pelaku sudah telungkup dengan tangan yang di borgol. Sekar menghela napas lega.
'Akhirnya selesai juga' Batin Sekar.
Setelah proses penangkapan, seluruh rekan Damar tengah bersiap untuk mengamankan pelaku ke kantor polisi dan tersisa Damar dan Sekar berdua.
"Kalau begitu saya per-"
"Aku antar." Potong Damar cepat.
Damar pun langsung menarik tangan Sekar untuk masuk kedalam mobilnya, ia tidak membiarkan Sekar beralasan untuk memisahkan diri kembali.
Setelah beberapa menit, mobil sudah mendekati area rumah Sekar.
"Terima kasih, saya-" Sekar menghentikan ucapannya karena posisi Damar saat ini sangat dekat dengan dirinya.
"Boleh saya menciummu, Sekar?" Tanya Damar dengan suara rendah.
End.