"Akhirnya, Cinderella menikah dengan Pangeran dan hidup bahagia. Selamanya." Aku menutup buku di tangan, lalu menyimpannya di atas meja. Sayang, anak yang sedari tadi mendengarkan ternyata belum jua tertidur. "Jadi Cinderella dan Pangeran tinggal di istana?" tanya Salwa. "Ya." Kusingkirkan beberapa helai rambut di keningnya. Sepertinya benar apa yang dikatakan anak ini. Poninya harus segera dipotong. "Jadi ... Cinderella enggak kesusahan lagi, dong?" tanya anak itu lagi. "Enggak," jawabku malas. "Cinderella enggak dijahatin lagi sama kedua saudaranya?" "Enggak." "Ibu tirinya enggak bisa marah-marahin Cinderella lagi?" "Enggak, enggak. Pokoknya Cinderella hidup bahagia sama Pangeran, enggak ada yang ganggu," pungkasku. Salwa tersenyum memperlihatkan giginya. "Cepet tidur. Ayah u

