bc

Dokter Duda Milik Gadis Manja

book_age18+
197
FOLLOW
2.8K
READ
family
age gap
blue collar
sweet
city
actor
like
intro-logo
Blurb

Fabbyan baru saja sah menjadi duda setelah sang istri yang bernama Rania meninggal dunia karena melahirkan anak pertama mereka. Lollyta, si gadis cantik, centil dan humoris langsung menyatakan cinta untuk menghibur hati Fabbyan yang sedang hancur saat itu. Hubungan Fabbyan dan Lollyta semakin dekat saat keluarga Lollyta mengasuh si bayi kecil Rayyan, anak laki-laki Fabbyan dan Rania. Bagaikan keluarga yang harmonis, keberadaan Lollyta di samping Fabbyan dan Rayyan membuat sang dokter bedah itu selalu tersenyum. Namun, Lollyta memiliki hubungan yang rumit dengan Arvino, sang dokter muda yang enggan putus dengan Lollyta. Apalagi keluarga Lollyta dan Arvino sangat dekat dan berencana untuk menikahkan Lollyta dengan Arvino. Disisi lain, keluarga Fabbyan tak suka dengan keluarga Lollyta hingga akhirnya mereka ingin mengambil Rayyan dan menyuruh Fabbyan pindah tugas ke rumah sakit milik keluarga Fabbyan. Hal itu membuat Rayyan dan Lollyta sedih karena keduanya sudah memiliki ikatan seperti seorang ibu dengan anaknya.Lalu keputusan apa yang akan Fabbyan ambil? Serta bagaimana cara Lollyta agar dia tidak jadi dijodohkan dengan Arvino? Apakah pada akhirnya Lollyta dan Fabbyan bisa bersatu menjadi sepasang suami istri?

chap-preview
Free preview
Bab 1. Ungkapan Cinta
"Buk, ini ada apa sih? Kenapa tuh keluarga Pak dokter kok pada nangis?" tanya Lollyta yang baru saja bangun tidur karena mendengar suara ramai dari depan rumahnya. "Bu Rania, istri Pak dokter meninggal saat melahirkan bayinya tadi siang, Lol," jawab Ibu Lollyta dengan wajah sedih. Mata Lollyta membelalak tak percaya, dengan wajah shocknya dia berkata, "Alhamdulillahi rabbil 'aalamiin." Sambil mengelus dadanya sendiri. Semua orang yang berkumpul langsung menatap ke arah Lollyta dengan tatapan shock, ada juga yang sedang menahan diri untuk tidak tertawa gara-gara mendengar ucapan Lollyta. Karena merasa malu, Hartini, ibu Lollyta langsung memukul kepala anak perempuannya dengan cukup keras, hingga membuat Lollyta terpekik karena kesakitan. "Aw, sakit lah Buk, Ibuk kenapa pukulin Lolly?" protes Lolly mengelus kepalanya sendiri. "g****k kamu! Ada orang meninggal harusnya bilang innalilahi wa innailaihi rojiun, bukannya malah bersyukur ngucap alhamdulillah. Sumpah ya, kamu emang malu-maluin ibu!" sentak Hartini berkacak pinggang. Lollyta meringgis, memperlihatkan giginya yang putih dan rapi. "Perasaan tadi Lolly ngomong innalilahi loh Buk, sumpah, kok bisa ya, yang keluar dari mulutku malah alhamdulillah," cicitnya tak habis pikir. Kembali Hartini memukul Lollyta, namun kali ini di pantatnya. "Ganti baju kamu, cepetan! Anak perawan keluar rumah cuma pakai hotpants dan tenktop, malu lah, Lol. Terus, kamu harus bantuin persiapan acara pemakamannya Bu Rania!" perintahnya dengan nada galak dan tegas. Lollyta hanya mengangguk dan buru-buru masuk ke dalam kamarnya untuk berganti baju. "Hem, kasihan sekali Pak Dokterku yang tampan, dia malah jadi duda. Cekk, cita-citaku jadi pelakor kandas, apalagi jadi madunya Bu Rania, sial sekali hidupku ini. Kan, kan, jalan mendekati Pak Dokter malah semakin mudah, mungkin ini adalah jawaban doaku selama ini. Oke, aku rela jadi istri duda beranak satu, sabar ya Pak Dokter, Lolly akan menghibur kesedihanmu dan menghapus air matamu," gumam Lollyta sambil memakai gamis berwarna hitam. Baru saja Lollyta melangkahkan kaki keluar dari rumah, ada mobil ambulance yang berhenti tepat di depan rumahnya. Petugas ambulance itu lalu menurunkan jasad Rania dan seorang pria tampan turun dengan mata memerah karena terlalu banyak menangis. Pria tampan itu adalah seorang dokter spesialis bedah, bernama Fabbyan, pria yang Lollyta kagumi sejak pertama kali mereka bertemu di satu tahun yang lalu, meski usia mereka berjarak 12 tahun. Lollyta menghela napas panjang, dia merasa iba melihat Fabbyan. "Pengen deh, peluk Pak Dokter, kasihan sekali dia, pasti dia benar-benar sedih kehilangan wanita yang dia cintai. Tenang Pak Dokter, Lolly berjanji akan mengantikan posisi Bu Rania," batinnya lalu melangkahkan kaki pergi ke rumah duka. Gadis itu membantu persiapan upacara pemakaman Rania dengan semangat, sebagai yang lebih muda jelas dia yang paling banyak di suruh-suruh oleh para ibu-ibu senior. Namun, bagi Lollyta, tak masalah, itu karena dia berkesempatan mondar-mandir keluar masuk ke dalam rumah Fabbyan. Apalagi pria yang baru saja berstatus menjadi duda itu hanya terduduk lemas menatap jasad sang istri di dalam ruang tamu. Jam sudah menunjukkan pukul dua malam, semua persiapan sudah selesai, para tetangga mulai pulang. Termasuk anggota keluarga Fabbyan dan keluarga almarhumah Rania yang sudah pergi ke hotel, tempat mereka menginap karena kelelahan. Hanya Fabbyan yang masih setia duduk di depan jasad Rania. Saat Lollyta hendak pulang ke rumah, gadis itu merasa tidak tega meninggalkan Fabbyan seorang diri dalam keadaan kelaparan. Dengan sigap Lollyta langsung berlari ke dapur, dia membuatkan mie kuah dengan sawi dan telur, tak lupa juga membuatkan segelas teh hangat untuk Fabbyan. Lollyta duduk dan berdeham untuk membersihkan tenggorokannya. "Pak Dokter, pasti belum makan kan? Ayo dimakan dulu! nanti Pak Dokter sakit," ucapnya dengan suara lembut dan hati-hati. Fabbyan menatap wajah Lollyta sebentar, lalu kembali menatap jasad istrinya. "Aku nggak lapar, Lol, makasih perhatiannya. Bagaimana aku bisa makan sedangkan aku melihat istriku meninggal dunia di hadapanku. Semua ini salahku, Lol, Rania meninggal karena aku." Air mata Fabbyan terlihat menetes di pipinya. Lollyta semakin merapatkan tempat duduknya pada Fabbyan. "Pak, kematian itu takdir yang maha kuasa, kita nggak bisa melawan takdir. Bapak kan masih punya dedek bayi, kalau Bapak sakit terus siapa yang rawat dedek bayi? Gini deh Pak, kalau Pak Dokter mau makan sekarang, Lolly janji bakal bantuin rawat dedek bayinya, Lolly kan anak tunggal, Ibu Lolly kan pengangguran, nah dedek bayinya di asuh Ibu Lolly aja ya, jadi Lolly bisa bantuin jaga dedek bayinya kalau Lolly pulang kuliah, Pak." Fabbyan menghela nafas panjang, dia mengangguk lemah. Pasalnya dia dan Rania berasal dari kota lain. Jadi Fabbyan memang membutuhkan orang untuk merawat bayinya, dia tak mau jika sang bayi di bawa keluar kota oleh keluarganya atau keluarga Rania. Jadi tawaran Lollyta benar-benar menggiurkan, satu masalah akhirnya teratasi, sedari tadi Fabbyan memang memikirkan hal itu. Lollyta tersenyum, dia mengangkat mangkuk yang ada di depan Fabbyan dan memberikannya pada Fabbyan. "Mau makan sendiri apa disuapin sama Lolly?" tawar Lollyta serius, dia sedang tidak bercanda. Fabbyan tersenyum tipis lalu mengambil mangkuk yang di berikan Lollyta padanya. "Aku bisa makan sendiri, Lol, karena hatiku yang sakit bukan fisikku," jawabnya menatap wajah cantik Lollyta. Lollyta tersenyum manis, dia terus menatap Fabbyan yang sedang makan. "Pak, dedeknya cowok apa cewek?" tanyanya penasaran. "Cowok," jawab Fabbyan setelah menelan makanannya. "Wah pasti ganteng banget kayak Pak Dokter, Lolly janji deh bakal kelonin dia setiap malam kalau Pak Dokter lagi dinas malam, Lolly kan emang pengen punya adek cowok, apalagi Ibu, dia pasti langsung melupakan Lolly dan malah fokus merawat dedek bayinya Pak Dokter," cicit Lollyta dengan mata berbinar-binar. Fabbyan berhenti mengunyah karena mienya sudah habis, dia mengambil gelas, dan menyesap teh hangatnya. "Dia memang tampan, tapi wajahnya mirip ibunya, dia Rania versi laki-laki," jawabnya sambil menatap jasad Rania. "Nama Dedek bayinya siapa Pak Dokter?" tanya Lollyta tidak sabaran. "Aku belum tau, dia masih belum punya nama." Fabbyan kembali menatap jasad istrinya. "Rania hanya menyiapkan nama bayi perempuan karena saat di USG bayi kami selalu perempuan." "Em, gimana kalau di kasih nama Rayyan aja Pak? Gabungan dari nama Rania dan Fabbyan, cakep kan, Pak?" usul Lollyta. Fabbyan menatap wajah Lollyta, mengangguk dan tersenyum. "Iya bagus juga idemu, kalau gitu aku akan kasih nama anakku Rayyan Yudhistira." Yudhistira sendiri adalah nama belakang Fabbyan. "Sip bagus banget Pak namanya. Sekarang Pak Dokter jangan nangis lagi ya, jangan sedih. Tenang ada Lolly di sisi Bapak, Lolly janji bakal menyembuhkan hati Pak Dokter dan mengantikan Bu Rania di sisi Bapak. Saya mencintai Pak Dokter, saya bersedia jadi istri Bapak, kalau Pak Dokter mau cari istri lagi." Tanpa rasa berdosa, Lollyta berani menyatakan cinta di hadapan jasad Rania. Fabbyan terkejut, waktu seakan membatu, bagaimana tidak, baru beberapa jam yang lalu dia menjadi duda, eh ada gadis perawan cantik yang menyatakan cinta pada dirinya. Melihat expresi aneh di wajah Fabbyan membuat Lollyta jadi ketakutan. Buru-buru dia mengambil mangkuk dan gelas yang ada di hadapan Fabbyan, dia hendak kabur meninggalkan Fabyyan sebelum pria tampan nan mapan itu tersadar. "Maaf Pak, nggak usah dijawab sekarang, dijawab besok saja kalau Pak Dokter sudah berencana mau punya istri lagi," cicit Rania, lalu meninggalkan Fabbyan sendirian. Fabbyan terkekeh pelan, dia menggelengkan kepalanya. "Dasar gadis kecil yang nakal, berani sekali dia merayu dan menggoda seorang duda. Ternyata selama ini ada yang mengharapkan aku menjadi duda, dasar Lollyta si gadis genit," gumam Fabbyan dalam hati sambil menyisir rambutnya dengan tangan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
68.6K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook