Setelah pergi ke dokter, sepanjang perjalanan aku hanya mendengar omelan dari Pak Arvian. Ia marah karena aku yang tidak terbiasa makan pedas tiba-tiba dengan penuh percaya diri menghabiskan seblak Mang Ucup. "Pak, bisa diam enggak sih? Iya, saya tahu saya salah." "Kamu marahin saya?" Tanya Pak Arvian dengan ekspresi tidak percaya. "Saya enggak marahin Bapak kok, lagi pula saya begini juga karena Bapak." "Kamu salahin saya?" Aku menganggukan kepalaku, "Iya, gara-gara Bapak!" "Salah saya apa? Yang pesan kamu, yang makan kamu, yang habisin kamu, yang sakit perut juga kamu. Letak kesalahan saya dimana nona Kinera yang terhormat?" "Semua hal yang Bapak sebutin tadi dapat terjadi karena saya kesal. Nah, penyebab saya kesal itu Bapak. Jadi, semua salah Bapak." Pak Arvian menatapk

