Setiap malam aku memang selalu menyiapkan secangkir cokelat hangat dan camilan untuk Pak Arvian. Entahlah, mungkin hal ini sudah menjadi kebiasaanku setelah tinggal di rumah Pak Arvian. Jangan salah paham, aku melakukan ini karena semata-mata perasaan balas budi kok, bukan karena perhatian. Aku tegaskan sekali lagi ya, aku enggak peduli sama Pak Arvian. "Pak, lembur lagi?" Pak Arvian menganggukkan kepalanya, "Kerja keras bagai kuda, sampai lupa orang tua." Rasanya aku ingin langsung menimpuk muka Pak Arvian ketika dia melantunkan kalimat tersebut dengan nada yang sama seperti pada salah satu iklan. "Pak, kenapa sih ngelawak mulu?" "Enggak cocok?" "Kalau karyawan di perusahaan tahu tingkah asli Bapak kayak gini, saya pastikan mereka bisa kena serangan jantung semua." "Lebay kamu."

