Untuk bisa membawa Pak Arvian ke restoran itu perlu perjuangan yang cukup besar. Pak Arvian tiba-tiba bilang malas pergi dan ingin tidur langsung membuatku kelabakan. Bayangkan saja, aku sudah menghabiskan tabunganku segitu banyak, masa berakhir sia-sia? Ketika mengingat perjuanganku meminta tambahan gaji ke Pak Arvian demi melangsungkan acara ini, aku pun tak segan untuk langsung mengerahkan seluruh tenagaku agar Pak Arvian mau datang. "Pak, buruan pergi, saya sudah siap." "Untuk apa? Saya malas." Aku memasang wajah sedatar triplek, "Saya laper, Pak." "Tinggal makan aja Kin." "Tapi maunya makan di situ." Pak Arvian yang masih duduk selonjoran di sofa hanya menatapku sekilas lalu kembali menatap layar ponselnya, "Saya tiba-tiba ngantuk Kin, mau tidur." "Pak, sini deh." Ujarku me

