Sosok di Masa Lalu

1814 Words
Sesampainya di rumah, ibu menelepon Tante Winda, ibu bilang kalau ia tidak bisa bekerja hari ini karena sedang sakit. Aku pun memeriksa dahi ibu seperti yang ibu selalu lakukan padaku saat aku sakit. "Jidat Ibu nggak panas," ujarku pelan. Ibu hanya menggeleng dan membawa tanganku ke arah dadanya. "Yang di dalam sini yang sakit, Sayang." Ibu kembali menangis yang membuatku bingung. Aku memilih untuk memeluk Ibu dan menepuk bagian belakang tubuhnya seperti yang selalu Ibu lakukan saat aku menangis. "Ibu jangan nangis, Ute jadi sedih." Ibu mengelus punggungku dengan lembut dan membalas pelukanku dengan erat. Ia mencium kepalaku berkali-kali dan menyuruhku untuk tidur. "Sekarang Ute bobok ya?" "Kalau Ute bobok Ibu nggak akan nangis lagi?" tanyaku pelan. Ibu mengangguk singkat yang membuatku menyamankan diri di dalam pelukannya. "Kamu malaikat pelindung dan penguat Ibu, Sayang. Cuma kamu." Setelahnya aku tertidur dengan lelap. "Aku udah bawa Dirga pulang, sekarang kamu bisa taruh Ute di kamar." Suara Om Yoga kini terdengar. Aku bisa merasakan pelukan Ibu di tubuhku menguat. Apa ini mimpi? "Aku nggak mau kamu macem-macem." "Aku nggak akan macem-macem Sekar! Aku cuma mau penjelasan!" "Tolong jaga nada suara kamu Yoga!" "Kenapa? Kenapa kamu pergi ninggalin aku gitu aja Sekar?" Ibu masih terdiam sampai Om Yoga kembali bertanya. "Kamu selingkuh?" "Tuduhan yang luar biasa Yoga, untuk apa aku hidup di dalam penderitaan seperti ini hanya karena selingkuh." "Kamu ninggalin aku! Delapan tahun Sekar! Delapan tahun! Dan sekarang aku ketemu kamu dan kamu ... kamu udah punya anak." "Kamu nggak ngerti Yoga." "Nggak ngerti apa? Pulang KKN aku nyari kamu muter-muter Yogyakarta, Surabaya! Nyari kamu ke keluarga kamu tapi mereka semua bungkam. Mereka bilang kamu pergi—" "Aku diusir!" potong Ibu. Tubuh ibu kini bergetar pelan, dan air mata hangat perlahan jatuh di tanganku. "Kenapa... kenapa kamu diusir?" "Aku dilecehkan Yoga, aku korban perkosaan..." Suara Ibu terdengar begitu lirih. Ia terisak semakin hebat. Aku menggeliat pelan di dalam pelukan Ibu yang membuat Ibu menepuk punggungku dengan lembut, mencoba kembali menenangkanku. Tidak lama, Om Yoga mengambil alihku dari gendongan Ibu dan menyamankanku di tubuhnya. Ibu sempat menolak, tapi Om Yoga pada akhirnya berhasil membawaku ke dalam gendongannya. "Siapa... siapa pelakunya?" "Aku nggak ingat siapa orangnya. Kejadiannya begitu cepat. Hari itu aku pulang kuliah sendirian karena teman kamarku di kostan sakit. Mulutku dibekap dan wajahku dimasukan ke dalam sebuah tas tenteng. Aku lalu dimasukan ke dalam mobil. Aku menangis meraung-raung minta pertolongan dan menyebut nama kamu, tapi nggak ada satu orang pun yang datang untuk menyelamatkan aku! Satu-satunya yang kuingat cuma suara b******n itu." "Kenapa kamu nggak bilang sama aku, Sekar?" "Dan mempermalukan diri aku sendiri setelah nanti kamu ninggalin aku karena aku kotor?" "Sekar..." "Aku nggak butuh untuk dikasihani, Yoga." "Setidaknya kamu nggak harus menderita dengan hidup sendiri dan dikucilkan seperti ini!" "Tau apa kamu soal hidup aku Yoga?!" "Sekar, aku sempat dengar dari mulut anak kamu sendiri soal dia yang disebut dengan anak haram sama orang-orang di sekitarnya tanpa kamu tau. Kenapa waktu itu kamu nggak bilang? Korban p*********n bisa menggugurkan kandungannya. Kita mahasiswa hukum saat itu dan seharusnya kamu tau!" "Semua terlambat, Yoga. Aku mengurung diriku sejak kejadian itu. Lalu kabar duka itu datang, Ayah meninggal. Aku pulang ke Surabaya mengabaikan kondisi kejiwaanku yang masih tercabik kala itu. Aku bahkan tidak sempat berpikir untuk memberitahu keluargaku akan kejadian itu setelah berita duka datang. Aku tidak ingin menambah beban untuk kakak yang baru saja kehilangan calon anak keduanya dan juga Ibu. Dua bulan kemudian aku mulai menyadari perubahan yang ada di dalam tubuhku, sedangkan batasnya empat puluh hari." "Aku bahkan nggak punya visum, Yog." "Sekar..." "Keluargaku bahkan nggak mau menerimaku dan menganggapku sebagai sebuah aib. Kakek mengusirku dari Surabaya dan menyuruhku untuk tinggal bersama Bibi di sini. Di bulan ketujuh kehamilanku, Bibi meninggal karena serangan jantung hingga aku hidup sendirian sampai saat ini." "Tolong jangan lihat aku dengan pandangan seperti itu, Yoga. Hidupku memang menyedihkan, tapi aku masih bersyukur mempunyai anak seperti Ute." "Kamu meminta penjelasan bukan? Aku rasa sekarang sudah mendapatkan semua yang kamu mau." "Kenapa kamu nggak minta tolong saat ada aku waktu itu?" "Nggak ada yang bisa menolongku waktu itu, termasuk kakak dan Ibu. Sekarang yang ada untukku hanya anak aku." Ibu kembali mengambil alih aku dari gendongan Om Yoga, dan aku sudah bangun sepenuhnya. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tetapi baik Ibu dan Om Yoga terlihat habis menangis. "Ute udah bangun Sayang?" tanya Ibu. Aku mengucek mataku sebelum mengangguk. Ibu kemudian membuka pintu rumah kami dan mempersilakan Om Yoga untuk keluar. Om Yoga bangkit dari duduknya dan kini berdiri di hadapanku yang sedang digendong oleh Ibu. "Ute, jadi anak baik buat Ibu ya?" ucap Om Yoga sambil mengelus kepalaku dengan lembut. Perkataan Om Yoga mengingatkanku dengan Paman Aksa. Paman Aksa juga selalu mengatakan hal yang sama kepadaku. "Terima kasih untuk jawaban dan penjelasan kamu Sekar, aku minta maaf kalau mengorek luka lama kamu." Tangan Om Yoga terjulur untuk merapikan rambut Ibu. Air mata ibu kembali terjatuh yang membuatku memeluk kembali lehernya. "Ibu, Ute tidur lagi ya biar Ibu nggak nangis lagi?" Isakkan ibu terdengar semakin kencang, dan Om Yoga kini membantu ibu mengusap air matanya. "Kamu adalah Ibu yang hebat, Sekar." *** Bunda Dirga sudah diperbolehkan untuk pulang, jadi Om Yoga kembali pulang ke kampung halamannya. Sebelum pulang, Om Yoga sempat main ke rumah untuk bertemu denganku dan Ibu. Om Yoga bilang ia akan mampir lagi nanti, Om Yoga harus pergi karena ia bekerja seperti ibu di tempat nan jauh di sana. Om Yoga menasihatiku untuk menuruti ibu dan jadi anak baik. Ia juga memberiku tas dan tempat pensil baru. Ia juga mengajakku berkeliling bersama Dirga ke pasar malam dekat rumah kami dan membeli beberapa jajanan. Ibu sebetulnya diajak oleh Om Yoga, tetapi Ibu menolak dan memilih untuk membantu mengurus baby Stefan, anak dari Tante Winda. Setelah kepergian Om Yoga, Ibu menjadi lebih banyak murung. Ia bahkan kadang tidak menyahut saat aku terus memanggilnya. Kini tiap malam Ibu selalu memelukku dengan erat dalam tidurnya, padahal sebelumnya pasti bantal guling yang dipeluk. Mungkin karena tinggiku yang sudah sama seperti bantal guling jadi Ibu meninggalkan gulingnya dan memilih untuk memelukku. Hari ini Om Randi dan Paman Aksa mengajakku dan baby Nindy untuk pergi ke danau. Mereka bilang kami akan naik bebek-bebekan bersama di danau. Meskipun awalnya ibu tidak mengizinkan, tetapi Om Randi bisa meluluhkan ibu dengan alasan hanya sebentar. Aku memilih bebek berwarna merah yang memiliki nomor empat. Om Randi dan Paman Aksa pun menyetujui. Paman Aksa memangkuku dan Om Randi memangku Nindy. Paman Aksa dan Om Randi mulai mengayuh bebek merah kami hingga mulai berjalan perlahan ke arah tengah danau. Aku sebetulya ingin ikut mengayuh, tetapi kakiku terlalu pendek untuk melakukannya. "Ute kapan ya bisa setinggi Ibu? Ute mau ikutan ngayuh." "Nanti kalau Ute udah SMA, Ute pasti tinggi kayak Ibu," timpal Om Randi. "SMA itu masih lama nggak sih Om?" "Nggak akan lama kalau Ute terus giat belajar," kata Paman Aksa. Sepanjang kami berputar-putar Om Randi bernyanyi mulai dari lagu Pada hari minggu sampai lagu tak tun tuang. Om Randi mengganti liriknya menjadi 'Ute belum mandi' yang membuatku tertawa. Sore ini memang aku belum mandi karena Paman Aksa dan Om Randi langsung mengajakku pergi. Paman Aksa tidak ketinggalan untuk ikut bernyanyi bersama kami dengan suara bagusnya. "Suara Om Randi sama Paman Aksa bagus," pujiku dengan kagum. "Kalau Om Randi sih jelas Ute, kan dulu Om anak band. Mas Aksa emang anak band juga?" tanya Om Randi. "Anak band itu apa Om?" "Anak keren yang suka mainin alat musik. Pokoknya nanti Ute bakal tau deh." Aku pun memikirkan Alen yang jago memainkan pianika. Ia terlihat keren saat memainkan pianika. Apa Alen juga anak band? "Kayak Alen ya berarti Om?" "Alen siapa?" tanya Om Randi bingung. "Anak Ibu Siska, yang ada di RW 10," timpal Paman Aksa. "Bukan! Pokoknya alat musiknya yang keren," sanggah Om Randi. "Kan Om bilangnya alat musik tadi," timpalku yang membuat Paman Aksa tertawa. Angin yang berhembus kencang membuat rambutku menutupi wajah. Paman Aksa merapikan dan mengikatnya agar rambutku tidak menghalangi pandanganku. "Om! Ayo nyanyi yang ada trilililili nya!" ajakku ke Om Randi. Om Randi mengangguk dan mulai bernyanyi. "Di pucuk pohon cemara, burung kutilang berbunyi..." "Bersiul, siul sepanjang hari... dengan tak jemu jemu..." lanjut Paman Aksa. "Mengangguk angguk sambil berseru." Suara Paman Aksa dan Om Randi kompak. "Trilili lili lilili!" sahutku. "Ute payah nih, taunya bagian trilililili nya aja," ledek Om Randi yang membuatku memanyunkan bibir. "Ute kalau denger lagu odong-odong sepotong-sepotong," jawabku jujur sambil memamerkan sedikit gigi. "Itu juga kalau Nindy naik. Ute udah kegedean buat naik itu," ungkapku sedih. "Nanti Paman ajak naik wahana ya, kapan-kapan kita ke Dufan," kata Paman Aksa yang membuat mataku berbinar. "Ada odong-odong buat Ute di sana?" Om Randi tertawa renyah dan Paman Aksa mengulum senyum sebelum mengangguk. "Odong-odongnya lebih bagus, bentuknya kuda. Yang jelas Ute bisa naik." "Yeay!" pekikku girang. Aku terus bernyanyi sementara Om Randi dan Paman Aksa sibuk berbincang. "Mas Aksa, Mas baik banget sama Ute. Saya aja yang suaminya sahabat Sekar belum tentu bisa memperlakukan Ute sebaik Mas ini." "Ute anak baik, sudah seharusnya dikelilingi orang baik dan yang sayang sama dia juga." "Utenya aja Mas? Nggak Ibunya juga?" "Kayaknya topiknya udah kejauhan deh, Ran. Kita lagi bahas Ute kan?" "Oh iya Mas, Mas asalnya mana?" "Saya asal Solo. Tapi tinggalnya di Yogyakarta karena kuliah di sana juga." "Wah, Yogyakarta tempat keren tuh Mas. Surga buat musisi jalanan." "Saya juga dulu sempat jadi bagian dari mereka, tapi saya berhenti saat kena polip." "Waduh, serius Mas?" "Ya, posisi saya kan vokal waktu itu, cuma karena polip ini suara saya berubah jadi serak. Ditambah hampir tiap hari saya sama temen-temen nyanyi di sekitaran Malioboro." "Terus gimana Mas?" "Saya operasi pita suara," jawab Paman Aksa. "Ah, tapi itu nggak ngefek sama suara Mas sekarang kan?" "Nggak, hanya saat polip itu aja suara saya jadi serak. Setelah operasi semuanya kembali seperti semula. Saya juga milih untuk nggak nyanyi lagi." "Sayang banget ya Mas, padahal Mas ada bakat. Mungkin kalau Mas dan teman musisi Mas sukses, Mas bisa kayak Duta Sheila On 7." "Bisa aja kamu, Ran." "Ah, kapan Mas operasinya?" "Sekitar delapan tahun yang lalu." "Wah, udah lama ya berarti? Anak tujuh tahun setengah aja udah segede Ute." "Ya, cukup lama." Suara panggilan dari ponsel Om Randi membuat percakapan mereka terhenti. Paman Aksa menguncir rambutku dengan ikatan rambut bergambar Hello Kitty yang diberikan Paman Zito. "Kayaknya kita harus pulang sekarang Mas, Sekar sama Aul udah nanyain anak-anak. Katanya belum pada mandi jadi harus pulang sekarang." "Yah, Ute padahal mau lebih lama di sini. Anginnya enak." "Ute, pulang dulu ya, kapan-kapan kita bisa ke sini lagi. Nanti Paman beliin permen kapas kesukaan Ute pas pulang. Gimana?" "Oke!" jawabku pada akhirnya. Meski sedih, setidaknya sore ini aku sudah cukup bermain. "Ute belum mandi tak tun tuang tak tun tuang... Tapi masih cantik juga tak tun tuang tak tun tuang..." Nyanyian Om Randi mengiringi perjalanan kami untuk menuju tepi danau dengan tawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD