Ini Ayah

2577 Words
Liburan sekolah telah selesai, dan kini aku sudah berada di bangku kelas dua. Saat liburan sekolah kemarin Paman Aksa memenuhi janjinya untuk mengajakku ke Dufan. Aku menaiki perahu dan melihat banyak boneka, aku juga menaiki odong-odong dengan bentuk kuda cantik seperti yang Paman bilang. Ibu juga ikut bersama kami dan mengawasiku dengan Paman Aksa sepanjang waktu. Saat malam menjelang, kami menaiki komedi putar dengan bentuk yang lebih besar. Aku takut karena benda itu terus bergoyang saat tertiup angin. Tapi Paman Aksa memelukku dan mengatakan kalau semua akan baik-baik saja. Jika Paman Aksa mengatakan demikian, aku percaya, karena selama ini ucapan Paman Aksa selalu benar. "Pssst... pssst..." Aku mendengar sebuah suara. Hari ini hari Senin, dan saat ini aku sedang mengikuti upacara bendera. Suara itu terdengar samar di antara nyanyian Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh tim paduan suara kelas 6A. "Pssst... pssst..." Suara itu terdengar lagi, namun kali ini lebih jelas. Aku menoleh ke samping dan menemukan Dirga yang sedang hormat ke arah bendera, tetapi wajahnya menoleh ke arahku. "Ute, Om Yoga mau ke sini loh," ungkap Dirga dengan senang. Sudah lama aku tidak melihat Om Yoga. Om baik hati itu hanya sekali mengunjungi aku dan ibu setelah pembagian rapot semester satu waktu itu. "Beneran?" tanyaku tidak percaya. "Iya! Ayo tebak Om Yoga nanti bawa apa," tanya Dirga. Aku pun berpikir kira-kira apa yang akan dibawa oleh Om Yoga. "Boneka?" tebakku antusias. "Bukan!" "Tas baru?" "Bukan!" "Terus apa dong?" "Kaset PS baru," timpal Dirga dengan cengirannya. Senyumku hilang dan terganti dengan wajah masam. Ku kira Om Yoga membawakan sesuatu untukku, bukan Dirga. Dasar Dirga! "Ute, nanti pulang tungguin Dirga ya?" "Nggak ah, Dirga lama pulangnya, Dirga suka main bola dulu sih," tolakku. Selama ini Dirga selalu terkenal dengan ulahnya bersama Alen yang selalu bermain bola sepulang sekolah. Kalau menunggu Dirga pasti aku harus panas-panasan. Ibu bilang aku tidak boleh bermain panas-panasan dulu karena baru sembuh. Kemarin badanku sempat panas dan kepalaku terasa sakit, tapi sekarang sudah lebih baik. "Dirga nggak main bola kok nanti. Dirga janji!" ucap Dirga sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengah tangan kiri miliknya. Karena tangan kanannya dipakai untuk hormat. "Pokoknya kalau Dirga main bola nanti Ute tinggal. Ute mau ketemu Stefan nanti." "Siap Ute!"   *** Pulang sekolah aku menunggu Dirga di depan kelasnya. Kelas dua ini kami berpisah  kelas. Di sekolahku jika peringkat turun akan dimasukan ke kelas B, sedangkan jika peringkatnya naik dan bagus akan dipindahkan ke kelas A. Dirga terlalu banyak bermain saat kelas satu. Itu yang membuatnya menempati peringkat sepuluh besar dari bawah dan dipindahkan ke kelas B. "Eh, Ute udah nunggu," sapa Dirga begitu melihatku yang sudah berdiri di depan kelasnya. "Ayok pulang, Ute capek, mau bobok siang." "Bobok siang cuma buat anak kecil Ute," timpal Dirga. "Emang kita bukan?" tanyaku bingung. "Anak kecil itu kayak Nindy sama Stefan. Itu tuh yang perlu bobok siang." "Mereka bukan perlu bobok siang, emang kerjaannya bobok terus!" Setiap aku datang ke rumah Tante Aul atau Tante Winda, Nindy dan Stefan selalu saja tertidur. Jarang-jarang aku menemukan mereka dalam keadaan bangun saat siang. "Ayok pulang," ajak Dirga sambil menarik tanganku. Aku berjalan beriringan dengan Dirga untuk pulang ke rumah. Sesekali Dirga memetik bunga yang tumbuh di pekarangan rumah orang dan memberikannya padaku untuk mengetahui bunga mana yang paling harum. Aku memilih bunga melati sebagai jawabannya yang disetujui oleh Dirga. "Yang ini apa Ute?" tanya Dirga sambil menunjuk bunga warna merah, ada juntaian berwarna merah dengan titik-titik berwarna kuning di tengahnya. "Bunga sepatu," jawabku. "Padahal nggak kayak sepatu ya, tapi dinamain bunga sepatu." "Mungkin karena baunya yang nggak enak kayak sepatu," timpalku sambil mengangkat bahu. Dirga berjalan sambil sesekali menendang batu kerikil. Ia juga menyuruhku untuk melakukannya, tapi saat aku mencoba, kakiku malah terasa sakit karena menendang dengan tidak benar. "Ute, Ute mau punya Ayah nggak?" tanya Dirga tiba-tiba. "Ayah?" "Iya, Ayah. Om Yoga bilang dia mau jadi Ayah Ute." "Tapi Ibu bilang Ayah Ute kerja. Berarti Ute punya Ayah kan?" "Tapi Ayah Ute nggak ada," sahut Dirga. "Tapi Ibu nggak pernah bilang kalau Ute nggak punya Ayah." "Tapi Ute mau nggak punya Ayah kayak Dirga? Yang ngajarin Ute, ngajak main Ute, jajanin Ute, jemput Ute kalau sekolah." "Mau sih... tapi Ute udah diajarin sama Bu Rasti, Om Randi suka ngajak main Ute, Paman Zito suka jajanin Ute, dan Paman Aksa juga suka jemput Ute." "Jadi Ute nggak mau punya Ayah?" Aku bingung dengan pertanyaan Dirga. Aku memang menginginkan Ayah, tetapi jika Ayah sesuai dengan yang Dirga katakan untuk mengajariku, menjajaniku, mengajakku bermain dan menjemputku, rasanya aku sudah mendapatkan semua itu selain dari Ayah. Tapi saat teman-temanku mulai bermain dengan Ayah mereka sedangkan Paman Aksa, Paman Zito, maupun Om Randi tidak ada, aku ingin punya Ayah. Ah, memikirkan itu membuat kepalaku sakit. "Ute mau Ayah," jawabku pelan. "Okeh, kalau gitu nanti Dirga bilang Om Yoga!" ucap Dirga dengan antusias dan juga senang.   *** Siang ini aku di rumah sendirian, semua karena Tante Aul yang sedang pulang kampung, sedangkan Tante Winda sedang pergi ke rumah sakit gara-gara Stefan sedang sakit. Bu Rasti pun tidak kelihatan, padahal TK sudah sepi. Apa ia pergi bersama dengan Liana dan Ayahnya? Setelah Bu Rasti dan Liana berkenalan waktu itu, Liana terus menerus menanyakan semua hal tentang Bu Rasti. Liana bilang ia ingin memiliki Ibu baik seperti Bu Rasti, seperti aku yang ingin memiliki Ayah seperti Paman Aksa. Ibu sudah menyiapkanku tahu kecap dan juga nasi yang dikemas di kotak bekal, tetapi aku malas memakannya untuk saat ini. Perutku terasa tidak enak. Aku memilih untuk tidur siang, tetapi setelah berguling-guling cukup lama aku tidak bisa tidur juga. Aku memilih untuk keluar dari rumah dan melihat kakak-kakak tetangga samping rumahku sedang bermain karet dan juga petak gunung. Aku hanya bisa melihat mereka bermain karena usia kami yang terlampau jauh. Aku tidak yakin bisa bermain bersama mereka. "Ute mau main?" tanya seorang Kakak yang menghampiriku. Namanya Dina, anak kelas lima di sekolahku. Aku mengangguk seraya menggambar rumah di tanah dengan sisa kapur yang sudah digunakan kakak-kakak itu. "Tapi Ute jaga ya?" Aku hanya terdiam. Karena bosan akhirnya aku memilih mengiyakan ajakan kakak itu. Kak Dina menyuruhku untuk memegang karetnya dan ia bersama teman-temannya mulai bermain. Sesekali karet itu terlepas dari tangan Kak Meri yang membuat karet itu terkena tubuhku. Rasanya cukup perih. Tetapi setidaknya aku tidak hanya sendirian di rumah. "Ute! Kurang tinggi!" omel Kak Dina. Aku sudah berusaha untuk mengacungkan tanganku yang memegang karet tinggi-tinggi. Tetapi masih timpang dengan Kak Meri yang berada di sisi satunya. "Jinjit coba," titah Kak Dina yang kuangguki. Aku pun mencoba berjinjit. Satu pemain melompat, dua pemain melompat, tiga pemain melompat, tapi pada saat pemain keempat, kakiku goyah. Tali yang kupegang pun terlepas hingga mengenai wajah Kak Caca yang hendak melompat. Kak Caca berteriak dan menangis karena kesakitan, dan aku diomeli oleh Kak Dina dan teman-temannya. "Ute gimana sih?! Cacanya kasian mukanya jadi merah!" "Ute kalau jaga yang bener dong!" "Nggak usah ajak Ute main lagi!" teriak Kak Dina sambil mendorong tubuhku hingga aku hampir terjerembab ke belakang. Untungnya aku menahan dengan sebelah siku. Meskipun sikuku terluka, setidaknya bajuku tidak kotor. Ibu pasti akan marah jika tau bajuku kotor akibat terjatuh. Kakiku terasa sakit karena berjinjit cukup lama, aku memilih untuk masuk ke dalam rumah sambil mengambil sepotong sisa kapur yang tidak terpakai. Sementara kakak-kakak itu pindah bermainnya hingga tidak di depan rumahku lagi. Di teras depan aku merasa pandanganku sedikit gelap. Mungkin karena tadi aku bermain panas-panasan cukup lama di luar. Ah, Ibu pasti akan memarahiku karena aku tidak menuruti perkataannya. Jika seperti ini, aku menginginkan Ayah ada di sampingku. Om Randi pasti tidak akan membiarkan Nindy didorong seperti itu oleh orang lain. Aku mulai menggambar Ibu dan diriku di lantai. Rasanya ada yang kurang hingga aku menambahkan sosok Ayah di samping kami berdua. "Ayah, Ayah kapan pulang? Ute kangen..." "Ute?" tegur Paman Aksa yang wajahnya menongol di atas pagar. "Ute ngapain?" Aku hanya mengulum senyum, tetapi Paman Aksa buru-buru masuk ke dalam rumah dan menggendongku. Paman Aksa mengusap hidungku, dan tangannya kini berwarna kemerahan. "Ute kenapa?!" tanya Paman Aksa khawatir. Aku menggeleng lemah, kepalaku terasa sakit sekarang. Paman Aksa memeriksa kakiku yang kini terlihat kebiruan. Aku merasa mual dan muntah di baju Paman Aksa. Muntah yang kukeluarkan berwarna kemerahan yang membuat Paman Aksa meneriakkan namaku dengan begitu kencang. "Ute mau Ayah..." gumamku pelan. Setelahnya aku tidak mengingat apa pun. *** Semua kini terasa gelap, tapi aku masih bisa mendengar suara tangisan Ibu di sampingku. "Ute, maafin Ibu, Nak." "Cepet sembuh ya Sayang, Ibu mohon," Ibu terisak semakin parah. Aku ingin memeluk Ibu, tapi aku hanya bisa mendengar suaranya. Aku tidak bisa melihat apa pun. Semuanya benar-benar gelap dan badanku terasa sakit semua. Ibu, Ute takut... "Gimana dok? Gimana anak saya?" "Hasil Lab sudah keluar Bu, anak Ibu positif terkena virus dangue." "Tapi demam anak saya sudah turun Dok, dia emang sempat demam kemarin, tetapi semalam sudah turun!" "Anak yang mengalami demam berdarah dengue (DBD) berat atau dengue shock syndrome akan memiliki gejala demam berdarah biasa. Tapi justru setelah demam reda, gejala lain semakin memburuk, Bu. Jika dilihat dari gejalanya saudari Lutte mengalami pendarahan internal. Untuk saat ini, sebaiknya kita menemukan donor darah yang tepat untuk Lutte. Mungkin Ibu atau suami Ibu bisa mengecek darah untuk transfusi." "Apa golongan darah Ute dok?" "AB rhesus positif, Bu. Saya harap pihak keluarga juga bisa membantu kami agar kami dapat melakukan tindakan yang tepat dengan cepat." Tangisan Ibu kini semakin menjadi. Tanganku terasa diremat dengan kuat oleh Ibu. "Ute... Ibu mohon bertahan, Nak. Jangan tinggalin Ibu..." Tangan Ibu yang terlepas dari tanganku membuatku takut, dan aku tidak mendengar suara Ibu lagi setelahnya. Ute nggak ninggalin Ibu, tapi kenapa Ibu yang ninggalin Ute? "Ute..." Kemudian aku mendengar suara, ini seperti suara Om Randi. "Ute, Ute sayang kan sama Ibu?" tanya Om Randi. Aku ingin menjawab, tetapi suaraku tidak keluar. "Ute anak baik, cantik lagi, Ute harus kuat ya, Ibu lagi berjuang nyari darah buat Ute." Suara Om Randi bergetar, seperti mau menangis. Om Randi memegang tanganku dan menciumnya. "Ute harus kuat ya Sayang, banyak yang sayang sama Ute." "Gimana Ute Mas Randi?" kini suara Bu Rasti yang terdengar. "Sekar masih nyari darah," jawab Om Randi. "Golongan darah Ute emang apa?" "AB Rhesus positif." "Jangan bilang..." "Golongan darah Sekar B. Kemungkinan Lutte punya golongan darah yang sama dengan Ayahnya." "Udah berapa lama Sekar nyari darah Mas?" "Baru aja setelah dapet kabar dari dokter. Zito lagi bantu nyari ke PMI. Tapi kita tetep butuh donor karena nggak tau Ute butuh transfusi berapa banyak." "Sebenernya Ute kenapa sih Mas?" "Sekar bilang Ute sebelumnya demam, udah empat hari. Dia udah kasih obat penurun panas, terus katanya semalem udah reda. Dia emang nggak sempet bawa ke dokter soalnya lembur. Utenya juga nggak ada keluhan, cuma emang tidurnya cepet terus katanya." "Ya Allah, Sekar kenapa nggak bilang sih? Kan bisa aku yang bawa Ute ke dokter." "Tadi juga katanya Ute main di luar, Aksa mergokin anak-anak yang lagi main karet di deket rumahnya ngomongin Ute. Punya feeling nggak enak dia langsung ke rumah Sekar. Tau-taunya Ute udah mimisan dan muntah darah." "Astagfirullah, segitu parahnya Mas?" "Saya juga nggak tau Ras," "Terus ini gimana Mas? Golongan darah saya A." "Saya B. Kalau saya sama kayak Ute sih pasti saya donorin." "Mas Zito gimana?" "Mas Zito O. Ada Winda, tapi dia masih nyusuin. Waktu melahirkan dia juga kan dapet transfusi, jadi satu tahun kalau bisa nggak donor dulu." "Terus gimana Mas?" tanya Bu Rasti panik. Tanganku yang masih digenggam oleh Om Randi dilepas oleh tangan lain yang sepertinya milik Bu Rasti. "Ute, Ute denger Ibu kan Sayang? Ute anak pintar, Ute anak kuat. Tolong tunggu sebentar ya Sayang." "Sekar nyesel banget Ras, dia nyalahin dirinya sendiri karena Ute sampe kayak gini. Dia terlalu sibuk kerja." "Sekar juga kerja untuk anaknya Mas, jadi single mother itu nggak mudah. Apa lagi dengan masa lalunya..." "Ya, saya tau. Sekar jauh lebih tangguh dari kelihatannya. Tapi saat satu-satunya kekuatan Sekar untuk bertahan sakit kayak gini, dia benar-benar terpukul. Jangan sampe aja pokoknya... jangan sampe." "Mas Randi jangan ngomong yang enggak-enggak! Kita bantu doa. Ute pasti kuat kok!" Kini Bu Rasti menangis. Ia mencengkram tanganku lebih erat dan menciuminya. "Makasih ya Ran bajunya." Suara Paman Aksa kini ikut terdengar. "Sekar di mana?" "Sekar masih nyari darah di PMI. Kenapa Mas?" "Darah?" "Iya Mas, dokter bilang Ute kemungkinan ada pendarahan internal, dan butuh transfusi segera." "Apa golongan darahnya Ran?" "AB Rhesus positif Mas, golongan darah itu kan cukup jara—" "Saya AB positif Ran! Ke mana saya harus donor?" Suara Paman Aksa dan Om Randi kembali menghilang. Aku hanya mendengar Bu Rasti yang mengaji di telingaku. Sentuhan sentuhan lembut terasa di kepalaku. Mungkin Bu Rasti yang melakukannya. Lantunan suara mengaji Bu Rasti masih terus berlanjut sampai aku mendengar suara Ibu yang kembali mendekat. Ibu... Ute takut... "Gimana Sekar? Mas Aksa udah donor darahnya?" "Udah, tadi dapet satu kantong dari PMI, dan barusan aku kasih susternya buat dikasih dulu ke Ute." "Alhamdulillah, untung ada Mas Aksa. Dia kayak malaikat pelindung Ute." "Sayang, maafin Ibu ya," bisik Ibu di telingaku. Ibu kembali terisak. Aku bisa merasakan air mata Ibu jatuh di pipiku. "Bantu Ute dengan doa Sekar, doa Ibu adalah segalanya untuk anak." "Aku takut Ras, takut banget." "Allah tau yang terbaik Sekar, dia pemilik segalanya termasuk anak kamu. Ute titipan dari-Nya, sekarang kita cuma bisa doa." Suara ponsel Bu Rasti berbunyi, dan sepertinya Bu Rasti langsung mengangkatnya. "Wa'alaikumsalam, iya Bunda Dirga, Ute lagi dirawat. Mungkin kalau besok Bunda Dirga ke sekolah bisa minta tolong izinin ke wali kelas Ute. Surat sakitnya nanti menyusul." "Saya belum bisa ngabarin keadaan Ute, tapi kami mohon doanya aja ya Bunda Dirga." "Oh, Dirga mau ngomong? Sebentar saya loudspeaker dulu." "Ute, kata Bunda, Ute lagi sakit ya? Ute sakit apa? Cepet sembuh ya Ute, nanti Dirga bawain bunga melati yang banyak buat Ute. Ute suka sama melati kan?" Setelah mendengar suara Dirga Ibu malah menangis lebih kencang, dan aku tidak lagi mendengar suara Bu Rasti. Mungkin Bu Rasti pergi. "Sekar, saya pulang dulu ya?" "Makasih ya Mas Randi, maaf ngerepotin." "Saya yang minta maaf karena nggak bisa nungguin Ute malem ini. Besok saya mau jemput Aul ke Lampung." "Nggak apa, Mas, Makasih banyak. Ada Rasti yang nemenin saya." "Saya juga minta maaf Sekar, Yira lagi ada tugas di Makassar, jadi harus pulang untuk jaga Winda sama Stefan." "Makasih Mas Zito, saya izin untuk nggak jaga toko dulu." "Nggak usah khawatir soal toko Sekar, temenin Ute sampai sembuh dulu." "Makasih. Sekali lagi makasih banyak udah bantu saya dan Ute." "Kalau ada apa-apa jangan segan untuk nelepon ya? Rasti sama Aksa malem ini ikut nginep jagain Ute. Nanti kita bicarain lagi untuk seterusnya." "Anak cantik, Paman Zito pulang dulu ya, besok Ute harus udah buka mata, Ute harus sembuh, oke?" bisik Paman Zito di telingaku. "Om Randi juga pulang dulu ya Sayang, cepet sembuh biar kita bisa naik bebek lagi sama Nindy di danau." Kini Om Randi yang berbisik. Keduanya lalu menghadiahkan kecupan singkat di kepalaku. Setelah Paman Zito dan Om Randi pergi, Ibu terus menerus berbisik di telingaku. "Ute jangan tinggalin Ibu ya Nak, malaikat kecil Ibu pasti kuat. Kamu harus kuat. Cuma kamu harta Ibu satu-satunya, Sayang." "Sekar, udah salat?" tanya Bu Rasti. "Belum Ras," "Ayok salat." "Ute gimana?" "Ada Mas Aksa, dia lagi di depan tadi nanya ke susternya kira-kira butuh orang lain untuk transfusi nggak." Suara kursi yang bergeser membuatku tau bahwa Ibu pergi bersama dengan Bu Rasti. Lalu beberapa saat kemudian sebuah tangan menggenggam tanganku dengan lembut. "Ute, Ute mau Ayah kan? Bangun Nak... ini Ayah, Sayang."   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD