Ayah?

1108 Words
Ayah?  Ayah? Benarkah itu Ayah? Semua masih terasa gelap, tapi aku ingin melihat Ayah. Ayah, Ute mau ketemu, jangan pergi... Ayah... Ayah... Mataku perlahan terbuka, dan aku mulai melihat cahaya kekuningan. Seseorang berada di depanku, melihatku sambil menggumamkan namaku berkali-kali. Tapi wajahnya tidak jelas. "Dokter! Tolong anak ini sudah sadar!" Setelah suara itu terdengar, banyak orang menghampiriku. Aku diperiksa dengan benda dingin, dan ada cahaya yang di arahkan ke mataku. Aku ingin berbicara, tapi suaraku tidak mau keluar. Seluruh badanku terasa sangat sakit. Aku mendengar suara berisik, lalu mendengar suara Ibu dan Bu Rasti. “Bagaimana dok? Bagaimana keadaan anak saya?” "Syukurlah, Lutte sudah sadar, Bu. Kami akan terus memantau keadaannya sampai nanti dipindahkan ke ruang rawat. Untuk saat ini ruang perawatan anak memang masih penuh, kemungkinan Lutte baru bisa dipindahkan besok pagi." "Terima kasih, dok. Terima kasih," "Besok pagi kita cek darah lagi, semoga keadaan Lutte sudah lebih membaik. Kalau ada yang dibutuhkan, bisa menghubungi petugas kami yang sedang berjaga. Selamat Malam." Akhirnya pengelihatanku semakin jelas, dan aku melihat Ibu, Bu Rasti dan Paman Aksa yang kini sedang berdiri di sampingku "Ute, Sayang, ini Ibu, Nak." Ibu, Ayah mana? Aku ingin membalas ucapan Ibu, tapi aku tidak bisa. Semua tubuhku terasa sakit sampai rasanya begitu sulit untuk bicara. Aku pun menangis. Ibu menghampiriku dan menghapus air mataku dengan tangan lembutnya. Sementara air matanya malah menetes. "Ibu di sini, Sayang. Makasih udah buka mata kamu lagi. Jangan bikin Ibu takut lagi ya Nak?" "A... yah..." ucapku terbata. Rasanya benar-benar susah. "Apa Nak?" tanya Bu Rasti yang kini ikut mendekatiku dari sisi lain. "A... yah..." "Ayah?" ulang Bu Rasti. Aku menggerakkan kepalaku pelan mengiyakan pertanyaan Bu Rasti. Ibu terlihat terkejut sekarang. Ia melihatku masih dengan air mata yang menggenang. Paman Aksa kemudian mendekatiku dengan sedikit menggeser tubuh Ibu. "Ini Ayah, Sayang. Ute mau Ayah kan? Paman bisa jadi Ayah untuk Ute." Bu Rasti terlihat menutup mulutnya. Sedangkan Ibu memandang Paman Aksa dengan bingung. Yang Paman Aksa lakukan hanya mengelus dan mencium tanganku dengan lembut, begitu pun dengan dahiku. "Mas?" tanya Ibu ke Paman Aksa. "Sebelum nggak sadarkan diri kalimat terakhir yang Ute ucapkan adalah kalau dia mau Ayah. Kalau memang Ute mau Ayah, saya bersedia untuk menjadi Ayah Ute." "Mas, kamu nggak bisa ngasih keputusan sepihak kayak gitu. Ute masih kecil, kalau dia terlalu berharap sama ucapan kamu bagaimana?" "Saya nggak main-main dengan ucapan saya. Ayo menikah, Sekar." "Saya rasa kami nggak perlu dikasihani, Mas. Ute hanya perlu saya." "Ute bisa sadar karena menginginkan Ayahnya." "Tapi kamu bukan Ayahnya, Mas!" "Sekar!" tegur Bu Rasti sambil melirik ke arahku yang kini kembali menangis. Jadi tadi bukan Ayah? Bu Rasti menutup kedua telingaku dan mengarahkan wajahku untuk menatapnya. "Ute Sayang, cepet sembuh ya Nak. Nanti kita main sama Stefan sama Nindy. Tante Aul lusa udah pulang. Ute mau ketemu Nindy kan? Udah lama kita nggak liat Nindy. Makanya cepet sembuh ya, Sayang." "A... yah..." "A... yah..." Aku ingin bertemu Ayah. Bukan yang lain. Bu Rasti kini menangis, lalu ia menarik Ibu untuk menjauh dan meninggalkanku bersama Paman Aksa. Paman Aksa mengusap air mataku dengan pelan dan mencium pipiku. "A... yah..." "Ini Ayah, Sayang. Ini Ayah..." *** Banyak orang yang menjengukku selama aku sakit, mulai dari Paman Zito, sampai ke Bunda Dirga. Bunda Dirga bilang kalau Dirga tidak boleh masuk, jadi Dirga hanya menitipkan bungkusan kertas yang berisi lima buah bunga melati untukku. Mereka juga membawakanku berbagai macam buah dan makanan. Ibu tidak pernah meninggalkanku selama di Rumah Sakit. Bu Rasti akan menemani Ibu di siang sampai menjelang sore. Sementara Paman Aksa akan menemani saat malam. Ah ya, aku tidak lagi menyebutnya dengan panggilan 'Paman Aksa', melainkan Ayah. Suara pintu yang diketuk membuatku menoleh, Ibu yang sedang menyuapiku buah apel pun beranjak untuk membuka pintu. "Ayah!" pekikku riang saat melihat Paman Aksa berdiri di depan pintu sambil membawa sebuah boneka beruang di tangannya. "Ayah pulang," ucap Paman Aksa sambil menghampiriku dan mencium keningku. Ia lalu memberikanku boneka yang langsung ku peluk dengan erat. "Ayah bawa boneka, Ute seneng nggak?" Aku mengangguk dengan antusias, dan memeluk kembali boneka beruang itu. "Bonekanya mirip Ibu," ucapku yang membuat Paman Aksa tertawa. Sementara Ibu hanya memperhatikan kami berdua dari ambang pintu. "Ute udah minum obat belum?" Aku menggeleng sebagai jawaban, dan itu membuat wajah Paman Aksa tertekuk. "Kok belum?" "Ute nunggu, Ayah." "Lain kali jangan gitu ya? Itu juga kok makannya nggak dihabisin?" Aku melirik ke arah Ibu dengan sedikit takut. Aku tadi menolak untuk menghabiskan makanan karena Paman Aksa belum datang. "Ute nungguin kamu, Mas." "Sini Ayah suapin," ucap Paman Aksa sambil mengambil makananku. Paman Aksa menyuapiku di pangkuannya dengan sabar sambil bercerita. Makanan yang ada di piring bahkan sampai ke buah yang sudah Ibu potong habis tanpa terasa. "Ute bobok yuk, kan makan sama minum obatnya udah. Biar kita cepet pulang ke rumah." Aku menggeleng dan mengeratkan pelukanku di badan Paman Aksa. "Ute masih mau Ayah." "Tapi Pam—Ayahnya capek, Ayah kan baru pulang kerja, Sayang. Ute bisa bobokan dan Ayah bisa duduk. Kalau Ute nempel terus kayak koala sama Ayah kapan Ute boboknya?" "Nggak apa kok, Ute bisa tidur di pelukan Ayah. Ute mau Ayah nyanyiin apa? Tapi janji ya Ute bobok habis ini?" "Ute mau dinyanyiin ambilkan bulan," jawabku antusias. Ibu selalu menyanyikan lagu itu saat aku belum sekolah dulu. "Mas, beneran nggak apa-apa? Ute berat loh." "Aku disenderin Ute cuma sebentar kok, beda sama kamu yang bawa Ute sampai sembilan bulan di tubuh kamu." "Ayah kapan nyanyinya?" rengekku saat Paman Aksa malah sibuk berbicara dengan Ibu. "Iya, Sayang. Ini Ayah nyanyi ya..." "Ambilkan bulan bu, ambilkan bulan bu, yang slalu bersinar di langit..." "Di langit bulan benderang... Cahyanya sampai ke bintang..." "Ambilkan bulan Bu, untuk menerangi, tidurku yang lelap, Di malam gelap..." Aku pun bertepuk tangan, tetapi karena posisi satu tanganku diinfus, jadi Paman Aksa menjadikan sebelah tangannya untuk membantuku bertepuk tangan. Kehadiran Paman Aksa sebagai Ayah membuat hari-hariku lebih baik. "Ibu nyanyi juga dong bareng Ayah," pintaku ke Ibu. Ibu menggelengkan kepalanya dan tersenyum malu. "Suara Ibu jelek," tolak Ibu. "Sejelek-jeleknya suara seorang Ibu, suara itu lah yang didengar anak sejak di dalam kandungan. Jadi pasti anak akan tetap nyaman mendengar suara Ibunya." Mendapatkan dukungan dari Paman Aksa. Aku pun tersenyum senang. Akhirnya Ibu mulai bersenandung bersama dengan Paman Aksa berdua. Aku sudah mulai mengantuk tetapi suara pintu yang diketuk membuat Ibu kembali beranjak untuk membukanya. Sementara Paman Aksa masih mencoba membuatku tertidur dengan elusan lembut pada punggungku. "Yoga?" Suara Ibu membuatku dan Paman Aksa menoleh. Paman Aksa yang tadinya masih mendekapku kini mencoba turun dari kasur. "Ayah, Ute mau sama Ayah," rengekku yang membuat Paman Aksa menghentikan gerakannya dan kembali mendekapku. "Ayah?!" Suara Om Yoga terdengar cukup kencang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD