Aku terbangun karena usapan lembut di kepala, rasanya sudah lama, karena biasanya ibu yang melakukannya. Aku membuka mata dan menemukan ibu di sampingku.
"Ibu!" pekikku senang.
Aku melompat dan memeluk ibu yang kini menangis. Paman Aksa benar, jika aku jadi anak baik, ibu akan kembali. "Ibu, Ute kangen sama Ibu, jangan pergi lagi."
Ibu mengangguk, aku mengeratkan pelukanku karena takut pergi lagi. "Maafin Ibu ya, Nak," ucap Ibu.
"Jangan tinggalin Ute ya Bu, Ute janji jadi anak baik," timpalku.
Ibu melepas pelukannya dan merapikan rambut serta bajuku. "Ute ikut Ibu ya sekarang?"
Aku mengangguk. Kemanapun Ibu pergi, aku akan ikut.
Ibu menggendongku dan keluar kamar. Di luar ternyata ada Paman Aksa, Paman Yoga, Ayah Ariska, Kakek, Nenek dan juga satu orang yang tidak kukenal.
"Mas, ayo kita pulang," ucap Ibu yang diangguki oleh Paman itu.
Paman itu berdiri dan menghampiriku. "Ute ya?" tanyanya yang kujawab dengan anggukkan.
Paman itu mengulurkan tangannya dan meraih tanganku. "Mulai sekarang Paman Tomi akan jadi temen main Ute," ucapnya dengan senyuman.
Aku mengangguk dan menatap Paman Aksa yang kini melihatku dengan sedih. "Ayah..." ucapku pelan, tapi Paman Aksa hanya diam.
"Ayo kita pergi Sekar," ucap Paman Tomi sambil merangkul ibu untuk keluar rumah. Paman Yoga mengikuti kami di belakang.
"Ayah?" panggilku pelan, tapi Paman Aksa tidak bergerak sedikitpun. "Bu, Ayah nggak diajak?" tanyaku bingung. Ibu hanya diam dan terus berjalan keluar.
"Bu?" ulangku.
"Ute diem dulu ya Sayang," ucap Ibu yang membuatku mengatupkan bibir. Aku harus jadi anak baik agar Ibu tidak pergi.
"Sekar tunggu!" Suara Paman Aksa membuat Ibu berhenti. Paman Aksa berlari keluar rumah dengan sebuah bungkusan di tangannya.
"Ayah!" ucapku dengan senang, hal itu membuat ibu membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan Paman Aksa.
"Ute radang, ini obatnya. Harus dihabiskan, jangan kasih dia permen kapas kesukaannya dulu, jangan lupa buat bubur, jangan lupa—"
"Saya ibunya Mas," potong Ibu.
Paman Aksa mengangguk pelan, kini matanya berkaca, lalu ia menangis. "Saya tau..."
"Ayah kok nangis?" tanyaku bingung.
"Ute, jadi anak baik ya?" ucap Paman Aksa.
Aku mengangguk. "Ute janji Ute akan jadi anak baik, Yah!"
"Yang nurut sama Ibu, jangan ngelawan, harus jadi anak pintar, nggak boleh males belajar."
Aku mengangguk. "Siap Ayah!"
Paman Aksa melambaikan tangannya, dan ibu membalik badannya. Aku balas melambaikan tangan yang membuat Paman Aksa tersenyum. Ia mengusap air matanya dengan tangannya sambil terus melambaikan tangan.
"Ayah nggak ikut?"
Paman Aksa hanya mengulum senyumnya. "Kita pasti ketemu lagi Ute!"
Aku dan Ibu akhirnya masuk ke dalam mobil, Paman Yoga menyetir dengan Paman Tomi di sampingnya. Mobil kami mulai berjalan, dan aku berada di pangkuan Ibu. Aku tidak mau melepaskan Ibu karena takut Ibu akan meninggalkanku lagi.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Paman Tomi ke Ibu.
"Saya nggak apa-apa Mas," jawab Ibu.
"Kamu mau kembali ke rumah kamu atau gimana?"
"Kalau saya kembali, Aksa ataupun adiknya akan menemukan saya dengan mudah."
"Apa kamu mau tinggal sama Mas di Sidoarjo?"
"Kalau Mas nggak keberatan, saya mau."
"Ute butuh sekolah, kita harus urus surat pindah secepetnya."
***
Hari sudah malam dan aku mengeratkan pelukanku kepada ibu, aku benar-benar takut kalau ibu akan pergi lagi.
"Sekar! Ute! makan dulu yuk, Iren udah nyiapin masakan buat kalian!" teriak Paman Tomi dari luar kamar.
Ibu melihat ke arahku sebelum mengecup keningku dengan lembut. "Makan ya, Sayang? habis itu minum obat dan kita bobok lagi."
"Gendong," pintaku manja. Ibu mengulum senyum dan membawaku ke dalam gendongannya. Ia sedikit mengangkat tubuhku untuk membenarkan posisi. "Ute udah berat tau," ucap Ibu yang membuatku tertawa.
"Ayah juga bilang Ute udah berat."
Ibu hanya terdiam dan membawaku keluar dari dalam kamar. Di luar ada Paman Tomi, Bibi Iren dan Kakak Reda, anak laki-laki mereka. Mereka menyambutku dengan cerah di meja makan.
"Ute makan sama Bibi ya?" bujuk Bibi Iren. Aku menggelengkan kepala untuk menolaknya. Aku hanya ingin bersama ibu untuk saat ini.
"Nggak apa-apa Mbak, Ute biar sama saya aja." Ibu menimpali.
Bibi Iren lalu membantu Ibu untuk menyiapkan nasi dan lauk karena pergerakan ibu yang terbatas akibat aku yang berada di pangkuannya.
"Makan yang banyak ya Sayang?" ucap Paman Tomi yang kujawab dengan anggukkan. Tangan Ibu mulai bergerak dan menyuapiku dengan perlahan.
"Ute suka apa? Besok pulang sekolah biar Kakak beliin," ucap Kak Reda.
"Permen kapas," jawabku pelan.
"Kalau gitu besok kakak beliin," ucap Kak Reda.
"Makasih ya Reda, tapi Ute lagi radang. Nggak boleh makan permen dulu," larang Ibu.
Larangan Ibu membuatku teringat kepada Paman Aksa. Paman Aksa juga melarangku untuk makan permen untuk saat ini. "Iya, Ayah bilang gitu..."
Suasana meja makan berubah menjadi sepi, hanya terdengar suara sendok dan piring yang tidak sengaja beradu.
Setelah selesai makan, ibu membawakanku obat untuk diminum. Obat itu rasanya begitu pahit. Tapi aku harus meminumnya agar ibu tidak pergi lagi.
Ibu mengeluarkan sebungkus kertas putih dan menuangkan bubuk di dalamnya ke sendok. Sendok itu kemudian dicampurkan dengan air hingga penuh. Lalu terakhir ibu memberikanku obat berwarna merah dengan wangi stroberi, rasanya tidak manis, tidak pahit, tapi aneh menurutku.
"Ute pinter ya minum obatnya?" puji Kak Reda yang membuatku tersenyum.
"Iya dong, kata Ayah sama Ibu, Ute harus jadi anak pinter."
"Nah, sekarang Ute ikut Paman ya? ucap Paman Tomi sambil menggendongku. Aku menoleh ke arah Ibu dan memanggilnya pelan.
"Ibu mau mandi dulu, Sayang. Ute sama Paman Tomi dulu ya?" bujuk Ibu yang kujawab dengan anggukkan.
Paman Tomi lalu mengajakku untuk duduk di kursi, dan Kak Reda menyusul kami dengan kertas warna-warni miliknya. "Kakak punya ini, kita main yuk?" ajak Kak Reda yang kujawab dengan anggukkan. Membuat burung kertas merupakan keahlianku saat TK dulu. Kertas warna-warni ini juga mengingatkanku pada Dirga yang sudah memberikannya padaku saat disuruh hapalan waktu itu.
Aku turun dari pangkuan Paman Tomi dan duduk dengan bertumpu pada lutut di sebelah Kak Reda yang sedang mengeluarkan kertas itu. "Ute mau warna apa?"
"Merah Kak," jawabku. Kak Reda langsung memberikan sebuah kertas origami merah kepadaku. Tanganku bergerak untuk membentuk burung seperti yang Bu Guru Rasti ajarkan padaku dulu.
"Wah Ute hebat!" puji Kak Reda yang kini mengikutiku untuk membuat burung.
"Itu kertas bukannya buat tugas kerajinan kamu, Da?" tanya Paman Tomi.
"Iya, tapi ini banyak kok. Biar Ute ada mainan," balas Kak Reda sambil mengelus kepalaku dengan lembut.
"Jadi deh!" pekikku riang.
Paman Tomi dan Kak Reda bertepuk tangan. "Wah, Ute hebat. Ajarin Kakak dong!" ucap Kak Reda sambil menunjukkan hasil lipatan kertasnya yang tidak jelas bentuknya itu.
"Mana kertasnya?" tanyaku yang membuat Kak Reda segera mengambil dua kertas origami berwarna kuning.
"Kakak ikutin Ute ya?" ucapku yang dijawab anggukkan oleh Kak Reda. Aku mengajarinya secara perlahan seperti saat Bu Guru Rasti mengajariku dulu hingga Kak Reda bisa menyelesaikan burung kertasnya dengan sempurna.
"Yeay!" pekik kami berdua dengan riang.
"Ute bisa bikin bintang nggak?" tanya Paman Tomi.
Aku menggeleng pelan. "Ute nggak bisa, Bu Rasti nggak ngajarin."
"Sini Paman ajarin," ucap Paman Tomi sambil menggendongku untuk duduk di pangkuannya. "Da, kamu punya origami yang panjang itu kan? Ambil sini," titah Paman Tomi yang langsung dilaksanakan oleh Kak Reda.
Kak Reda mengambil sebuah kertas origami panjang dan mengguntingnya, lalu Paman Tomi mulai bergerak untuk membentuk sebuah bintang.
"Gampang kan?" ucap Paman Tomi yang membuatku menggeleng.
"Susah. Ajarin Ute dong, Paman..."
Paman Tomi mengangguk dan mengambil potongan origami panjang. Lalu ia memberikannya kepadaku dan mulai mengarahkanku untuk membuat bintang secara pelan.
"Nah, udah jadi," ucap Paman Tomi.
Aku mencebikkan bibir. "Bintangnya penyok," ucapku sedih.
"Gapapa, nanti juga lama-lama nggak penyok, makanya Ute yang sering bikinnya." Kak Reda menenangkan.
Aku mengangguk dan kembali mengambil potongan kertas origami panjang untuk mencoba membuat bintang lagi. Kini Paman Tomi hanya mengoreksiku saat aku salah langkah, tetapi aku dibiarkannya untuk membuat sendiri.
"Ute, yang semangat bikinnya. Kalau bintangnya udah setoples nanti permintaan Ute bisa dikabulin loh," ucap Kak Reda yang membuat mataku berbinar.
"Beneran Kak? Semua yang Ute minta?"
"Nggak semua. Satu aja," ucap Kak Reda sambil tertawa.
"Da, kamu tuh jangan ngajarin yang sesat sama anak kecil. Udah kelas delapan juga," tegur Paman Tomi.
"Biar aja sih Pa, biar Ute semangat bikin bintangnya."
Aku masih berusaha untuk membuat bintang yang bagus dan tidak penyok hingga tidak menghiraukan perdebatan Paman Tomi dan Kak Reda.
"Serius amat? Ute lagi ngapain?" tegur Ibu yang baru datang dengan sebuah handuk kecil di pundaknya.
"Lagi buat bintang," ucapku sambil menekan bagian pinggir dari bintang itu untuk sentuhan terakhir. "Taraaaa... udah jadi," ucapku sambil menguap di akhir kalimat.
"Ngantuk?" tanya Paman Tomi yang kujawab dengan anggukkan.
"Kayaknya efek obat," sahut Ibu.
Aku mengulurkan tangan ke arah Ibu, lalu Ibu meraih dan menggendongku. Aku menyamankan diri di gendongannya dan menghirup baunya yang begitu wangi karena habis mandi.
"Da, udah malem, tidur gih, besok sekolah," titah Bibi Iren yang baru saja datang di tengah-tengah kami.
Kemudian Kak Reda beranjak untuk masuk ke kamarnya, sementara aku masih bertahan di gendongan ibu.
"Sekar, Mas mau ngomong," ucap Paman Tomi.
Ibu mendudukkan dirinya sembari mengelus punggungku pelan hingga rasa kantukku semakin terasa, dan aku menyamankan posisi di pelukan hangat Ibu.
"Kenapa Mas?"
"Ini soal Aksa dan keluarganya."
"Apa lagi yang harus dibahas Mas?"
"Mas nggak nanyain ini kemarin karena ada Yoga, Mas menghargai perasaannya yang masih berharap atas kamu. Tapi Mas minta kamu jujur."
"Jujur tentang?"
"Aksa..."
"Maksud Mas?"
"Kalau seandainya dia bukan kakak dari ayah kandung Ute, apa kamu akan bersikap seperti ini?"
"Aku nggak suka berandai-andai Mas,"
"Sekar, saat melihat Aksa tadi, Mas bisa merasakan dia begitu kehilangan kamu dan Ute saat kalian pergi."
"Cuma perasaan Mas aja,"
"Mas ini laki-laki, jadi Mas tau."
"Aku nggak mau bahas topik ini lagi—"
"Gelang di kaki Ute, itu pemberian dari Aksa bukan? Kamu bahkan nggak mengembalikannya. Yang mau kamu hindari itu Ayah Ute, bukan Aksa."
"Mas, kalau seandainya dia bukan kakak dari ayah kandung Ute, dia nggak akan ada untuk aku, baik dulu maupun nanti."
"Sekar—"
"Saya capek Mas, Ute juga butuh istirahat. Permisi."
Aku merasa tubuhku melayang dan setelahnya Ibu menidurkanku di kasur hingga aku terlelap.
***
Impian sederhana untuk memiliki keluarga yang utuh harus terkoyak oleh kejamnya takdir kehidupan. Kenyataan yang jauh dari harapan membuat mimpiku untuk memiliki ayah harus diredam.