Ayah, Aku Rindu

362 Words
 Ibu bilang aku akan kembali bersekolah, tapi bukan di sekolahku yang lama. Kata Bibi, aku akan mempunyai teman-teman baru nanti. Paman Tomi dan Bibi Iren membelikanku seragam dan tas baru. Mereka juga mengajakku dan ibu berjalan-jalan. Aku dibawanya ke tempat dengan tulisan 'Suroboyo Carnival' berukuran besar. Di sini juga ada beberapa mainan seperti di tempat Paman Aksa mengajakku bermain odong-odong besar waktu itu. Bedanya, di sini ada banyak lampu karena sudah malam. "Ute mau naik wahana apa?" tanya Kak Reda. "Wahana?" tanyaku bingung. Kak Reda menunjuk ke arah beberapa mainan. "Yang itu namanya wahana." Aku mengangguk. Lalu aku menunjuk mainan kuda-kudaan yang berputar yang kusebut dengan odong-odong besar. "Ute mau naik itu." Kak Reda menggendongku, sementara ibu, paman dan bibi mengikuti dari belakang. Ia lalu membantuku untuk menaiki salah satu kuda itu.  Kuda mulai berputar dengan pelan yang membuatku mengingat Paman Aksa. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya, dan ibu selalu diam setiap aku menanyakan apakah Paman Aksa akan menyusul dan tinggal bersama kami seperti yang ibu bilang waktu itu. Aku bisa melihat Kak Reda, Paman, bibi dan ibu melambaikan tangannya. Tapi semua terasa kurang tanpa Paman Aksa. Jadi aku memilih untuk tetap diam sampai putaran kuda berhenti. Kak Reda menghampiri dan menggendongku untuk turun dari permainan. "Ute kenapa?" tanyanya bingung. Aku menggeleng pelan dan memeluk leher Kak Reda. Paman Tomi menghampiri kami dan mengambilku dari gendongan Kak Reda.  "Kenapa Sayang?" tanya Paman Tomi. Sepertinya mereka semua menyadari kemurunganku. "Ute kangen Ayah..." ucapku pelan. Aku melirik ibu yang berada di belakang Paman Tomi, sepertinya ibu mendengar ucapanku, jadi aku memlih untuk menyembunyikan wajah di bahu Paman Tomi. Aku takut ibu marah dan pergi lagi karena aku selalu menanyakan Ayah. "Kita jalan-jalan lagi yuk? Naik wahana lain," tawar Paman Tomi. Aku menggeleng pelan. "Ute mau pulang aja," Paman menepuk punggungku pelan dan berjalan menjauh, ia menunjuk lampu-lampu dengan berbagai bentuk hewan. "Ute mau masuk ke sana?" "Ute mau pulang," ulangku pelan. Kak Reda mencolek bahuku pelan hingga aku menoleh, ia lalu menyerahkan sebuah permen kapas besar berwarna pink. "Ute suka permen kapas kan? Ayo main sama kakak lagi, kita abisin permen kapasnya sambil naik komedi putar." *** Paman permen kapas... aku benar-benar merindukannya.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD